Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Kejutan di Konferensi Pers
Lalu kabut menelan semuanya.
Kabut itu tidak membunuh Keira.
Ketika ia membuka mata lagi, yang pertama ia cium adalah bau antiseptik. Yang kedua, suara monitor jantung yang stabil. Yang ketiga, suara Kevin yang serak karena terlalu lama tidak tidur.
"Kei."
Keira menoleh pelan. Seluruh tubuhnya sakit. Bahunya seperti dihantam palu, telapak tangannya dibalut, dan kaki kirinya terasa kaku. Namun ia masih hidup.
Kevin duduk di sisi ranjang dengan mata merah.
"Ko Morgan?" tanya Keira.
"Sedang operasi."
Keira langsung mencoba bangun.
Kevin menahan bahunya. "Dia selamat. Parasutnya jatuh dekat jalan kecil. Dia memaksa dibawa ke rumah sakit untuk operasi Yolanda."
"Yolanda?"
"Masih di ruang operasi."
Keira memejamkan mata sebentar. "Bagus."
Kevin menatapnya, marah dan lega bercampur jadi satu. "Kau hampir mati dan kata pertamamu tetap pasien orang lain."
"Aku tidak mati."
"Jangan membuatku ingin mengikatmu ke ranjang."
Keira hampir tersenyum, tetapi tubuhnya terlalu lelah.
Beberapa menit kemudian, saat perawat mengganti infus, Keira bertanya dengan suara lebih pelan, "Siapa yang menemukanku?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Ia melihat luka di bahu Keira, wajah pucatnya, dan semua hal yang selama tiga tahun gagal ia lindungi. Di lorong, ia tahu Rayhan masih berdiri dengan tangan berdarah, tetapi nama itu tertahan di lidah Kevin seperti duri.
"Tim kami," jawabnya akhirnya. "Pengawal Liem menemukan jejakmu. Aku datang tidak lama setelah itu."
Keira menutup mata. "Aku tahu Ko pasti datang."
Kevin menggenggam sisi ranjang lebih kuat.
"Selalu," katanya.
Di balik kaca kamar VIP, Rayhan berdiri dengan tangan kanan dibalut. Ia mendengar suara Keira, melihat wajahnya yang pucat, dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, paru-parunya seperti bisa bekerja lagi.
Ia ingin masuk.
Namun Kevin keluar lebih dulu.
Dua pria itu saling menatap di lorong rumah sakit.
"Dia bangun," kata Kevin.
Rayhan mengangguk. "Aku dengar."
"Dia tidak perlu tahu kau masuk hutan."
Rahang Rayhan mengeras.
Kevin melangkah lebih dekat. "Kau ingin dia merasa berutang lagi? Setelah semua yang keluargamu lakukan?"
Rayhan tidak menjawab.
"Kalau kau benar-benar ingin menebus, lakukan tanpa meminta dilihat," lanjut Kevin. "Aku yang membawanya keluar dari jalur terakhir. Itu cerita yang akan dia dengar."
Rayhan menatap pintu kamar Keira.
Di dalam, Keira masih hidup. Itu cukup.
"Baik," katanya rendah.
Kevin menatap balutan tangan Rayhan. Ada darah yang menembus sedikit di tepi perban. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Belum.
Operasi Yolanda berlangsung sembilan jam.
Morgan keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat karena kurang tidur, tetapi matanya tenang.
"Operasi berhasil," katanya.
Keluarga Mulyadi yang menunggu di luar langsung menangis. Beberapa dokter menghela napas lega. Keira yang datang dengan kursi roda memaksa perawat membawanya ke koridor, meski Kevin mengomel sepanjang jalan.
Morgan melihatnya dan wajahnya langsung gelap.
"Kau seharusnya di ranjang."
"Yolanda?"
"Akan sadar bertahap. Kalau tidak ada komplikasi, dia bisa bicara dalam beberapa hari."
Keira mengangguk. "Bagus."
Morgan menatap adiknya, lalu menghela napas. "Setelah ini, kau tidur."
"Setelah Anya selesai."
Morgan tidak bertanya. Ia hanya berkata, "Jangan berdiri terlalu lama."
Tiga hari kemudian, Anya Mulyadi mengadakan konferensi pers.
