Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Tersenyum
Bab 14 - Tersenyum
"Bagaimana...?"
"Apanya...?
Senopati dan Raisa sedang dalam perjalanan kembali dari pesta Tiara menuju rumah Senopati. Mereka memilih pulang dan tidak melanjutkan acara setelah Raisa dan Tiara selesai mengobrol, keadaan juga sudah semakin larut.
"Rasanya setelah menghabiskan waktu mengobrol dan berbagi dengan sahabat kamu?" Senopati sedari tadi memperhatikan Raisa sejak meninggalkan acara, Saat ini Raisa terlihat jauh lebih baik, berbeda sebelum mereka berangkat.
"Jauh lebih baik dari pada menyimpannya sendiri," Raisa tersenyum sambil menunduk, tidak berbalik menatap Senopati yang saat ini sedang menatapnya dalam diam. "Tuan...?" Panggil Raisa mengangkat kepalanya menatap Senopati yang sedang menyetir.
"Hm...?" Sambil memutar stir masuk keperangan rumah besar miliknya.
"Apa bisa besok saya kembali kerumah orang tuaku? Saya hanya ingin menghabiskan waktu dengan papa dan adik saya, sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu."
Mobil telah berhenti tepat di depan pintu masuk utama, Senopati lalu berbalik menatap Raisa ada sedikit keraguan di wajahnya. "Apa kamu yakin?" Ada rasa khawatir, bohong jika ia tdk peduli pada wanita yang sebentar lagi jadi istrinya.
"Saya yakin, hanya dua hari lagi sebelum pernikahan kita terjadi, setidak ada masa-masa yang ingin saya lakukan bersama adik saya yang baik." Indri adalah saudari yang baik berbanding balik dengan sifat ibunya yang jahat dan serakah.
"Baiklah tapi saya sendiri yang akan mengantarmu, dan memastikan kamu aman disana."
Raisa hanya mengangguk patut, takut jika ia banyak bicara keinginannya akan di tolak oleh Senopati.
Mereka sudah masing-masing di dalam kamar, Raisa memilih mengganti gaunnya yang terasa tidak nyaman sejak tadi, begitupun di kamar Senopati ia melakukan hal yang sama mengganti pakaiannya sebelum menuju balkon kamarnya.
Sedangkan di rumah keluarga Raisa, Ardi sedang duduk sendiri di ruang tamu sambil memandang foto keluarganya yang tergantung di tembok. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah, ia gagal mempertahankan putrinya justru malah menyerahkan putrinya kepada orang lain gara-gara hutangnya yang menumpuk.
"Pa...?" Indri turun dari lantai dua dan mendapati Ardi duduk termenung, wajahnya memancarkan rasa serba salah dan ketidakberdayaan.
Merasa di panggil Ardi berbalik dan mendapati Indri berdiri tak jauh darinya. "Sayang, kenapa kau tidak tidur?" Tanyanya dengan nada penuh kelembutan.
"Indri, mau ambil air minum Pa, tapi aku melihat papa duduk termenung di sini." Indri mengangkat gelas yang ia bawah dari kamarnya. Lalu berjalan duduk di samping Ardi sambil meletakkan gelas yang ia bawah di atas meja. "Papa kenapa? Apa papa tidak bisa tidur karena memikirkan kak Raisa?" Sambil bergelayut manja di lengan Ardi.
"Kau benar, papa rasa tidak bisa tenang jika belum mengetahui kakak kamu baik-baik saja. Terakhir kali..." Dengan lembut Ardi mengusap tangan putri kecilnya yang memeluk lengannya. "Dia terlihat kurang sehat." Ardi mengingat pertemuan saat ia pergi menjemput Raisa dan tidak di izinkan membawa putrinya sendiri.
"Kak Raisa, akan baik-baik saja Pa, di adalah wanita yang kuat, sebagai adiknya terkadang aku iri kepada dia, karena kak Raisa sangat tangguh."
"Makasih ya sayang, sudah menyayangi kakak kamu walaupun kalian tidak se ibu."
"Papa ih, bicara apa si? "
Plak...
"Akhh...?" Ardi pura-pura meringis kesakitan karena lengannya di pukul oleh Indri.
"Dia itu kakak aku, jadi sudah sewajarnya aku menjadi salah satu orang yang paling menyayanginya." Indri cemberut mendengar ucapan sang papa. Baginya Raisa adalah sebagian dari hidupnya, bukan hanya seorang kakak bahkan baginya Raisa bisa menjadi apa saja untuknya.
"Iya-iya papa tau, tapi nggak usah tabok juga dong, kan lengan papa sakit jadinya." Sambil menjewer hidung Indri yang masing terlihat memanyungkan mulutnya.
