NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

aroma yang ku ingat

Lima tahun. Enam puluh bulan. Seribu delapan ratus dua puluh lima hari. Itulah waktu yang memisahkan dua kehidupan yang dulu menyatu lalu tercabik paksa.

Lima tahun cukup untuk mengubah wajah, mengubah nasib, mengubah cara pandang terhadap dunia, namun ternyata, tidak cukup untuk menghapus getaran saat nama seseorang terucap.

Seraphina Anastasya kini bukan lagi sekadar gadis yang meninggalkan Jakarta dengan hati remuk.

Ia kini dosen tetap di kampus tempatnya dulu melanjutkan kuliah, penulis dua buku yang mendapat sambutan hangat, dan wanita yang mandiri, tenang, memancarkan cahaya kedewasaan yang lembut namun kokoh.

Ia tidak lagi gadis yang mudah goyah oleh air mata atau kata-kata manis. Wajahnya lebih tegas, namun matanya tetap menyimpan kehangatan.

Kehangatan yang ia temukan bukan dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri.

Hubungannya dengan Arga tumbuh perlahan, akar kuat, bunga yang mekar di waktu yang tepat.

Yes... Akhirnya Sera menerima Arga dalam hidupnya setelah perjuangan panjang laki-laki itu.

Mereka saling melengkapi, saling mendukung, tanpa tuntutan, tanpa kebohongan.

Namun di sudut paling dalam hatinya, Seraphina tidak menyangkal, ada ruang kecil yang tertutup rapi, berlabel masa lalu, yang tidak pernah ia buka kembali, namun juga tidak pernah ia buang dan Arga tahu itu dengan pasti namun laki-laki itu tak pernah protes atau memaksa Sera.

Hari ini Sera harus menghadiri sebuah seminar Yang Muda Yang Menginspirasi di Jakarta, tempat yang ia tinggalkan lima tahun silam dengan janji tidak akan kembali sebelum ia menjadi orang yang berdiri di atas kakinya sendiri. Dan hari ini, ia kembali. Bukan sebagai mantan istri siapa pun, melainkan sebagai pembicara undangan.

...****************...

Dikta Rey Ibrahim berubah jauh lebih drastis.

Pria yang dulu dikenal dingin, ambisius, dan tak terkalahkan itu dan sempat mengubur dirinya dalam penyesalan kini dikenal sebagai pengusaha sukses.

Beberapa tahun setelah terpuruk dalam rasa sesal dan saat mengetahui jika mantan istrinya telah sukses di jalannya membuat tekad Dikta kembali bangkit.

Namanya kini sejajar dengan nama para pengusaha muda baik di dalam negeri ataupun liar negri mengalahkan pamor sang papa, Malik Ibrahim.

Ia tidak pernah menikah lagi.

Tidak pernah mendekati perempuan lain secara serius. Bukan karena janji, tapi karena hatinya masih setia pada standar yang terlalu tinggi, standar yang dulu ditetapkan oleh Seraphina.

Setiap langkahnya, setiap kemenangannya dalam berbagai projek, semuanya dipersembahkannya untuk nama yang tak pernah ia ucapkan di depan umum, Seraphina.

Digedung yang sama namun di tempat yang berbeda, dua insan yang pernah menyatu kini sedang meniti kehidupannya masing-masing di bidangnya.

Jika Sera sedang menghadiri seminar, berbeda dengan Dikta yang sedang meeting dengan beberapa relasinya dari luar negeri.

Langkah Dikta terhenti ketika dia tanpa sengaja mencium aroma parfum yang memiliki memori baik di dalam kepalanya.

Harumnya perpaduan buah segar, lalu disusun keharuman bunga yang lembut.

"Sera" bisik Dikta dalam benaknya.

Pandangan Dikta menyapu seisi gedung untuk menemukan si pemilik aroma wangi tersebut.

"Pak Dikta... Ayo masuk..." suara Gavin menyentak Dikta untuk kembali pada kenyataan.

