Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyala Lilin di Kamar Rahasia
Jeritan nama itu membentur dinding-dinding kayu Vila Puncak, bergema tajam di tengah kegelapan malam.
"ARKA!" Maya menjerit, suaranya pecah dipenuhi rasa panik yang meremas jantungnya. Tangannya refleks mencengkeram perutnya yang masih muda, merasakan mual ekstrem beradu dengan desakan adrenalin yang membakar. "Mas! Arka, Mas! Anak kita!"
"Maya, pegang tangan Mas!" Kian menarik tubuh Maya ke rapat dalam pelukannya, melindunginya dengan seluruh sisa kekuatan fisik yang ia miliki. Senter ponsel di tangan Kian menyapu kegelapan koridor lantai dua, membiaskan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan.
Ponsel Kian di saku celananya mendadak bergetar hebat. Kian menggeser tombol layar dengan ibu jari yang gemetar—bukan karena takut pada Clarissa, melainkan ketakutan luar biasa akan keselamatan putranya.
Ia menekan tombol speakerphone.
"Papa! Papa... Arka di mana? Gelap, Papa..." suara mungil Arka menangis terisak-isak melintasi sambungan telepon, diiringi bunyi gesekan kayu yang pengap.
"Arka! Nak, dengar suara Papa?" Kian berteriak, suaranya yang parau bergetar hebat. "Arka di mana, Sayang? Papa sama Mama datang!"
"Tiga menit, Kian," suara Clarissa memotong dari seberang telepon, diiringi hembusan napas yang dingin dan penuh kesenangan mistis. "Anakmu tidak diculik jauh. Dia ada di bawah pijakan kaki kalian sendiri. Di dalam bungker air tempat ayah Maya menumpahkan darahnya. Air danau mulai dialirkan masuk ke dalam bungker... kalau kau tidak bisa memecahkan teka-teki terakhirku dalam tiga menit, Arka akan bernapas dalam air."
KLIK. Sambungan terputus.
"TIDAK! CLARISSA, JANGAN!" Maya histeris. Ia hampir saja ambruk jika Kian tidak menahannya dengan sigap.
"Maya! Maya, tatap mata Mas!" Kian memegang erat kedua pipi Maya yang dingin dan basah oleh air mata. Manik mata Kian berkilat dengan kecerdasan dan keberanian absolut. "Arka ada di bawah kita. Mas butuh otak cerdasmu sekarang, Bu Guru. Ingat diari dan pita tadi! Apa teka-tekinya?!"
Maya memaksa dadanya mengambil napas dalam-dalam. Di tengah kepanikan yang melumpuhkan, naluri seorang ibu dan ketajaman logika gurunya bangkit secara mendadak. Ia mengingat bait diari dan kaset tua almarhum ayahnya.
"Darah pertama... penawar racun... tempat ayah menumpahkan darahnya..." gumam Maya, matanya menatap liar ke sekeliling ruang kerja kakek Tanaya.
Matanya terhenti pada sebuah peta denah vila tua yang membingkai di dinding kayu. Di sudut denah tersebut, ada empat puisi singkat berbasis angka koordinat yang terukir samar:
"Air mata mengalir ke Timur,
Darah mengendap di Barat Laut.
Di mana angka sembilan bertemu sumur,
Di situlah pintu takdir tercabut."
"Barat Laut! Danau buatan vila ini ada di sisi Barat Laut denah!" jerit Maya. "Tapi pintunya... pintunya bukan dari luar, Mas! 'Di mana angka sembilan bertemu sumur'. Lihat jam dinding tua di sudut ruangan itu! Jamnya berhenti tepat di angka sembilan!"
Kian tak membuang detik. Ia melompat menerjang jam berdiri grandfather clock berukir kayu mahoni di sudut ruangan. Kian mencengkeram poros angka sembilan pada dial tembaga jam tersebut dan menekan serta memutarnya ke arah kiri sekuat tenaga!
KRAK! KLIK!
Lantai kayu di bawah meja kerja bergeser dengan suara berderit keras, memperlihatkan sebuah tangga batu melingkar yang menembus kegelapan bawah tanah. Suara gemericik air yang mengalir deras dan jeritan tangis Arka terdengar samar dari bawah sana!