"Biarin, habisnya papa gitu sih."
"Indri, kamu pergi tidur sekarang, nanti kamu telat bangun ke kampus besok, bukannya kamu ada mata pelajaran jam delapan pagi?"
"Oh iya, aku lupa Pa, ya udah Papa juga tidur ya, muach...?" Indri lalu berlari meninggalkan Ardi, lalu tak lama iya kembali. "Hahaha, aku lupa gelasnya." Lalu berlari kembali meninggalkan Ardi yang tersenyum menatap kepergian, putrinya yang masih berumur 21 tahun, yang akan bertambah umur sebentar lagi menjadi 22 tahun.
Tak ingin berlarut-larut, Ardi memutuskan kembali masuk ke dalam kamarnya, berusaha untuk tidur dan melupakan sejenak pikiran yang mengganggunya.
Pagi datang menyambut dengan kehangatan yang baru, menghapus sisa-sisa sunyi malam yang telah lalu. membawa secercah harapan di balik kabut yang perlahan sirna, mengingatkan kita bahwa setiap hari adalah lembaran baru yang siap ditulis. Menemani aroma kopi yang mengepul dari cangkir, menyapa pagi dengan senyuman paling tulus.
Senopati sudah siap berangkat ke kantor, tapi sebelum itu ia akan mengantar Raisa kembali ke rumahnya, sambil menunggu ia meminum secangkir kopi panas untuk mengawali paginya.
"Selamat pagi nona?" Bi Lastri yang berada tak jauh dari Senopati menyapa Raisa yang baru saja turun dari lantai dua.
Senopati yang mendengar nama Raisa di sebut segera berbalik menatap gadis yang pagi ini terlihat ceria, Senopati bertanya-tanya dalam hatinya 'apakah itu pengaruh ia akan kembali ke rumahnya menemui keluarganya atau mungkin ada hal lain' pikirnya bertanya-tanya dengan hatinya.
"Pagi juga Bi, pagi Tuan..." Raisa tak lupa menyapa Senopati yang pura-pura tak menatap dirinya.
"Hm... Apa kamu sudah siap, sarapan dulu sebelum berangkat." Kembali melanjutkan membaca laporan di iPadnya.
"Baiklah Tuan."
"Kamu terlihat bahagia, apa karena akan kembali kerumah-Mu?" Tanyanya sambil melihat lawan bicaranya.
"Tentu saja Tuan, karena saya akan bertemu dengan adek dan papa saya." Jawabnya dengan senyum penuh antusias.
"Benarkah, ku pikir karena ada hal yang lain."
Radit dan Bi Lastri yang mendengar itu menahan senyum melihat ekspresi tuannya yang terlihat sedikit kurang mood sejak pagi, apakah karena akan di tinggalkan selama dua hari padahal pernikahannya sebentar lagi.
"Kalian berdua, kenapa masih di situ?" Senopati melambaikan tangannya menyuruh keduanya pergi, Senopati mengetahui keduanya sejak tadi memperhatikannya dan diam-diam tersenyum seakan mengejeknya. "Habiskan sarapan-mu, sebentar lagi kita berangkat." Senopati lalu berdiri meninggalkan meja makan menuju sofa yang tak jauh dari meja makan.
"Senopati...?" Tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 45 tahun mengamuk menerobos masuk berteriak memanggil-manggil Senopati.
Senopati dan Raisa yang mendengar keributan itu segera berlari keluar melihat keadaan dan siapa yang berteriak di dalam rumahnya.
"Tuan, maafkan kami? Kami sudah berusaha melarangnya tapi ia tetap menerobos masuk membawa pisau itu?" Ucap salah satu pengawal yang berjaga di depan seakan ketakutan membiarkan orang asing masuk kedalam kediaman tuannya.
"Senopati hanya mengangkat tangannya menyuruh para pengawal tetap di tempat saat mereka berniat maju menangkap pria pembawa pisau itu.
"Apa kamu belum puas dengan apa yang kamu dapatkan? Beraninya kamu menginjakkan kaki kotormu kedalam rumahku." Senopati menyunggingkan senyum menakutkan sehingga pria yang ada di hadapannya bergidik ketakutan, tapi di dalam hatinya ia harus berani menghadapi Senopati.
"Kamu mengganggu pagiku dengan keributan yang kamu buat?" Senopati lalu melangkah maju dan berhenti tepat berapa langkah lagi dari pria itu.
"Kenapa, bukan ka kamu yang lebih dulu menghancurkan kami?" Ucap pria itu menodongkan senjatanya, membuat beberapa orang ketakutan termaksud Raisa.
"Lalu apa? Apa kamu mau mati..."
Deg...