Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 – MAKHLUK LEGENDA YANG HILANG
Ketenangan yang menyelimuti dimensi pelatihan tiba-tiba terasa berubah. Ryuusen yang sedari tadi menatap tajam ke arah Haruto, perlahan mengalihkan pandangannya ke arah makhluk kecil yang sedang melompat riang di bahu pemuda itu. Tatapan mata sang Master yang biasanya tenang dan tak tergoyahkan, kini perlahan melebar, penuh dengan kekaguman bercampur tak percaya.
Ia melangkah satu langkah mendekat, matanya tak berkedip sedikit pun menatap Pochi.
"Slime..." gumamnya pelan, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Slime peringkat SS..."
Haruto tertegun mendengarnya. "Pochi? Peringkat SS? Bukankah slime itu biasanya makhluk lemah yang mudah dikalahkan?"
Ryuusen tak menjawab seketika. Ia mengamati setiap gerakan Pochi yang kini menoleh ke arahnya dengan kepala miring polos.
"Untunglah makhluk ini masih dalam usia remaja," ucap Ryuusen pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri namun cukup terdengar oleh Haruto. "Jika ia sudah dewasa sepenuhnya, mungkin seluruh dimensi ini akan bergetar hanya dengan satu gerakannya saja."
Merasakan tatapan penuh rasa ingin tahu itu, Pochi melompat turun dari bahu Haruto. Tubuh biru kenyalnya berputar sebentar di udara, lalu mendarat lembut di permukaan tanah air yang bening.
Haruto mengerutkan kening melihat tingkah temannya. "Pochi? Apa yang kau mau?"
Belum selesai kalimat itu terucap, wujud kecil itu tiba-tiba berubah. Cahaya biru samar menyelimuti tubuhnya, dan dalam sekejap mata, gumpalan lendir itu memanjang, membentuk jubah putih bersih, rambut yang memutih seputih kapas, hingga kerutan wajah dan tatapan mata yang persis sama—persis seperti sosok Ryuusen yang berdiri di hadapan mereka.
Bahkan suara yang keluar dari mulut tiruan itu pun terdengar sama persis.
"Peringkat SS memang luar biasa..."
Haruto melongo tak percaya. Mulutnya terbuka lebar menatap sosok kembar sang Master yang berdiri di hadapannya.
"Kau... kau bisa melakukan hal seperti itu, Pochi?"
Sosok tiruan Ryuusen itu kembali tersenyum, lalu perlahan berubah kembali menjadi slime biru kecil yang riang.
"Pyoo!"
Ryuusen menghela napas panjang, matanya menatap Pochi dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa hormat dan kesedihan yang mendalam.
"Benar kata-kataku," ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Slime peringkat SS memang berada di tingkatan yang berbeda dari semua makhluk yang ada di benua ini. Dan seharusnya... mereka sudah punah ribuan tahun yang lalu. Diperkirakan lenyap bersamaan dengan runtuhnya peradaban sihir pertama, dianggap sebagai makhluk mitos yang tak pernah benar-benar ada."
Ia terdiam sejenak, seolah kembali menyusuri lorong masa lalu yang jauh.
"Aku sendiri pernah bertarung melawan salah satu dari mereka, dulu saat aku masih muda dan berkelana," tambahnya perlahan. "Para petualang dan pahlawan zaman dulu menempatkan slime jenis ini setara dengan bangsa naga—kelas monster yang hampir mustahil dikalahkan sendirian. Itu artinya, tingkatan kekuatan mereka sudah mendekati level kelas dewa."
Haruto masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik. Selama ini ia mengira Pochi hanyalah teman kecil yang rakus dan suka membuat keributan, yang kadang membantunya secara kebetulan. Tak pernah ia bayangkan bahwa makhluk yang selalu menemaninya tidur dan makan itu ternyata adalah makhluk legenda yang bahkan para penyihir tertinggi hanya tahu namanya dari buku sejarah kuno, makhluk yang kekuatannya disetarakan dengan dewa oleh para leluhur.
"Jadi... Pochi itu..."
"Dia adalah harta yang tak ternilai, sekaligus bahaya terbesar bagimu," potong Ryuusen dengan nada serius. "Jika Orde Air Kuno mengetahui apa yang sebenarnya ada di sisimu, mereka tak akan segan-segan menghancurkan seluruh benua hanya untuk memilikinya. Mereka tak akan membiarkan makhluk kuno yang tak bisa mereka kendalikan hidup bebas."
Pochi seolah mengerti bahaya yang baru saja disebutkan, ia melompat kembali ke bahu Haruto, menyandarkan kepala kecilnya ke pipi tuannya dengan lembut.
Haruto mengusap tubuh kenyal itu dengan penuh rasa sayang sekaligus rasa takut yang baru muncul. Namun segera, tekad kembali menguat di hatinya.
