BANGKIT TANPA WARISAN.
Pemuda jenius terlahir tanpa dantian. di hina dan di hianati. pada suatu hidup dan mati ia baru menyadari diri nya telah merubah jantung di dada nya hingga menjadi jantung abadi. semua itu karena tekat nya hingga membuat rasa takut yang menghiasi hidup nya menjadi Entitas yang tidak berbentuk. hingga menyatu dengan jantung di dada nya. membuat jantung itu dikenal sebagai jantung dao yang tak terhancurkan,
kini jantung dao yang tak terhancurkan itu menggantikan dantian yang tidak ia miliki, dengan jantung dao yang tak terhancurkan, dia mampu bangkit dengan menginjak lautan darah musuh yang menghalangi jalan menjadi yang tak terkalahkan.
👉👉Tolong baca dulu sampai 10 bab, jika tertarik terimakasih. jika tidak pun terimakasih telah membantu karya ini meski tidak sebaik yang lain 🙏🙏🙏 Saya doakan kalian pada sehat, Amiin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarmadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 dunia kelabu
BOOOOMMM!
Ledakan dahsyat menggelegar hebat, memecah kesunyian dan mengguncangkan tanah di seluruh penjuru hutan. Suara dentumannya bergema berkali-kali di antara jajaran pepohonan dan pegunungan, membuat kawanan burung liar beterbangan panik meninggalkan sarangnya.
Sesosok pria paruh baya tampak berusaha merayap menjauh dengan sisa kekuatan yang masih dimilikinya. Tubuhnya telah berlumuran darah, sementara sebuah benda hitam misterius menancap dalam-dalam di dadanya, menembus tubuhnya hingga ke punggung. Setiap kali ia menarik napas, rasa sakit luar biasa seolah mengoyak seluruh organ dalamnya. Darah segar bercampur serpihan organ dalam terus menyembur dari mulutnya.
Namun, belum sempat ia mencapai perbatasan luar hutan, sebilah cakar berbulu tajam yang diselimuti aura membunuh meluncur deras dari kegelapan. Tekanan mengerikan yang dibawanya membuat udara di sekitarnya bergetar. Cakar itu melesat lurus menuju kepala pria tersebut, hendak meremukkannya dalam sekali tebas.
Dengan refleks yang lahir dari keputusasaan, pria paruh baya itu segera mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya. Tombak yang sejak tadi tergenggam erat di tangannya langsung dilemparkan ke arah cakar tersebut. Senjata itu memancarkan aura tajam yang menusuk, seolah mampu membelah segala sesuatu yang menghalangi jalannya.
BOOOOMMM!
Dentuman kedua kembali meletus.
Gelombang kejut yang mengerikan menyapu segala penjuru. Jajaran pegunungan di sekitar seketika terguncang hebat, retak lalu runtuh, berubah menjadi serpihan batu dan debu yang beterbangan memenuhi udara.
Tubuh pria itu terpental dengan keras seperti layang-layang yang kehilangan talinya. Punggungnya menghantam beberapa pohon tua secara beruntun hingga batang-batang kokoh tersebut patah dan tumbang. Setelah melewati beberapa meter, tubuhnya akhirnya terhempas ke tanah dan terkapar tak berdaya di antara reruntuhan batu.
Darah terus mengalir dari tubuhnya.
Napasnya semakin lemah.
Melihat korbannya telah berada tepat di ambang kematian, cakar berbulu tajam tersebut perlahan menarik diri. Sosok yang berada di balik serangan itu tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Wujudnya perlahan menyatu dengan kegelapan, kemudian menghilang jauh ke dalam pedalaman hutan.
"Uhuk... uhuk..."
Pria itu terbatuk keras. Darah kental memenuhi tenggorokannya hingga membuat suaranya terdengar serak.
Dengan pandangan yang mulai kabur, ia menatap langit yang tertutup dedaunan.
"Yan'er... istriku... maafkan aku."
Suaranya terdengar lemah, hampir tertelan oleh suara angin yang berembus di antara pepohonan.
"Sebagai suami dan ayah, aku telah gagal memberi kalian kehidupan yang layak. Aku hanya bisa berharap... putra kita kelak mampu menemukan jalannya sendiri untuk mewujudkan cita-citanya..."
Tubuhnya bergetar hebat.
"Aku... maafkan aku yang tak berguna ini..."
Pandangannya perlahan menggelap.
Kesadarannya semakin menjauh hingga akhirnya suasana di tempat itu kembali menjadi hening. Hanya suara angin yang berembus melewati pepohonan, seakan menjadi saksi bisu atas berakhirnya kehidupan seorang ayah yang rela mempertaruhkan segalanya demi keluarganya.
