"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Merubuhkan Istana
Ruangan itu mendadak menjelma menjadi ruang sidang yang sunyi dan mematikan. Dokumen di tangan Jiro bergetar tipis, bukan karena angin, melainkan karena cengkeraman jarinya yang begitu kuat hingga membuat kertas legal itu robek di bagian sudutnya. Tatapan mata Jiro yang beberapa menit lalu begitu hangat dan penuh kabut asmara, kini berubah menjadi sepasang belati es yang siap menguliti siapa saja di depannya.
Senjani bersimpuh lemas di atas lantai marmer yang dingin. Kedua lututnya terasa lemas, tidak lagi mampu menopang berat badannya. Dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, membiarkan air mata kepedihan menetes satu demi satu, membasahi lantai di depan ujung kursi roda milik Jiro.
"Dion Kiran..." Jiro mengeja nama itu dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan. Namun, getaran dendam dan rasa sakit yang mendalam di dalam suaranya sanggup membuat dinding ruangan seolah ikut bergetar. Pria itu mendongak, menatap Senjanj yang sedang gemetar hebat. "Katakan padaku, Senjani. Siapa pria bernama Dion Kiran ini bagi hidupmu?"
Senjani tidak mampu lagi bersuara. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh ribuan duri rasa bersalah yang mencekik napasnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan di sela-sela isak tangisnya yang kian pecah.
"Jawab aku, Senjani Kiran!!!" bentak Jiro, suaranya meledak menggelegar memenuhi setiap sudut di ruang terapi.
Pria itu melemparkan map tebal di tangannya hingga lembaran-lembaran dokumen medis itu terbang berserakan di udara, jatuh mengitari tubuh Senjani laksana daun-daun kering di musim gugur. Jiro memajukan kursi rodanya dengan sentakan kasar, mencengkeram kedua bahu Senjani dengan kekuatan penuh yang menyakitkan.
"Pria yang mengemudikan truk sialan itu... pria yang meremukkan mobilku, yang membunuh mimpiku, dan yang membuat kedua kakiku mati selama enam bulan ini... dia adalah ayah kandungmu, bukan?!" tuntut Jiro, urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol kemerahan karena luapan emosi yang memuncak.
"M-Maaf, Mas... Maafkan aku..." rintih Senjani akhirnya, suaranya parau dan terputus-putus. Dia mendongak dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata, menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh kilat kebencian yang amat pekat. "Demi Tuhan, aku baru tahu hari ini. Aku gak pernah tahu kalau kecelakaan yang menimpamu... melibatkan ayahku. Ibuku menyembunyikan semuanya dariku selama ini..."
Jiro tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat mengerikan dan penuh dengan luka batin yang robek kembali. Dia melepaskan cengkeramannya pada bahu Senjani dengan sentakan kasar yang membuat tubuh wanita itu terhuyung ke samping.
"Mata yang jernih ini... sentuhan tangan yang hangat ini..." Jiro memandangi kedua telapak tangan Senjani dengan pandangan yang sarat akan rasa muak dan pengkhianatan. "Jadi selama beberapa minggu ini, aku dengan bodohnya membiarkan anak dari pembunuh mimpiku merawatku? Aku membiarkanmu menyentuh kakiku, memelukku, bahkan menciumku?! Apakah semua perhatian dan ketulusanmu selama ini hanya bagian dari sandiwara busuk untuk menebus dosa-dosamu?!"
"Nggak, Mas! Nggak seperti itu!" Senjani merangkak maju, mencoba meraih ujung celana Senjani dengan jari-jarinya yang gemetar, namun Jiro dengan cepat memundurkan kursi rodanya menjauh, menolak disentuh sedikit pun olehnya. "Semua yang aku lakukan untuk kesembuhanmu itu murni karena tugasku sebagai seorang terapis dan... karena perasaanku yang tulus sebagai istrimu! Aku benar-benar mencintaimu, Mas Jiro!"
