Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seakan tidak berharga
Malam turun dengan keheningan yang menyesakkan dengan suasana dingin. Terlihat satu apartemen yang masih menyala di jam setengah sebelas malam. Disana terlihat ada Adriant yang masih berdiri saling berhadapan dengan Aurelia.
Kejadian tadi siang masih terlintas di pikiran Adriant yang melihat secara langsung Aurelia menjabat tangan Nathaniel disertai senyuman tipis.
Adriant masih diam, pria itu sudah menunggu kedatangan Aurelia sedari tadi. Kini Aurelia berada tepat di hadapannya sejak beberapa menit yang lalu. Adriant menatap kekasihnya dengan lekat, mengenakkan kemeja satin berwarna coksu dengan celana panjang hitam.
Mereka masih sama-sama diam.
"Maaf." Aurelia menghela napas dan memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu karena ia tahu Adriant tidak akan memulai pembicaraan setelah kejadian tadi.
Meskipun kata maaf telah Aurelia ucapkan, pria itu masih tetap diam sehingga membuat Aurelia hampir frustasi. Aurelia kembali memulai lebih dulu, kakinya maju satu langkah untuk mempertipis jarak di antara mereka dengan tangan yang bergerak menggapai tangan Adriant.
"Aku tidak meminta maaf karena salah." Aurelia menghentikan kalimatnya.
"Tapi, karena aku sudah membuat kamu merasa kecewa." Bola matanya menatap Adriant lekat. Ia benar-benar tulus. Bahkan jika memang memungkinkan, ia ingin sekali memeluk Adriant dan menangis disana.
Adriant bergerak menurunkan tangan Aurelia yang memegangnya seraya menatap Aurelia dingin. "Kamu masih membela diri?" Rautnya seolah menunjukkan bahwa ia telah dikhianati berkali-kali.
Aurelia menggeleng cepat lalu melipatkan bibirnya kedalam. Tanpa pikir panjang tubuhnya berhambur memeluk tubuh Adriant dengan gerakan cepat. Ia mengeratkan pelukannya dan meneteskan air mata di pundak pria itu. Dekapannya itu berbeda dari biasanya seolah ia tidak ingin kehilangan Adriant.
"Ma...af" suara Aurelia terdengar parau namun Adriant tidak membalas ucapannya. Beberapa detik kemudian, Aurelia merasakan tangan Adriant yang membalas pelukannya.
Suasana mendadak hening, hanya suara air mengalir di akuarium yang terdengar mendominasi dan udara ruangan uang begitu dingin karena AC.
Adriant melepas pelukannya perlahan. Tangannya bergerak mengapit kedua pipi Aurelia seraya ibu jari yang bergerak mengusap bekas air mata wanita itu. Adriant mengembangkan senyum tipis. Ia menatap lekat wajah Aurelia yang terlihat sembab.
"Aku memaafkanmu." Ibu jarinya masih mengusap pelan pipi Aurelia dengan gerakan lembut lalu beralih hingga turun di bibir Aurelia.
Seketika jantung Aurelia berdetak lebih cepat.
Mata mereka bertemu, ia merasakan kehangatan tangan Adriant dengan mata yang mulai menangkap gerakan Adriant yang semakin mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan.
Kedua tangan Aurelia meremas celananya kuat sesaat setelah menelan salivanya susah payah. Hembusan napas Adriant menerpa wajahnya dengan wangi parfum yang menyeruak masuk dalam indra penciuman Aurelia. Perlahan, tangan Adriant berpindah di tengkuk Aurelia dan mulai mempertemukan bibir mereka.
Aurelia mundur. Napasnya memburu, ia menggelengkan kepalanya pelan. Jarak mereka kembali terpaut, ia dapat melihat raut Adriant yang penuh kekecewaan hingga terdengar napas pria itu yang seakan tersengal-sengal.
"Kenapa, selalu begitu?"
Lagi dan lagi, Aurelia mendapatkan pertanyaan itu tapi ia tidak segera menjawab. Tubuhnya lebih memilih menghindar lalu duduk di atas sofa dengan kedua tangan yang bertumpu lurus disana. Untuk kesekian kali ia menolak Adriant yang akan menciumnya.
"Aku hanya akan memberikan itu untuk suamiku." Ia menatap kearah Adriant yang masih berdiri dihadapannya.
Kaki pria itu melangkah mendekat. Ia mempertipis jarak mereka hingga tepat didepan Aurelia seraya menundukkan wajah dengan tangan yang bergerak mencengkeram dagu Aurelia pelan.
"Aku calon suamimu."
Aurelia menggelengkan kepala lalu beralih menatap keluar jendela. Ia melihat kilatan petir terlihat jelas di langit. Lalu kaca mulai terlihat berembun perlahan hingga terlihat gerimis yang baru saja turun.
"Masih calon." Ia kembali menatap Adriant dengan wajah yang mendongak sedikit.
"Aku selalu meminta kepastian. Tapi kamu tidak pernah benar-benar membuat aku yakin dengan hubungan ini." Aurelia mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau memang benar, kenapa tidak kamu iya-kan permintaanku waktu itu?"
