Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015
Ambang Batas
Seraphina melangkah ke dapur.
Reynard tidak berhenti mengaduk panci. Aroma kaldu ayam, bawang putih, dan jahe memenuhi ruangan. Di meja marmer, beberapa mangkuk kecil sudah berisi irisan daun bawang, jamur, dan cabai rawit yang dipotong halus. Semua terlalu rapi untuk seseorang yang katanya siap dimarahi.
"Jangan pikir makanan bisa menyelamatkanmu," kata Seraphina.
"Aku tidak berpikir begitu."
"Kau tetap memasak."
"Karena kau belum makan malam."
Seraphina berhenti di sisi meja. "Rey."
Ia akhirnya mematikan kompor kecil, menutup panci, lalu menoleh. "Aku mendengar."
"Kau mengatur orang di kantorku."
"Di luar gedungmu."
"Itu bukan bagian pentingnya."
"Bagiku, itu penting. Aku tidak masuk ke ruangmu, tidak mengganggu timmu, tidak menyentuh keputusanmu."
"Tapi kau tetap memutuskan tanpa bertanya."
Reynard diam.
Sejuta yang tadi duduk di pintu dapur menatap mereka bergantian, lalu pelan-pelan menundukkan kepala ke lantai, seolah bahkan ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk meminta dielus.
Seraphina menarik napas. "Aku sudah terlalu sering dipindahkan, dijaga, disembunyikan, dipanggil hanya saat dibutuhkan. Kalau kau melakukan hal yang sama, walaupun alasannya berbeda, rasanya tetap sama."
Wajah Reynard berubah.
Bukan banyak. Hanya matanya yang menjadi lebih gelap, dan rahangnya yang mengendur sedikit, seperti kalimat itu mengenai tempat yang ia sendiri tidak ingin sentuh.
"Aku tidak ingin kau merasa seperti itu," katanya.
"Tapi kau membuatku merasa begitu."
Kejujurannya membuat dapur menjadi sunyi.
Reynard melepas apron hitam yang dikenakannya, melipatnya sekali, lalu meletakkannya di meja. Gerakannya perlahan, memberi Seraphina waktu untuk mundur kalau ia mau.
"Maaf," ucapnya.
Seraphina menatapnya. "Kau tidak akan membela diri?"
"Aku bisa menjelaskan. Tapi penjelasan tidak menghapus rasamu."
Kalimat itu membuat kemarahannya kehilangan sasaran.
Ia sudah siap untuk berdebat. Siap mendengar alasan tentang Kevin, tentang risiko, tentang bagaimana ia seharusnya mengerti. Namun Reynard tidak memaksanya mengerti. Ia hanya berdiri di sana, menerima bahwa niat baik bisa tetap melukai.
"Aku tidak suka merasa rapuh," kata Seraphina lebih pelan.
"Aku tahu."
"Jangan jawab seolah kau tahu semua hal tentangku."
"Aku tidak tahu semua." Suara Reynard turun. "Aku hanya tahu kau selalu menggigit lebih dulu sebelum mengaku sakit."
Seraphina menatapnya tajam.
"Itu terdengar seperti kucing lagi."
"Kau yang bilang akan mencakar."
"Dan kau bilang akan menyiapkan obat merah."
"Masih berlaku."
Entah kenapa, bibir Seraphina hampir bergerak. Ia memalingkan wajah, tidak ingin Reynard melihat kemarahannya berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dipegang.
Reynard kembali ke kompor. "Aku akan tarik orangku lebih jauh. Mereka tetap ada di area publik, tapi tidak di gedungmu. Kalau Kevin muncul lagi, security gedungmu yang bergerak dulu. Orangku hanya masuk kalau ada ancaman fisik."
"Dan kau akan memberitahuku?"
"Ya."
"Sebelum memutuskan?"
"Ya."
Seraphina mempelajari punggungnya saat ia kembali mengaduk sup. Bahunya lebar, tetapi malam ini tidak terasa seperti dinding yang memaksanya mundur. Lebih seperti sesuatu yang bisa ia sandari jika ia mau, dan pilihan itu justru membuatnya takut.
"Kenapa kau begitu sabar?" tanyanya.
"Aku tidak sabar."
"Kau terlihat sabar."
"Itu karena aku sedang memasak."
"Kalau tidak?"
Reynard menoleh sedikit. "Kalau tidak, aku mungkin sudah menyeret Kevin ke depanmu dan membuatnya minta maaf sampai suaranya habis."
Seraphina terdiam.
Reynard kembali menghadap panci. "Lihat? Tidak sabar."
Kali ini Seraphina benar-benar tersenyum.
