NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Sang Pangeran yang Takut Pesta Dansa.

Angkasa raya memang menyimpan pesona yang teramat megah.

Di balik ruang hampa kedap suara yang pekat, terselip keindahan abadi—di mana jajaran nebula berwarna-warni, pendar galaksi, serta miliaran bintang bertabur anggun menghiasi setiap jengkal kegelapan kosmik.

Di salah satu sudut tata surya yang tersusun dari sepuluh planet yang berotasi rapi mengelilingi sebuah bintang induk, di situlah dunia tempat sang Pangeran tinggal.

Sebuah planet biru yang indah, bermandikan pendar keemasan khas pantulan sinar surya pada lapisan atmosfernya. Dunia tersebut diapit anggun oleh dua buah satelit alami—dua bulan yang bergerak sinkron mengitarinya.

Bagi mereka yang pernah menjelajahi kehampaan angkasa, menyaksikan panorama seindah ini adalah kebahagiaan murni yang sanggup meneteskan air mata haru.

Edward pun demikian.

Saat pertama kali menemukan kemampuan terbangnya, ia langsung melesat menembus eksosfer, membelah rapatnya lapisan atmosfer hingga tiba di luar angkasa. Matanya seketika berbinar penuh kekaguman. Pemandangan kolosal yang terhampar di hadapannya menjadi memori abadi yang tak akan pernah terhapus.

Kini, perjalanan menembus angkasa itu sudah menjadi rutinitas biasa baginya—seolah-olah jarak antara luar angkasa dan planetnya tak ada bedanya dengan jarak dari istana ke pusat kota.

Biasanya, Edward membubung ke angkasa hanya untuk menyendiri di permukaan bulan yang sunyi, atau sekadar memulihkan cadangan energinya dengan menyerap pendar bintang.

Seperti yang sedang ia lakukan saat ini.

Sudah lima hari berturut-turut Edward melakukan pemulihan energi secara berkala langsung di hadapan matahari induknya.

Di hadapan massa gas kolosal yang memancarkan pendar kehidupan tersebut, sang Pangeran melayang tenang dalam posisi bersila.

Pancaran radiasi panas dan cahaya mentari meliuk-liuk bagaikan lidah api cair, tersedot deras dari dua titik kutub menuju ke dalam tubuh Edward. Ia menyerap campuran massa korona mentari—mengambil partikel terionisasi tinggi dan logam berat untuk meregenerasi inti energinya.

Namun, proses penyerapan ini bukanlah aksi parasit destruktif.

BZZZZT—!

Sebagai pengganti atas massa yang ia ambil, tubuh Edward memancarkan reaksi termonuklir balikan. Ia menembakkan berkas jet plasma bertekanan ekstrem yang tersusun atas hidrogen murni terkonsentrasi. Daya tolak dari tembakan masif itu secara presisi mengimbangi tarikan gravitasi sang surya, mengunci posisi Edward dalam keseimbangan statis yang sempurna saat jet tersebut melesat lurus menghantam tepat ke arah inti bintang.

Bagaikan mata bor kosmik tak kasat mata, jet plasma itu mengaduk pergejolakan di lapisan konveksi, menembus zona radiatif matahari, dan memicu sirkulasi balik yang mendorong cadangan hidrogen segar meluncur masuk ke dalam dapur reaksi fusi di intinya.

Secara konstan, proses pertukaran massa berefisiensi tinggi ini tidak hanya memulihkan energi Edward ke tingkat optimal, tetapi juga secara aktif mencegah penumpukan abu helium dan memulihkan kestabilan termal sang bintang—secara matematis memperpanjang usia hidup sang surya hingga jutaan tahun ke depan.

Perlahan tapi pasti, cadangan energi di dalam tubuh Edward berangsur-angsur pulih, meski sejujurnya belum menyentuh angka seratus persen penuh.

Warna rambutnya pun mulai bertransformasi. Warna merah tua pekat yang semula menandakan batas kritis, kini meluruh dan berganti menjadi pendar kuning samar yang hangat.

Proses regenerasi energi kosmik ini memang memakan waktu yang tidak singkat.

Di masa lalu saja, Edward membutuhkan waktu satu bulan penuh pengisian tanpa henti hanya untuk mengubah warna rambutnya menjadi putih kebiruan. Itu pun pendar warna birunya belum terpancar dengan sempurna.

Bagi Edward, satu-satunya kunci dalam proses pemulihan ini hanyalah bersabar—hal yang telah terlatih dengan sangat baik dalam dirinya.

Namun, di tengah fokusnya mengumpulkan dan memurnikan energi, indra pendengaran Edward menangkap getaran suara yang sangat familiar. Suara itu merambat menembus ruang hampa udara, beresonansi langsung di kepalanya.

“Tuan Muda, mohon untuk segera kembali. Yang Mulia Raja dan Ratu ingin bertemu dengan Anda.”

Suara Bernard terdengar tenang dari kejauhan.

Edward menghela napas pelan, lalu perlahan menghentikan proses penyerapan massa bintang tersebut.

