Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Mei Li tidak menggelar konferensi pers.
Ia mengirim tiga paket.
Paket pertama masuk ke kantor pemeriksa pajak pukul sembilan pagi. Bukan bantahan emosional, bukan surat keberatan panjang, melainkan laporan audit independen lintas negara yang disusun bahkan sebelum surat pemeriksaan Tan Bao Shan tiba. Di dalamnya ada sumber dana, struktur kepemilikan, bukti pajak luar negeri, dan satu lampiran tambahan: daftar transaksi mencurigakan Tan Group yang memakai vendor fiktif untuk mengalihkan biaya proyek.
Amy menekan tombol kirim, lalu berkata, "Paket pajak terkirim."
Mei Li menatap layar. "Balasan?"
"Belum."
"Tunggu dua puluh menit."
Paket kedua dikirim ke kantor perizinan dan asosiasi konstruksi. Isinya bukan permintaan agar izin Koh Group dipercepat. Justru sebaliknya: Koh Group meminta seluruh proses ditampilkan dalam forum transparansi industri, dengan notulen terbuka untuk semua partner. Jika ada penundaan, alasan teknis harus dicatat tertulis dan bisa diaudit.
William membaca drafnya dengan wajah masih tegang. "Miss Lim, ini membuat kita ikut terbuka."
"Kita bersih."
"Tan Group tidak."
"Itu inti pertunjukannya."
Paket ketiga tidak dikirim oleh Koh Group.
Sean mengunggah satu utas data melalui akun analis independen yang selama ini tidak pernah terhubung langsung dengan Mei Li. Utas itu tidak membela Mei Li. Ia hanya membedah tiga artikel yang menyerang Koh Group, menunjukkan bahwa ketiganya memakai sumber sama, foto sama, dan narasi sama dalam selang waktu dua puluh menit. Lalu ia menampilkan pembayaran iklan digital dari agensi kecil yang terhubung ke konsultan media Tan Group.
Judul utas itu sederhana:
Siapa yang membayar ketakutan publik?
Dalam satu jam, arah pembicaraan berubah.
Orang-orang yang tadi bertanya "Siapa Lim Mei Li?" mulai bertanya "Kenapa keluarga Tan begitu takut pada Lim Mei Li?"
Salah satu partner yang pagi tadi meminta klarifikasi mengirim surel baru. Isinya singkat: mereka tetap melanjutkan kerja sama karena Koh Group bersedia membuka audit. Lima menit kemudian, dua supplier yang sempat ragu mengirim permintaan maaf dan menanyakan jadwal pengiriman berikutnya.
Yang paling keras justru datang dari publik kecil yang Tan Bao Shan kira tidak penting. Staf gudang, pengrajin batik, dan beberapa pemilik usaha kecil yang pernah dibayar tepat waktu oleh Koh Group mulai menulis pengalaman mereka sendiri. Tidak ada bahasa indah. Hanya kalimat sederhana tentang kontrak yang jelas, gaji yang tidak terlambat, dan orang-orang Koh yang tidak meminta uang rokok.
Narasi "modal asing berbahaya" kehilangan kuku ketika orang-orang kecil berkata mereka justru diperlakukan lebih manusiawi.
Ricky membaca komentar dengan mata berbinar. "Jie, mereka mulai berbalik."
"Jangan terlalu cepat senang."
"Maaf." Ricky meletakkan ponsel. Dua detik kemudian ia mengangkat lagi. "Tapi ini bagus."
Bella berdiri di dekat pintu. "Ada dua mobil media di depan Koh Tower."
"Biarkan mereka menunggu."
Amy menerima panggilan masuk. "Dari kantor pajak."
Mei Li mengangguk.
Amy mengangkat, mendengarkan, lalu wajahnya tetap datar meski matanya sedikit berubah. "Mereka meminta pertemuan teknis tertutup, bukan pemeriksaan lapangan. Dan mereka meminta dokumen tambahan terkait vendor Tan Group."
William menghela napas lega.
Mei Li belum.
"Izin?"
Ricky memeriksa tablet. "Asosiasi konstruksi mengumumkan review terbuka untuk seluruh proyek kawasan utara. Mereka tidak bisa menahan kita tanpa menahan Tan juga."
"Media?"
Sean mengirim pesan.
Agensi kecil menghapus akun. Terlambat.
Mei Li akhirnya bersandar sedikit di kursi.
Tiga tangan pertama Tan Bao Shan patah.
***
Di kantor KADIN, Arka membaca perkembangan itu dengan senyum yang hampir tidak terlihat.
Dimas yang duduk di depannya menggeleng. "Mas, dia bahkan tidak perlu kamu."
"Aku tahu."
"Dan kamu senang?"
"Sangat."
Dimas menatapnya seperti melihat makhluk aneh. "Biasanya pria ingin jadi pahlawan."
"Dia bukan orang yang menunggu diselamatkan."
"Terus kamu mau jadi apa?"
Arka meletakkan ponsel. "Tempat pulang, kalau suatu hari dia ingin."
Dimas terdiam.
Untuk sekali, ia tidak bercanda.
Ponsel Arka bergetar. Pesan dari Mei Li.
Saya butuh ruang bicara. Bukan bantuan.
Arka membalas tanpa menunda.
Teras saya, jam tujuh?
Jawaban datang beberapa detik kemudian.
Sepuluh menit.
Dimas membaca ekspresi Arka dan langsung berdiri. "Oke, gue pergi. Demi negara dan perkembangan cinta yang sehat."
"Dimas."
"Aku hilang."
***
Malam itu, Mei Li duduk di teras Arka untuk pertama kalinya.
Tidak lama. Hanya dua puluh menit. Ia membawa tablet, menunjukkan bagaimana Tan Bao Shan memakai tiga jalur sekaligus dan bagaimana semuanya sudah diarahkan kembali padanya. Arka mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali bertanya untuk memperjelas struktur.
"Anda tidak marah karena saya tidak meminta bantuan?" tanya Mei Li setelah selesai.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena Anda meminta ruang bicara."
"Itu berbeda?"
"Sangat."
Mei Li menatap halaman yang basah oleh sisa hujan. "Aku tidak terbiasa meminta ruang."
"Saya tahu."
"Anda terlalu sering mengatakan itu."
"Karena terlalu sering benar?"
Mei Li menoleh. Arka tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya sejak artikel menyerang pagi tadi, tubuhnya benar-benar berhenti tegang.
Ponsel Amy bergetar di meja kecil. Mei Li mengangkatnya.
"Nona, tiga jalur serangan sudah terkendali. Tan Group mulai memindahkan aset inti ke rekening perlindungan keluarga."
Mei Li menatap layar, lalu senyumnya berubah.
Arka melihat perubahan itu. "Apa?"
Mei Li berdiri.
"Tan Bao Shan akhirnya membuka brankasnya."
Ia mengambil tablet dari meja.
"Saatnya mengambil yang paling dia jaga."