Dunia Kelabu, Hutan Belantara Timur.
Di sebuah desa kumuh, berdiri berjejer rumah-rumah kayu usang yang tampak lapuk dan reyot. Sebagian dindingnya bahkan telah dipenuhi celah dan retakan, seolah satu hembusan angin kecil saja sudah cukup untuk membuat bangunan tersebut roboh.
Meski demikian, desa itu masih memiliki keindahan tersendiri.
Gumpalan hijau dari rimbunnya pohon bambu dan pinus membentang luas di sekeliling desa. Tebing-tebing curam berdiri kokoh di kejauhan, sementara aliran sungai yang sejernih kaca mengalir melewati sela-sela bebatuan. Kicauan merdu burung-burung liar semakin menyempurnakan pemandangan yang meneduhkan tersebut.
Namun, kedamaian itu mendadak sirna.
"Ibu... Ibu, kenapa Ayah jadi seperti ini?! Bagaimana mungkin hal tragis ini terjadi pada Ayah?!"
Jeritan histeris dan tangisan seorang anak laki-laki seketika merobek ketenangan desa. Suara itu begitu memilukan hingga membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merasakan kepedihan yang terkandung di dalamnya.
Pemandangan indah desa tersebut telah berubah menjadi neraka berdarah bagi seorang anak yang baru berusia delapan tahun itu.
Di dalam sebuah rumah reyot yang kini dipadati warga, tampak seorang bocah laki-laki berpakaian kumuh sedang menggenggam erat pergelangan tangan seorang pria paruh baya yang kini terbujur kaku bersimbah darah.
Para warga berdiri dengan wajah muram. Mereka datang bukan hanya karena rasa penasaran, melainkan untuk berduka atas kepergian sosok yang selama ini hidup bersama mereka sebagai seorang petani biasa.
"Ibu, kenapa... kenapa bisa jadi begini?!"
Tangisan Yefan semakin pecah. Tubuh kecilnya bergetar hebat sebelum akhirnya ia menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah pucat dan tampak sakit-sakitan.
Wanita itu tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Ia hanya mampu merengkuh putranya erat-erat, berusaha memberikan sedikit ketenangan kepada anaknya meskipun dirinya sendiri nyaris tak mampu menahan kesedihan. Air mata terus mengalir membasahi pipinya dan jatuh menembus pakaian suaminya yang telah bersimbah darah.
Di dada pria tersebut tertancap sebilah tanduk hitam legam milik binatang buas. Tanduk itu menusuk tepat ke jantung hingga menembus punggungnya. Luka yang ditinggalkannya begitu mengerikan hingga membuat beberapa warga yang melihatnya harus menahan napas.
Beberapa sesepuh desa dan seorang tabib tradisional sibuk berusaha mencabut tanduk tersebut dengan sangat hati-hati. Mereka tidak berani bertindak sembarangan karena kondisi jasad pria itu sudah sangat parah.
"Yefan..."
Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar suara seorang pria tua berambut putih panjang.
Langkah kakinya terdengar perlahan ketika ia berjalan mendekat, bertumpu pada sebatang tongkat kayu yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.
Seketika, isak tangis Yefan terhenti.
Para warga yang mengerumuni tempat itu segera membungkuk hormat dan membuka jalan. Sosok yang datang tak lain adalah Kepala Desa Fulmun, figur yang paling disegani di tempat tersebut.
Melihat kedatangannya, Yefan dan ibunya segera menyeka air mata sebelum tergesa-gesa berdiri dan membungkuk hormat.
Kepala Desa Fulmun mengangguk perlahan. Dengan gerakan tangannya, ia memberi tahu bahwa mereka tidak perlu terlalu formal dalam keadaan seperti ini.
"Kepala Desa... ba-bagaimana suami saya bisa mengalami nasib seperti ini?" tanya ibu Yefan dengan suara bergetar, berusaha menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya.
Ia tahu pasti ada sebab di balik tragedi ini.
Suaminya terbunuh oleh binatang buas Kera Hitam tingkat dua.
Meskipun tidak menyaksikan pertarungan tersebut secara langsung, wawasan yang ia dapatkan dari membaca berbagai buku di desa membuatnya mampu mengenali tanduk hitam legam yang tertancap di dada suaminya.
Itu adalah tanduk milik Kera Hitam tingkat dua—makhluk yang kekuatannya setara dengan kultivator Alam Roh.
Padahal, suaminya hanyalah seorang praktisi di puncak Pemurnian Qi.