Dikta mendes*h pasrah dan mengikuti Gavin masuk dalam lift yang akan membawanya ke lantai 21 dimana meetingnya bersama klien akan diadakan.

"Vin... Apa kau percaya takdir dan jodoh?" tanya Dikta spontan hingga membuat jari Gavin berhenti bergerak di atas layar tabletnya.

Gavin menatap pantulan Dikta dari dinding lift.

"Percaya tak percaya pak... Memangnya kenapa? Tumben pak Dikta bertanya tentang takdir? Apa Pak Dikta memutuskan akan segera mengakhiri masa duda karena telah menemukan perempuan yang tepat sesuai kriteria Bapak?" gurau Gavin yang bersikap lebih santai ketika hanya berdua dengan Dikta.

"Ckk...! Kau sama saja dengan mama...!"

"Ya... Kan wajar Pak.. Aku saja sudah mau punya anak... Masa Pak Dikta masih terpuruk dalam masa lalu... Move on Pak... Bisa saja mantan istri sudah menikah, sementara Pak Dikta masih jomblo dan menolak setiap perempuan yang di jodohkan..."

"Kau diamlah... Kita masih dalam suasana kerja... Jangan sok-sokan menasehati... Ku adukan kau pada Lira soal kau beli helm seharga puluhan juta biar kau tidur di luar!" sebuah ancaman yang membuat Gavin bersungut-sungut kesal.

Dikta tersenyum tipis setelah membungkam mulut Gavin.

...****************...

Sera baru saja selesai melakukan seminar tepat pukul sembilan malam atau usai makan malam bersama.

Punggungnya bersandar pada kursi di mobilnya yang nyaman dan mulai menghidupkan mesin mobil untuk kembali ke hotel tempat dirinya menginap.

Seraphina meletakkan earphone di telinganya sembari fokus pada jalanan Jakarta yang licin karena sisa air hujan.

"Halo, Ayah..." sapanya lembut saat suara dari seberang terdengar.

"Sera? Kamu sudah di perjalanan pulang?" tanya Ayah dengan nada yang penuh harap.

Sera menghela napas pelan, rasa bersalah menyelinap di dada. "Maafkan Sera, Yah... Sepertinya Sera belum bisa pulang hari ini."

"Ah, begitu? Ada apa?" Suara Ayah terdengar sedikit kecewa namun tetap lembut.

"Ternyata ada urusan penting yang belum selesai dari seminar tadi. Sera harus menunggu konfirmasi dan menandatangani beberapa berkas tambahan besok pagi. Kalau sekarang berangkat, takutnya belum sampai sudah dipanggil kembali," jelas Sera pelan, jemarinya menekan stir mobilnya "Sera terpaksa menunda pulang sehari. Maaf ya, Yah... pasti Ayah sudah menunggu."

"Tidak apa-apa, Nak. Ayah mengerti. Yang penting urusanmu selesaikan dengan baik dan hati-hati di sana," jawab Ayah dengan pengertian. "Jangan memaksakan diri. Jaga kesehatanmu."

Hati Sera terasa hangat sekaligus terasa sesak. "Terima kasih, Ayah... Ayah juga jaga diri baik-baik ya di rumah. Sera berjanji, begitu selesai urusan besok pagi, Sera langsung pulang."

"Baiklah. Hati-hati, Nak. Semoga semuanya lancar."

"Iya, Yah. Selamat malam."

Sera menutup panggilan tersebut, matanya menatap layar yang telah gelap.

Ponsel Sera kembali berdering dan kali ini panggilan dari Arga.

Baru saja Sera akan memasang earphone miliknya, tiba-tiba benda itu terpeleset jatuh dari tangannya dan hilang entah kemana.

Sera sedikit menunduk dan sebelah tangannya meraba lantai mobil.

"Ketemu...."

Ciiiittttttt....

Bugggghhhhhhh.....

Mobil yang dikendarai oleh Sera menabrak sesuatu di depannya.

bersambung.

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!