Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Malam Petaka
Setelah mengganti pakaiannya, Diyah segera turun supaya tidak membuat Biyakta menunggu lama. Dari tempatnya berdiri Laksmi memandang penuh remeh, sebab penampilan Diyah memang sangat kontras dengan kehidupannya saat ini.
'Gembel memang selamanya akan menjadi gembel! Bagaimana bisa dia sebanding dengan Biyakta?' makinya sambil menggenggam tangan putranya, Tama. Hari ini Laksmi ingin mengantar sekolah.
"Aduh, Ibu, tanganku sakit," keluh Tama sambil mengernyit. Tangan mungilnya seperti ingin dipatahkan.
"Maaf-maaf, Sayang, Ibu tidak sengaja," balas Laksmi merasa bersalah. Gara-gara terlalu fokus pada Diyah, dia sampai tak sadar meremas tangan putranya. Tama mengangguk meski hampir menangis, kemudian mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam mobil.
Di teras, seorang wanita paruh baya sudah menunggu Diyah.
"Sudah siap, Non?" tanyanya sambil tersenyum. Dia sudah membawa cukup perbekalan untuk mengganjal perut saat lapar.
"Sudah, Mbok."
Lantas keduanya pun naik ke mobil yang dikemudikan oleh Biyakta. Menyusuri jalanan desa yang sebagian masih tanah bercampur batu.
"Mbok, tidak perlu ditunjukkan semua ya. Kalau sudah capek kalian langsung pulang saja, bisa besok lagi," ujar Biyakta sambil melirik istrinya yang duduk anteng di sebelah.
"Iya siap, Den," jawab Mbok Sum. Yang kemudian beralih bicara pada Diyah. "Gimana, Non, sudah mulai diminum vitaminnya?"
Diyah yang sedang menikmati pemandangan langsung mengalihkan perhatian.
"Sudah, Mbok," jawabnya. Padahal satu pun belum ada yang masuk ke tubuhnya. Karena sebagai kader posyandu yang sering mendapat edukasi, Diyah cukup mengenali bentuk pil yang diberikan oleh Mbok Sum.
Namun, untuk memastikan apa tujuannya, dia perlu mengikuti permainannya. Sesuai kecurigaan Diyah, sepertinya sang bude sedang membuat rencana.
'Di dalam rumah itu, aku belum tahu mana yang betulan baik dan mana yang jahat. Jadi aku perlu beradaptasi terlebih dahulu. Dan yang terpenting, Mas Biyakta menjadi garda terdepan untukku.'
"Vitamin apa?" sambar Biyakta yang tampak penasaran dengan pembicaraan tersebut.
"Untuk kesehatan, Mas," jawab Diyah sambil tersenyum tipis. Biyakta manggut-manggut, dan tak terasa jalan mereka sudah menyempit.
"Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini. Karena jalannya terlalu sempit untuk mobil," ujar pria itu.
"Tidak apa-apa, Mas, aku dan Mbok Sum jalan saja," balas Diyah, tanpa merasa keberatan sedikit pun.
"Iya, Den, Mbok juga masih kuat kok."
Diyah dan Mbok Sum bergegas turun, sebelum Biyakta benar-benar pergi wanita itu menyalimi tangan suaminya dengan takdzim. Biyakta sempat tertegun, dan tersadar saat Diyah mulai melambaikan tangan.
Dia membiarkan kakinya berjalan tanpa alas, menyusuri jalanan penuh rumput, dan jalanan setapak yang membelah hamparan sawah.
Di kejauhan para petani mulai menanam padi. Hamparan tanah luas sebagian menghijau, seperti rumput di lapangan bola. Beberapa di antara mereka yang sudah mengenal Diyah langsung menyapa.
"Selamat pagi, Bu Juragan. Mau ngecek sawah ya?"
Diyah tersipu malu.
