NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak dari sosok menyebalkan itu

POV JENNIE 🥀:

Aku mengalihkan pandangan ke arah Kai.

Ia masih duduk santai di atas kap mobil, memamerkan senyum penuh percaya diri kepada dunia. Bisik-bisik para siswa maupun tatapan penasaran dari kerumunan sama sekali tidak tampak mengganggunya.

Beberapa gadis terus-menerus memotretnya. Mereka menatapnya dengan kekaguman dan harapan yang begitu jelas, seolah-olah satu lirikan saja darinya sudah cukup membuat mereka luluh.

Ya Tuhan… menyebalkan sekali.

Aku meletakkan kantong-kantong berisi buku ke tanah dan mengembuskan napas panjang. Bahuku terasa pegal, sementara terik matahari yang menyengat langsung ke wajah seakan menguras habis sisa tenagaku. Rasanya aku bisa tertidur begitu saja di atas aspal.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku ketus, tanpa berusaha menyembunyikan rasa kesal.

Kai turun dari kap mobil dan berjalan menghampiriku dengan santai.

“Memangnya tidak kelihatan?” jawabnya sambil melirik sekilas. “Aku sedang nyambi jadi sopir pribadimu.”

Ia berhenti tepat di depanku.

“Sekarang cepat masuk ke mobil. Aku masih banyak urusan dan sudah membuang terlalu banyak waktu untukmu.”

Aku baru saja membuka mulut untuk membalas pria yang terlalu percaya diri itu ketika tiba-tiba Siena muncul di sampingku.

Tanpa diduga, ia merangkul bahuku dengan akrab sambil tersenyum begitu manis.

Aku terpaku.

Bukankah tadi aku yakin sudah masuk daftar musuhnya?

“Halo, aku Siena. Teman Jennie,” ucapnya manis sambil mengulurkan tangan kepada Kai.

Alisku terangkat.

Kai menatapnya penuh minat. Dengan sikap bak pria terhormat, ia meraih tangan Siena lalu mengecup punggung tangannya sekilas, tanpa menghapus senyum memikat di wajahnya.

“Senang berkenalan. Aku Kai… kakak dari makhluk yang paling menyebalkan di dunia ini.”

Siena langsung tertawa nyaring. Suaranya melengking hingga mengingatkanku pada bunyi alarm darurat.

Aku meringis.

Adegan ini terasa dibuat-buat sampai memuakkan.

“Kalau menurutku, justru kakaknya yang luar biasa,” balas Siena dengan nada genit.

Mereka membicarakanku seolah aku tidak sedang berdiri tepat di depan mereka.

Seolah aku hanyalah benda mati.

Dan cara Siena yang terang-terangan berusaha mencari perhatian Kai hanya menambah satu hal di dalam diriku.

Kesal.

Siena tidak segera menarik tangannya. Ia malah sedikit membungkuk ke arah Kai, seakan benar-benar terpikat oleh pesonanya.

“Apa seorang pria sejati memang sering menyelamatkan adik perempuannya dari ‘tawanan buku’ seperti ini?” tanyanya dengan suara lembut yang dibuat-buat.

Kai tersenyum.

Kilatan jahil yang biasa membuat para gadis tergila-gila kembali muncul di matanya dan, seperti biasa, justru membuatku semakin sebal.

“Hanya kalau aku sedang ingin beramal,” jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari Siena. “Tapi sepertinya, jatah kesabaranku untuk hari ini sudah habis.”

Mereka masih bertukar beberapa kalimat basa-basi yang dipenuhi kepura-puraan. Siena terus merapikan rambutnya, sementara Kai kembali memainkan peran bad boy karismatik yang begitu ia banggakan.

Aku sudah muak melihatnya.

Akhirnya Kai mengangguk ke arah mobil.

“Sudahlah, Jennie. Masuk.”

Sesuatu dalam diriku akhirnya benar-benar meledak.

Rasa lelah, panas matahari, dan sandiwara memuakkan bersama Siena bercampur menjadi satu.

“Aku tidak mau pergi bersamamu,” potongku tegas sambil mengangkat kantong-kantong buku itu lagi. “Masuk saja ke mobil mahalmu dan pergilah ke mana pun sesukamu. Aku bisa pulang sendiri.”

Kening Kai langsung berkerut.

Topeng pria ramahnya lenyap seketika, berganti dengan ekspresi dominan yang sudah sangat kukenal.

“Jangan keras kepala. Baru seratus meter berjalan, tanganmu sudah pasti mau copot. Masuk. Ke. Mobil.”

“Aku bisa sendiri!” bentakku sambil terus berjalan menuju halte bus tanpa menoleh lagi.

