Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kehidupan baru
Pintu kamar tertutup rapat. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Vivian membiarkan dirinya jatuh.
Jatuh ke atas kasur yang terlalu empuk, terlalu bersih, terlalu jauh dari kehidupan lamanya.
Ia mengusap seprai itu dengan ujung jari. Hangat. Halus. Lalu senyum kecil mengembang di wajahnya, rapuh... Seperti takut pecah jika disentuh.
Pikirannya kembali melayang pada momen-momen tadi. Bayangan saat Kak Raynor menyuapinya dengan sabar, saat tubuhnya terangkat kuat dalam gendongannya, hingga saat tangan besar itu dengan hati-hati melepaskan sepatu dan mengusap lembut pergelangan kakinya yang memar. Semuanya terasa begitu hangat, manis, dan membuat dadanya terasa penuh.
Namun kebahagiaan itu seketika sirna saat suara dering ponsel memecah keheningan.
Di layar tertera nama seseorang, Satria... kekasihnya, yang posisinya perlahan ia geser di hatinya.
Vivian mendengkus pelan, memalingkan wajah. Ia membiarkan panggilan itu berdering sampai mati sendiri. Tapi tak lama kemudian, bunyi itu terdengar lagi. Lalu untuk ketiga kalinya, nyaring dan terus berulang.
Gangguan itu membuatnya kesal. Ia meremas rambutnya kuat sekali, rasa malas dan tak suka menyelimuti hatinya. Dengan cepat ia meraih ponsel itu, menekan tombol mati, lalu meletakkannya jauh di samping meja.
Kini hening kembali menyelimuti ruangan.
Vivian menarik selimut tebal hingga menutup bahunya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya menikmati kenyamanan ini.
Di tempat yang baginya seperti surga, di tengah kemewahan kota yang baru ia kenal, perlahan ia mulai merasa tenang.
Menyingkirkan pikiran buruk yang selalu berkecamuk.
Malam ini, ia berjanji pada dirinya sendiri, hanya akan memikirkan hal-hal yang indah.
...****************...
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk pulang menuju rumah baru.
Vivian berjalan beriringan di samping Raynor, langkahnya kini ringan dan leluasa. Ia mengenakan sepatu kets berwarna putih yang empuk dan nyaman, persis seperti saran kakak tirinya kemarin.
"Pakai ini saja. Kaki kecilmu tak pantas disiksa sepatu hak tinggi," ucap Raynor saat menyerahkannya pagi tadi. Kata-kata itu terngiang di telinganya, membuat senyum tipis tak lepas dari bibirnya.
Mereka naik ke dalam mobil mewah. Vivian duduk di kursi penumpang bagian depan, bersisian dengan Raynor yang kini sudah duduk di balik kemudi.
Namun tiba-tiba, pintu di sampingnya terbuka lebar secara paksa.
Vivian tersentak kaget, jantungnya berpacu cepat. Bukan hanya karena pintu yang terbuka mendadak, tapi karena sosok yang berdiri di sana, wajah yang sangat ia kenal, sosok yang selama ini ingin ia hindari.
Mata mereka bertemu, sama-sama terbelalak penuh keheranan.
"Vivian... kenapa kamu ada di sini?" tanya Satria, suaranya penuh kebingungan dan tak percaya.
"Cepat naik!" potong Raynor tiba-tiba, nadanya dingin dan tegas, tak memberi ruang untuk bertanya lebih lanjut.
Satria masih mengernyitkan dahi, ingin melontarkan banyak pertanyaan, namun Raynor menatapnya tajam lewat kaca spion, mendesak agar segera masuk.
Akhirnya Satria pun menuruti, duduk di kursi belakang dengan wajah masih penuh tanda tanya.
"Kenapa Vivian bisa bersama kak Raynor? dan kemarin, dia juga datang ke acara pernikahan paman Budi. Jangan-jangan..." berbagai prasangka terus berputar tanpa henti. Ia hanya bisa diam, menunggu semuanya terkonfirmasi.
Kini, tiga penumpang di dalam mobil duduk dalam diam. Suasana seketika berubah hening dan kaku. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa lebih menusuk dari biasanya, menyelimuti seluruh ruang kabin.
Vivian bisa merasakan tatapan tajam Satria dari belakang, seolah menembus punggungnya, penuh selidik dan tak menyukai situasi ini.
Suara napas Satria terdengar jelas di telinga. Memburu, dan penuh emosi. Ia mengerjap sebentar, lagi-lagi bayangan Satria bersama wanita asing kembali meracuni pikirannya.
Tapi, seketika musnah. Aroma parfum Raynor tercium samar di hidungnya. Membawanya pada memory kelembutan dan kehangatan yang pria itu berikan.
Gadis itu masih diam menahan debaran. Ia menelan ludah gugup, lalu perlahan memejamkan matanya, berpura-pura tertidur.
Ia berusaha menghindari segala pandangan, berharap perjalanan ini segera berakhir.
Di tengah situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, ia hanya bisa berdoa agar waktu berjalan lebih cepat.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang sibuk, namun keheningan di dalamnya terasa jauh lebih bising. Setiap detik yang berlalu terasa lambat, seolah waktu berhenti sengaja untuk menyiksa perasaan Vivian.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia tahu betul, kehidupan barunya bukan hanya soal kemewahan, tapi juga sebuah pertemuan yang tak terduga, dan dua pria yang kini mulai mengisi setiap sudut dunianya.
Dan di kursi belakang, tatapan tajam itu tak pernah lepas.
Mobil akhirnya melambat, berhenti tepat di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. Pagar besi berukir indah terbuka perlahan, memperlihatkan bangunan megah berarsitektur klasik yang berdiri kokoh di tengah halaman luas.
Vivian membuka mata perlahan, napasnya masih terasa berat. Ia menatap bangunan itu takjub, namun rasa canggung belum hilang sepenuhnya.
"Sudah sampai," ucap Raynor singkat, mematikan mesin.
Ia turun lebih dulu, lalu berjalan memutar ke sisi Vivian untuk membukakan pintu. Tangannya terulur membantu gadis itu turun.
Di belakang, Satria juga keluar, tatapannya tak lepas dari kedua orang itu, seolah ada pertanyaan besar yang belum terjawab. Serta tatapan amarah karena miliknya di kuasai sepupunya.
Ia bergerak cepat. Tangan besarnya hampir menyentuh jemari lembut Vivian, tapi ia kalah cepat dari Raynor, sepupunya sendiri.
Sedangkan gadis itu? Vivian tak peduli, ia berdiri tegak di depan rumah barunya, hatinya berdebar hebat, campur aduk antara haru dan ragu.
"Ini rumah baruku... tapi apakah di sini aku benar-benar akan aman?"
Tepat di hari ini, pertama kali ia melangkah masuk, menandakan awal dari kisah baru yang penuh rahasia.