Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Helena
Nadia berdiri di depan cermin kamar tamunya yang luas, mematut diri dengan cemas. Gaun rajut longgar berwarna krem yang ia kenakan sengaja dia pilih agar memberikan kesan sopan sekaligus menyamarkan perutnya yang tidak rata lagi.
Mengingat karakter Devan yang begitu disiplin, Nadia memastikan dirinya sudah turun ke ruang makan tepat pukul tujuh malam.
Namun, begitu ia melangkah mendekati area ruang makan yang berlantai marmer mengilap, atmosfer hangat yang biasa ia rasakan mendadak terasa sedikit kaku. Di sana, di sebelah Devan, duduk seorang wanita paruh baya yang sangat amat anggun. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, mengenakan kain sutra berwarna hijau zamrud dengan seuntai kalung mutiara asli di lehernya.
Nadia terdiam sejenak, dia merasa familiar dengan rupa wanita itu karena pernah melihat di pesta saat bertemu rekan bisnis bersama suaminya dulu. Ralat–mantan suaminya.
Dan yah!–Nadia baru ingat, wanita itu adalah Helena Alister, ibu kandung Devan.
Melihat kehadiran Nadia, Ibu Helena segera bangkit dari duduknya. Alih-alih melayangkan tatapan sinis seperti yang ditakutkan Nadia setiap malam, wanita itu justru mengulas senyum yang sangat manis—senyuman keibuan yang begitu meneduhkan.
"Oh, ini Nadia?" suara Ibu Helena terdengar begitu lembut saat ia melangkah mendekat dan langsung menggenggam kedua tangan Nadia yang terasa dingin. "Cantik sekali kamu, Nak. Sini, duduk di sebelah Devan. Bi Minah sudah menyiapkan sup ayam makaroni hangat untukmu."
Nadia sempat tertegun sejenak, melirik ke arah Devan yang hanya menatap ibunya dengan ekspresi datar tanpa riak. "Ah, iya... selamat malam, Tante. Maaf kalau saya membuat Tante menunggu" jawab Nadia dengan nada canggung yang tidak bisa disembunyikan.
Helena tersenyum tipis. "Panggil Mama saja, sayang. Kan sebentar lagi kamu jadi bagian dari keluarga ini. Nggak usah canggung gitu" sahut Ibu Helena sambil menepuk pelan punggung tangan Nadia sebelum kembali ke kursinya. "Ayo dimakan sup nya selagi hangat. Wanita hamil tidak boleh telat makan, nutrisi bayi mu harus benar-benar dijaga." Nasihat Helena lembut, khas seorang ibu yang khawatir dengan putri nya sendiri.
Makan malam pun berlangsung dengan obrolan yang didominasi oleh Ibu Helena. Beliau menanyakan kabar kesehatan Nadia, memberikan tips-tips mengatasi mual di trimester pertama, bahkan menawarkan diri untuk mengirimkan dokter kandungan pribadi keluarga Alister. Sikapnya yang begitu ramah dan perhatian membuat secercah rasa lega tumbuh di dada Nadia. Ia merasa beruntung karena di tengah badai hidupnya, ibu dari pria yang menolongnya ternyata berhati malaikat, tidak seperti apa yang ia bayangkan.
Namun, kecanggungan itu tetap tidak bisa hilang sepenuhnya. Setiap kali Ibu Helena bertanya dan melempar senyum manis, Nadia tetap kikuk dan bingung harus merespon seperti apa karena aura ibunya Devan sungguh berwibawa. Tidak seperti dirinya yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa.
Dan Nadia juga merasa heran dengan Devan yang sedari tadi terlihat bersikap tenang di ujung meja makan, mewakili sang kepala keluarga yang tidak hadir, atau mungkin tidak ada. Nadia tak tau pasti.
Tapi, Devan memang seperti itu. Selalu tenang dalam situasi apapun dan dimana pun.
Ukh!
Tiba tiba di tengah makan malam yang terasa hangat, Nadia merasa perutnya sedikit tidak nyaman—efek lambung yang sensitif selama awal kehamilan.
Dia meletakkan sendoknya perlahan di atas piring yang masih tersisa sedikit sisa makanan mahal.
"Mama, Devan... maaf, saya izin ke kamar mandi sebentar ya. Perut saya tiba tiba agak sedikit kurang nyaman" kata Nadia sopan, menjelaskan.
Helena langsung mengalihkan tatapannya dari makanan di depannya, dia menatap Nadia yang sedikit mengernyit pelan karena rasa tidak nyaman. "Oh, iya, iya, Sayang. Perlu ditemani Bi Minah gak?" tanya Ibu Helena dengan wajah penuh kekhawatiran.
Nadia menggeleng. "Nggak usah, Ma. Saya bisa sendiri kok" sahut Nadia tersenyum, lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruang makan menuju koridor arah toilet.
