Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pertemuan Tak Terduga di Ruang Kerja
Sementara Ibu Ratna dan Pak Wijaya tenggelam dalam diskusi serius mengenai rencana pendirian perusahaan konsultan bisnis di ruang kerja yang nyaman, Theo menikmati waktunya di taman belakang rumah Pak Wijaya. Udara segar dan hijaunya pepohonan membuatnya merasa rileks. Namun, setelah beberapa saat bermain, rasa haus mulai menyerangnya.
Ia memutuskan untuk mencari minum. Dengan langkah kecilnya, Theo berjalan menuju bagian dalam rumah, mencari dapur atau area di mana ia bisa mendapatkan minuman. Saat melewati sebuah pintu yang sedikit terbuka, pandangannya tertuju pada sebuah ruangan. Di dalamnya, ia melihat seorang pemuda duduk di depan sebuah meja kerja yang penuh dengan kertas dan layar monitor. Pemuda itu tampak sedikit kebingungan, mengerutkan keningnya sambil menatap layar.
Theo mengenali pemuda itu. Ia adalah Jhonatan, putra tunggal Pak Wijaya, yang pernah ia lihat sekilas saat pertama kali datang. Jhonatan tampak sedang bergulat dengan sesuatu yang rumit di layar komputernya.
Jhonatan, yang sedang larut dalam pikirannya, tiba-tiba menyadari kehadiran Theo di ambang pintu. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat anak kecil itu berdiri di sana.
"Halo, dek," sapa Jhonatan ramah, suaranya lembut. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Theo. "Sedang apa di sini? Mau main?"
Theo sedikit ragu menjawab, namun kemudian ia melirik ke arah layar monitor Jhonatan yang memantul di permukaan lemari kaca di dekatnya. Pantulan itu menampilkan sebuah grafik yang rumit, dengan garis-garis naik turun yang familiar bagi Theo. Matanya berbinar melihatnya.
"Aku... aku haus," jawab Theo pelan, sambil tetap melirik grafik di layar. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Grafik itu terlihat menarik, seperti teka-teki yang ingin ia pecahkan.
...****************...
"Baiklah, sini, Kakak antar ke dapur," ujar Jhonatan, senyumnya semakin lebar. Ia mengulurkan tangannya, dan Theo tanpa ragu menyambutnya. Jhonatan menggandeng tangan Theo, membawanya menuju dapur yang terawat.
Setelah sampai di dapur, Jhonatan mengambilkan segelas air dingin untuk Theo. Theo meneguknya dengan cepat, rasa haus yang mengganggunya kini terobati. Sementara Theo minum, Jhonatan duduk di salah satu kursi di dekat meja dapur, kembali tenggelam dalam pikirannya. Keningnya berkerut lagi, matanya menerawang jauh.
Melihat Jhonatan yang kembali merenung, Theo yang baru saja selesai minum bertanya dengan rasa ingin tahu yang tulus, "Kakak lagi mikirin apa?"
Jhonatan tersentak sedikit dari lamunannya. "Ah, tidak ada apa-apa, dek," jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha mengalihkan perhatian.
Namun, Theo, dengan kepekaan yang tak terduga dari anak seusianya, tidak begitu saja melepaskan pertanyaan itu. Dengan sedikit keraguan, ia berkata, "Apa Kakak lagi mikirin strategi untuk menaikkan omset penjualan?"
Jhonatan hampir tersedak mendengar pertanyaan itu. Matanya membelalak. Bagaimana bocah ini bisa tahu? Apakah dia melihat pekerjaannya tadi? Tapi bagaimana bisa ia menyimpulkan hal serumit itu hanya dengan sekilas pandang pada grafik di layar? Jhonatan bertanya-tanya dalam hati, takjub dengan ketajaman observasi Theo.
"Wah, dek," seru Jhonatan, kini dengan nada yang lebih bersemangat dan sedikit tidak percaya. "Siapa namamu? Sepertinya Kakak butuh bantuan. Apa kau mampu membantuku?"
Theo menjawab dengan polos dan penuh keyakinan, "Tentu saja!"
...****************...
Jhonatan menatap Theo dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dan sedikit keraguan. Bocah ini terlihat begitu yakin, namun usianya masih sangat muda. Namun, melihat ketulusan di mata Theo, dan mengingat betapa bingungnya ia sendiri dengan masalah penjualan perabotan kayu perusahaannya, Jhonatan memutuskan untuk mengambil risiko.
