Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: LANGKAH YANG BERAT
Mentari pagi baru saja menembus sela-sela bangunan ketika Rangga membuka pintu ruko percetakannya. Udara masih terasa sejuk, membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan semalam. Seperti biasanya, ia memulai hari dengan menyapu halaman depan sebelum menyiram taman kecil yang beberapa bulan terakhir menjadi tempat favoritnya dan Sari menghabiskan waktu.
Kelopak-kelopak mawar merah tampak semakin merekah.
Rangga berjongkok di hadapan salah satunya. Jemarinya menyingkirkan beberapa daun kering yang gugur di sekitar batang.
"Maaf... akhir-akhir ini aku sering melamun," gumamnya lirih, seolah bunga-bunga itu mampu memahami isi hatinya.
Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Dulu, ia tidak pernah membayangkan akan berbicara dengan tanaman. Namun sejak mengenal Sari, taman kecil itu bukan lagi sekadar hiasan di depan ruko. Tempat itu telah menjadi saksi banyak percakapan, tawa, dan harapan yang tumbuh perlahan di antara mereka.
Kini, setiap kali memandang bunga-bunga itu, Rangga justru diingatkan pada satu pertanyaan yang belum mampu ia jawab.
Apakah ia sanggup terus merawatnya?
Begitu pintu ruko dibuka, kesibukan langsung mengambil alih pagi itu.
Beberapa pelanggan datang hampir bersamaan. Ada yang mencetak proposal, membuat spanduk promosi, hingga memesan kartu nama untuk usaha yang baru dirintis.
Rangga melayani semuanya seperti biasa.
Wajahnya tetap tenang.
Senyumnya tetap ramah.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di balik sikap profesionalnya, pikirannya masih dipenuhi bayangan proposal kerja sama yang kini tersimpan di dalam laci meja.
Setiap kali laci itu terlihat, dadanya kembali terasa sesak.
Menjelang siang, salah seorang karyawan menghampiri meja kasir.
"Mas Rangga."
"Iya?"
"Mesin digital yang besar mulai bunyi lagi. Kayaknya rol penariknya aus."
Rangga segera bangkit.
Ia membuka penutup mesin, memeriksa bagian dalamnya dengan teliti. Jemarinya yang mulai dipenuhi noda tinta bergerak cekatan mengencangkan beberapa baut sebelum mencoba menjalankan mesin kembali.
Suara berisik itu perlahan menghilang.
Mesin kembali bekerja normal.
"Alhamdulillah," ucap salah seorang karyawan lega.
Rangga hanya mengangguk sambil mengusap keringat di dahinya.
Di saat seperti itu, ia kembali menyadari betapa dekatnya ia dengan usaha yang dibangunnya sendiri.
Ia mengenal setiap suara mesin.
Setiap aroma tinta.
Bahkan setiap goresan kecil di meja kerjanya memiliki cerita.
Bagaimana mungkin ia tidak mencintai tempat ini?
Namun justru karena cinta itulah, ia ingin membawanya tumbuh lebih besar.
Sekitar pukul satu siang, telepon genggamnya kembali bergetar.
Sebuah pesan dari Dimas muncul di layar.
"Semoga pertemuan kemarin membantu memberikan gambaran. Jangan sungkan menghubungi saya bila ada hal yang ingin didiskusikan."
Rangga membaca pesan itu beberapa kali.
Ia tidak langsung membalas.
Bukan karena tidak menghargai.
Melainkan karena ia memang belum memiliki jawaban.
Ia masih berada di tengah persimpangan.
Tak lama kemudian, Sari datang membawa dua kotak makan.
"Mas, belum makan, kan?"
Rangga tersenyum.
"Kamu kok tahu?"
"Soalnya kalau lagi banyak kerjaan, kamu pasti lupa."
Sari meletakkan kotak makan itu di atas meja.
"Hari ini aku masak sayur asem sama ikan goreng."
"Wah... favoritku."
"Makanya cepat makan."
Mereka duduk berdampingan di ruang belakang ruko.
Suasana terasa hangat.
Sari bercerita tentang kantornya yang mulai kembali normal. Rekan-rekan kerjanya kini lebih berhati-hati setelah kejadian beberapa waktu lalu.
Rangga mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Namun beberapa kali, pikirannya kembali melayang.
Sari menghentikan ceritanya.
"Mas."
"Hm?"
"Kamu dari tadi enggak fokus."
Rangga terdiam.
Untuk sesaat, ia hampir saja menceritakan semuanya.
Tentang proposal.
Tentang Kalimantan.
Tentang kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.
Namun kata-kata itu kembali tertahan di tenggorokannya.
"Aku cuma lagi capek."
Sari memandangnya beberapa detik.
Perempuan itu tidak sepenuhnya percaya.
Namun ia memilih menghormati jika Rangga belum ingin bercerita.
Ia hanya tersenyum lembut.
"Kalau memang capek... jangan dipendam sendirian."
