Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 12 Bagaskara Bukan Ayah Kandungmu
Pria di atas gedung itu tetap memandang ke arah penginapan.
Angin malam meniup ujung mantel hitam yang dikenakannya.
Di balik bayangan, sebuah alat komunikasi kecil menempel di telinganya.
"Target sudah berada di dalam kamar."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Direktur Adrian mulai menggerakkan Delta."
Suara dari seberang terdengar tenang.
"Terus awasi."
"Jangan bertindak sampai perintah berikutnya."
"Saya mengerti."
Sambungan terputus.
Pria itu kembali mengangkat teropongnya.
Namun beberapa detik kemudian...Dari kejauhan, sebuah sedan hitam memasuki halaman penginapan.
Mobil itu berhenti perlahan.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria berjas hitam turun dengan langkah tenang.
Tatapannya tajam, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Adrian.
Seluruh Unit Bayangan yang berjaga di sekitar lokasi langsung memberi hormat melalui saluran komunikasi.
"Direktur telah tiba."
Adrian tidak menoleh.
"Semua tetap di posisi."
"Tidak ada yang masuk tanpa izinku."
"Dimengerti."
Langkah Adrian berhenti tepat di depan pintu kamar Arunika.
Ia mengangkat tangan.
Namun jemarinya menggantung beberapa saat di udara.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia terlihat ragu.
Tok.
Tok.
Tok.
Di dalam kamar, Arunika yang masih duduk di tepi ranjang perlahan mengangkat kepalanya.
Siapa yang datang selarut ini?
Ia menghapus sisa air mata di wajahnya lalu berjalan membuka pintu.
Klik.
Begitu pintu terbuka...Arunika membeku.
"Pak Adrian...?"
Pria itu hanya menatapnya beberapa detik.
"Maaf mengganggumu malam-malam."
"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
Arunika mengangguk pelan dan mempersilakan Adrian masuk.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Adrian berdiri di dekat jendela.
Pandangannya mengarah ke luar.
Seolah sedang mencari keberanian.
Sementara Arunika menunggu dengan jantung berdegup semakin cepat.
Akhirnya Adrian membuka suara.
"Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh."
"Tapi..."
"Apakah selama ini kamu benar-benar merasa Bagaskara memperlakukanmu seperti anak kandungnya?"
Arunika tersenyum pahit.
"Kalau pertanyaan itu diajukan beberapa tahun lalu...Mungkin aku masih akan menjawab iya."
"Tapi sekarang..."
Ia menunduk.
"Aku sudah tahu jawabannya."
Adrian menarik napas panjang.
Lalu perlahan mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tas yang dibawanya.
Map itu tampak tua.
Di sudutnya terdapat cap rumah sakit yang sudah memudar.
Ia meletakkannya di atas meja.
"Apa ini?"
"Tiga puluh tahun yang lalu..."
"Terjadi sebuah peristiwa yang disembunyikan banyak orang."
"Tentang seorang bayi perempuan."
Arunika mengerutkan kening.
Adrian menatap lurus ke matanya.
"Dan bayi itu adalah kamu."
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Arunika tidak memahami maksud ucapan itu.
"Apa maksud Bapak...?"
Adrian membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan akta kelahiran, hasil pemeriksaan rumah sakit, serta beberapa foto lama.
Salah satu foto memperlihatkan seorang wanita yang sedang menggendong bayi mungil.
Wanita itu tersenyum hangat.
Di lehernya tergantung kalung berbentuk burung phoenix.
Kalung yang sama...
Dengan yang sedang dikenakan Arunika sekarang, Tangan Arunika mulai gemetar.
"Itu..Itu kalung Ibu..."
Adrian mengangguk pelan.
"Benar."
"Lalu..."
Ia mengeluarkan satu lembar hasil pemeriksaan DNA.
"Selama bertahun-tahun kami mencoba memastikan kebenaran ini."
"Hasilnya baru benar-benar lengkap beberapa hari yang lalu."
Adrian menatap Arunika tanpa berkedip.
"Bagaskara..."
"Bukan ayah kandungmu."
Kalimat itu menghantam Arunika seperti petir di siang bolong.
Napasnya tercekat.
Kepalanya mendadak kosong.
"Tidak..."
"Itu tidak mungkin..."
"Ayah..."
"Beliau..."
Suara Arunika bergetar hebat, Adrian melanjutkan dengan nada lembut.
"Dia memang membesarkanmu."
"Tetapi darah yang mengalir di tubuhmu...Bukan darah Bagaskara."
Air mata kembali mengalir di pipi Arunika, Ia mundur selangkah. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Adrian sigap menahan bahunya agar tidak terjatuh.
"Kenapa..."
"Kenapa baru sekarang aku mengetahui semua ini...?"
Suara Arunika pecah.
Adrian memejamkan mata sejenak.
"Karena seseorang berusaha menghapus keberadaanmu."
"Bahkan sejak hari kamu dilahirkan."
