Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Adu pedang
Melihatku tidak keluar dari kamar, Nona Huang mengunjungiku di tengah malam.
"Qiuye," pangilnya lembut.
Aku buru-buru menyeka air mataku yang mengalir dipipiku. "Ya Nona muda," balasku. "Kenapa anda belum tidur? Dan kenapa anda datang kesini, kenapa tidak memanggil hamba saja jika perlu sesuatu."
Nona muda Huang mendekatiku dan bertanya. "Kau sendiri kenapa belum tidur?"
"Aku belum mengantuk," balasku sambil memalingkan wajahku.
"Ada apa denganmu? Apa kau habis menangis?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak menangis. Nona muda, apa kau perlu sesuatu?" ucapku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Jangan membohongiku Qiuye, kau habis menangis bukan? Apa kejadian di pesta tadi membuatmu takut dan sedih?"
Qiuye tertunduk kembali, untuk saat ini bukan hanya peristiwa diperayaan pesta tadi saja yang membuatnya sedih. Akan tetapi kegagalannya karena tidak mampu mewujudkan keinginan mencari keluarga aslinya itu.
"Qiuye, maaf karena telah melibatkanmu dalam masalah ini. Dan aku juga berterima kasih karena kau telah menjagaku dengan baik saat dipesta tadi," ucap Nona muda Huang.
"Sama-sama Nona, hamba juga ingin mengucapkan terima kasih karena anda sempat membela hamba agar terbebas dari hukuman," balasku.
"Yang kulakukan di perayaan tadi memang sudah seharusnya, kau tidak bersalah, jadi aku harus membelamu."
Aku melengkungkan senyumku dan menatap nona muda Huang yang baik hati, melihat dirinya aku merasa memiliki harapan baru. Dimana aku bisa merasakan bagaimana rasa punya teman, sekaligus kasih sayang seorang kakak perempuan.
"Ini masih belum lewat tengah malam, karena kejadian tadi aku belum sempat memberimu hadiah ulang tahun. Lihatlah ini, ini adalah hadiahku untukmu," ucap nona muda Huang menunjukkan sesuatu padaku.
"I-ini."
"Ya, ini adalah pedang yang kau inginkan. Dan pedang yang sudah aku janjikan padamu sebelumnya. Nama pedang ini adalah Penembus Bulan," ucap nona muda Huang memberikannya.
"Penembus Bulan."
"Ya ... Ambillah."
Aku menerima pedang itu dan teringat kembali tujuanku, dimana aku ingin memiliki pedang agar bisa melatih seni bela diri dan mencari keluarga asliku.
"Terima kasih," balasku kembali bersemangat.
"Sama-sama, ku mohon jangan bersedih lagi."
"Baik Nona," balasku mengangguk.
"Besok adalah hari terakhir kita di istana, sebelum pulang ke rumah aku akan mengajakmu keliling pusat ibu kota dan menghadiri pesta rakyat disana. Kau bisa membeli apapun yang kau mau, dan aku akan mentraktirmu belanja," hibur nona Huang.
"Benarkah? Apa benar ada pesta rakyat di pusat ibukota?" tanyaku senang.
"Tentu saja, setiap ada perayaan penting di istana, pasti akan ada pesta rakyat selama tujuh hari berturut-turut sebagai bentuk rasa sukacita rakyat kepada anggota istana. Disaat seperti itu semua rakyat biasa boleh masuk ke dalam halaman depan istana dan akan ada banyak sekali pedagang menjajakan dagangan, makanan, minuman, perhiasan dan masih banyak lagi," balas nona muda Huang.
"Bagus kalau begitu, hamba benar-benar tidak sabar menunggu hari besok."
"Hmm.. Aku pun sama, jadi cepatlah tidur dan besok pagi kita akan pergi ke pesta rakyat," ucap Nona muda Huang.
"Ya," balasku mengangguk.
Setelah perbincangan itu, nona muda Huang pamit padaku. Sedangkan aku kembali menatap pedang yang ia berikan. "Aku ingin mencoba pedang ini," ucapku lalu berdiri.
Merasa kamar tidak terlalu luas untuk latihan, maka aku memutuskan untuk pindah ke halaman belakang yang setidaknya lebih luas dan terbuka.
