Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.TERBONGKAR?
Pagi hari melingkupi Jakarta dengan cuaca yang cerah. Nadira terbangun dengan kondisi tubuh yang sudah jauh lebih segar. Demamnya telah hilang sepenuhnya, meninggalkan rasa bugar yang membuat senyum cerianya kembali menghiasi wajah.
Namun, saat matanya berkedip menyesuaikan diri dengan cahaya pagi, Nadira menyadari sesuatu yang membuat dadanya mendadak berdesir hebat.
Tangan kanannya masih tergenggam erat di dalam telapak tangan Abiyasa. Pria itu tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidurnya, dengan kepala tersandar miring pada pinggiran ranjang. Wajah tegas Abiyasa yang biasanya dihiasi tatapan dingin dan rahang mengetat, kini tampak begitu tenang, polos, dan rapuh dalam lelapnya. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh berantakan menyentuh dahi.
Nadira menahan napas. Ia tidak berani menarik tangannya karena takut membangunkan pria yang telah mengorbankan kenyamanan tidurnya semalaman demi menjaganya.
"Mas Abi..." gumam Nadira sangat pelan. Jemari kirinya terangkat perlahan, berani mengudara sejenak sebelum mengusap helai rambut Abiyasa dengan sangat hati-hati. "Katanya nggak peduli, tapi kok ditungguin sampai pagi begini?"
Seolah merasakan sentuhan lembut itu, kelopak mata Abiyasa bergerak pelan. Iris mata cokelat gelapnya terbuka perlahan, menyajikan tatapan hangat khas seseorang yang baru terbangun.
Untuk beberapa detik, keduanya saling mengunci pandangan dalam keheningan yang intens.
"Sudah bangun?" suara Abiyasa terdengar parau dan dalam. Ia merubah posisinya, melepaskan genggaman tangannya seraya menegakkan punggungnya yang kaku karena tidur terduduk semalaman. "Bagaimana keadaandmu?"
"S-sudah sehat kok, Mas," jawab Nadira salah tingkah, cepat-cepat menarik tangannya dan memeluk lutut di balik selimut. "Mas Abi tidur di kursi semalaman? Kenapa nggak pindah ke kamar sendiri?"
Abiyasa berdeham pelan, berdiri seraya merapikan kemejanya yang kusut. Ia berusaha menguasai kembali ekspresi wibawanya yang sempat runtuh. "Ada seseorang yang mencengkeram tangan saya dan melarang saya pergi semalaman. Saya hanya tidak mau bajuku robek kalau ditarik paksa."
Muka Nadira seketika merona merah padam sampai ke telinga. "Masa sih?! Nggak mungkin saya begitu!"
"Tanyakan pada dirimu sendiri," balas Abiyasa datar, meski ada kilatan geli tersirat di matanya. Ia melirik jam tangan. "Hari ini kamu sudah bisa sekolah. Bersiap-siaplah, Pak Maman akan mengantarmu seperti biasa."
"Mas Abi nggak ikut sarapan?"
"Saya harus mandi dan ganti baju dulu. Ada rapat penting jam delapan pagi," ujar Abiyasa seraya melangkah keluar kamar. Namun di ambang pintu, ia menghentikan langkah dan menoleh. "Jangan lupa habiskan susu hangatmu di dapur."
Nadira menatap punggung Abiyasa yang menghilang di balik pintu. Sebuah sunggingan senyum manis terukir di bibirnya tanpa bisa ditahan. Manusia es itu ternyata punya sisi manis juga.
Dua blok dari SMA Garuda Mulia, Nadira turun dari sedan hitam dengan semangat baru. Setelah dua hari berbaring di tempat tidur, menghirup udara luar dan kembali ke rutinitas sekolah terasa begitu menyegarkan.
"Makasih ya, Pak Maman!" panggil Nadira ramah.
"Sama-sama, Neng Nadira. Belajar yang rajin ya, Neng," pesan Pak Maman seraya tersenyum hangat.
Nadira melangkah riang menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah. Namun, baru saja ia melangkah beberapa puluh meter, langkahnya terhenti ketika sebuah sepeda motor sport berwarna hitam berhenti mendadak tepat di sampingnya.
Pengendaranya melepas helm full-face, mengungkapkan wajah Raka yang tampak cemas sekaligus penasaran.
"Nadira!" panggil Raka seraya mematikan mesin motornya. "Kamu udah sembuh? Kok udah masuk sekolah lagi?"
Nadira sedikit terkejut, refleks mundur satu langkah untuk menjaga jarak. "Eh, Kak Raka. Iya, udah sehat kok, Kak. Cuma demam biasa aja kemarin."
Raka menatap Nadira dari atas ke bawah dengan cermat, seolah memastikan tidak ada luka atau kebohongan pada diri gadis itu. "Aku khawatir banget sama kamu, Nad. Kemarin pas Pak Jaka bilang kamu izin dari Mahendra Foundation, aku sempat mikir yang aneh-aneh."
Jantung Nadira berdegup kencang secara spontan. "M-mikir aneh-aneh gimana, Kak? Kan sudah dijelasin kalau keluarga aku penerima bantuan yayasan itu."