Ia membuka kedua kelopak matanya yang kini memancarkan pendar kuning terang, sebelum akhirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis ke arah sang surya.

“Aku harus pamit dulu. Ada urusan mendadak,” gumam Edward lembut pada bola gas raksasa di hadapannya. “Lain kali kita lanjutkan lagi.”

WUUUUUOOOONGGG—!

Entah karena sinyal komunikasi gaib, resonansi energi, atau memang hanya Edward yang sanggup mendengarnya...

Dari arah bola mentari raksasa itu, sebuah bunyi gaung aneh bergema hebat di tengah ruang hampa. Suaranya terdengar berat dan megah, menyerupai tiupan terompet kuno atau dentum klakson kapal samudra raksasa yang mengguncang dimensi.

Edward tersenyum kecil mendengar tanggapan 'sahabat' kolosalnya itu.

Tanpa membuang waktu lagi, tubuhnya berbalik dan melesat membelah ruang angkasa, membelokkan arah menuju Terrasia—planet biru indah bertabur kehidupan yang menjadi rumah bagi orang-orang yang sangat ia sayangi.

***

“Maaf?”

Edward seketika terheran-heran. Ia memasukkan jari kelingkingnya ke lubang telinga, mengoreknya perlahan seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang bermasalah.

Raja Nolan menghela napas panjang, lalu memijat pelan batang hidungnya sebelum mengulangi perkataannya.

“Aku bilang, Kerajaan Nivalis mengundangmu secara khusus untuk menjadi pendamping utama Putri Iselyna di aula dansa lusa nanti.”

Raja Nolan menyunggingkan senyum bangga. “Raja Isenbard sangat terkesan saat aku menceritakan kehebatanmu dalam menyelesaikan insiden Dungeon liar kemarin.”

“Kenapa Ayahanda malah menceritakannya?!” seru Edward tak percaya.

“Semua orang di benua ini harus tahu bahwa putraku adalah sosok terhebat yang mampu menyelamatkan banyak nyawa!” tegas Raja Nolan dengan suara lantang.

“Bukan seorang anak terkutuk yang membawa kesialan seperti rumor sampah yang mereka sebarkan!”

Edward seketika bungkam seribu bahasa.

Di satu sisi, dadanya terasa hangat dan membuncah bahagia mendengar pujian setinggi langit dari sang Ayah. Namun di sisi lain, rasa cemas yang teramat sangat mendadak merayapi pikirannya.

Jujur saja, ia sangat tidak ingin pergi.

Bayang-bayang trauma masa lalu itu masih mendekam erat di dalam jiwanya. Edward selalu merasa amat canggung tiap kali harus berhadapan dengan orang-orang baru. Ia selalu kesulitan merangkai kata, takut pembicaraannya akan membosankan karena sifat kaku yang ia miliki, dan yang paling utama—ia takut secara tidak sengaja menyakiti perasaan orang lain.

Lebih dari apa pun, Edward membenci situasi di mana dirinya menjadi pusat perhatian.

Tatapan mata orang banyak selalu berhasil membangkitkan kembali memori kelam masa lalunya. Efek akibat terisolasi terlalu lama di masa kecil membuat pemuda itu secara refleks selalu menarik diri dari keramaian.

“T-tapi Ayahanda tahu betul kelemahanku...” bisik Edward mencoba menawar.

“B-bagaimana kalau aku hanya duduk diam sebagai pengamat saja? Bisa, kan? Mengamatinya dari pojok ruangan saja?”

Raja Nolan menggelengkan kepalanya tegas.

“Aku tidak akan pernah membiarkan putraku—sang Penyelamat Kerajaan Aureliania—terasing di sudut ruangan!”

Pandangan sang Raja menajam penuh tekad. “Ini adalah panggung milikmu. Kesempatan emas bagimu untuk bersinar dan menyapu bersih seluruh stigma negatif yang membebanimu selama ini!”

“T-tapi, Ayahanda—”

“Edward, Putraku.”

Suara lembut namun penuh wibawa menyela perdebatan mereka. Kali ini Ratu Tiana yang mengambil alih pembicaraan.

“Apakah kau merasa takut?” tanya sang Ratu menatap manik mata putranya.

“...” Edward terdiam bungkam, tak sanggup menjawab.

Ratu Tiana tersenyum manis—sebuah senyuman yang mendadak memancarkan aura intimidasi yang amat mengerikan.

“Tenang saja, Nak. Jika ada satu saja dari bangsawan-bangsawan sombong itu yang berani menghina atau memandangkan pandangan merendahkan padamu...”

Sang Ratu mengepalkan tangannya pelan. “Ibumu ini dengan senang hati akan langsung mendeklarasikan perang terbuka pada kerajaan mereka saat itu juga. Ibu sendiri yang akan melempar orang-orang itu keluar dari istana.”

“Justru pernyataan Ibunda membuatku semakin takut untuk pergi ke sana!” pusing Edward dengan wajah panik.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!