NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Minggu, 28 Maret 2021.

Pukul 17.30.

​“UHOEEKK—!”

​Aku mencengkeram tepian wastafel kamar mandi rumahku dengan begitu erat hingga buku-buku jariku memutih. Cairan lambung dan sisa makanan keluar tanpa ampun, menyiksa tenggorokanku yang terasa terbakar. Tubuhku bergetar hebat, dibanjiri keringat dingin yang membuat seragam kasual yang kukenakan terasa lengket dan tidak nyaman. Wajahku di cermin tampak pucat pasi, persis seperti mayat yang baru saja bangkit dari kubur.

​Rasa sakit itu... sensasi besi tajam yang merobek tenggorokanku di dapur rumah Rania masih tertinggal dengan sangat nyata di leherku.

​Aku meraba kulit leher kiriku yang sekarang utuh tanpa luka sedikit pun. Mati karena kecelakaan tak terduga dan mati karena dengan sengaja menancapkan pisau ke tubuh sendiri ternyata adalah dua hal yang sangat berbeda. Nuansa kengerian psikologis dari bunuh diri jauh lebih meremukkan waras dibanding digilas mesin kapal. Jiwaku terguncang hebat.

​Aku ingin mengakhiri ini secepatnya. Aku harus kembali lebih jauh ke masa lalu untuk menyelamatkan Rania. Aku harus melakukannya, tapi, tubuhku… tidak mau menurutiku.

Tanganku masih gemetaran hebat dan penuh dengan keringat ketika memegang pisau dapur. Aku hanya perlu menancapkannya sekali lagi, dan aku akan kembali ke 24 jam sebelumnya.

“Bergeraklah… jangan takut. Kumohon… bunuhlah dirimu sendiri. Selamatkan sahabatmu.”

Rasanya sungguh sangat menyakitkan. Bukan hanya karena rasa sakit fisik dari kematian yang baru saja kurenggang, tapi juga karena kelemahanku sendiri. Aku sudah bertekad. Aku benar-benar bertekad untuk menyelamatkan Rania. Tapi… tapi… aku ketakutan. Ketakutan yang amat sangat hingga meremas seluruh isi dadaku.

“Kalau begitu, sebaiknya jangan lakukan.”

Tidak. Aku harus melakukannya. Meskipun takut, aku tetap harus melakukannya. Ini demi sahabatku, Rania.

“Jujur saja, kau sebenarnya tidak terlalu peduli, kan?”

Apa?

“‘Kalian tidak tahu apa-apa tentangku.’ ‘Kenapa hidup mereka sangat nyaman?’ ‘Kenapa kau bisa terus tertawa dan tersenyum seperti itu?’ ‘Apanya yang sahabat, kau bahkan tidak tahu seperti apa penderitaanku.’ ‘Kenapa kau bahagia sedangkan aku harus menderita seperti ini?’ Pikiran-pikiran seperti itu pasti terlintas jauh di dalam lubuk hatimu yang paling gelap.”

Itu tidak benar! Aku menyayangi mereka!

“Tidak. Itu benar.”

Berisik.

“Kau sebenarnya iri pada Rania, kan?”

Berisik!

“Kau merasa takdir ini tidak adil, kan?”

Diam!

“Kau berpura-pura menjadi sahabatnya. Tapi jujur saja, kau sangat ingin merebut kehidupannya yang normal dan dipuja-puja itu, bukan?”

DIAM!

“Ketika kau melihat kondisinya yang mengenaskan di atas kasur tadi... kau sebenarnya merasa menang. Kau sangat senang, kan?”

“DIAAAAAMMMMM! MEMANGNYA APA YANG KAU TAHU TENTANG DIRIKU?!”

Aku berteriak sangat keras hingga tenggorokanku perih, membelah keheningan ruangan. Suaraku menggema, memantul di dinding ubin yang dingin. Namun, teriakan itu mendadak tersangkut di kerongkongan. Aku tersentak kaget, disusul rasa takut yang luar biasa menjalar ke sekujur tubuh saat mataku terfokus pada bayanganku di cermin wastafel.