"Cinta?!" Jiro mendesis berbahaya, menatap Senjani dengan tatapan paling merendahkan yang pernah ada. "Jangan pernah berani menyebut kata itu lagi dengan mulutmu yang kotor itu, Senjani! Bagiku, kata cinta yang keluar dari anak seorang pembunuh terdengar seperti sebuah kutukan yang menjijikkan!"
Jiro memutar kursi rodanya menghadap pintu, memunggungi Senjani sepenuhnya. Bahunya yang tegap tampak naik turun karena napasnya yang memburu hebat akibat emosi yang menguras tenaganya. Dinding es yang sempat runtuh dan meleleh di dalam hatinya, kini membeku kembali dalam sekejap mata, menjadi jauh lebih tebal, lebih kokoh, dan lebih mematikan daripada sebelumnya.
"Pergi," ucap Jiro, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Senjani tertegun, matanya membelalak menatap punggung suaminya. "M-Mas Jiro..."
"KUBILANG PERGI DARI HADAPANKU, SENJANI KIRAN!!!" Jiro kembali berteriak histeris, menyabet sebuah vas bunga kristal di atas meja dekat jendela dan melemparkannya ke arah lantai di samping Senjani hingga hancur berkeping-keping. "Keluar dari rumah ini detik ini juga! Bawa semua barang-barang sialanmu dan jangan pernah berani menampakkan wajah penipu milikmu itu di depan mataku atau di lingkungan perusahaan Nandotomo lagi!"
Senjani menatap pecahan kristal yang berserakan di dekatnya, lalu menatap punggung Jiro yang sama sekali tidak bergerak untuk menolehnya. Rasa sakit yang teramat sangat, jauh lebih menyiksa daripada tamparan Bu Tari atau bentakan Jiro di malam pertama mereka, kini meremukkan ulu hati Senjani hingga hancur tak bersisa.
Etika profesinya sebagai fisioterapis dan moralitasnya sebagai seorang anak yang berbakti kini telah berbenturan di titik buntu. Dia tahu, keberadaannya di sini hanya akan menjadi garam di atas luka lama Jiro yang belum mengering. Kehadirannya tidak akan pernah bisa menjadi penyembuh jika namanya sendiri adalah lambang dari kehancuran suaminya.
Dengan sisa-sisa harga diri dan kekuatan yang dia miliki, Senjani bangkit berdiri perlahan. Dia menghapus air matanya dengan kasar, meskipun isak tangisnya tetap tidak bisa dihentikan. Dia merapikan tunik olahraganya yang sempat kusut, lalu membungkukkan tubuhnya sedalam sembilan puluh derajat ke arah punggung milik Jiro sebagai tanda penghormatan terakhir dari seorang terapis untuk pasangannya.
"Baik, Tuan Jiro Nandotomo," ucap Senjani, suaranya kembali formal, sedingin malam pertama mereka di kamar pengantin. "Saya akan pergi sesuai perintah Anda. Mengenai biaya pengobatan ibu saya yang telah dibayarkan oleh Kakek Baskoro... saya berjanji demi sisa hidup saya, saya akan mencicil dan melunasinya hingga sepeser pun tidak tersisa. Terima kasih karena sempat membiarkan saya menjadi bagian dari proses pemulihan Anda. Semoga Anda... segera bisa berjalan dengan sempurna tanpa bantuan siapa pun lagi."
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan yang menyayat hati itu, Senjani berbalik dan melangkah keluar dari ruang terapi dengan kepala tertunduk. Langkah kakinya terasa begitu berat, meninggalkan istana kemewahan yang sempat memberikannya kebahagiaan semu, menuju badai ketidakpastian di luar sana dalam keadaan air mata yang tumpah ruah tak terbendung lagi.
Sementara di dalam ruangan yang sunyi, Jiro mencengkeram dadanya sendiri yang terasa sangat sesak seolah kehabisan oksigen. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipinya yang kaku. Pria itu mengamuk sendirian di dalam kegelapan, merutuki takdir kejam yang telah mempermainkan hatinya dengan cara yang paling terhormat sekaligus paling menghancurkan.