"Terlalu banyak orang yang menginginkan rahasia itu tetap terkubur."
Arunika menggenggam liontin phoenix di lehernya.
Tangannya bergetar hebat.
"Lalu...Siapa aku sebenarnya...?"
Adrian menatap liontin itu.
Sorot matanya berubah tajam.
"Mulai malam ini...Kamu tidak perlu lagi mencari jawaban sendirian."
"Aku akan mengungkap semuanya."
"Siapa ibumu."
"Siapa ayah kandungmu."
"Dan...Alasan mengapa begitu banyak orang mempertaruhkan nyawa demi melindungimu."
Adrian terdiam beberapa saat setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
Ruangan kembali dipenuhi kesunyian.
Hanya suara angin malam yang menyelinap dari celah jendela dan detak jam dinding yang terdengar pelan.
Tatapan Adrian tidak lagi setajam seorang direktur yang terbiasa memberi perintah. Untuk pertama kalinya, sorot matanya dipenuhi kelembutan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Ia menarik napas panjang.
"Arunika..."
Suaranya rendah, namun begitu tulus.
"Selama bertahun-tahun aku selalu meyakinkan diriku bahwa tugasku hanya melindungimu."
"Tidak lebih."
"Aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua yang kulakukan hanyalah tanggung jawab."
Ia tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
"Ternyata aku sedang berbohong kepada diriku sendiri."
Arunika menatapnya tanpa berkedip.
Air mata masih membasahi pipinya.
Adrian melangkah mendekat, menjaga jarak yang sopan, seolah tidak ingin membuat Arunika merasa tertekan.
"Aku melihatmu tumbuh."
"Aku melihat bagaimana kamu belajar tersenyum meski sering menyimpan luka."
"Aku melihat bagaimana kamu memilih memaafkan ketika dunia memperlakukanmu dengan tidak adil."
"Dan setiap kali melihatmu bangkit...Aku semakin kagum."
Ia menundukkan kepala sesaat.
"Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu berubah."
"Mungkin saat pertama kali melihatmu tersenyum tanpa beban."
"Atau mungkin saat aku sadar bahwa hal pertama yang selalu kupastikan setiap pagi adalah keselamatanmu."
Adrian mengangkat pandangannya kembali.
"Yang kutahu...Namamu selalu menjadi doa yang diam-diam kupanjatkan."
Arunika menggigit bibirnya pelan.
Tangannya masih menggenggam liontin phoenix di lehernya.
"Aku bukan seseorang yang pandai mengungkapkan perasaan."
"Selama hidupku, aku lebih sering berbicara dengan keputusan daripada kata-kata."
"Tetapi malam ini..."
"Aku tidak ingin lagi menyembunyikannya."
Senyumnya terlihat begitu hangat.
"Arunika."
"Aku mencintaimu."
"Bukan karena siapa orang tuamu."
"Bukan karena masa lalumu."
"Bukan karena rahasia yang selama ini menyelimutimu."
"Aku mencintaimu karena kamu adalah dirimu sendiri."
"Perempuan yang tetap memilih menjadi baik ketika hidup memberinya begitu banyak alasan untuk berubah."
"Perempuan yang masih percaya pada ketulusan meski berkali-kali dikecewakan."
"Perempuan yang tanpa sadar telah mengubah hidupku."
Adrian menghela napas perlahan.
"Selama bertahun-tahun aku hidup hanya untuk pekerjaan."
"Aku terbiasa menghadapi ancaman, mengambil keputusan sulit, dan memikul tanggung jawab yang berat."
"Aku mengira hidupku akan selalu seperti itu."
"Sampai akhirnya aku mengenalmu."
"Kamu membuatku menyadari bahwa ada alasan lain untuk pulang."
"Ada seseorang yang ingin kulihat tersenyum setiap hari."
"Ada seseorang yang kebahagiaannya menjadi lebih penting daripada kebahagiaanku sendiri."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak akan memintamu menjawab malam ini."
"Aku tidak ingin cintaku menjadi beban."
"Aku hanya ingin kamu mengetahui satu hal."
"Apa pun yang terjadi setelah ini..Aku akan tetap berada di sisimu."
"Bukan karena sebuah misi."
"Melainkan karena hatiku telah memilihmu."
"Aku ingin menjadi tempatmu pulang ketika dunia terasa melelahkan."
"Aku ingin menjadi orang pertama yang menghapus air matamu dan orang yang paling bahagia melihatmu tersenyum."
"Jika suatu hari nanti kamu bersedia membuka pintu hatimu...Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku."
"Bukan dengan janji-janji yang indah."
"Tetapi dengan kesetiaan yang akan kubuktikan setiap hari."
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Arunika menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi haru.
Air mata yang kali ini jatuh bukan lagi karena kebingungan.
Melainkan karena ia dapat merasakan ketulusan di setiap kata yang baru saja diucapkan pria di hadapannya.