Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raungan
Di bawah tatapan mata merah Induk Jarum yang mengerikan dan raungan gaib yang menggetarkan isi dada, Arkan menatap wajah Dayang Sari yang aaat ini sangat begitu menakutkan.
Ia menatap cukup lama, untuk apa yang ia takuti selama ini, sebagai kali yang terakhirnya.
Dadanya bergetar, bukan karena takut dengan Induk Jarum, melainkan ada sesuatu yang lebih dalam.
Selama ia melakukan investigasi sebagai seorang reporter, dsn berusaha menelusuri jejak-jejak mitos yang berdarah di tanah Kalimantan, ada satu rahasia yang terkunci rapat di lubuk hatinya yang paling dalam. Arkan diam-diam telah jatuh hati pada Dayang Sari.
Ia tidak peduli bahwa di dalam nadi gadis itu mengalir darah titisan Kuyang yang dikutuk. Ia tidak peduli jika dunia menganggap gadis ini sebagai monster yang menakutkan.
Ia bahkan tidak peduli saat seluruh dunia membenci gadis itu.
Bagi Arkan, Dayang Sari hanyalah seorang gadis malang yang jiwanya dirampas oleh keserakahan masa lalu. Korban dari perjanjian yang terkutuk.
Bagi Arkan, Dayang Sari tetaplah seorang guru yang cantik nan lembut, dengan jiwanya yang sangat tulus.
Dan malam ini, ia siap menukar nyawanya sendiri demi membebaskan gadis itu.
"Dayang..." bisik Arkan, air matanya menetes, jatuh tepat di atas pipi Dayang Sari. Dimana tubuh sang gadis dipenuhi oleh belatung hitam dari kekuatan magis. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu."
Mendengar bisikan penuh ketulusan itu, tubuh Dayang Sari mendadak bergetar hebat. Lapisan belatung hitam yang menyelimuti kulitnya tampak meronta meradang, seolah-olah kekuatan cinta dan ketulusan manusia adalah racun yang paling mematikan bagi sihir hitam Induk Jarum.
“ASU KECIL! DIA MILIKKU!” Induk Jarum melesat maju. Ia dalam kondisi kemarahan yang sangat besar.
Barikade alias benteng pertahanan ghaib dsru mantra Atok Giyo yang menahan kekuatan Induk Jarum mengalami retak dihantam kekuatan penuh sang iblis hulu.
Rambut putih panjangnya melesat bak cambuk besi, menghantam dada Arkan hingga terdengar bunyi...
KRAAAK!
Tulang rusuk sang reporter mengalami patah.
Braaaak!
Tubuh Arkan terkapar di atas lantai cadas.
"Errrrrrggh" erangnya kesakitan, dan ia memuntahkan darah segar dari sudut mulutnya.
Dadanya terasa nyeri, dan nafasnya cukup berat, seolah ia kehabisan oksigen.
Pandangannya mulai mengabur, setiap tarikan napasnya terasa seperti tusukan pisau yang tepat menghujam di bagian paru-parunya.
"ARKAN!" teriak Dimas dan Dirman bersamaan. Wajah panik terlihat jelas di raut mereka.
Dirman mencoba maju menerjang dengan obornya, namun kawanan kuyang liar langsung mengerubunginya, menahan langkah tim redaksi dalam kepungan maut.
Atok Guro dan Mbah Giyo mati-matian merapalkan mantra pamungkas untuk menahan tubuh Induk Jarum yang kian mendekati altar.
Dengan sisa kesadaran yang menipis, di ambang batas kematiannya, Arkan menolak untuk menyerah.
Ia mencoba mengabaikan rasa sakit yang luar biasa di dadanya, ia mencengkeram botol minyak hijau dan Kuning dengan tangan kirinya yang gemetar.
Tangan kanannya meraih batu gamping runcing di atas lantai cadas yang keras.
"Dayang, aku akan melepaskan perjanjian terkutuk ini," ucapnya dengan bibir yang gemetar.
Dengan tubuh penuh cairan pekat berbau anyir darah, dan juga luka dalam yang ia alami, ia merangkak mendekati batu persembahan.
Setiap jengkal seretan tubuhnya meninggalkan jejak darah kental dan juga pekat di atas lantai batu purba berusia ratusan tahun..
“Jangan berani, manusia bodoh!” Induk Jarum menjerit histeris.