Begitu langkah kaki Nadia terlihat menghilang di belokan, keheningan yang mencekam langsung jatuh di ruang makan mewah itu. Senyuman manis dan raut keibuan di wajah Ibu Helena menguap dalam sekejap, digantikan oleh garis wajah yang dingin, kaku, dan penuh dengan otoritas mutlak.
Ibu Helena meraih serbet kain, menyeka sudut bibirnya perlahan dengan gerakan anggun, dia menyilangkan kakinya, lalu menatap putra tunggalnya dengan sorot mata yang menghunus tajam.
"Mama tidak menegurnya di depan wajahnya karena Mama masih menghargai perasaannya sebagai sesama wanita yang baru saja bercerai, Devan" ucap Ibu Helena tiba tiba, suaranya kini berubah menjadi rendah, dingin, dan penuh penekanan. "Tapi sekarang, jelaskan pada Mama... apa kamu sudah bener-bener kehilangan akal sehatmu ingin menikahi Nadia?"
Devan tidak terkejut dengan perubahan drastis ibunya. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap balik sang ibu dengan ketenangan yang setara. "Aku tahu persis apa yang aku lakukan, Ma" Ucap Devan.
"Mama sungguh tak habis pikir" Ibu Helena memajukan tubuhnya, menekan suaranya agar tidak menggema keluar ruangan. "Berita perceraiannya dengan Arkan baru saja keluar dari pengadilan hari ini, Devan! Seluruh kolega bisnis kita tahu siapa Nadia. Dia janda dari pria yang sekarang menjadi tahanan polisi karena kasus penggelapan uang! Dan yang paling membuat Mama tidak habis pikir... dia sedang mengandung anak pria itu!" jelas Helena, dia memijit keningnya karena pusing yang tiba tiba mendera.
Devan meletakkan sendok garpu nya, lalu dia menatap ibunya. "Aku nggak peduli sama status dan masa lalu nya ma, anak itu tetap akan lahir dengan nama belakang Alister. Aku yang akan mendaftarkannya sebagai anak sah ku" sahut Devan tegas.
"Kamu gila, yah?!" Ibu Helena memukul meja makan dengan pelan namun sarat akan kemarahan yang tertahan. "Alister Group itu dinasti bisnis, Devan! Nama baik keluarga kita bersih tanpa noda selama tiga generasi. Bagaimana mungkin kamu dengan sukarela memberikan nama terhormat itu kepada darah daging pria kriminal? Apa kata lingkaran sosialita kita nanti? Mereka akan menertawakan Mama karena punya menantu bekas orang lain yang membawa anak haram!"
"Jaga ucapan Mama!" rahang Devan seketika mengeras, matanya berkilat tajam memperingatkan ibunya. "Anak di kandungan Nadia bukan anak haram. Dia lahir dari pernikahan yang sah, dan ke depannya, dia adalah tanggung jawabku. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh lingkaran sosialita Mama yang penuh kepalsuan itu."
Ibu Helena mengembuskan napas pendek, mencoba meredam emosinya yang mulai menyulut ke kepala. Dia menatap putranya dengan pandangan memohon sekaligus menuntut. "Mama tahu kamu pria yang bertanggung jawab, Devan. Kalau kamu mau menolongnya secara finansial, silakan! Berikan dia rumah, berikan dia miliaran rupiah, Mama tidak akan peduli. Tapi pernikahan? Tidak, Devan. Mama tidak akan pernah merestui hubungan ini" jelas Helena, lalu menatap anaknya itu tegas. "Pernikahan itu sakral, Devan. Dan pendamping seorang Devan Alister haruslah wanita dengan latar belakang yang setara, bukan wanita penuh skandal yang hancur berantakan seperti Nadia."
Devan berdecak tak senang. "ah, ayolah ma. Tinggal berikan restu saja apa susahnya" kata Devan lelah.
"Kamu tau sendiri apa jawaban mama, Devan" kata Helena tenang.
Devan mendengus tak peduli, dia berdiri dari duduknya, lalu membenarkan dasinya yang terasa sedikit miring.
"Seterah mama. Tanpa restu mama pun, aku tetap akan menikahi Nadia" jelas Devan, lalu dia melangkah meninggalkan ruang makan menuju toilet untuk mendatangi Nadia sebelum suara bentakan Helena meledak di sana.
"Devan! Kamu gila, yah?! Kemari sekarang! Pembicaraan kita belum selesai!" teriak Helena saat melihat anaknya yang malah pergi tanpa etika.
Tapi Devan tetap tak peduli, dia tetap berjalan hingga bayangannya hilang di belokan.
★★★
Wah, wah, wah... Apakah Devan sekarang jadi anak durhaka?😹🤭 Dan ibunya Devan auranya tu seperti ibu ibu sosialita banget yah, terus memegang teguh nama baik keluarga banget. Wahh...