"Jangan panggil begitu, Pak, yang juragan kan mertua saya," ujarnya merasa canggung dengan panggilan tersebut. Namun, para petani hanya tertawa kecil. Mbok Sum juga ikut tersenyum.
"Sama saja, Non, kan nanti Den Biyakta yang meneruskan," kata Mbok Sum yang mengekor di belakang Diyah.
Mereka kemudian beralih menuju kebun buah milik keluarga Juragan Marta. Mangga, alpukat, durian, hingga rambutan tumbuh subur. Diyah memandang sekeliling dengan takjub.
"Luas sekali ya, Mbok? Aku baru tahu kebun yang di sini," ujar Diyah dengan mata yang berbinar.
Mbok Sum mengangguk bangga.
"Non Diyah bisa tanam buah lain di sini, lahannya masih luas. Dulu almarhumah ibu Mas Biyakta paling senang ke sini," paparnya menceritakan. Karena dia memang salah seorang yang paling lama mengabdi di keluarga Kusuma.
Diyah menoleh.
"Ibu mertua?"
"Iya, Non, Ibu Ainun sering metik buah sendiri terus dibagiin ke warga. Makanya banyak yang sayang sama beliau."
Diyah tersenyum sambil meraba bayangan wajah ibu mertuanya yang samar-samar diingatan.
"Pantas Mas Biyakta juga senang membantu orang," ujar Diyah seraya mengambil buah yang jatuh ke tanah. Masih mulus.
Mbok Sum mengangguk pelan.
"Anak itu memang paling mirip ibunya, Non. Kalau boleh jujur, Non Diyah beruntung mendapatkan Mas Biyakta, Mbok do'akan pernikahan kalian langgeng sampai tua."
Kalimat itu membuat Diyah diam sejenak, sementara hatinya ikut mengaminkan.
***
Saat perjalanan pulang, dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang membawa rumput untuk pakan ternak.
"Diyah!" panggil Anjani. Sahabatnya itu berlari kecil menghampiri. "Wah ... sekarang makin susah ditemui."
Diyah terkekeh kecil.
"Bukan begitu, Jan, aku kan masih adaptasi dengan kehidupan baruku."
"Gimana rasanya jadi menantu juragan?" tanya Anjani dengan senyum menggoda. Diyah menggeleng dengan rona malu-malu.
"Masih sama saja."
Anjani memandang Mbok Sum dengan sopan. "Permisi, Mbok."
Mbok Sum mengangguk ramah.
"Nggak perlu sungkan kalo mau mengobrol."
Anjani segera menggandeng tangan Diyah dan mereka berjalan beriringan.
"Serius, kamu bahagia? Nggak ada yang rese 'kan?" tanya Anjani, karena dia cukup khawatir dengan kehidupan Diyah, takut seperti di sinetron yang sering dia tonton.
Diyah terdiam sesaat.
"Aku bahkan belum sebulan menikah, Jan. Tapi ...." Diyah tersenyum kecil. "Mas Biyakta orang yang sangat baik. Aku dikasih kartu ATM." Lanjutnya sambil bisik-bisik, dan langsung membuat Anjani menganga.
"Nah, itu yang penting!" balasnya heboh. Anjani benar-benar ikut bahagia, jika Diyah bahagia.
Sebelum berpisah di pertigaan, karena rumah Anjani lebih dekat, Diyah berkata. "Kalau ada waktu mainlah ke rumah. Nanti aku siapin jamuan yang banyak."
"Emangnya boleh?" tanya Anjani sambil melirik ke arah Mbok Sum. Sedangkan Diyah langsung mengangguk tanpa menunggu persetujuan siapa pun.
"Aku kangen ngobrol sama kamu."
Anjani mengangguk penuh semangat. Karena ini akan menjadi momen pertamanya menginjakkan kaki di rumah orang terkaya di desa. "Oke, aku bakal dateng."