(Di Benua Yang Hai, tingkat kultivasi terbagi menjadi tiga tahapan di setiap jenjangnya: Awal, Menengah, dan Puncak. Jenjang tersebut meliputi: Pemurnian Qi, Transenden, Alam Roh, Alam Jiwa Baru Lahir, Martial Ancestor, Alam Nirvana, hingga Alam Hidup dan Mati.)
Yefan yang mendengar pertanyaan ibunya langsung menatap Kepala Desa dengan sorot mata penuh harapan. Begitu pula dengan seluruh warga yang memenuhi ruangan tersebut.
Semua orang menunggu jawaban.
Ibu Yefan sadar bahwa dirinya tidak akan pernah sanggup membalas dendam kepada Kera Hitam tersebut. Tubuhnya bahkan tidak mampu berkultivasi.
Namun, ia tetap membutuhkan jawaban.
Habitat Kera Hitam tingkat dua berada sangat jauh di pedalaman hutan. Lagipula, makhluk tersebut dikenal sebagai binatang penyendiri dan tidak akan menyerang manusia kecuali jika diprovokasi.
Namun, jika diganggu, mereka tidak akan segan-segan membantai sang pengusik hingga tak bernyawa.
Lantas, apa yang sebenarnya dilakukan suaminya hingga memancing kemarahan Kera Hitam tersebut?
"Hah..."
Mendapat begitu banyak sorotan mata—terutama melihat gurat kepedihan yang terpancar jelas dari wajah Yefan dan ibunya—Kepala Desa Fulmun hanya bisa menghela napas berat.
Tentu saja ia mengetahui alasan sebenarnya di balik nasib malang yang menimpa ayah Yefan.
Awalnya, ia berniat menyembunyikan rahasia ini.
Ia tidak ingin menghancurkan mental Yefan yang selama ini bertarung pantang menyerah demi menjadi seorang kultivator. Anak itu telah berulang kali berusaha keras, tetapi seluruh usahanya selalu berujung sia-sia karena Yefan terlahir tanpa dantian—sebuah kondisi cacat bawaan yang menutupi jalannya menuju dunia kultivasi.
Kepala Desa menatap Yefan dengan pancaran mata yang begitu rumit.
"Yefan..."
Dengan berat hati, Kepala Desa Fulmun akhirnya memutuskan untuk membuka tabir kebenaran.
"Seminggu yang lalu, ayahmu datang menghadap kepadaku."
Kepala Desa berhenti sejenak, seolah mencari keberanian untuk melanjutkan perkataannya.
"Kala itu, dia datang dengan pandangan yang begitu mantap. Dia meminta izin untuk menerobos masuk ke pedalaman hutan."
Mendengar hal tersebut, Kepala Desa yang terkejut setengah mati langsung berusaha keras melarangnya. Ia bahkan membujuk pria itu berkali-kali agar membatalkan niatnya yang tidak berbeda dengan bunuh diri.
Namun, begitu mendengar alasan di balik ketetapan hati pria tersebut, Kepala Desa hanya bisa terdiam.
Bungkam seribu bahasa.
Sebagai seorang ayah, ia tak tega lagi melihat putra tunggalnya berjuang siang dan malam tanpa mengenal lelah. Anak itu bahkan mengabaikan luka dan rasa sakit yang memenuhi sekujur tubuhnya hanya demi menggapai impian menjadi seorang kultivator.
Namun, semua usaha tersebut terhalang oleh satu kenyataan kejam.
Ketiadaan dantian.
Sesuatu yang tidak dapat dipaksakan hanya dengan kerja keras.
Demi masa depan putra tunggalnya, sang ayah akhirnya nekat mempertaruhkan nyawa. Ia menembus bahaya pedalaman hutan, berharap dapat menemukan sebuah keajaiban yang mampu mengubah takdir anak tercintanya.
Kala itu, Kepala Desa hanya mampu berdiri dan menatap punggung ayah Yefan yang perlahan semakin menjauh.
Perasaan di dalam dadanya berkecamuk.
Ia tahu betul bahwa perjalanan tersebut sangat mungkin menjadi perjalanan satu arah.
Namun, ia juga memahami sesuatu yang jauh lebih dalam.
Betapa tidak terbatasnya kasih sayang seorang ayah terhadap anak yang terlahir kurang beruntung.
Dan demi anak itu, seorang ayah bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
(Bersambung)
aku cuma mau jelasin. ini karya hasil Kranggan ku sendiri kk, dan ga PP kalo KK ga percaya juga. dan terimakasih atas dukungan nya untuk karya ini meski tidak sebaik yang lain. 🙏🙏