Aku menarik pedangku dan menaruh separuh badan pedang tepat didepan wajahku, lalu aku terpejam, mengingat kembali semua jurus yang pernah aku baca dibuku seni bela diri pedang milik keluarga Huang.
Kemudian aku membuka mata dan mencoba memulai jurus tersebut satu persatu, mengerakkan semua badanku mengikuti apa yang ku pelajari selama ini. Aku terus berkonsentrasi dan fokus agar dapat menyelaraskan gerakan tubuhku dengan ayunan pedang.
Mencoba membiasakan diri menuntun kemana arah hunusan-nya agar seimbang.
Perlahan aku mulai terbiasa, pedang yang dirasa berat sebelumnya kini dapat ku gerakan dengan mudah. Aku terbuai dengan semua ini, lalu aku menambah gerakan-gerakan berani dengan meloncat sambil menghunus pedang ke berbagai macam arah.
Nafasku memburu, tenaga yang terbuang cukup banyak membuat nafasku tersengal. Dan keringat bercucuran membasahi tubuhku, aku merasa kelelahan.
Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan duduk pada tepian batu, merasakan hembusan angin malam bertiup menerpa seluruh wajah dan tubuhku.
Rasa dingin dan kesunyian membuat pikiran kacauku terasa ringan sehingga aku mulai tenggelam dalam keheningan malam ini.
Lalu disaat aku menikmati semua itu, seorang pria berbaju hitam serba tertutup terbang turun mendekati diriku.
Tanpa ba bi bu pria berbaju hitam itu menyerangku tanpa alasan, dan aku refleks menahan serangan tersebut.
"Siapa kau? Kenapa tiba-tiba menyerangku?" tanyaku menatap tajam.
Namun pria itu tidak bergeming apalagi menjawab pertanyaanku, ia terus mengayunkan pedangnya, sehingga aku harus meladeninya berkelahi.
Hingga pada akhirnya sebuah panah kecil menancap tepat di antara langkah kami berdua, membuat diriku terhenti, begitu pula dengan dirinya.
Aku menengok ke arah atap, dimana sudah ada seorang pria lain berdiri gagah diatas sana.
Pria berbaju hitam itu lantas pergi menjauh dariku, lalu pergi bersama dengan pria yang berdiri diatas atap bangunan.
Aku terkulai lemas karena nafas dan tenagaku terkuras habis, lalu mengistirahatkan diri sambil menelaah kejadian yang baru saja terjadi. Siapa kedua pria itu dan kenapa salah satu dari mereka tiba-tiba menyerangku.
...***...
Beberapa menit sebelumnya, Xin dan jenderal Guan Yu menyusup masuk ke halaman istana demi memeriksa beberapa informasi mengenai tabib Nan. Mereka melompati atap gedung satu persatu lalu berhenti tepat di aula terbuka istana dimana pesta perayaan ulang tahun putri dirayakan sore lalu.
Guan Yu memerintahkan Xin untuk turun dan memeriksa cairan mengering dari sari buah anggur yang sempat ia tumpahkan.
Xin menurut, lalu ia turun setelah dirasa cukup aman dari para penjaga. Kemudian dengan cepat mengeluarkan sapu tangan khusus dan menempelkannya pada cairan yang sudah mengering tersebut.
Xin segera menyimpannya dengan rapi lalu kembali kepada Guan Yu yang sudah menunggu diatas.
"Tuan, aku sudah mengambil beberapa sisa-sisa cairan anggur ini," ucap Xin.
"Tuan," ucap Xin sekali lagi.
Rupanya Guan Yu tengah menatap seseorang dikejauhan, dialah Qiuye yang tengah berlatih pedang malam-malam.
"Xin, coba kau turun dan uji kemampuannya."
"Baik," balas Xin patuh lalu turun dan terjadi adu pedang.
Dirasa sudah cukup, Guan Yu menghentikan adu pedang tersebut dengan menyentil anak panah kecil sebagai tanda agar Xin berhenti.
Lalu memberi kode kepada Xin agar segera pergi.
"Tuan, aku sudah menguji bela dirinya." Xin menjelaskan.
"Hmm... Dia lemah," ucap Guan Yu lalu berlalu dikegelapan malam.
...Bersambung....