Senyum itu kecil, tetapi cukup membuat dada Reynard yang sejak tadi tertahan bergerak pelan.
Ia menyendok sup ke mangkuk, menambahkan daun bawang, lalu meletakkannya di meja. "Makan."
"Masih memerintah."
"Merekomendasikan dengan sangat serius."
Seraphina duduk. Ia mencicipi sup itu. Hangat. Jahe terasa lembut di tenggorokan, ayamnya empuk, kaldunya bersih. Ia benci mengakui bahwa makanan Reynard selalu berhasil menyentuh bagian dirinya yang lelah.
"Enak," katanya.
Reynard tidak menjawab, hanya mengambil mangkuk untuk dirinya sendiri.
Mereka makan dalam hening. Di tengah hening itu, kemarahan Seraphina perlahan tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Bukan lagi duri yang mengarah keluar. Lebih seperti sesuatu yang akhirnya bisa diletakkan di meja tanpa harus disembunyikan.
Setelah makan, Reynard berdiri untuk mencuci mangkuk.
"Kunci yang kau tinggalkan waktu itu," kata Seraphina tiba-tiba.
Gerakan Reynard berhenti sebentar.
"Untuk rumah ini?"
"Ya."
"Kau meninggalkan kunci rumahmu di bantal perempuan yang baru kau temui lagi malam itu?"
"Aku tidak baru menemuimu malam itu."
Seraphina menatapnya.
Reynard mengambil napas pendek. "Kau tidak harus memakainya. Tidak hari ini, tidak besok, tidak pernah kalau kau tidak mau. Aku hanya ingin kau punya tempat yang bisa kau buka tanpa meminta izin siapa pun."
Kalimat itu membuat Seraphina terdiam.
Di rumah Lim, setiap pintu terasa seperti milik orang lain. Di apartemen SCBD, kunci itu milik Hendrawan. Untuk pertama kalinya, seseorang memberinya kunci bukan sebagai tanda kontrol, tetapi sebagai pilihan.
"Kau sadar itu terdengar gila?"
"Aku sadar."
"Dan kau tetap melakukannya."
"Ya."
Seraphina menunduk, menatap mangkuk kosong di depannya. "Aku belum tahu harus merasa apa."
"Tidak apa-apa. Simpan saja sampai kau tahu."
"Biar staf yang lakukan," kata Seraphina.
"Tidak perlu."
"Kau pewaris Hartono Group."
"Aku masih tahu cara mencuci mangkuk."
Ia berdiri di depan wastafel, lengan kemeja digulung sampai siku, air mengalir di antara jemarinya. Pemandangan itu terlalu domestik, terlalu tidak cocok dengan pria yang beberapa jam lalu menghentikan Kevin di parkiran privat.
Seraphina berdiri di belakangnya.
Ada sesuatu yang mendesak di dadanya. Bukan dorongan besar, lebih seperti langkah kecil yang sudah terlalu lama ia tahan. Ia teringat kalimat di mobil: orang kuat juga boleh dijemput pulang. Ia teringat sup hangat setelah makan malam Lim. Ia teringat cara Reynard meminta maaf tanpa membuatnya merasa salah karena terluka.
Tanpa benar-benar merencanakan, Seraphina maju.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Reynard dari belakang.
Tubuh Reynard langsung kaku.
Air terus mengalir di wastafel.
Sejuta mengangkat kepala, telinganya tegak, lalu dengan sangat bijaksana berdiri dan berjalan keluar dari dapur.
Seraphina menempelkan dahi ke punggung Reynard. Kemejanya hangat. Aroma sabun, jahe, dan cologne bercampur menjadi sesuatu yang terlalu mudah diingat.
"Terima kasih," bisiknya.
Suara Reynard terdengar serak ketika ia menjawab, "Untuk apa?"
"Karena berhenti saat kuminta. Karena mendengar. Karena memasak walaupun aku marah."
Reynard menutup keran.
Keheningan setelah air berhenti terdengar sangat keras.
"Sera," katanya pelan.
"Hmm?"
"Lepaskan kalau kau masih ingin aku bersikap baik."
Seraphina seharusnya mundur.
Namun ia justru mengeratkan pelukannya sedikit, cukup untuk membuat napas Reynard berubah.
Reynard berbalik.
Gerakannya hati-hati, tetapi begitu ia menghadap Seraphina, jarak mereka hampir tidak ada. Tangan Seraphina masih berada di sisi tubuhnya. Reynard menunduk, dahinya menyentuh dahi Seraphina. Napas mereka bertemu, hangat dan tidak stabil.
Matanya gelap.
"Kalau kau terus begini... aku tidak bisa menahan diri lagi."