"Baiklah, Theo," kata Jhonatan, senyumnya kembali mengembang. "Kalau begitu, kemarilah. Mari kita lihat apa yang bisa kita lakukan."
Ia kembali menggandeng tangan Theo, membawanya kembali ke ruang kerja yang tadi sempat ia tinggalkan. Theo mengikuti dengan antusias, matanya berbinar penuh semangat.
Setibanya di ruang kerja, Jhonatan kembali duduk di depan komputernya. Ia membuka beberapa file dan menampilkan presentasi penjualan terbaru. "Jadi, Theo," mulainya, "perusahaan kami memproduksi dan memasarkan perabotan kursi kayu. Kami punya berbagai macam desain, dari yang klasik hingga modern. Kualitas kayu yang kami gunakan juga sangat baik."
Jhonatan kemudian menunjukkan beberapa foto produk di layar. Ada kursi makan elegan, kursi santai yang empuk, hingga kursi ukir yang artistik. "Masalahnya," lanjut Jhonatan, nadanya kembali sedikit muram, "penjualan kami belakangan ini stagnan. Kami sudah mencoba berbagai strategi promosi, diskon, bahkan iklan di media sosial, tapi omsetnya tidak naik signifikan. Kami kesulitan menjangkau pasar yang tepat dan membuat produk kami lebih menarik bagi konsumen."
Ia menghela napas. "Ayahku, Pak Wijaya, sangat berharap kita bisa meningkatkan penjualan. Tapi sejujurnya, aku sendiri agak bingung harus mulai dari mana lagi." Jhonatan menatap Theo, seolah meminta pengertian dari anak kecil itu. Ia merasa sedikit konyol menceritakan masalah bisnis sebesar ini kepada seorang anak SD, namun ia juga merasa ada sesuatu yang istimewa pada Theo.
...****************...
Theo mendengarkan cerita Jhonatan dengan saksama. Matanya yang cerdas bergerak dari satu gambar produk ke gambar lainnya di layar, lalu kembali menatap Jhonatan. Setelah mendengar penjelasan Jhonatan tentang stagnasi penjualan dan kebingungannya, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya.
"Bagaimana kalau digabung dengan properti?" ujar Theo tiba-tiba, suaranya terdengar mantap meskipun masih sedikit kekanak-kanakan. "Kan perusahaan Pak Wijaya berkembang di bidang properti? Jadi, kita bisa memasarkan dua produk sekaligus."
Jhonatan terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Theo. Menggabungkan produk kursi kayu dengan bisnis properti? Ide itu terdengar sederhana, namun entah mengapa terasa sangat masuk akal.
Theo melanjutkan penjelasannya dengan rinci, seolah ia telah memikirkan hal ini sejak lama. "Begini, Kak Jhonatan. Kalau ada orang yang membeli rumah atau apartemen dari perusahaan Bapak, kita bisa langsung menawarkan paket perabotan kursi kayu sebagai bonus atau paket tambahan. Misalnya, pembeli rumah baru bisa mendapatkan diskon khusus untuk pembelian satu set kursi makan, atau bahkan gratis satu kursi tamu jika membeli unit apartemen tipe tertentu."
Ia menambahkan, "Kita juga bisa membuat show unit di setiap proyek properti Bapak. Jadi, calon pembeli bisa melihat langsung bagaimana kursi-kursi kayu kita terlihat bagus dan cocok dipadukan dengan interior rumah yang ditawarkan. Ini bisa meningkatkan nilai jual properti Bapak, sekaligus menjadi promosi efektif untuk produk kursi kita."
Theo bahkan menyarankan agar mereka membuat brosur gabungan yang menampilkan desain rumah dan pilihan perabotan yang tersedia, atau bahkan membuat program bundling khusus yang menarik.
Jhonatan mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka. Ia benar-benar tidak menyangka anak sekecil ini bisa berpikir sejauh ini. Ide-ide Theo begitu logis, praktis, dan yang terpenting, belum pernah terpikirkan olehnya. Selama ini ia hanya fokus pada strategi pemasaran produk kursi kayu secara terpisah, tanpa menyadari potensi besar ..