“Tentu saja aku tahu, karena aku…”

Sosok di dalam cermin itu... sedang tersenyum lebar. Sangat lebar hingga sudut-sudut bibirnya berkedut menjijikkan, menatapku dengan binar penuh ejekan. Pemandangan itu sangat berbanding terbalik dengan diriku yang asli, yang saat ini sedang frustasi, menangis, dan napasnya memburu kacau.

“... Adalah kau.”

Bruk!

Kakiku seketika kehilangan keseimbangan saat aku melangkah mundur satu langkah demi menjauh. Tubuhku lemas, ambruk menghantam lantai. Aku terpaku di atas lantai yang dingin, napas seolah tersumbat di dada. Bibirku bergetar hebat, dan warna kulit wajahku semakin memudar, memucat pasi seperti sesosok mayat sungguhan yang baru bangkit dari kubur.

Dengan sisa tenaga yang kupaksakan, aku merangkak pelan. Tanganku yang gemetar meraih pinggiran wastafel, menjadikannya tumpuan untuk kembali berdiri. Aku mendongak, sekali lagi memberanikan diri menatap cermin.

Kosong.

Bayangan di depan sana kini menampilkan wajah yang sama persis dengan ekspresiku sekarang: ketakutan, pucat, dan berurai air mata. Tidak ada senyuman lebar yang mengerikan itu.

“Halusinasi...?” gumamku lirih, menyentuh permukaan kaca yang dingin dengan ujung jari yang gemetar.

Pukul 18.54

Aku duduk di tepi ranjang kamarku sambil memegang pisau dapur. Bilah bajanya yang dingin terasa begitu berat di telapak tanganku. Aku masih belum membunuh diriku sekarang. Di dalam benakku, aku merangkai pembenaran: jika aku melompat ke masa lalu terlalu jauh dan sikapku tiba-tiba berubah aneh di hadapan teman-teman, trauma di SMP lamaku pasti akan terulang kembali. Mereka akan menjauh, dan aku akan kembali sendirian. Jadi, aku memutuskan untuk menundanya. Aku akan mengakhiri hidupku tepat di waktu yang selaras dengan momen ketika aku pergi ke toilet sendirian di pantai hari itu.

Meskipun jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu kebenaran yang sesungguhnya. Itu hanyalah sebuah alasan. Aku hanya belum memiliki keberanian untuk melakukannya. Aku... masih takut mati.

Pukul 18.55

Tinggal sepuluh menit lagi menuju waktu yang kutargetkan. Detak jarum jam dinding terdengar seperti dentang lonceng kematian. Tubuhku tidak bisa berhenti gemetaran. Gigiku bergelatuk saking hebatnya rasa gigil yang menyerang sarafku.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Menarik napas dalam-dalam, membiarkan pasokan oksigen memenuhi paru-paru yang terasa menyempit, lalu mengembuskannya perlahan. Aku mengulanginya berkali-kali. Satu demi satu, hingga gemuruh di dadaku sedikit mereda dan ketakutanku mulai jinak.

Pukul 18.58

Aku merangkum kembali semua benang merah kejadian ini di dalam otakku. Lembar demi lembar ingatan tentang garis waktu ini kusortir dengan cepat, lalu aku mengulang kembali rencana yang sudah kususun matang-matang sebelumnya.

Mengingat pengecutnya diriku yang teramat takut untuk mati, ini adalah satu-satunya skenario terbaik yang terpikirkan olehku. Waktu yang kumiliki sangat terbatas, dan celah untuk bertindak di masa lalu nanti begitu sempit. Aku harus menyelesaikan semuanya dalam sekali percobaan. Tidak boleh ada kegagalan. Jika aku bermanuver terlalu banyak dan gagal, jiwaku bisa menggila terlebih dahulu karena beban trauma, bahkan sebelum Rania berhasil kuselamatkan.

BIP. BIP. BIP.

Pukul 19.05

Alarm ponselku memecah kesunyian kamar, berdering nyaring menyampaikan vonis. Waktunya telah tiba.

Aku membuka mata. Segala keraguan, ketakutan, dan bisikan cermin yang mengejekku kuhempaskan dalam-dalam. Aku menguatkan tekad yang tersisa, mempererat genggaman jemariku pada gagang pisau dapur hingga buku-buku jariku memutih.

Lalu, dengan satu hentakan napas yang tajam dan gerakan tanpa ragu, aku menancapkan pisau itu ke leherku.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!