Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 Li Ya VS Ni Xao
Panglima Sun menatap Han Li Ya dan pasukannya dengan tatapan tajam sekaligus waspada.
Han Li Ya adalah seorang putri jenius dengan bakat yang luar biasa. Diusianya saat ini, dirinya bahkan sudah mencapai ranah kultivasi ke-6, tahap yang selama ini Panglima Sun berusaha untuk terus mencapainya walau tidak pernah berhasil.
Tidak hanya itu, Han Li Ya juga menjadi wanita pertama yang memimpin pasukan di garis terdepan medan perang dan telah membunuh banyak orang. Berkat jasanya itu, kekaisaran Han yang awalnya hanya negara kecil kini tumbuh menjadi salah satu dari lima kekaisaran kuat di benua ini hanya dalam kurun waktu empat tahun.
Itulah prestasi yang menunjukkan kalau Li Ya bukanlah wanita yang bisa diremehkan.
Dan sekarang, Panglima Sun harus menghadapi wanita itu ditambah satu pleton pasukan dibelakangnya.
Li Ya mengelus surai kuda putihnya dengan santai. Dirinya sama sekali tak menganggap serius peperangan dengan kekaisaran Zhang itu.
"Hm... Aku memang agak bosan dan butuh peregangan setelah sekian lama tidak bertarung. Hanya saja, sayang sekali lawan ku adalah sebuah kekaisaran kecil seperti ini."
Li Ya menatap Panglima Sun dengan tatapan meremehkan, "Padahal hanya kekaisaran kecil yang sedang berkembang. Tapi beraninya mereka menghina kekaisaran Han yang sungguh agung."
Panglima Sun masih berdiri ditempatnya. Dia juga bingung kenapa Maharani Agung-nya bisa begitu bodoh sampai mengusik kekaisaran kuat seperti Han ini. Apa dia lagi mabuk arak atau bagaimana sih?
Ia lalu mengambil kuda-kuda untuk bertahan dan siap dengan serangan apapun yang akan menimpanya.
"Kibasan Angin!!"
Han Li Ya berseru sembari mengibaskan tangannya. Angin pada arah kibasan nya menyerbu cepat kearah Panglima Sun. Untungnya pria itu sudah bersiap akan segala serangan, ia menggunakan Qi nya untuk bertahan, jadi dirinya hanya mengalami sedikit luka berat.
Tangan Panglima Sun bergetar hebat. Kibasan Angin adalah sebuah teknik dasar dalam bela diri dunia kultivasi, tetapi wanita itu berhasil membuat sebuah teknik dasar menjadi cukup mematikan.
"Lumayan juga. Nah, kalau begitu aku yang akan mengurus dia. Kalian serang keroco-nya saja."
Sesaat kemudian para pasukan kekaisaran Han mulai menyerbu pasukan kekaisaran Zhang yang tersisa. Mereka sama sekali tak menyentuh Panglima Sun karena mereka tahu itu adalah makanan untuk Putri Han Li Ya.
"Pedang keadilan!"
Sringg!
Li Ya menerjang Panglima Sun menggunakan pedangnya yang entah berasal darimana. Panglima Sun dengan cepat menangkisnya. Namun usaha itu sia-sia saja karena kekuatan fisik Li Ya jauh lebih besar dibanding dirinya.
Klontang!!
Pedang Panglima Sun terbang dari tangannya dan jatuh ketanah. Kini senjata utama Panglima Sun sudah tidak ada dan dirinya sepenuhnya rentan terhadap serangan.
"Kau adalah orang yang hebat dan sungguh terhormat. Sayang sekali orang sepertimu tidak lahir di kekaisaran Han."
Li Ya tersenyum kecut.
"Sebagai bentuk penghormatan. Aku akan mengakhiri ini dengan cepat."
Li Ya mengarahkan satu tangannya yang kosong kearah tubuh Panglima Sun. Dengan ayunan tangan yang cepat, dirinya melancarkan serangan terakhir bagi pria itu.
"Tebasan Angin."
Brak!!
Tubuh Panglima Sun terpental kebelakang dengan punggungnya mengenai pohon. "Uhuk," dirinya memuntahkan darah dari mulutnya.
"Sepertinya inilah akhirnya," mata Panglima Sun berkunang-kunang dan hampir tertutup. Tetapi sebelum itu, panglima Sun menyempatkan diri untuk melihat sekeliling. Kearah pasukannya yang berjatuhan satu persatu sama seperti dirinya dan...
"Hey Nak!! Apa yang kau lakukan?!!"
Mata Panglima Sun yang awalnya hampir terpejam kini terbuka sempurna. Suaranya uang lemah kini menjadi bertenaga. Itu semua karena pemandangan yang ia lihat dihadapannya.
"Maaf, tapi pasukan kekaisaran Zhang sudah banyak yang tumbang, dan saya rasa saya juga tak bisa berdiam diri melihat itu semua."
