Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'Kamu'
"Tidak perlu gugup."
Rozen yang duduk di sebelah kanan sedikit demi sedikit mulai menyadari bentuk kegelisahan istrinya. Semakin lama tanpa Rozen sadari pria itu mulai menaruh perhatian kepada Aurora. Bentuk perhatian itu mungkin belum mengarah ke tahap romantis, tapi dibandingkan dengan diperlakukan dingin dan cuek, hal ini justru lebih baik.
Aurora mengangguk. Punggungnya tegak, kedua tangannya berada rapi di atas pangkuan. Ia sedang berusaha menikmati hidangan, tetapi tatapan yang sesekali datang dari berbagai penjuru ruangan membuat nafsu makannya berkurang.
"Mudah bagimu mengatakannya," ucap Aurora kemudian dengan tersenyum kecut.
Aurora tahu niat suaminya baik, tapi perasaan canggung serta kegugupan yang dirasakannya benar-benar tidak akan reda hanya karena satu kalimat ’tidak perlu gugup'.
Rozen menatap istrinya sekilas. "Memang mudah. Kamu yang membuatnya terasa sulit."
Tidak ada niat untuk membuat lelucon, tapi Aurora di sebelahnya justru tertawa. Rozen menjadi semakin tidak mengerti tentang bagaimana Aurora memberinya sebuah respon. Kadang wanita itu gugup, kadang bimbang dan tiba-tiba menjadi tertawa. Wanita adalah makhluk yang paling sulit dimengerti, karenanya Rozen sangat tidak ingin berurusan dengan mereka. Apalagi jika harus menitipkan hati pada mereka.
Tapi tetap saja hal yang Rozen coba hindari itu justru perlahan-lahan mulai mendekat. Rozen memang tetap teguh bahwa dia tidak akan menumbuhkan perasaan pada Aurora tapi tanpa disadari oleh pria dingin itu juga bahwa sesuatu di dalam hatinya mulai bergetar ketika berurusan dengan istrinya.
"Mereka telah mengenalimu, sementara aku?”
Ada jeda yang tercipta saat Aurora mencoba menenangkan hatinya. Mungkin sedikit diam dapat membantunya berpikir dengan jernih sebelum mengutarakan isi perasaannya yang sensitif. Saat itu, Rozen memilih ikut diam. Ia menunggu dengan tenang, dengan tatapan datar khas pria itu.
"Aku masih merasa seperti orang asing. Dan aku merasa mereka mengharapkan melihat Isabella, tapi yang hadir adalah aku."
Jika tatapan Rozen dapat bersuara, mungkin bunyinya akan terdengar seperti ini. "Kepala kecil itu selalu diisi dengan overthinking yang tidak berarti."
"Berhenti memikirkan tentang hal yang belum tentu benar terjadi. Kepalamu kecil, aku takut itu akan meledak."
Aurora termenung. Wanita itu berkedip sekali dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan setelah menyadari bahwa tadi Rozen baru saja menyebutnya kata 'kamu'.
"Kamu?” batin Aurora tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Karena untuk yang pertama kali Rozen menggunakan kata 'kamu' dan bukan 'kau' di tengah percakapan mereka.
Aurora sungguh sangat ingin meminta penjelasan, apakah Rozen baru saja menyebutnya dengan kata 'kamu' atau semua itu hanya kesalahan yang tidak sengaja terjadi. Namun Aurora memilih untuk tidak menanyakannya. Ia hanya menunggu suaminya itu melanjutkan perkataan yang masih tergantung di udara walau bibirnya sangat ingin membicarakannya.
"Kamu datang bersamaku. Artinya kamu tidak sendirian."
Begitulah kalimat Rozen berbunyi dan Aurora tetap terdiam setelah kembali mendengar kata 'kamu' terucap dari bibir suaminya. Ia kemudian tersenyum manis dengan sedikit rona merah di kedua pipinya. Aurora mungkin menganggapnya berlebihan tapi untuk seorang Rozen Salvadore yang berbicara seperti itu, pasti akan menimbulkan kesenangan yang mau tidak mau akan tumbuh di pikiran pendengarnya.
Sejenak, Aurora sudah tidak lagi mempedulikan bagaimana orang-orang akan melihat dan menilainya. Karena di pikirannya hanya ada satu suara yang kerap bunyi berulang-ulang. Suara suaminya yang menyebutnya dengan kata 'kamu'.
"Aku tidak membawa kamu kemari hanya untuk diinterogasi."
Masih dengan senyuman manis di bibirnya, Aurora mengangguk bahagia. Ia menjadi lega karena Rozen benar-benar membuktikan perkataannya, perihal tidak akan membuat Aurora merasa sendirian saat menghadapi semuanya.
Akhirnya Aurora dapat mengembuskan napas dengan lega. Rozen memang pria yang dingin dan tidak terlalu suka berbicara. Tapi yang sangat Aurora syukuri adalah tentang bagaimana pria itu tidak memperlakukannya dengan kasar. Tidak pula menciptakan batasan untuk Aurora yang merupakan seorang pengantin pengganti. Semua hal itu sudah sangat cukup untuk Aurora.
Dalam jamuan yang kedua itu, Aurora menemukan kenyataan bahwa suaminya tidaklah seburuk itu. Setidaknya di hadapannya, Rozen tidak pernah menjadi seorang mafia kejam seperti yang orang-orang katakan.
