NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Bayi laki-laki itu

Rania membeku, bintang langsung menoleh, leonard tersenyum tipis sedangkan Damar terlihat pucat karena rahasia yang selama puluhan tahun mereka sembunyikan akhirnya mulai terungkap.

"Apa maksudmu?" bisik Rania sambil menatap Viktor tanpa berkedip.

Viktor menarik napas panjang.

"Karena malam itu..." Ia berhenti sejenak. "Kau lahir bersama seorang bayi laki-laki."

Ruangan langsung hening, semua orang saling berpandangan, tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

"Bayi laki-laki?" Bintang mengernyit.

"Iya." Viktor mengangguk pelan.

"Siapa dia?" Rania melangkah maju.

Viktor tidak langsung menjawab, ia justru menatap Damar seolah meminta izin untuk melanjutkan.

"Jangan." Damar menggeleng.

"Dia berhak tahu." Viktor mengembuskan napas panjang.

"Belum sekarang." Damar mengusap wajahnya kasar.

"Sudah terlambat untuk itu." Viktor menatapnya serius.

Leonard tertawa kecil.

"Kalian masih saja sama." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Selalu berpikir bahwa menyembunyikan kebenaran bisa menyelesaikan masalah."

"Diam!" Damar menatapnya tajam.

"Tidak suka mendengar kenyataan?" Leonard tersenyum sinis.

Bintang mulai kehilangan kesabaran.

"Cukup." Tatapannya beralih kepada Viktor. "Aku ingin jawaban."

Viktor terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

"Anak laki-laki itu masih hidup." Ia menatap Bintang dan Rania secara bergantian.

Jantung Rania langsung berdegup lebih keras.

"Di mana dia?" tanyanya cepat.

"Itulah masalahnya." Viktor mengepalkan ponselnya.

"Maksudmu?" Bintang menyipitkan mata.

"Kami kehilangan jejaknya."

Suasana langsung berubah, Rangga yang sejak tadi diam ikut mengangkat kepala, bahkan Leonard tidak lagi terlihat santai.

"Bagaimana bisa?" tanya Rangga sambil menyilangkan tangan di dada.

"Karena seseorang menemukannya lebih dulu." Viktor melirik Leonard.

"Jangan menatapku seperti itu." Leonard mendengus.

"Aku bahkan belum menyebut namamu." Viktor mengangkat sebelah alis.

"Tapi kau sedang mengarah ke sana," balas Leonard.

"Aku hanya melihat reaksimu."

Leonard tidak menjawab.

Bintang melangkah maju.

"Aku muak dengan semua ini." Rahangnya mengeras. "Siapa sebenarnya anak laki-laki itu?"

"Dia bagian dari rahasia yang sama." Viktor menatapnya lama.

"Itu bukan jawaban."

"Itu satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan saat ini."

"Aku mulai benci kalimat itu." Bintang tertawa sinis.

"Aku juga." Rania mengangguk setuju.

Viktor terlihat bersalah, namun sebelum ia sempat berbicara lagi, tiba-tiba ponselnya bergetar. Semua orang langsung menoleh, Viktor melihat layar ponselnya dan wajahnya berubah dalam sekejap.

"Sial!" Ia segera menerima panggilan tersebut.

Tidak ada yang berbicara, mereka hanya memperhatikan Viktor yang mendengarkan laporan dari seberang telepon.

"Apa kau yakin?" Viktor berdiri tegak.

Beberapa detik berlalu.

"Aku mengerti." Ia mengusap wajahnya kasar. "Jangan bergerak. Aku akan ke sana."

Panggilan langsung terputus.

Damar segera melangkah mendekat.

"Ada apa?" tanyanya cepat.

Viktor menatap semua orang di ruangan itu sebelum akhirnya berkata, "Mereka menemukannya."

Jantung Damar seolah berhenti.

"Siapa?" tanyanya cepat.

"Anak laki-laki itu." Viktor mengepalkan ponselnya.

Ruangan langsung hening, Leonard perlahan berdiri tegak, senyumnya menghilang bahkan pria tua itu terlihat terkejut.

"Itu tidak mungkin." Leonard menggeleng.

"Sayangnya itu mungkin." Viktor menatapnya dingin.

"Di mana dia?"

"Di pinggir sungai sebelah utara."

"Kalau dia ditemukan, bukankah itu kabar baik?" Bintang menyipitkan mata.

"Tidak." Viktor menggeleng pelan.

"Kenapa?" Rania menatapnya cemas.

