"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Sore hari sekitar pukul setengah empat Adrian menjemput ibunya dirumah, hari ini dia akan melaksanakan niatnya untuk melamar Aurel secara resmi. Sebuah cincin berlian sudah ada di kantong jasnya, dia yang memilih sendiri di toko berlian langganan ibunya.
Sebuah cincin berlian warna merah muda seharga 3M, itu yang direkomendasikan oleh manager toko untuk sebuah pertunangan romantis. Mereka juga mengatakan tak ada wanita yang tak suka cincin itu karena cincin itu melambangkan cinta yang tulus.
Di dalam mobil Ratna melihat jok belakang, tak apapun disana. Bukankah seharusnya mereka membawa banyak hadiah untuk calon besannya?
"Nak," tanya Ratna akhirnya. "Ini kita beneran nggak bawa apa-apa lagi?"
Adrian menoleh, tenang. "Tenang Bu. Dion yang handle barang lainnya. Dia bilang nanti langsung nyusul ke sana."
Ratna mengangguk ragu. "Dion ya... ya." Dia berpikir mungkin Dion sengaja membawa mobil sendiri karena terlalu banyak barang yang di bawa. Mobil sedan BMW seperti yang mereka bawa sekarang memang lumayan sempit untuk membawa banyak barang
Ratna percaya dengan kata kata putranya, tapi entah kenapa perasaanya tak tenang.
Beberapa saat kemudian mereka sampai juga kerumah Aurel, rumah sederhana dengan banyak pot hias di teras rumahnya. Rumah yang tidak begitu besar, tapi sangat asri.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh tuan rumah. Sarwina dan Ratna saling melemparkan senyum ketika melihat Adrian tak bisa mengalihkan pandangannya dari Aurel.
Sore itu Aurel terlihat cantik mengenakan dress panjang warna peach, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Sederhana....tapi sangat cantik.
"Maaf jika kedatangan kami sedikit menggangu waktu lbu Sarwina dan Nak Aurel. Saya datang bersama putra saya, Adrian dengan sebuah niat baik."
"Saya senang karena lbu Ratna sudi mengunjungi rumah kami yang sederhana ini. Kami minta maaf sebelumnya jika ada bagian dari penyambutan kami yang tidak berkenan di hati lbu ataupun Nak Adrian," ujar Sarwina formal menanggapi kata kata Ratna.
"Sepertinya kita terlalu formal Jeng, lihat itu Adrian sama Aurel sudah keluar keringat dinginnya," Ratna mencoba mencairkan suasana. Dia sempat menggenggam tangan putranya, dan tangan Adrian dingin sekali seperti sedang menggenggam batu es.
Sarwina tertawa kecil, dia pun melihat ke arah Aurel yang diam tertunduk.
"Iya Jeng Ratna. sepertinya kita membuat takut mereka. Ayo diminum tehnya! Tadi Aurel nggak masuk kerja cuma mau buat kue kue ini lho."
Senyum dua paruh baya itu kembali mengembang ketika melihat Adrian langsung mengambil kue di depannya. Pria muda itu sangat bersemangat mencicipi kue kue didepannya.
"Enak Nak Adrian?"
"Enak banget Bu, kebetulan tadi belum makan siang," sahut Adrian jujur. Siang tadi setelah meeting rutin dia langsung pergi ke toko perhiasan. Selesai di toko perhiasan dia harus menyusul Dimas ke perusahaan XX untuk urusan kerjasama. Sorenya ia langsung menjemput ibunya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu saja, daripada nanti perut kamu sakit karena seharian tidak diisi," ujar Sarwina memberi kode pada Aurel agar mengajak Adrian ke ruang makan.
"Ehhh anu Bu, nanti saja. Saya mau melamar Aurel dulu."
Adrian memperbaiki duduknya, punggungnya tegak dan wajahnya sedikit tegang. Sebenarnya Ratna ingin tersenyum tapi ia urungkan. Tak pernah ia melihat Adrian setegang ini. Beradu argumen tentang perusahaan dengan ayahnya pun tidak pernah sekaku sekarang ini.
"Bu Sarwina," buka Adrian. Suaranya dalam. "Hari ini saya datang sebagai laki-laki yang ingin meminang putri Ibu."
Jantung Sarwina berdegup lebih kencang, bagaimanapun ini adalah momen sakral putrinya. Tangannya reflek menggenggam tangan Aurel.