Kantong-kantong buku itu menarik lenganku hingga terasa nyeri. Punggungku mulai basah oleh keringat, dan setiap langkah terasa semakin berat.

Namun rasa gengsi membuatku terus melangkah.

Tak lama kemudian terdengar deru mesin.

Mobil sport Kai bergerak perlahan menyusulku hingga sejajar di sampingku.

Kaca jendelanya turun.

Udara dingin dari dalam kabin langsung menyembur keluar.

“Jennie,” katanya tenang, tetap menjalankan mobil pelan di sampingku. “Kamu benar-benar bersikap seperti anak kecil.”

Aku bahkan tidak menoleh.

“Dan kamu bersikap seperti orang bodoh.”

Sebagai balasan, ia hanya tertawa pelan.

Tawa rendah itu membuat bulu kudukku meremang dan justru semakin memancing emosiku.

“Jadi kamu benar-benar mau berjalan kaki menyeberangi setengah kota, lalu lanjut sampai ke rumah?” tanyanya dengan nada mengejek. “Semua ini cuma karena keras kepala…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“…atau jangan-jangan karena kamu cemburu?”

Aku berhenti mendadak hingga kantong-kantong buku di tanganku hampir terlepas. Dengan tatapan tajam, aku menoleh ke arahnya melalui jendela mobil yang terbuka.

“Cemburu? Kamu serius?” Aku tertawa sinis. “Ya Tuhan, Kai… kamu benar-benar narsis. Sindrom pemeran utamamu sudah masuk tahap kronis. Kamu benar-benar yakin seluruh dunia berputar mengelilingimu, dan semua gadis cuma menunggu kesempatan supaya kamu melirik mereka.”

Kai hanya mengangkat sebelah alisnya.

“Tapi reaksimu barusan membuktikan sebaliknya, kan?” katanya santai. “Lihat saja dirimu. Baru aku bertukar beberapa kata dengan temanmu, kamu langsung marah.”

“Aku tidak peduli kalau kamu mau ngobrol dengan seluruh perempuan di kota ini!” bentakku. “Yang membuatku muak itu kesombonganmu dan kebiasaanmu mengatur hidup orang lain seolah semua harus mengikuti maumu!”

Aku membalikkan badan dan kembali berjalan, membiarkan kantong-kantong berat itu menarik lenganku hingga terasa nyeri.

“Jennie.”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih dingin.

“Masuk. Ke. Mobil.”

“Pergi sana!”

Terdengar bunyi rem tangan ditarik kasar, disusul dentuman pintu mobil yang dibanting.

Aku bahkan belum sempat melangkah tiga kali ketika Kai sudah berada di belakangku.

Jari-jarinya mencengkeram bahuku kuat, memaksaku berbalik menghadapnya.

“Sudah kubilang,” ucapnya pelan, “kesabaranku hari ini sudah habis.”

Aku bahkan belum sempat membalas.

Dalam satu gerakan yang begitu cepat dan seolah sudah menjadi kebiasaannya, ia meraih pinggangku.

Dunia mendadak berputar.

Sedetik kemudian aku sudah berada di atas bahunya seperti sekarung kentang.

“Kai! Lepaskan aku! Kamu sudah gila, ya?! Turunkan aku sekarang juga!”

Aku memukul-mukul punggung lebarnya sekuat tenaga, tetapi ia bahkan tidak bergeming.

Tanpa memedulikan protesku, ia membawaku menuju mobil, membuka pintu belakang, lalu benar-benar melemparkanku ke kursi.

Tak lama kemudian kantong-kantong buku itu ikut melayang masuk ke dalam.

“Duduk diam,” katanya singkat sebelum membanting pintu.

Sesaat kemudian ia masuk ke kursi pengemudi, mengunci semua pintu, lalu menjalankan mobil.

Keheningan memenuhi kabin.

Aku sengaja memalingkan wajah ke arah jendela, menatap pemandangan di luar seolah Kai sama sekali tidak ada di sana.

Entah mengapa, sikapku itu justru tampak menghiburnya.

“Kamu tidak perlu menatap jendela terus begitu, Jennie,” katanya santai tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Jendelanya tidak bersalah hanya karena kamu diam-diam menyukaiku.”

Jemari tanganku langsung mengepal.

“Apa sih yang sebenarnya kamu bicarakan?”

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Sudah jelas. Adegan cemburumu gara-gara Siena tadi.”

Ia terkekeh pelan.

“Lucu juga. Kamu sebenarnya tinggal jujur saja kalau suka padaku, daripada terus bersembunyi di balik wajah kesal dan komentar-komentar sinismu. Semua itu terlalu mudah ditebak.”

