Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang dan pria misterius
Tok...tok...tok...
Suara ketukan di pintu, membuat Reyhan yang sedang duduk di sofa langsung berdiri dan berjalan menuju pintu walau dengan langkah yang sedikit sulit.
Pria itu lalu membuka pintu, dan matanya seketika terbelalak ketika melihat dua orang pria berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu rumahnya. Raut wajah mereka tampak datar dan memancarkan aura kemarahan yang kuat.
Reyhan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak kenal dengan para pria itu, namun dari pembawaannya yang dingin dan tatapan mata mereka yang tajam, sepertinya ia sudah bisa menebak dari mana mereka berasal.
"Kalian siapa? Dan... ada keperluan apa kalian datang ke sini?" tanyanya ragu, suaranya terdengar sedikit gemetar.
Salah satu pria berwajah sangar itu melangkah maju. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus tanpa sedikit pun kehangatan.
"Kami bawahan Tuan Burhan." ucapnya datar. "Kami ke sini karena anda sudah tiga hari menunggak pembayaran cicilan hutang yang seharusnya Anda lunasi."
Jantung Reyhan seakan berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang menggenggam tongkat, perlahan mengencang.
"S-saya baru saja mengalami kecelakaan." gumamnya, mulai mencari alasan. "Saat ini saya sedang tidak punya uang. Tolong beri saya waktu beberapa hari untuk mendapatkan uang."
Pria itu terkekeh pelan, tapi sama sekali tidak terdengar ramah. Ia menoleh kepada rekannya, lalu kembali menatap Reyhan dengan sorot mata yang lebih tajam.
"Waktu?" ulangnya. "Kami sudah cukup sabar menunggu."
Salah satu pria dibelakangnya tampak memutar bahu, seolah bosan menunggu percakapan itu. Sementara pria di depan kembali bersuara, kini dengan nada yang lebih menekan.
"Kami tidak datang untuk mendengar alasan. Kami datang untuk memberi peringatan."
Reyhan menelan ludahnya lagi. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Tolong... aku pasti bayar. Aku hanya butuh waktu." ucapnya, kali ini dengan nada memohon.
Pria itu terdiam beberapa detik, seolah mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia menghela napas panjang dan melipat tangan di dada.
"Baik. Kami akan beri waktu dua hari."
Mata Reyhan langsung terangkat, sedikit harapan muncul di sana.
"Dua hari." ulang pria itu, menekan setiap kata. "Tidak lebih. Jika dalam dua hari Anda belum melunasi cicilannya..."
Ia menjeda katanya sejenak, lalu berjalan mendekat hingga menyisakan sedikit ruang di antara mereka. Suaranya merendah, namun justru terdengar lebih mengancam.
"... kami tidak akan datang baik-baik seperti ini lagi."
Reyhan membeku di tempatnya.
Pria itu menepuk bahu Reyhan pelan, namun sentuhan itu terasa seperti ancaman terselubung. Setelah itu ia memberi isyarat pada temannya untuk pergi.
"Ayo."
Mereka berbalik pergi begitu saja, meninggalkan Reyhan yang berdiri di ambang pintu dengan tubuh kaku.
Pintu rumahnya masih terbuka, namun udara yang masuk terasa begitu berat.
Reyhan perlahan bersandar pada pintu, napasnya memburu. "Dua hari..."
"Ayah!"
Panggilan Zalina seketika membuat Reyhan tersentak. Ia tidak sadar tenggelam dalam pikirannya hingga mengabaikan kedatangan putrinya yang tiba-tiba.
Reyhan seketika memaksa senyumnya agar tidak membuat Zalina curiga.
"Ayah baik-baik saja? Siapa dua orang pria yang baru saja keluar dari rumah kita? Mereka kelihatan tidak seperti orang baik-baik." Zalina masih menatap mobil yang baru saja pergi dari rumahnya.
"Oh." Nada suara Reyhan kali ini terdengar lebih santai. "Mereka hanya menanyakan alamat." jawabnya, mencari alasan yang terdengar masuk akal.
"Oh. Aku pikir apa." ucap Zalina tampak lega. "Ayo, masuk. Aku bawa roti untuk Ayah."