Adrian melanjutkan.
"Saya tahu kami baru kenal. Saya tahu ini terlalu cepat. Tapi saya juga tahu, kalau saya tunda ini maka saya akan menyesal seumur hidup."
Adrian menatap Aurel. "Sayang. Aku nggak janji hidup kita akan selalu mudah. Tapi aku janji, aku akan jadi rumahmu. Aku berjanji akan jaga kamu, lindungi kamu, dan cintai kamu... seumur hidup. Kamu dan ibu Sarwina akan menjadi tanggung jawabku kelak."
Hening.
Aurel memeluk Sarwina dengan mata berkaca kaca.
"Ibu Sarwina, sekarang saya adalah anak laki laki ibu. Saya akan jaga keluarga ini dengan nyawa saya. Jangan hanya senang, tapi berbagilah semua kesusahan ibu pada saya."
Adrian meraih tangan kanan calon ibu mertuanya untuk salam takzim. Dan dengan lembut ia menarik tangan Aurel agar berdiri disampingnya. Sebuah cincin berlian ia sematkan sebagai tanda cintanya.
Air mata Ratna langsung mengucur deras. Haru dan bangga! Sepertinya dia baru menyadari jika putranya sudah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.
Hal yang sama terjadi pada Sarwina, wanita itu juga tak bisa menahan air matanya. Akhirnya putri semata wayangnya menemukan jodohnya. Walau hanya membawa cincin pertunangan tapi setidaknya Adrian sudah menunjukkan keseriusannya
Tiba-tiba pintu diketuk.
Tok tok.
Dion masuk dengan nafas ngos ngosan, keringatnya bercucuran. Waktu yang tepat, Dion melihat Adrian baru saja menyematkan cincin pertunangan. Jadi ini saatnya memberikan tanda cinta yang lain. Setangkai bunga mawar dan coklat yang ia bawa.
"Maaf telat Bu!" seru Dion. "Dri...ini," ujar Dion menyerahkan barang yang ia bawa. Kemudian dengan tenangnya ia duduk disamping Ratna. Selama ini Ratna sudah seperti ibunya sendiri, wanita itu tidak pernah membedakan dirinya ataupun putra kandungnya.
Ratna menunduk. Menutup wajahnya dengan kipas. Sekarang yang ingin ia lakukan adalah memukul Adrian dan Dion dengan panci penggorengan. Bagaimana bisa acara seperti ini mereka hanya membawa bunga dan coklat!
Ruangan hening 2 detik.
Lalu Adrian dengan wajah serius, berlutut di hadapan Aurel. Dia memberikan bunga dan coklat yang tadi diberikan Dion pada wanita itu.
"Aku mencintaimu Aurel Wijaya. lbu apakah saya boleh meminta putri lbu? Apakah lamaran saya diterima?
Sebenarnya Aurel sangat terharu, tapi entah kenapa tiba tiba ia menutup mulut dengan bahu bergetar. Dia sedang menahan tawanya. Benar benar ia tahan karena tak ingin merusak momen sakral ini.
Sarwina pun tak bisa menahan senyumnya, berbanding terbalik dengan Ratna yang kini menatap tajam Dion dan Adrian bergantian.
Akhirnya pecah. Aurel menyembunyikan tawanya di dada Adrian. Tak peduli dengan wajah bingung calon suaminya.
Sarwina tertawa sambil menangis. "Ya Allah Nak Adrian..."
Ratna yang awalnya ingin marah, hanya bisa ikut tersenyum walau hambar. Tidak ada alasan lagi untuk marah karena baik Aurel atau Sarwina terlihat bahagia. Mereka sangat mengasihi putranya.
"Anak saya memang... apa adanya, Bu," kata Ratna pasrah. "Sekali lagi maaf karena kami hanya....."
"Nak Adrian sudah memberikan hidupnya pada Aurel Jeng, bagi saya itu lebih dari cukup," sahut Sarwina yang tahu arah pembicaraan Ratna.
Sarwina mengusap air mata. Ia menatap Adrian. "Saya terima, Nak. Saya terima lamaranmu. Jaga Aurel baik-baik ya."
Adrian mengangguk, kemudian memeluk Aurel dengan erat. Tapi tidak lama karena Ratna menarik ujung bajunya. Tentu saja karena nyaris saja ia mencium pipi calon istrinya.
Semua lega karena sore itu acara lamaran berjalan dengan lancar.