Ni Xao, pria itu berdiri tepat berhadapan dengan Li Ya. Panglima Sun tak habis pikir, sebenarnya apa sih yang dipikirkan oleh pria itu. Bukannya lari menyelamatkan diri, dia malah mendatangi kematiannya sendiri.
"Hey!! Berhenti nak!! Bukankah aku sudah bilang? Nyawamu tidak boleh disia-siakan begitu saja!!" Panglima Sun berteriak, hanya untuk mendapati Ni Xao sudah tidak berada ditempatnya.
"Hah? Kemana anak itu pergi?"
Ditinggal kedip sebentar, tubuh Ni Xao menghilang dari pandangan. Panglima Sun mencari kesana-kemari sampai ujung matanya menangkap sosok pria itu.
Ni Xao, dia berada dibelakang Li Ya.
"Hah?!"
Bahkan Li Ya sendiri pun terkejut dengan hal itu. Ia segera berbalik dan menyerang Ni Xao dengan pedangnya, namun Ni Xao menghindarinya seolah itu adalah hal yang mudah bagi dirinya. Ia bahkan sempat melayangkan tinju pada pergelangan tangan Li Ya.
Bugh!!
"Ugh!!" Li Ya memundurkan tubuhnya beberapa meter kebelakang. Memberi jarak diantara mereka.
Li Ya bisa merasakan kalau pemuda dihadapannya ini bukanlah pemuda biasa. Dia mempunyai teknik beladiri yang mengerikan.
"Siapa kau?"
"Hanya Pemuda biasa."
Li Ya tidak habis pikir dengan apa yang dia ucapkan. Mana ada pemuda biasa yang mempunyai teknik beladiri yang kuat seperti dirinya. Ditambah kain penutup matanya itu membuatnya terlihat semakin mencolok.
Sringg!!
Li Ya mengambil satu lagi buah pedang yang tergeletak di tanah. Dirinya tahu kalau sekarang ia harus serius dalam menghadapi pemuda misterius itu.
"Tebasan pedang ganda!!"
Li Ya menyerang Ni Xao dengan pedang ditangan kirinya. Tentu saja Ni Xao dapat dengan mudah menghindarinya. Tapi itu tepat seperti yang Li Ya perhitungkan, tangan kanannya dengan cepat memberikan serangan lanjutan pada Ni Xao.
Pedangnya berhasil menggores ujung telinga Ni Xao dan memotong beberapa helai rambutnya. Ni Xao tersentak untuk memegangi telinganya yang berdarah sedikit, hal ini membuatnya lengah.
"Kena kau!!" Li Ya menjatuhkan pedang ditangan kirinya, lalu ia dengan cepat menyambar penutup mata milik Ni Xao.
Sejujurnya Li Ya tau kalau dirinya tak bisa menang dari orang ini. Tapi setidaknya, ia ingin tahu siapa pemuda yang berhasil mengalahkannya tersebut.
Srakk!
Begitu penutup mata terbuka. Barulah Li Ya mengetahui siapa sosok didepannya itu. Mata Li Ya melebar, ia berdiri terpaku dengan tangan kiri memegang kain penutup mata Ni Xao.
"K–Kau, bagaimana bisa pangeran terbuang dari kekaisaran Liu berada disini?!!"
Sayangnya pertanyaan Li Ya tidak bisa mendapatkan jawaban. Ni Xao marah karena Li Ya mengambil barang berharga (kain lap) miliknya. Dirinya tiba-tiba menghilang dan muncul dibelakang Li Ya.
Li Ya menoleh kebelakang dengan tatapan mata lebar kebingungan. Ia tahu kalau dirinya tak akan sempat untuk menghindari serangan mendadak Ni Xao, jadi ia memasrahkan diri saja.
"Maaf, tapi ini urusan keluarga."
Tak!! Tak!! Tak!!
Ni Xao memberikan sentuhan dengan jari telunjuk dan tengahnya pada titik-titik tubuh tertentu milik Li Ya. Hal ini membuat Li Ya jatuh tersungkur.
Bruk!!
"S–Sialan..." Li Ya kemudian kehilangan kesadarannya.
Ni Xao mengambil kembali kain berharganya (yang sebenarnya enggak berharga) dari tangan Li Ya. Ia kembali mengikatkan kain itu pada matanya.
Setelah itu, ia berbalik menuju kearah tubuh Panglima Sun. Beberapa pasukan kekaisaran Han yang tidak terima putrinya dikalahkan oleh Ni Xao mencoba menyerangnya, tapi itu sia-sia saja. Mereka dengan mudah ditumbangkan oleh Ni Xao.
"Nak... Apa kau benar-benar seorang pangeran?"
Ni Xao diam sejenak ketika mendengar ucapan Panglima Sun. Ia lalu memberikan senyum misterius.
"Panglima, kita tidak punya waktu untuk bercanda. Sekarang kita harus fokus menaklukkan kekaisaran Han seperti apa yang diinginkan Maharani Agung."