"Baiklah."
Reyhan seketika merasa bersalah pada putrinya itu. Cepat atau lambat, Zalina pasti akan tahu tentang masalah ini. Ia harus segera mencari uang untuk melunasi hutangnya pada rentenir itu.
Tapi, dari mana aku harus mendapatkan uang?
🥀🥀🥀
Sementara itu, Kaiden yang baru saja pulang dari kantor, langsung menuju ke sebuah hotel bintang lima yang lokasinya berada tak jauh dari gedung perusahaannya.
Dengan langkah tenang dan wajah datar, ia memasuki lobi mewah hotel tersebut, lalu naik menggunakan lift yang membawanya baik ke lantai dua puluh dua. Begitu pintu lift terbuka, ia melangkah keluar dan berhenti di sebuah kamar Presidential suite.
Kaiden mengeluarkan sebuah kartu akses dari saku jasnya, lalu menempelkannya pada sensor. Bunyi bib pelan terdengar sebelum pintu terbuka perlahan.
Ia lalu masuk ke dalam.
Ruangan itu sangat luas, didominasi interior mewah dengan nuansa elegan. Jendela kaca besar memperlihatkan gemerlap lampu kota di malam hari. Namun, meski terlihat begitu megah, suasana terasa hening.
Ia mungkin sedang mandi.
Kaiden lalu berjalan santai menuju sofa besar di ruang tengah. Ia duduk dengan tenang, lalu menyandarkan punggungnya seolah sudah biasa dengan tempat itu.
Ia sedang menunggu seseorang.
Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar pelan. Sebuah e-mail masuk.
Alis Kaiden sedikit terangkat saat melihat nama pengirimnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung membukanya.
Sorot matanya yang semula datar, perlahan berubah tajam saat membaca isi pesan tersebut.
Ia menggeser layar, membaca detail laporan yang dikirimkan oleh sekretarisnya. Nama Reyhan Aditya terpampang jelas di sana, lengkap dengan jumlah hutang yang belum dibayarkan.
Sudut bibir Kaiden terangkat tipis, membentuk senyum yang sulit diartikan, bukan senyum ramah, melainkan senyum yang penuh perhitungan.
"Menarik." bisiknya.
Ia lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa, satu tangannya menopang dagu.
"Sepertinya... permainan baru saja dimulai."
"Permainan apa yang kau maksud, sayang?"
Suara bariton seorang pria tiba-tiba terdengar dari arah kamar mandi. Nada suaranya yang rendah, namun lembut, hampir terlalu halus untuk ukuran seorang pria dewasa, terdengar seperti teguran halus di telinga Kaiden.
Seorang pria bertubuh tegap, dengan rambut yang dikuncir setengah, berdiri di ambang pintu. Ia menggunakan jubah mandi berwarna putih. Bagian depannya sedikit terbuka, memperlihatkan otot dada bidang yang masih basah.
Kaiden tidak langsung menoleh. Ia tetap menatap layar ponselnya sejenak, seolah sengaja membuat pria itu menunggu.
"Kau sudah selesai?" tanyanya datar, mengabaikan pertanyaan tadi.
Pria itu tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat dengan santai. "Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
Kaiden akhirnya memalingkan pandangannya. Tatapannya tajam, namun tenang, penuh kendali.
"Bukan sesuatu yang perlu kau ketahui." jawabnya singkat.
Pria itu terkekeh pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di sampingnya, masih dengan sikap santai seolah tidak terganggu dengan sikap dingin Kaiden.
"Selalu saja begitu," gumamnya. "Rahasia, rencana, permainan... semuanya kau simpan sendiri." pria itu lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Kaiden.
Kaiden tidak menanggapi. Ia justru mematikan layar ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke dalam saku jasnya.
"Aku jadi penasaran," lanjut pria itu lirih, suaranya rendah dan halus. "Siapa orang yang sudah berhasil menarik perhatianmu sampai seperti ini?"
Kaiden akhirnya menghela napas pelan. Bukan karena merasa terganggu, melainkan seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Nanti, kau juga akan bertemu dengannya."
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...