Raka menyipitkan matanya, menyandarkan kedua tangannya di setang motor. "Nad, kita udah kenal dari semester lalu. Aku tahu betul kamu itu tipe orang yang nggak suka bergantung sama hal-hal kayak gitu. Lagian, aku pernah lihat kamu turun dari sedan mewah di dekat belokan jalan dua hari lalu."
Darah Nadira serasa berhenti mengalir. Raka melihatnya?!
"Itu... itu cuma taksi online, Kak Raka!" pangkas Nadira cepat, mencoba menutupi kepanikannya dengan tawa canggung. "Kak Raka salah lihat kali! Lagian udah mau bel nih, aku duluan ya!"
Nadira tidak memberikan kesempatan pada Raka untuk membalas. Ia melangkah cepat menyusuri sisa trotoar menuju gerbang, meninggalkan Raka yang menatap punggungnya dengan rasa curiga yang makin dalam.
Di kelas 12 IPA 2, sambutan hangat dari Sheila langsung menyambut Nadira.
"Nadiraaaa! Akhirnya kamu masuk juga!" seru Sheila heboh seraya memeluk sahabatnya itu erat-erat. "Aku kesepian banget tahu nggak dua hari ini! Nggak ada yang bisa diajak ghibahin soal latihan kalkulus!"
Nadira tertawa renyah, membalas pelukan Sheila. "Lebay banget deh kamu, Sheil! Cuma dua hari juga."
"Bukan cuma dua hari, Nad!" Sheila mengecilkan suaranya, memajukan wajahnya misterius. "Tahu nggak, selama kamu sakit, Kak Raka itu nanyain kamu terus ke aku! Dia kayak detektif nyari tahu Alamat rumah kamu yang baru, tapi aku bilang aku juga nggak tahu karena kamu baru pindah."
Nadira menghela napas panjang seraya mendudukkan diri di kursinya. "Kak Raka itu perhatiannya kelewatan, Sheil. Aku jadi risih."
"Lah, risih gimana?! Dia itu cowok idaman satu sekolah, Nad! Udah ganteng, ketua OSIS, kapten basket pula. Kamu kok malah mundur gitu sih?" Sheila menatap Nadira tak paham.
Nadira meremas jemarinya di atas meja. Di dalam hatinya, ada konflik besar. Dulu, perhatian dari Raka mungkin akan membuat hatinya berbunga-bunga. Tapi sekarang, sosok yang memenuhi seluruh ruang pikirannya bukanlah ketua OSIS tampan sekolahnya, melainkan seorang CEO kaku yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya, yang tadi pagi menggenggam tangannya saat tidur.
"Aku cuma mau fokus ujian dulu, Sheil. Nggak mikirin cowok," alibi Nadira pelan.
"Halah, sok-sokan fokus ujian! Tapi ya udah deh, yang penting kamu udah sehat. Nih, aku catatin materi kalkulus yang ketinggalan kemarin," ujar Sheila seraya menyodorkan buku catatannya.
Nadira tersenyum tulus. "Makasih banyak ya, Sheila."
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung Mahendra Group, Abiyasa sedang memimpin rapat evaluasi kuartal ketiga bersama seluruh direksi anak perusahaan.
Layar proyektor menampilkan grafik pertumbuhan bisnis, dan para direktur senior memberikan presentasi secara bergantian. Namun, ada yang aneh dengan sang CEO hari ini.
Hendra, sekertaris pribadinya yang berdiri di samping meja utama, menyadari bahwa fokus bosnya tidak seratus persen berada di dalam ruangan rapat. Jemari Abiyasa yang biasanya mengetuk meja dengan ketukan tegas setiap kali ada kesalahan data, hari ini justru tampak beberapa kali memutar-mutar pena, dan sesekali pandangannya melirik ke arah ponsel pribadi yang tergeletak di samping laptopnya.
"Apakah Pak Abiyasa menunggu pesan?" batin Hendra keheranan. Selama lima tahun bekerja bersama Abiyasa, pria itu belum pernah melihat bosnya membawa atau memperhatikan ponsel pribadi saat rapat direksi berlangsung.
Tiba-tiba, layar ponsel Abiyasa menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk.
Dengan gerakan refleks yang tidak biasanya, Abiyasa menghentikan presentasi Direktur Pemasaran yang sedang bicara di depan. Ia mengangkat ponselnya.
[Nadira]: Mas Abi, saya udah di sekolah dan udah sehat banget. Jangan lupa makan siang ya, awas kalau maag-nya kumat lagi!
Sebuah garis senyum yang sangat tipis—hampir tak terlihat—terukir di sudut bibir Abiyasa. Ia mengetik balasan dengan jemarinya yang lincah.
[Abiyasa]: Bagus. Belajar yang benar. Jangan jajan sembarangan di kantin.
[Nadira]: Siap, Pak Bos! 🫡
Abiyasa meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap kembali ke arah para direktur yang kini diam membeku, menatapnya dengan raut wajah takjub dan bingung. Baru kali ini mereka melihat sang CEO tersenyum di tengah-tengah rapat evaluasi yang menegangkan.