Kalimat sederhana itu membuat hati Rangga kembali bergetar.
Ia sadar...
Beban seberat apa pun akan terasa lebih ringan jika dibagi.
Sayangnya, kali ini ia masih belum siap membagi beban itu kepada orang yang paling ia sayangi.
Menjelang siang, aktivitas di ruko percetakan semakin padat. Beberapa pelanggan datang hampir bersamaan, membuat ruang pelayanan yang tidak terlalu luas itu dipenuhi suara mesin cetak yang bekerja tanpa henti.
Rangga berpindah dari satu meja ke meja lain. Sesekali ia memeriksa hasil cetakan, memastikan warna dan ketajamannya sesuai dengan pesanan pelanggan. Baginya, menjaga kualitas adalah bentuk penghargaan terhadap setiap orang yang telah mempercayakan pekerjaannya.
"Mas Rangga, pesanan banner dari Toko Sinar Jaya sudah selesai," lapor salah seorang karyawan.
"Bagus. Tolong dicek sekali lagi ukuran dan posisi logonya sebelum diserahkan."
"Siap, Mas."
Rangga mengangguk pelan. Ia tidak pernah keberatan melakukan pemeriksaan berulang. Lebih baik menghabiskan beberapa menit untuk memastikan hasilnya sempurna daripada mengecewakan pelanggan.
Tak lama kemudian, seorang pelanggan lama memasuki ruko sambil membawa map berwarna biru.
"Assalamu'alaikum, Mas Rangga."
"Wa'alaikumussalam. Silakan masuk, Pak."
Pria itu tersenyum lebar.
"Seperti biasa, saya mau cetak brosur promosi. Tapi kali ini jumlahnya ditambah."
"Wah, usahanya makin ramai, ya, Pak?"
"Alhamdulillah."
Pria itu tertawa kecil.
"Kalau kualitas cetaknya tetap sebagus di sini, saya juga jadi lebih percaya diri membagikan brosur ke mana-mana."
Ucapan itu membuat Rangga tersenyum tulus.
"Terima kasih sudah selalu percaya sama kami."
Setelah pelanggan itu pergi, Rangga berdiri beberapa saat memandangi pintu yang kembali tertutup.
Ia menyadari, selama bertahun-tahun membangun usaha ini, yang sebenarnya ia kumpulkan bukan hanya keuntungan.
Melainkan kepercayaan.
Dan kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan uang.
Jarum jam perlahan mendekati waktu Zuhur.
Suasana ruko mulai sedikit lengang. Sebagian besar pesanan pagi telah selesai dikerjakan.
Seorang karyawan menghampiri Rangga sambil membawa buku stok.
"Mas, persediaan art carton tinggal sedikit."
Rangga menerima buku itu.
"Berapa rim lagi?"
"Tiga."
"Berarti besok harus pesan lagi."
Ia membuka daftar persediaan lainnya.
Tinta.
Laminating.
Kertas HVS.
Semua mulai berkurang.
Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.
Dulu, ia bisa menghitung kebutuhan usaha hanya dengan selembar catatan kecil.
Sekarang, hampir setiap minggu ia harus mengisi ulang berbagai perlengkapan karena pesanan terus bertambah.
Usahanya memang sedang berkembang.
Namun justru di saat seperti inilah, tawaran dari PT Aruna Karya Nusantara datang menghampiri.
Seolah semesta sedang bertanya,
"Apakah kamu puas sampai di sini?"
Pertanyaan itu kembali menggema di dalam benaknya.
Usai menunaikan salat Zuhur di musala dekat ruko, Rangga kembali ke ruang kerjanya.
Ia membuka laci meja.
Proposal kerja sama itu masih tersimpan rapi.
Tangannya sempat menyentuh map berwarna cokelat tersebut, tetapi ia tidak langsung membukanya.
Sebaliknya, ia mengambil secarik kertas kosong.
Dengan perlahan, ia menuliskan dua kata di bagian atas.
BERTAHAN
Di sisi kanan, ia menulis satu kata lagi.
MELANGKAH
Rangga belum mengisi keduanya.
Ia hanya memandangi dua kata itu cukup lama.
Baginya, keputusan besar sering kali tidak dimulai dari jawaban.
Melainkan dari keberanian untuk mengakui bahwa dirinya sedang berada di sebuah persimpangan.
Di luar jendela, matahari mulai bergerak perlahan menuju barat.
Hari masih panjang.
Namun bagi Rangga...
Waktu yang dimilikinya untuk menentukan masa depan terasa semakin pendek.
Sisa hari itu berlalu lebih lambat dari biasanya.
Selepas Zuhur, pesanan pelanggan kembali berdatangan. Mesin-mesin percetakan bekerja tanpa jeda, mengisi setiap sudut ruangan dengan suara mekanis yang sudah begitu akrab di telinga Rangga.
Ia kembali tenggelam dalam rutinitas.