***
Hari yang sama juga menjadi hari pernikahan Cakra dan Rani. Gedung pernikahan dipenuhi keluarga dari pihak keduanya. Termasuk ibu Cakra yang tersenyum sepanjang acara.
'Lihatlah, Diyah, anakku sama sekali tidak menyesal putus denganmu. Karena dia juga dapat yang lebih baik, wanita terhormat, muda dan kaya!'
Musik mengalun meriah. Foto-foto mereka terus diabadikan oleh fotografer.
Cakra tampak tersenyum lebar, begitu pula dengan wanita yang telah sah menjadi istrinya. Dua cincin yang tersemat di jari masing-masing dipamerkan. Banyak orang memuji mereka sebagai pasangan yang serasi.
"Aku bahagia sekali, Mas, akhirnya aku bisa nikah sama kamu," ucap Rani saat di atas pelaminan. Cakra meraih tangan Rani, kemudian mengecupnya sekilas.
"Aku juga, bahkan aku udah nggak sabar ...." Pria itu berbisik hingga membuat Rani terkekeh karena merasa kegelian.
"Mas, kamu nakal deh," ucapnya sambil mencubit perut Cakra.
Hingga tiba di malam hari, setelah seluruh acara selesai, mereka langsung masuk ke kamar pengantin. Wajah mereka memang terlihat lelah, tetapi sesuatu yang membara di dalam dada mengalahkan segalanya.
Dalam sekejap ruangan itu dipenuhi dengan tawa dan suara decapan. Rasanya benar-benar menggairahkan, apalagi untuk Cakra yang sudah di atas ubun-ubun.
"Pelan-pelan ih," rengek Rani dengan manja. Cakra hanya tersenyum lebar, berlanjut melucuti pakaian istrinya.
Namun, suasana yang semula hangat perlahan berubah menjadi tegang. Sebuah kenyataan yang tidak pernah dibayangkan Cakra mulai terungkap. Cakra menatap istrinya dengan tatapan penuh amarah.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" sentaknya sambil membanting apa saja yang ada di ruangan itu.
Rani menundukkan kepala, memeluk tubuhnya yang sudah polos.
"Aku takut kamu marah, aku takut kehilangan kamu, Mas."
"Kamu bohong! Pantas setiap kali aku meminta lebih kamu tidak pernah mau. Ternyata memang sudah ada yang mendahului aku," rancau Cakra, menuding tepat ke wajah Rani.
"Aku memang salah, Mas ...."
Cakra mengepalkan tangan. Rani turun dari ranjang dan hendak memeluk kaki Cakra, agar amarah pria itu bisa redam.
"Jangan dipikir aku bisa ditipu!"
Air mata Rani mulai berjatuhan. "Aku ingin menjelaskannya, tapi aku tidak pernah punya keberanian. Maafin aku, Mas."
Cakra menggeleng kecewa. Baginya yang paling melukai bukan hanya kenyataan yang baru dia ketahui, tetapi juga karena merasa kejujuran dalam hubungan mereka telah hilang sejak awal.
"Aku butuh waktu sendiri."
"Mas!" Rani mencoba menahan agar suaminya tidak pergi. Namun, pria itu tetap melangkah dan membuka pintu kamar.
"Jangan ikuti aku!" tandasnya.
Cakra melangkah keluar rumah dengan langkah cepat, meninggalkan Rani yang terduduk di lantai sambil menangis. Para keluarga yang melihat itu tentu bertanya-tanya.
"Cakra, ada apa ini?" tanya ibu Rani.
"Tanyakan saja pada anak ibu!" jawabnya tanpa menoleh atau pun menghentikan langkah kakinya.
Malam itu Cakra berjalan tanpa tujuan. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Diyah, hidup yang dia bayangkan akan sempurna justru mulai dipenuhi masalah.
rani hamil anaknya cakra apa bevar anaknya cakra?
makanya sarimi jangan sombong dan ber lagu,,,,kan dapat karma....
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.