Aurelia melihat Adriant memalingkan wajah. Pria itu mundur perlahan lalu mendudukkan dirinya di sofa tepat dihadapan Aurelia. Tangannya bergerak mengusap dagu perlahan sembari menatap Aurelia.
"Aku tidak ingin membahas itu."
Dada Aurelia sesak mendengarnya, wanita itu tersenyum hambar yang di sertai kekehan kecil. Telinganya mulai menangkap suara hujan yang semakin besar. Hatinya terasa tergores duri tajam. Sekali lagi Adriant menolaknya.
Padahal, sikap posesifnya tadi siang seakan menunjukkan bahwa ia adalah pria sejati yang benar-benar menginginkan Aurelia. Tapi nyatanya, Aurelia berkali-kali selalu merasakan tidak berarti.
Hening menyelimuti keduanya. Aurelia masih berusaha menetralkan sesak di dada. Sedangkan Adriant masih terlihat diam. Hembusan angin dari ventilasi terasa kencang hingga membuat rambut panjang Aurelia bergerak mengikuti arahnya.
Adriant berdehem kecil. "Aku memaafkanmu atas kejadian tadi siang..." Ia menghentikan ucapannya.
"Tapi kalian harus membatalkan kerja sama."
Alis Aurelia mengkerut, pupil wanita itu membesar disertai hembusan napas kasar yang terdengar jelas.
"Itu tidak akan terjadi." Untuk pertama kalinya Aurelia berani menolak Adriant. Wanita itu menggertakan giginya nyaris tak terlihat.
Tubuh Adriant menegak sempurna. "Kenapa?" tawa hambarnya tetap terdengar meskipun teredam suara hujan. Urat-urat rahangnya terlihat mengeras dengan kepalan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Karena aku tidak akan membatalkan kontrak hanya karena prasangkamu." Aurelia menekan setiap kata yang keluar darinya.
"Bukan itu alasannya." Adriant buru-buru memotong ucapan Aurelia.
"Alasan yang sebenarnya. Karena kalian berdua memang ada hubungan." Adriant beranjak berdiri dengan nada suara yang kembali meninggi.
"Lagi?" Aurelia tersenyum miring. Wanita itu menghela napas lalu meniup udara dengan kasar, pundaknya turun seketika. Ia mulai muak dengan semua ini dan ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya.
"Cukup, Adriant." Tubuhnya beranjak berdiri lalu mengambil tas yang berada di meja.
"Mau kemana, hah?" Adriant tertawa remeh. Ia menatap tubuh Aurelia dari ujung kaki hingga berhenti di wajahnya.
Aurelia membalas tatapan Adriant dengan penuh kekecewaan. "Masalah ini gak akan selesai kalau kamu tetap egois kayak gini." Aurelia memutuskan untuk pergi dan melangkahkan kaki menuju pintu. Sesaat setelah itu, tangannya berhenti di knop pintu karena ucapan yang keluar dari Andriant.
"Ingin lari dari kenyataan?"
"Kamu selalu menolak."
"Padahal bisa saja.... Kamu memberikan semuanya pada pria yang kamu sebut klien kerja itu."
Tangannya bergetar hebat. Ia mencengkeram knop pintu begitu erat hingga air matanya luruh tanpa diminta. Tapi ia tidak membiarkan dirinya untuk kembali menghampiri Adriant. Ia lebih memilih untuk memutar knop dan pergi dari sana tanpa membalikan badannya lagi.
Aurelia pergi dengan langkah yang terburu-buru. Sesekali, tangannya menghapus air mata itu dengan kasar. Dadanya semakin sesak, ia masuk kedalam lift dengan napas tersengal-sengal.
Aurelia berdiri sendiri di tengah, dadanya ia pukul dengan keras. Bibirnya bergetar hingga mengeluarkan suara rintihan yang tidak berhasil ia tahan.
Rasanya begitu sakit. Kenapa? Adriant selalu membuatnya seakan tidak berharga. Ia selalu merasa hina dan tidak memiliki apapun yang bisa ia banggakan.
Sebelum lift berhenti, ia menahan napas dan menghembuskannya perlahan, tangannya bergerak mengusap sisa air mata di pipinya. Ia tidak akan keluar dari apartemen dalam keadaan berantakan.
Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu utama. Hujan besar menyambutnya. Tapi ia tetap melanjutkan perjalanan hingga menerobos air hujan dengan tubuh yang kembali bergetar.
Malam ini menjadi saksi bahwa Aurelia tidak bisa melepas pria itu meskipun sudah membuatnya sakit berkali-kali. Langkahnya gontai, ia membuka pintu mobil dengan perlahan dan masuk dalam keadaan basah kuyup.
Tanpa dia sadari. Ada seseorang yang mengawasinya di bawah gedung apartemen. Ia berdiri di sana dengan mata yang menatap mobil Aurelia yang mulai berjalan meninggalkan halaman.
Sampai sini gimna ceritanya?
Semoga kalian sukakk ❤️ jangan lupa ramaikan kolom komentar dan berikan like sebagai dukungan.
Thanks youuuuuu🌹