Dalam lindungan Rozen, Aurora mulai menjadi nyaman. Wanita itu kini dapat menikmati hidangannya dengan santai. Walau masih ada yang memandangnya dengan terang-terangan, Aurora susah tidak terusik lagi.
Namun sebuah hawa aneh mendadak menghampiri. Aurora menyadarinya bahwa dari arah lantai dua ballroom, ada gerak mencurigakan yang Aurora tidak pahami. Ia merasa seperti sedang diperhatikan dari atas sana.
Dan benar saja. Di balik tirai tebal dekat balkon, sesuatu bergerak. Aurora mengerutkan kening dan menjadi waspada.
"Kenapa?"
Rozen tampaknya tidak menyadari hal mencurigakan tersebut. Pria itu menoleh sebentar kepada istrinya sebelum ikut memandang ke lantai dua, ke arah pandangan Aurora menuju.
Aurora memandang suaminya sekilas sebelum kembali melihat ke arah balkon. Memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa di sana.
"Tidak. Mungkin aku hanya salah lihat," ungkap Aurora pelan.
Rozen yang masih melihat ke arah lantai dua tidak menciptakan sesuatu yang berlebihan. Baik dari gerakan maupun ekspresi. Namun tatapannya tiba-tiba menyipit. Artinya Rozen telah menyadari ada yang janggal di sana.
Beberapa detik kemudian, Rozen kembali menatap Aurora tapi tidak mengatakan apapun dengan sorot matanya yang tercipta semakin dingin, hingga Aurora sendiri sempat menjadi gelisah beberapa detik.
"Ada apa?” cicit Aurora gugup.
Aurora menelan salivanya dengan berat. Rozen memang selalu berekspresi datar namun belum pernah sedingin ini. Saat itu juga, Aurora sadar bahwa kecurigaan memang benar. Di atas sana ada sesuatu yang yang tidak mereka sadari sedang mengamati pergerakan mereka.
...***...
Tidak ada yang menyadari bahwa beberapa meter di atas sana, di balik sebuah pintu balkon yang sedikit terbuka, seseorang berdiri di tengah kegelapan. Sepasang mata memperhatikan mereka. Wajahnya yang tersembunyi tampak tenang sedang memperhatikan setiap gerakan, mengamati setiap tindakan pada sepasang objek yang menjadi titik utama. Rozen dan Aurora.
Seseorang dengan segelas champagne di tangan kirinya dan sebuah map berada di tangan kanannya. Digenggam erat seakan benda itu adalah harta berharga yang tidak boleh hilang.
Dari lantai dua, sosok itu menatap Aurora kemudian beralih ke pria di sebelahnya. Rozen Salvadore.
Jemarinya menggenggam map itu semakin erat. Bahkan kuku tangan ikut berubah menjadi putih. Raut wajahnya tersembunyi sempurna, namun dari caranya meremas map hingga tangannya bergetar, sosok tidak dikenali itu sudah pasti sedang menahan kesal luar biasa.
Dari dalam map dikeluarkan selembar foto lama yang menyimpan potret dua gadis cantik yang memiliki wajah serupa. Salah satunya adalah Aurora dan yang satunya adalah Isabella.
Ada sesuatu yang sulit disembunyikan dari sorot matanya. Dialah kekecewaan kemudian rasa tidak percaya.
Sejak awal sosok misterius itu begitu yakin bahwa rencananya telah berjalan sempurna. Pengantin yang sesungguhnya berhasil dihilangkan kemudian digantikan. Karena selama ini sosok tanpa nama mengira Rozen tidak akan pernah benar-benar mempertahankan pernikahan tersebut. Namun sekarang pemandangan yang tersuguh di hadapannya justru berbanding terbalik dengan rencana. Rozen justru terlihat begitu tenang berdiri di sisi Aurora.
Sosok yang ingin tidak terlihat itu menurunkan gelasnya.
"Menarik." Satu senyuman miring tercipta. Suaranya nyaris tidak terdengar di tengah suara musik dan percakapan penghuni ballroom.
"Sang pengganti mulai mencintai pria yang seharusnya menjadi suami kakaknya."
Sosok itu berbalik arah menuju tempat gelap bersama kekacauan yang tercipta di dadanya. Rencananya tidak berjalan sebagaimana inginnya. Dengan kekecewaan yang terpaksa ditelan, sang tanpa nama pergi dengan rencana baru yang segera menyusul.
Tujuannya masih sama, yaitu Aurora yang masih belum menyadari bahwa seseorang baru saja mengamati setiap langkahnya.
Bagaimana juga, pernikahan Rozen dan Aurora tidak seharusnya bertahan. Dan usahanya menciptakan kepergian Isabella tidak akan menjadi sia-sia. Rozen hanya boleh dimiliki olehnya. Bukan Isabella maupun Aurora.
Dan Rozen. Pria itu mulai menyadari bahwa masa lalu yang ingin ditinggalkan mungkin tidak akan pergi semudah yang dikira.
Siapa sangka bahwa dibelakang Rozen, secara diam-diam, ada seseorang yang begitu menginginkannya. Tidak tahu siapa dan kenapa. Namun, jika Rozen menyadari siapa dalangnya, Rozen mungkin tidak akan bisa berkutik.
...***...