"Ada di bawah!" teriak Kian.
Tanpa memedulikan kegelapan total, Kian memimpin jalan, membimbing Maya turun menyusuri tangga batu yang licin dan berlumut.
Di dasar tangga, sebuah ruangan kubus berbatu bata merah diterangi oleh nyala puluhan lilin putih yang menari-nari. Di tengah ruangan, Arka terikat di atas kursi kayu dalam sebuah peti kaca besar. Air dingin berwarna keruh dari danau luar sudah menggenang setinggi lutut dan perlahan-lahan naik mengaliri peti kaca tersebut melalui pipa besi tua!
Di samping peti kaca itu, berdiri seorang wanita bergaun hitam kelabu dengan rambut panjang terurai dan tatapan mata yang dipenuhi kebencian membara: Clarissa Valentina. Di tangannya, ia memegang sebuah tuas pemutar aliran air.
"Selamat datang di pengadilan masa lalu, Kian... Maya," bisik Clarissa dengan senyuman miring yang mengerikan.
"Lepaskan anakku, Clarissa!" desis Kian, melangkah maju pasang badan menutup Maya di belakangnya. "Dendammu pada keluarga Tanaya adalah denganku dan orang tua kita! Arka dan Maya tidak ada hubungannya dengan masa lalu!"
"TIDAK ADA HUBUNGANNYA?!" Clarissa menjerit melengking, kemarahannya meledak. "Ayahmu merebut tanah ini! Ayah wanita ini mengkhianati keluargaku! Dan karena mereka... aku harus hidup bagaikan bayangan di neraka selama puluhan tahun! Keturunan kalian harus merasakan rasanya kehilangan!"
Clarissa menarik tuas besi itu sekuat tenaga!
SRAAK!
Pipa air terbuka penuh. Deru air danau langsung mengucur deras memenuhi peti kaca tempat Arka terikat! Arka menjerit ketakutan saat air mulai menyentuh dadanya.
"ARKA!" Maya tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan keberanian tanpa batas, ia menerjang Clarissa dari samping, menghantamkan tubuhnya ke wanita itu hingga tuas kontrol terlepas dan mereka berdua jatuh terjerembap ke dalam air dingin yang menggenang di lantai bungker!
"Maya!" teriak Kian.
Sementara Maya bergulat sengit menahan Clarissa di lantai basah, Kian melompat menerjang peti kaca. Dengan otot-otot lengannya yang menegang hebat, Kian mengangkat sebuah batu bata besar dari lantai bungker dan menghantamkannya sekuat tenaga ke engsel kunci peti kaca tersebut!
PRANG! BUK!
Kaca tebal itu retak, lalu hancur berkeping-keping. Kian merogoh masuk ke dalam air, memotong tali pengikat Arka dengan pisau lipatnya, dan merengkuh tubuh mungil putranya yang basah kuyup ke dalam pelukannya.
"Papa ada di sini, Nak! Papa ada di sini!" bisik Kian seraya mengecup kepala Arka yang gemetar.
Di saat yang sama, Maya berhasil mengunci kedua tangan Clarissa di lantai. Namun, Clarissa tertawa melengking di tengah kekalahannya.
"Kau pikir kau menang, Maya?!" bisik Clarissa dengan mata membelalak liar. "Lihat di bawah bahumu... dinamit ini tersambung dengan tuas air tadi! Dalam sepuluh detik... tempat ini akan runtuh!"
Suara dentupan kabel pemicu TICK... TICK... TICK... mulai terdengar mendesis dari sudut dinding.
Mata Kian berkilat. Tanpa ragu seribu detik pun, Kian merangkul Arka di tangan kirinya, lalu menyambar tubuh Maya dengan tangan kanannya, menarik istrinya bangkit dari lantai.
"LARI, MAYA!"
Kian memeluk Maya dan Arka sekaligus, menjadikan tubuh tegapnya sebagai perisai manusia saat mereka bertiga melompat menerobos tangga batu keluar dari bungker tepat ketika ledakan pertama menghantam lantai bawah!
BOOM!