Tempatnya ballroom hotel yang sama dengan jamuan sebelumnya, tetapi suasananya berbeda. Kali ini, logo Mulyadi Group memenuhi layar. Di meja depan, ada mikrofon dari berbagai media. Anya duduk di tengah dengan blazer putih, wajahnya tampak lelah namun tegar.
"Kondisi Kak Yolanda masih belum stabil," katanya kepada wartawan. "Karena itu, dewan keluarga meminta saya mengambil tanggung jawab penuh. Saya mohon doa semua pihak."
Di belakang kamera, beberapa orang mengangguk simpati.
Anya menunduk sebentar, lalu melanjutkan, "Ada juga fitnah yang mengaitkan saya dengan kecelakaan pesawat yang menimpa Keira. Saya sungguh sedih. Di saat keluarga kami berduka, masih ada pihak yang menyeret nama saya."
Air matanya jatuh tepat waktu.
Rayhan berdiri di sisi ruangan, tidak duduk di sampingnya. Kehadirannya membuat wartawan makin agresif, tetapi ia tidak memberi komentar. Matanya hanya menatap Anya dengan sesuatu yang lebih dingin daripada sebelumnya.
Rion berdiri beberapa meter di belakang Rayhan. Wajahnya pucat sejak hari kecelakaan.
Anya masih berbicara ketika pintu ballroom terbuka.
Suara kursi bergeser terdengar satu per satu.
Keira masuk.
Ia berjalan pelan, masih dengan penyangga ringan di pergelangan kaki, tetapi punggungnya lurus. Gaun hitam sederhana menutup perban di bahunya. Kevin berjalan di satu sisi, Morgan di sisi lain dengan jas dokter. Di belakang mereka, seorang perawat mendorong kursi roda.
Di kursi roda itu, Yolanda Mulyadi duduk dengan wajah pucat.
Matanya terbuka.
Seluruh ruangan meledak.
"Yolanda!"
"Dia sadar?"
"Bagaimana bisa?"
Anya berdiri terlalu cepat sampai kursinya hampir jatuh. Wajahnya kehilangan warna seperti kertas basah.
"Kak..." suaranya pecah.
Yolanda menatapnya. Lemah, tetapi jelas. "Jangan panggil aku seperti itu setelah apa yang kau lakukan."
Mikrofon menangkap kalimat itu.
Keira mengambil satu mikrofon dari meja, lalu meletakkan flashdisk kecil di depan wartawan.
"Di dalamnya ada rekaman komunikasi, bukti pembayaran kepada teknisi pesawat, percakapan Rion dengan Anya, serta data medis yang menunjukkan kecelakaan Yolanda bukan kecelakaan biasa."
Rion menutup mata.
Anya menggeleng. "Tidak. Itu fitnah. Keira menjebakku."
Kevin memberi isyarat kepada staf teknis.
Layar besar menyala.
Rekaman pertama menampilkan teknisi pesawat menerima transfer dari rekening perantara. Rekaman kedua memperdengarkan suara Anya, lembut dan dingin, meminta Rion memastikan Morgan tidak tiba tepat waktu. Rekaman ketiga adalah kamera parkir rumah sakit Mulyadi, memperlihatkan Anya masuk ke area garasi Yolanda pada malam sebelum kecelakaan.
Setiap potongan bukti membuat wajah Anya kehilangan lapisan warna.
"Itu bisa dipalsukan," katanya, tetapi suaranya tidak lagi stabil.
Keira menoleh kepada Rion. "Katakan sendiri."
Rion membuka mata. Selama beberapa detik, ia menatap Rayhan seperti meminta hukuman sebelum hukuman itu datang.
"Saya yang menghubungi teknisi," ucapnya akhirnya. Suaranya pecah, tetapi mikrofon menangkap jelas. "Anya meminta saya membuat pesawat terlambat. Saya pikir hanya gangguan pendaratan darurat. Saya tidak tahu sistemnya akan separah itu."
Anya berteriak, "Pembohong!"
Rayhan menutup mata sebentar.
Keira tidak berkedip. "Kebohonganmu sudah terlalu banyak, Anya. Hari ini giliran orang lain bicara."
