NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUMPAH DAN HARAPAN

Kabar tentang apa yang terjadi di lembah utara menyebar ke seluruh wilayah Oakhaven dalam waktu singkat. Penduduk desa yang telah hilang kembali dengan selamat, dan tidak ada yang terluka. Keajaiban itu membuat pandangan orang-orang terhadap Zhoo berubah—bukan lagi sebagai orang asing yang dicurigai, melainkan sebagai seseorang yang istimewa.

Ayah Elara, penguasa wilayah itu, mengundang mereka ke ruang pertemuan besar di puncak pohon tertinggi. Di sana, di hadapan para tetua dan pemuka suku, ia berdiri dan berbicara dengan suara yang terdengar jelas oleh semua orang.

"Hari ini, kita menyaksikan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata," ucapnya, matanya menatap Zhoo dengan penuh rasa hormat. "Anak-anakku, kita hidup di masa yang penuh bahaya. Raja Vereon semakin kuat, dan bayang-bayang perang semakin dekat. Selama ini kita berpikir bahwa kita bisa bertahan dengan menutup diri, dengan menjaga hutan ini dan tidak peduli pada dunia luar. Tapi hari ini, Zhoo mengajarkan kita sesuatu—bahwa bahaya tidak selalu datang dari luar. Kadang bahaya tumbuh di dalam ketidaktahuan kita sendiri, di dalam ketakutan kita untuk bersatu."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lantang.

"Oleh karena itu, aku memutuskan: Wilayah ini akan berdiri bersama Zhoo. Bukan sebagai pengikut yang tunduk, melainkan sebagai sekutu yang setara. Jika ia berjuang untuk keadilan dan persatuan, maka kita juga ikut berjuang. Dan jika ia jatuh, kita juga ikut jatuh."

Suara tepuk tangan dan sorak-sorai meledak di ruangan itu. Elara tersenyum bangga, matanya bersinar melihat pemuda yang ia temui di hutan kini berdiri di hadapan rakyatnya dengan hormat. Namun di tengah kegembiraan itu, Arvin menyadari sesuatu—beban di pundak Zhoo kini semakin berat. Ia tidak lagi hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan dua temannya. Kini ada ratusan nyawa yang bergantung pada keputusan yang akan diambilnya.

Malam itu, Zhoo duduk sendirian di tepi cabang pohon yang besar, menatap langit yang penuh bintang. Elara mendekat dan duduk di sampingnya tanpa suara.

"Kau tidak tidur?" tanyanya pelan.

"Aku sedang berpikir," jawab Zhoo lembut. "Semakin banyak orang yang mempercayaiku, semakin aku takut aku tidak akan mampu memenuhi harapan mereka."

Elara menatap bintang-bintang di langit. "Ayahku pernah berkata, pemimpin yang baik bukanlah orang yang tidak pernah takut. Tapi orang yang tetap melangkah meskipun ia takut." Ia menoleh ke arahnya. "Dan kau, Zhoo... kau melangkah bahkan saat semua jalan tampak tertutup."

"Kau percaya padaku, Elara? Padahal kita baru saja bertemu."

"Aku melihat bagaimana kau bertindak saat di lembah itu. Kau tidak memikirkan kekuasaan, kau tidak memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya ingin menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak kau kenal. Dan itu... itu adalah tanda hati yang besar." Elara menyentuh tangannya perlahan. "Aku akan tetap di sisimu, Zhoo. Tidak peduli ke mana kau pergi, tidak peduli apa yang terjadi. Setidaknya sampai kau tidak membutuhkanku lagi."

Zhoo meremas tangannya dengan lembut, merasa hangat di dalam hatinya. "Terima kasih, Elara. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Tapi aku berjanji—aku akan melakukan segala yang kubisa agar tidak ada orang yang harus menderita seperti dulu lagi."

"Dan aku juga berjanji," kata Elara dengan suara tegas. "Aku akan menjadi matamu saat kau buta, menjadi kekuatanmu saat kau lemah. Dan jika suatu hari kau harus memilih antara ambisimu dan orang-orang di sisimu... aku akan menjadi orang yang mengingatkanmu untuk memilih orang-orang itu."

Di kejauhan, di antara bayangan pohon-pohon besar, Rhaen berdiri diam, mengamati mereka berdua. Ia tersenyum tipis, lalu berbisik pelan kepada dirinya sendiri: Permainan baru saja dimulai. Benua Est akan berubah selamanya. Dan semoga bintang-bintang memihak pada mereka yang berhati murni.

Namun di tempat yang jauh, di istana megah Kerajaan Veyra, Raja Vereon menerima laporan tentang apa yang terjadi di perbatasan dan di hutan Oakhaven. Wajahnya yang tua namun masih penuh wibawa berubah menjadi gelap. Ia melempar piala emas ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

"Seorang anak desa berani menentangku? Dan ia mendapat dukungan Oakhaven?" geramnya, suaranya penuh amarah. "Kumpulkan pasukan. Kirim utusan ke seluruh kerajaan. Katakan pada mereka—siapa pun yang memberi perlindungan atau bantuan kepada Zhoo dan pengikutnya, akan dianggap musuh Veyra. Dan musuhku akan dihapus dari muka bumi ini tanpa sisa."

Raja Vereon berdiri, menatap peta Benua Est yang tergantung di dinding kamarnya. Jari telunjuknya menekan nama Oakhaven dengan kuat, seolah ingin meremasnya hingga hancur.

"Dunia ini milik mereka yang berkuasa," gumamnya dingin. "Dan tidak ada pemuda bermimpi yang bisa mengubah tatanan ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!