Aku menarik napas panjang.

Rasanya tinggal satu kalimat lagi…

…dan aku akan memilih melompat keluar dari mobil yang sedang melaju atau mencekiknya langsung dari kursi belakang.

Dari pada terus mendengar ocehan narsisnya, aku meraih panel audio dan memutar volume musik hingga maksimal.

Seketika seluruh kabin dipenuhi suara musik yang menggelegar.

Aku sempat mengira yang akan terdengar adalah musik rock keras atau hip-hop penuh gaya sesuatu yang cocok dengan citra bad boy yang selama ini ia bangun.

Namun yang keluar dari speaker justru beberapa nada gitar yang sangat kukenal.

Lalu…

“Baby, baby, baby, oh…”

Aku membeku.

Beberapa detik aku hanya berkedip, memastikan telingaku tidak salah dengar.

Lalu…

Aku tertawa.

Bukan sekadar tersenyum.

Aku benar-benar tertawa sampai perutku sakit.

Seluruh amarahku lenyap begitu saja, di gantikan rasa geli yang sulit ditahan.

“Serius?!” seruku sambil berusaha mengalahkan suara musik. “Kai, kamu serius?!”

Aku menunjuk dashboard mobil sambil masih tertawa.

“Petarung paling ditakuti, raja pertarungan bawah tanah, playboy nomor satu… ternyata dengarnya Justin Bieber?”

Wajah Kai langsung memerah.

Rahangnya mengeras hingga garis otot di pipinya tampak jelas.

“Ini bukan punyaku!” bentak Kai sambil buru-buru menekan tombol di dashboard. Meski musik masih menggelegar, nada paniknya tetap terdengar jelas.

“Itu ulah teman-temanku! Mereka iseng mengacak playlist di mobilku dan memasukkan lagu-lagu aneh!”

“Oh, tentu saja,” sahutku sambil terkekeh. “Alasan yang sangat meyakinkan.”

Aku kembali tertawa, bahkan sengaja ikut bernyanyi dengan suara keras.

“♪ Baby, baby, baby, oh! ♪”

Aku mengangkat tangan seperti sedang berada di konser, berpura-pura menghayati lagu sepenuh hati. Sesekali aku melirik ke arahnya hanya untuk melihat reaksinya.

Wajah Kai kini benar-benar memerah. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya bergerak cepat mencari tombol untuk mengganti lagu.

“Berhenti bernyanyi.”

“Kenapa?” tanyaku polos. “Bukannya ini lagu favoritmu?”

“Bukan.”

“Kalau begitu kenapa kamu hafal bagian reff-nya?”

Kai langsung terdiam.

Tanpa berkata apa-apa, ia buru-buru menekan beberapa tombol di dashboard, berusaha secepat mungkin mengganti lagu yang sedang diputar.

“Ini bukan milikku!” bentaknya. Meski musik diputar terlalu kencang, suaranya tetap terdengar seperti sedang membela diri. “Itu ulah para gadis… mereka selalu usil mengutak-atik tape mobilku dan memutar macam-macam lagu omong kosong!”

“Tentu, tentu saja!” Aku tidak hanya tertawa, melainkan benar-benar tersengal-sengal karena geli. “Mana mungkin aku percaya! Baru tahu selera musikmu ternyata begitu… berkelas.”

Aku mulai ikut bernyanyi dengan sengaja mengeraskan suara, mengikuti irama lagu sambil bergestur berlebihan, memarodikan penggemar garis keras. Melihat tingkahku, Kai awalnya tampak seperti ingin membunuhku, tetapi aku sempat melihat sudut bibirnya berkedut mengkhianatinya.

“Sudah. Puasnya cukup sampai di sini,” gumamnya, lalu akhirnya mematikan musik itu.

Suasana di dalam mobil kembali senyap, tetapi kali ini keheningannya terasa jauh berbeda.

“Ya ampun, Kai,” aku menyeka air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. “Aku jadi penasaran, apa kata teman-temanmu kalau mereka tahu lagu apa yang sebenarnya diputar sang ‘macho’ saat berkeliling kota? Reputasimu bisa runtuh lebih cepat dari pada lawanmu saat menerima pukulan.”

“Coba saja berani bilang ke orang lain,” ia melemparkan tatapan memperingatkan sekilas kepadaku, meski kilatan amarah tadi sudah tidak lagi terlihat. “Atau kuturunkan kamu di sini. Dan kali ini tanpa di gendong ataupun di antar pulang.”

“Iya, iya, aku diam,” aku tersenyum licik sambil menyandarkan punggung ke kursi. “Tapi catat ya, sekarang aku punya rahasia yang sangat berharga tentangmu… Bieber.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!