Bersamaan dengan ucapannya, jalinan rambutnya yang menyerupai pinralan tali tambang, melilit leher Arkan semakin kencang dan mengikat.
Detik itu juga, Induk Jarum mengangkat tubuh sang reporter ke udara untuk mencekiknya hingga mati.
"Manusia lemah! Kau pikir bisa mengalahkan kekuatanku!" pekik Induk Jarum dengan suara yang melengking.
Ustaz Rohim semakin memperkuat doanya. Ia yakin, tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menandingi kekuatan Tuhan Semesta Alam.
Sedangkan Arkan mencoba memanfaatkan kesempatannya yang begitu tipis.
Sembari tergantung di udara dengan napas yang terputus, Arkan menggunakan seluruh sisa kekuatan di lengan kanannya.
Matanya menatap lurus ke arah bawah altar cadas tepat di bawah posisi jantung Dayang Sari.
“Demi kehidupanmu, Dayang...!” jerit Arkan dalam hatinya.
TAAAANG-BRAAAKKK!
Ia melemparkan kedua botol itu dengan tenaga terakhir yang sangat kuat, Arkan melemparkan botol minyak Kuyang hijau dan juga kuning, tepat di bawah altar persembahan yang sudah berusia purba tersebut.
Wuuuuusssh!
Traaaang!
Botol kaca itu hancur berkeping-keping.
Seketika, cairan hijau pekat dan juga botol kuning di dalamnya meledak.
Buuuum!
Pecahnya kedua botol tersebut, memancarkan gelombang energi spiritual berwarna hijau zamrud dan kuning terang yang sangat menyilaukan mata.
Tim redaksi menutup mata mereka menggunakan lengan tangan.
Gelombang itu menghantam seluruh penjuru Batoq Tenevang bak sedang mengalami gempa bumi.
“TIDAAAAKKKKKK!” Induk Jarum melolong panjang.
Suara jeritannya melengking tinggi, sebelum tubuhnya perlahan-lahan retak, terbakar oleh cahaya hijau yang memutus paksa seluruh ikatan janji darah dua ratus tahun lalu.
Rambut-rambut gaib yang melilit Arkan hangus menjadi abu, membuat Arkan terhempas jatuh ke lantai batu cadas.
Braaak!
Tubuh itu tak bergerak lagi, tubuhnya serasa sudah remuk.
Di saat yang sama, kawanan kuyang liar di udara memekik kesakitan seiring dengan jatuhnya kepala-kepala mereka ke tanah, berubah menjadi tengkorak-tengkorak tua yang tak lagi memiliki daya magis.
Mendadak dunia hening seketika, dan kesunyian malam di Hulu Mahakam mendadak kembali menyergap, menyisakan bau gosong dan debu mistis yang perlahan turun bersama kabut.
Arkan terbaring diam di atas lantai cadas yang dingin, napasnya sangat lambat, matanya menatap langit-langit gua makam kuno yang perlahan menjadi sunyi.
Di sampingnya, belatung hitam di tubuh Dayang Sari telah lenyap sepenuhnya. Kulit gadis itu kembali bersih, dan perlahan, hela napas yang teratur terdengar dari dadanya.
Kutukan itu telah patah, namun Arkan tahu, ia telah membayar pembebasan itu dengan tetes darah terakhirnya.
Dirman dan yang lainnya mematung sejenak. Mencoba mengumpulkan semua kesadaran mereka yang seolah ikut tersedot ke dalamnya.
Saat ini, hanya suara nafas dan detak jantung mereka yang terdengar.
Angin berhenti bertiup. Pohon-pohon karst di tebing kapur seolah ikut menyaksikan peristiwa yang cukup mengerikan itu.
"Errrrggh!" erang Arkan menahan segala rasa sakit yang kini menghujamnya.
Ia tidak lagi dapat menggerakkan tubuhnya. Semuanya terasa begitu berat dan sakit.
Tetapi ia sudah ikhlas dan juga lega, saat melirik Dayang Sari yang saat ini masih berada di atas altar batu persembahan, telah terbebas dari kutukan terkutuk itu.
Ia mencoba menarik bibirnya ke atas untuk tersenyum. Perlahan matanya kian terasa berat. Dengan pandangan yang semakin berat, ia mulai menutup matanya. Ia merasa jika pengorbanannya untuk sang gadis tidak lah sia-sia.
rasane seger ser ora
arkan2 demi cinta rela mau bertaruh nyawa 😄😄😄😄