"Tak peduli seberapa hebat atau seberapa berbahaya dia," ucapnya mantap menatap Ryuusen. "Pochi adalah temanku. Dan aku akan melindunginya, apa pun yang terjadi."
Ryuusen tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Senyum yang kali ini terasa lebih lega, seolah ia melihat sesuatu yang tak terduga namun sangat berharga.
"Itulah sebabnya dia memilihmu, Haruto. Makhluk selevel mereka tidak mengikuti kekuatan semata. Mereka mengikuti hati yang mereka percayai."
...****************...
BAB 29 – MAKHLUK LEGENDA YANG HILANG (LANJUTAN)
Haruto menatap Pochi lekat-lekat. Makhluk kecil itu kembali memantul riang, seolah tak menyadari betapa besarnya rahasia yang ia bawa sejak pertama kali bertemu dengan pemuda itu di tepi danau.
"Selama ini aku pikir kau cuma suka makan dan meniru tingkahku..." gumam Haruto pelan, tersenyum haru. "Ternyata kau menyimpan rahasia sebesar itu."
"Pyoo!" Pochi menggesekkan tubuhnya ke pipi Haruto, seolah meyakinkan bahwa apa pun wujudnya, ia tetaplah teman yang sama.
Ryuusen menghela napas panjang, menatap langit yang berkilauan di atas mereka.
"Kekuatan yang tak terduga sering kali datang dalam bungkusan yang paling sederhana," ucapnya dalam. "Dan itu adalah anugerah sekaligus ujian terberat bagimu, Haruto. Orde Air Kuno menginginkanmu karena potensimu sebagai penyihir air. Namun jika mereka tahu tentang Pochi..."
Suaranya terhenti sejenak, menyisakan keheningan yang mencekam.
"Mereka tidak akan segan-segan membakar seluruh benua hanya untuk menangkap kalian berdua."
Haruto mengepalkan tangannya erat. Cahaya biru samar kembali menyelimuti telapak tangannya—kini terasa lebih stabil, lebih hidup.
"Biarkan mereka datang," ucapnya tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang-orang yang aku sayangi, atau mengambil apa yang menjadi milikku."
Ryuusen mengangguk pelan, seolah melihat bayangan masa lalu yang kini terulang kembali di hadapan matanya.
"Bagus. Keraguan adalah musuh terbesar elemen air. Air tak pernah ragu mengalir ke mana ia harus pergi. Dan begitupun kau."
Sang Master kemudian melangkah mundur sedikit, menatap Haruto dengan sorot mata yang kembali berubah tajam dan penuh kewibawaan.
"Masa istirahat dan penasaran sudah habis. Waktu kita di sini terbatas meski waktu berjalan berbeda di luar. Jika kau ingin melindungi dirimu, melindungi Pochi, Mizuna, dan Daichi... kau harus siap melangkah lebih jauh dari sekadar membentuk bola air atau pedang cair."
Ia mengangkat tangannya perlahan. Seketika, permukaan tanah air di sekitar mereka bergetar pelan. Ribuan tetesan air melayang ke udara, membentuk ribuan pedang, tombak, perisai, hingga makhluk-makhluk raksasa yang menari-nari mengikuti irama yang tak terlihat.
"Kau baru saja membuka pintu menuju kekuatanmu. Sekarang saatnya kau belajar bagaimana menjalaninya dengan benar, mengendalikannya dengan hati, dan menggunakannya untuk melindungi apa yang paling berharga."
Haruto menarik napas dalam-dalam. Rasa berat yang dulu ia rasakan sudah lenyap tak berbekas. Di dadanya kini hanya ada tekad yang bulat, dan aliran energi yang mengalir deras seirama dengan detak jantungnya.
Ia menatap Ryuusen lurus ke mata, lalu membungkuk penuh hormat.
"Ajarkan aku, Guru Ryuusen. Aku siap mempelajari segalanya."
Pochi di pundaknya ikut mengangkat tubuh kecilnya seolah ikut memberi hormat.
"Pyoo!"
Di tempat yang terpisah, di mulut gua yang kini dijaga ketat oleh pasukan Orde Air Kuno, Kael berdiri diam menatap kolam yang tenang. Wajahnya tak menunjukkan emosi apa pun, namun di balik itu, ia menunggu. Menunggu saat di mana pemuda itu kembali muncul—dan saat itulah segalanya akan diputuskan.
Sementara itu, di dalam dimensi Arus Murni, perjalanan latihan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di sini, Haruto bukan hanya akan belajar menjadi penyihir air yang kuat. Ia akan belajar menjadi penjaga bagi rahasia yang telah terlupakan dunia, dan teman bagi makhluk yang dianggap telah musnah ribuan tahun lalu.