Yolanda mengangkat tangan dengan susah payah. Morgan menahan bahunya, tetapi ia tetap ingin bicara.
"Aku ingat," kata Yolanda pelan. "Sebelum mobilku menabrak pembatas, remnya tidak berfungsi. Aku juga ingat Anya datang ke garasi malam sebelumnya. Dia bilang ingin memastikan aku tidak menghalangi masa depannya."
Anya mundur satu langkah.
Kamera menyorot wajahnya.
Keira menatapnya tanpa belas kasihan. "Permainanmu selesai, Anya Mulyadi."
Pintu samping terbuka. Dua petugas kepolisian masuk bersama pengacara keluarga Mulyadi. Mereka sudah menunggu sinyal dari Kevin dan Morgan sejak Yolanda cukup sadar untuk memberi keterangan awal.
"Anya Mulyadi," kata salah satu petugas, "Anda kami bawa untuk pemeriksaan terkait dugaan percobaan pembunuhan, sabotase penerbangan, dan penghalangan penyelidikan."
Anya menatap Rayhan.
"Rayhan, tolong aku."
Rayhan tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya, ia tidak maju.
Yolanda mengangkat wajah, napasnya pendek namun matanya tetap jernih. "Selama aku koma, kau memakai namaku untuk meminta simpati. Sekarang gunakan namaku untuk mengingat satu hal, Anya. Aku hidup."
Kalimat itu membuat para wartawan meledak dengan pertanyaan baru.
Anya menutup telinganya. "Diam! Semua diam!"
Topeng lembutnya hancur di depan kamera. Ia menunjuk Keira dengan tangan gemetar. "Kau yang merusak semuanya. Kalau kau tidak muncul, Rayhan tetap milikku, Mulyadi tetap milikku, semua akan baik-baik saja!"
Tidak ada lagi air mata cantik.
Yang tersisa hanya wajah asli yang selama ini ia sembunyikan.
Semua kamera menangkapnya jelas tanpa satu pun sudut penyelamat.
Anya tertawa kecil, pecah dan putus asa. "Kau percaya mereka?"
Rayhan menatapnya. "Aku pernah terlalu lama percaya padamu."
Kalimat itu menghancurkan sisa topeng Anya.
Ia mencoba lari, tetapi polisi menangkap lengannya. Kilatan kamera meledak tanpa henti saat ia dibawa keluar. Wartawan berteriak, menanyakan apakah pertunangan batal, apakah Mulyadi Group akan menuntut, apakah Rayhan terlibat.
Rion berdiri kaku.
Keira menoleh kepadanya. "Kau berikutnya jika terus diam."
Rion menunduk, wajahnya hancur oleh rasa bersalah.
Kasus itu tidak selesai dalam sehari.
Namun bukti terlalu rapi, kesaksian Yolanda terlalu kuat, dan pengakuan teknisi pesawat membuka jalur uang yang berakhir pada jaringan Anya. Dalam proses persidangan yang menjadi sorotan publik, Anya Mulyadi akhirnya divonis sepuluh tahun penjara untuk gabungan percobaan pembunuhan, sabotase, dan konspirasi penganiayaan.
Fiona Pranata ikut terseret dalam kasus penculikan Celine dan dijatuhi hukuman terpisah.
Hari vonis dibacakan, Keira duduk di ruang sidang tanpa ekspresi. Anya menoleh kepadanya dengan mata merah, tetapi Keira tidak memberi ruang untuk drama terakhir.
Setelah sidang, Rayhan menunggu di koridor.
"Keira," panggilnya.
Keira berhenti. Luka di kakinya sudah membaik, tetapi langkahnya masih belum secepat dulu.
Rayhan menatapnya dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal. "Aku..."
"Jangan minta maaf sekarang," potong Keira. "Aku sedang tidak punya waktu untuk menerima penyesalanmu."
Rayhan terdiam.
Keira menatapnya lurus.
"Keluarga Sutanto, bersiaplah bangkrut."
Lalu ia berjalan pergi bersama Kevin, Morgan, dan Yolanda yang kini didorong perlahan di kursi roda, meninggalkan Rayhan berdiri di koridor dengan wajah yang akhirnya mengerti bahwa badai belum selesai.