Memeriksa desain.
Mengatur jadwal produksi.
Sesekali membantu karyawan memindahkan tumpukan kertas yang baru datang dari gudang.
Kesibukan itu sedikit demi sedikit mengalihkan pikirannya dari proposal yang sejak pagi terus menghantui benaknya.
Namun, hanya untuk sesaat.
Menjelang sore, satu per satu pelanggan mulai meninggalkan ruko.
Para karyawan pun mulai merapikan meja kerja masing-masing sebelum jam operasional berakhir.
"Mas Rangga, semua pesanan hari ini sudah beres," lapor Beni, salah seorang karyawan yang telah bekerja bersamanya hampir tiga tahun.
"Alhamdulillah."
Rangga menatap papan jadwal produksi yang hampir penuh hingga akhir pekan.
"Besok kita mulai kerjakan pesanan sekolah lebih dulu."
"Siap, Mas."
Beni sempat ragu sebelum kembali bertanya.
"Mas... boleh saya ngomong sesuatu?"
"Tentu."
"Saya senang kerja di sini."
Rangga tersenyum kecil.
"Lho, kok tiba-tiba?"
"Soalnya..."
Beni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Teman saya kerja di tempat lain sering dimarahi kalau salah sedikit. Di sini memang tetap ditegur, tapi Mas selalu ngajarin dulu."
Rangga terkekeh pelan.
"Kalau dimarahin terus, nanti malah takut belajar."
"Makanya saya betah."
Ucapan sederhana itu membuat hati Rangga terasa hangat.
Setelah Beni berpamitan pulang, ruangan kembali sunyi.
Rangga memandang sekeliling.
Mesin-mesin yang tadi siang bekerja tanpa henti kini mulai terdiam.
Meja-meja kerja tampak rapi.
Di tempat sederhana inilah ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya.
Di sinilah ia belajar bahwa membangun usaha bukan hanya tentang mencari keuntungan, melainkan juga membangun kepercayaan dan menjaga orang-orang yang bekerja bersamanya.
Senja mulai turun.
Cahaya jingga menyusup melalui jendela depan ruko, memantulkan warna keemasan di atas lantai keramik.
Rangga kembali membuka laci mejanya.
Map cokelat itu masih berada di tempat yang sama.
Ia mengeluarkannya perlahan.
Tangannya membuka halaman demi halaman, membaca ulang seluruh isi proposal.
Tidak ada yang berubah.
Nilai proyeknya tetap menggiurkan.
Risikonya pun tetap besar.
Ia mengambil pulpen, lalu kembali melihat dua kolom yang tadi siang ia buat.
BERTAHAN
Di bawahnya, ia menambahkan satu kalimat.
"Tetap dekat dengan orang-orang yang berarti."
Kemudian ia berpindah ke kolom sebelah.
MELANGKAH
Setelah berpikir cukup lama, ia menulis perlahan.
"Kesempatan tidak selalu datang dua kali."
Rangga meletakkan pulpennya.
Ia menyandarkan tubuh ke kursi.
Untuk pertama kalinya sejak menerima proposal itu, ia menyadari bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama menuntut pengorbanan.
Tidak ada jalan yang benar-benar mudah.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari depan ruko.
"Assalamu'alaikum."
Suara lembut itu langsung dikenali Rangga.
"Wa'alaikumussalam."
Sari muncul dengan senyum yang sedikit lelah setelah seharian bekerja.
Di tangannya terdapat sebuah kantong kain kecil.
"Aku lewat toko buah tadi."
Ia mengangkat kantong itu sambil tersenyum.
"Katanya kamu akhir-akhir ini sering lupa makan buah."
Rangga tertawa kecil.
"Siapa yang ngadu?"
"Enggak ada."
Sari menggeleng pelan.
"Aku saja yang sudah hafal kebiasaanmu."
Kalimat itu membuat Rangga terdiam sejenak.
Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Seseorang ternyata begitu memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya.
Namun, bersamaan dengan kehangatan itu, muncul pula rasa bersalah yang semakin sulit ia abaikan.
Ia menatap wajah Sari beberapa saat.
Ada keinginan kuat untuk menceritakan semuanya malam itu juga.
Tentang proyek besar.
Tentang kemungkinan harus meninggalkan Jakarta dalam waktu yang tidak sebentar.
Tetapi setiap kali kata-kata itu hampir keluar, ia kembali mengurungkannya.
"Boleh kita duduk di taman sebentar?" tanya Sari.
Rangga mengangguk pelan.
"Boleh."
Mereka berjalan berdampingan menuju taman kecil di depan ruko.
Langit senja masih menyisakan semburat jingga.
Di antara bunga-bunga mawar yang terus bermekaran, dua insan itu kembali duduk berdampingan.
Tidak banyak percakapan yang terucap.
Namun, justru dalam keheningan itulah...
Rangga merasakan betapa berat langkah yang mungkin harus segera ia ambil.