Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Maaf, aku masih ada urusan lain,” ucap Stella yang langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan mantan kekasihnya.
Steve hanya berdiri memandang punggung Stella yang semakin menjauh. “Stella, sudah lama tidak bertemu. Kau pasti masih membenciku,” batinnya.
Stella yang keluar dari rumah sakit berjalan menuju mobilnya. Di saat yang sama, sebuah mobil melintas di depan rumah sakit. Vincent yang duduk di dalam mobil tanpa sengaja menoleh ke arah luar jendela dan melihat Stella.
“Stella? Kenapa dia datang ke rumah sakit?” gumam Vincent.
“Tuan, apakah perlu kita memutar balik?” tanya Willy yang sedang menyetir.
“Tidak perlu. Cari tahu kenapa Stella datang ke rumah sakit. Apakah dia sakit?” perintah Vincent.
“Baik, Tuan.”
Beberapa saat kemudian, Vincent sudah berada di ruang kerjanya. Ia berdiri menghadap jendela besar ketika Willy mengetuk pintu lalu masuk.
“Tuan!” seru Willy.
“Bagaimana?” tanya Vincent sambil menoleh.
“Saya sudah mendapatkan informasinya. Nona Mo menemui dokter spesialis kandungan.”
“Kandungan?” Vincent langsung mengernyit.
“Iya, Tuan. Saya juga menemukan informasi bahwa Nona Mo pernah menjalani aborsi sekitar sepuluh tahun lalu. Waktunya tidak jauh dari saat Nona Mo berpisah dengan Steve Lu,” jawab Willy.
Vincent mengepalkan kedua tangannya dan terdiam cukup lama.
“Jadi... hubungan mereka ternyata sejauh itu. Bahkan mereka sudah pernah memiliki seorang anak,” ucap Vincent dengan nada tertahan.
“Saya tidak tahu apakah Steve Lu mengetahui kehamilan Nona Mo saat itu atau tidak. Dan tadi mereka juga bertemu di rumah sakit,” ujar Willy.
“Mereka bertemu lagi?” Vincent menoleh tajam.
“Atau sebelumnya mereka sudah pernah bertemu?”
“Sepertinya itu adalah pertemuan pertama mereka setelah berpisah,” jawab Willy.
Vincent terdiam. Ia kemudian berjalan menuju sofa dan duduk dengan wajah lesu sambil menggenggam kedua tangannya.
“Bagaimanapun, pria itu tetap berada di hatinya. Setelah berpisah selama sepuluh tahun, mereka akhirnya bertemu lagi. Pantas saja Stella selalu menolakku. Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu,” ucap Vincent dengan senyum pahit.
Willy terdiam sejenak sebelum berkata, “Tuan, bagaimana kalau Anda melupakannya saja? Fokuslah pada Nona Mu. Mungkin dengan begitu Anda tidak akan kecewa lagi.”
Vincent mengangkat wajahnya.
“Menurutmu... apakah mereka akan bersatu kembali?”
Willy tampak ragu sebelum menjawab, “Banyak orang mengatakan cinta pertama adalah yang paling sulit dilupakan. Apalagi mereka pernah memiliki seorang anak. Mungkin Nona Mo melakukan aborsi karena Steve Lu meninggalkannya.”
“Tuan, kesehatan Nona Mo memang tidak begitu baik setelah aborsi. Saat itu dia terpaksa menjalani tindakan tersebut dan komplikasinya memengaruhi kondisi tubuhnya. Yang paling buruk, dokter pernah mengatakan bahwa Nona Mo kemungkinan besar tidak akan bisa hamil lagi,” lanjut Willy.
Vincent langsung bangkit dan menatap asistennya dengan terkejut. “Tidak bisa hamil lagi?”
“Benar, Tuan. Saya rasa kepergian Steve Lu pasti sangat menyakitkan bagi Nona Mo. Saat itu usianya baru tujuh belas tahun, tetapi dia harus menghadapi semuanya sendirian sampai rela mengorbankan tubuhnya sendiri. Bagi seorang wanita, mengetahui dirinya mungkin tidak bisa memiliki anak lagi tentu merupakan pukulan yang sangat berat,” jawab Willy.
Vincent terdiam. “Cinta pertamanya pergi meninggalkannya. Stella yang saat itu baru tujuh belas tahun pasti belum mampu menerima kenyataan sebesar itu.”
“Tuan, melihat reaksi Steve Lu tadi, sepertinya dia masih memiliki perasaan terhadap Nona Mo dan mungkin ingin kembali bersamanya,” ujar Willy.
Vincent menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, ia menghela napas panjang.
“Sudahlah. Mulai hari ini aku harus melepaskannya. Mantannya sudah kembali dan mereka juga sudah bertemu. Tidak ada gunanya aku terus berharap.”
Vincent kemudian menatap Willy. “Willy!”
“Iya, Tuan.”
“Mulai besok kau yang mengurus semua proyek yang sedang berjalan. Aku akan menjaga jarak dari Stella.”
“Baik, Tuan,” jawab Willy.
Vincent kembali menghadap jendela besar. Tatapannya terlihat kosong, seolah keputusan yang baru saja dibuat jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin ia akui.
“Lima tahun mengejarnya... ternyata pada akhirnya aku tetap kalah dari seseorang yang sudah berada di hatinya sejak dulu,” gumamnya pelan.