"Kenapa kalian berhenti?" tegur Abiyasa, mendadak kembali ke mode dinginnya. "Lanjutkan presentasinya, Pak Budi."
"B-baik, Pak Abiyasa!" seru direktur itu gagap, cepat-cepat melanjutkan penjelasannya.
Hendra di sudut ruangan hanya bisa menggelengkan kepala pelan seraya menahan tawa. Ajaib sekali Nyonya Muda Nadira itu, pikir Hendra dalam hati. Pria tanpa rasa cinta ini benar-benar sudah berlutut tanpa ia sadari.
•••
Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta.
Gemuruh petir menyambar di langit yang gelap, mengubah suasana sore menjadi dingin dan basah.
Nadira berdiri di teras depan sekolah bersama puluhan siswa lainnya yang tertahan karena tidak membawa payung.
"Aduh, ujan deras banget lagi," keluh Sheila seraya menggosok kedua tangannya yang kedinginan. "Kamu dijemput siapa, Nad?"
"Aku... dijemput sama Pak Maman, Sheil. Tapi kayaknya mobilnya kejebak macet gara-gara hujan," jawab Nadira seraya memeriksa ponselnya. Pak Maman baru saja mengirim pesan bahwa jalanan utama menuju sekolah tergenang air dan lalu lintas macet total.
"Nad, ikut aku aja yuk? Aku bawa mobil," tiba-tiba Raka muncul di samping mereka, memegang sebuah payung besar. Ia menatap Nadira penuh harap. "Daripada kamu nunggu di sini kedinginan, aku antar sampai depan rumah kamu yang baru."
Nadira merasa canggung. "Nggak usah, Kak Raka. Aku nunggu jemputan aja."
"Jemputan kamu macet, kan? Nanti kemalaman, Nad. Udah, ayo ikut aku," desak Raka seraya mencoba menggamit lengan Nadira.
"Kak, jangan memaksa dong!" tegur Nadira tegas seraya menarik tangannya mundur.
Tepat saat ketegangan itu terjadi, sebuah sorotan lampu mobil yang sangat terang membelah kegelapan hujan di depan gerbang sekolah. Sebuah mobil SUV Rolls-Royce Cullinan berwarna hitam legam—mobil pribadi kelas atas yang sangat langka—berhenti tepat di depan teras sekolah, mengabaikan genangan air.
Seluruh siswa yang berdiri di teras berbisik-bisik heboh melihat mobil ultra-mewah yang belum pernah terlihat di area SMA Garuda Mulia itu.
Pintu penumpang belakang terbuka. Seorang pria keluar membawa payung hitam besar. Pria itu tidak menggunakan pakaian sopir, melainkan setelan jas mahal tanpa cacat dengan postur tubuh yang sangat tegap dan mengintimidasi.
Itu adalah Abiyasa Mahendra.
Seluruh murid dan guru yang ada di teras menahan napas. Beberapa murid perempuan bahkan berbisik histeris mengenali sosok CEO termuda dan paling berpengaruh yang sering muncul di majalah bisnis dan televisi tersebut.
Abiyasa melangkah tenang menembus hujan, memegang payung hitamnya. Tatapan matanya yang dingin dan tajam terkunci lurus pada sosok Nadira yang berdiri terpaku di antara Sheila dan Raka.
Ia berhenti tepat dua langkah di depan Nadira, mengabaikan kasak-kusuk kehebohan di sekitarnya.
"Saya sudah bilang, kalau hujan jangan berdiri di tempat yang berangin," suara bariton Abiyasa menggelegar tenang namun mendominasi seluruh ruangan teras.
Nadira membeku, matanya membelalak lebar. "M-Mas Abi?! Kenapa Mas Abi ke sini?! Kan janjinya—"
"Pak Maman kejebak macet. Jadi saya sendiri yang jemput kamu," potong Abiyasa tanpa ragu.
Ia memindahkan payung hitamnya untuk melindungi tubuh Nadira sepenuhnya dari cipratan air hujan, lalu secara alami dan protektif merengkuh pinggang mungil Nadira, menarik gadis itu mendekat ke sisinya di depan mata semua orang—termasuk Sheila yang melotot tak percaya dan Raka yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi.
Abiyasa melirik Raka dengan tatapan mengintimidasi yang sangat dingin, sebuah gestur dominasi yang tak terbantahkan dari seorang pria dewasa terhadap anak remaja.
"Ayo pulang, Nadira. Rumah kita sudah menunggu," bisik Abiyasa lembut di telinga Nadira, namun cukup terdengar oleh Raka yang berdiri di dekat mereka.
Tanpa mempedulikan rahasia pernikahan mereka yang kini berada di ambang batas kehancuran di sekolah, Abiyasa menuntun Nadira masuk ke dalam mobil mewahnya di bawah tatapan takjub seluruh sekolah. Rahasia besar itu mungkin akan terbongkar besok pagi, tetapi sore ini, sang CEO telah menegaskan pada dunia siapa pemilik hati gadis SMA tersebut.