"Karena dia ditemukan dalam keadaan terluka." Viktor menarik napas panjang.

Rania langsung menahan napas.

"Luka parah?" tanyanya pelan.

"Kami belum tahu." Viktor memasukkan ponselnya ke saku.

"Lalu bagaimana kau yakin itu dia?" Bintang mengernyit.

Viktor membuka galeri di ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto, Bintang mengambil ponsel itu terlebih dahulu dan seketika tubuhnya membeku.

"Apa ini?" bisiknya.

Rania segera melihat ke arah layar, matanya langsung membelalak karena pria yang ada di dalam foto itu sangat mirip Bintang. Bukan sekadar mirip, hampir identik.

"Aku tidak mengerti." Rania menggeleng cepat.

Bintang masih menatap foto tersebut tanpa berkedip, bentuk wajahnya sama, rahangnya sama bahkan sorot matanya pun hampir tidak ada bedanya.

"Siapa dia?" tanyanya dengan suara rendah.

Tidak ada yang langsung menjawab, namun ekspresi Viktor dan Damar sudah cukup menjelaskan bahwa pria itu bukan orang sembarangan.

"Jawab aku." Bintang mengangkat kepalanya perlahan.

"Itulah anak laki-laki yang lahir bersamaan dengan Rania." Viktor mengembuskan napas panjang.

"Tidak mungkin." Bintang langsung berdiri.

"Itu kenyataannya."

"Kenapa wajahnya mirip denganku?" Bintang menatap Viktor tajam.

Kali ini tidak ada yang menjawab dan diam itu terasa jauh lebih mengerikan daripada jawaban apa pun. Damar menutup matanya, sedangkan Leonard tampak menikmati kekacauan yang mulai terjadi.

"Akhirnya." Ia tersenyum tipis. "Kalian sampai juga di titik ini."

"Kalau kau tahu sesuatu, katakan." Bintang menatapnya dingin.

"Aku tahu banyak hal."

"Lalu bicara."

"Tidak semudah itu." Leonard mengangkat bahu.

Bintang melangkah maju, namun Rangga langsung menahan lengannya.

"Tenang."

"Aku sudah terlalu tenang." Bintang menggertakkan gigi.

Rania memperhatikan semuanya dengan kepala yang semakin pening. Foto itu terus terbayang di pikirannya, anak laki-laki misterius, kelahiran yang sama, wajah yang sangat mirip Bintang, semuanya terasa tidak masuk akal.

"Tidak." Rania menggeleng pelan. "Kalian masih menyembunyikan sesuatu."

Tidak ada yang menjawab.

"Kalian semua tahu." Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Ruangan tetap hening.

"Kalian semua tahu!" bentaknya.

Viktor memejamkan mata, sedangkan Damar menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, Rania merasa marah kepada mereka semua.

"Aku muak." Air matanya mulai menggenang. "Setiap kali aku bertanya, kalian selalu menyembunyikan sesuatu."

"Rania..." Bintang menatapnya.

"Aku ingin tahu siapa diriku." Suaranya mulai bergetar.

"Kau akan tahu."

"Kapan?" Rania menatap Viktor tajam. "Saat semuanya terlambat?"

Tidak ada yang mampu menjawab karena jauh di dalam hati mereka, mereka tahu wanita itu benar.

Brak

Pintu rumah tua itu terbuka keras, semua orang langsung menoleh. Seorang pria berlari masuk dengan napas memburu.

"Tuan Viktor!" Ia berhenti di depan Viktor sambil terengah-engah.

"Ada apa?" Viktor menatapnya tajam.

"Kami baru mendapat laporan."

"Laporan apa?"

"Pria yang ada di foto itu sudah sadar." Pria itu menelan ludah.

Jantung Rania langsung berdegup kencang, sedangkan Bintang membeku di tempatnya.

"Dan?" tanya Viktor cepat.

"Dia hanya mengatakan satu kalimat sebelum pingsan kembali." Pria itu mengusap keringat di dahinya.

"Apa?" Viktor melangkah maju.

Ruangan langsung hening, semua orang menunggu jawaban berikutnya. Pria itu menatap Rania, kemudian Bintang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.

"Dia bilang..." Pria itu menarik napas panjang. "'Tolong selamatkan saudara kembarku.'"

Bintang membelalak, rania membeku sedangkan Damar langsung menjatuhkan kursi di sampingnya karena terlalu terkejut dan untuk pertama kalinya... Bintang melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajah Damar.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!