NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 31

...BAB 31: PEMBERITAHUAN DARI HELENA!...

...****************...

Dengan berat hati, kelima orang tersebut tampak enggan berinisiatif mengajukan diri untuk maju menerima hadiah dari Kenzie.

Kenzie memperhatikan dengan saksama, menunggu siapa di antara mereka yang akan melangkah maju lebih dulu untuk menerima tempaan fisik darinya. Namun, tidak ada satu pun yang beranjak dari posisinya. Kelima temannya itu terlihat begitu enggan mengajukan diri karena insting mereka terus berteriak bahwa "hadiah" yang dibawa Kenzie sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan.

"Karena di antara kalian ternyata begitu malu untuk menerima hadiah berharga dariku, maka aku sendiri yang akan menunjuk kalian satu per satu secara adil!" putus Kenzie, membelah atmosfer yang tegang dan langsung memberikan pengaturan secara sepihak tanpa mau menerima penolakan dari teman-temannya.

Melihat Kenzie sudah bersiap mengayunkan tongkatnya, Wulan Tsuyoki menghela napas panjang. "Baiklah, karena yang lain tidak ada yang berani maju, maka aku sebagai senior mereka yang akan lebih dulu menerima hadiah itu!.." utas Wulan sembari menegakkan tubuhnya, memilih mengajukan diri lebih dulu demi menjaga harga dirinya sebagai seorang Murid Suci.

Melihat keputusan berani tersebut, mata Rava dan Ryujin seketika berbinar-binar cerah. "Wahh... Kakak Senior Wulan! Anda benar-benar luar biasa!" sahut keduanya secara bersamaan dengan rasa bangga sekaligus lega yang membumbung tinggi ke arah Wulan.

"Cih... Dasar para pecundang lemah..." desis Wulan, mengeluh pelan atas suara cengeng Rava dan Ryujin yang mendadak memuji dirinya hanya karena mereka takut dijadikan umpan pertama.

Dengan serentak, wajah Rava dan Ryujin berubah drastis menjadi murung. Mereka merasa bersalah atas ketakutan mereka sendiri, sekaligus merasa tidak enak karena membiarkan Wulan berkorban menghadapi Kenzie demi mereka.

"Bagus, Nona Wulan! Seperti itulah sikap kesatria yang mencerminkan seorang pendekar sejati," ujar Kenzie, menyatakan kebanggaan tersendiri atas keberanian Wulan.

"Tunggu..!" sela Snowy mendadak, menghentikan langkah Wulan. "Biar aku saja yang maju lebih dulu. Biarkan Senior Wulan beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lelah akibat latihan tadi," ujar Snowy dengan nada datar namun penuh penekanan.

Melihat intervensi tak terduga itu, Kenzie tersenyum tipis. Ia menatap lekat ke arah gadis berpakaian putih itu, lalu berkata, "Ohh... Kalau begitu, kamu sendiri memangnya tidak ingin beristirahat? Apakah tubuhmu sudah benar-benar siap untuk menerima hadiah fisik dariku?" tanya Kenzie pada wanita yang dikenal sedingin salju tersebut. Sambil menggelengkan kepala, Kenzie melanjutkan, "Sudahlah, biarkan Nona Wulan yang lebih dulu sesuai urutan. Sementara kalian berempat, tetaplah beristirahat di sini sampai giliran kalian tiba."

"Baik, mari kita lanjutkan, Nona Wulan," perintah Kenzie memberi instruksi tegas.

"Baik, ayo kita pergi ke arah batu besar itu dan memulainya," sahut Wulan, memantapkan langkahnya mengikuti keputusan Kenzie.

Setelah berjalan beberapa puluh meter ke arah batu besar yang letaknya cukup jauh dan tersembunyi—terhalang oleh derasnya tirai air terjun sehingga tidak terlihat oleh keempat orang yang masih berada di tempat latihan sebelumnya—kini Kenzie dan Wulan telah berada di batu besar tepat di dekat aliran sungai yang bergemuruh.

"Duduklah Nona Wulan di atas batu ini, dan siapkan seluruh jiwa ragamu untuk menerima hadiah berharga dariku," kata Kenzie dengan wajah menggoda yang menyebalkan.

"Diamlah... Aku juga sudah tahu akan hal itu," ketus Wulan menyahut malas, berusaha menutupi debaran gugup di dadanya.

"Hehehe... Baiklah, Nona Wulan. Tapi... apakah tubuh mungil serta kulit mulusmu itu nanti mampu menahan rasa sakit dari tempaan ini?" tanya Kenzie kembali menggoda, memutar-mutar tongkat tulang naga gajah esensi kura-kura di tangannya.

"Cepat mulailah, jangan banyak omong kosong!" tanggap Wulan yang sudah kehilangan kesabaran.

"Baik, sesuai dengan permintaan Nona Wulan yang terhormat," kata Kenzie.

*Plak!.. Plak!..*

Tanpa aba-aba, Kenzie langsung melayangkan dua pukulan ringan menggunakan tongkatnya ke arah pundak dan punggung Wulan. Pukulan awal ini sengaja diberikan untuk memberikan efek keterbiasaan pada tubuh Wulan yang belum pernah menerima stimulasi ekstrem. Detik berikutnya, reaksi dari tulang naga gajah esensi kura-kura mulai merayap masuk, berpenetrasi langsung ke dalam jaringan kulit, daging, dan tulang Wulan.

"Ahh.. hng.." desah Wulan tertahan, sekuat tenaga menahan rasa perih yang tiba-tiba membakar kulit mulusnya. Tubuhnya pun mulai bergejolak hebat, merasakan sebuah sensasi perubahan magis yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang hidup.

"Bagaimana Nona Wulan, apakah kamu merasa ada sesuatu yang terjadi di dalam tubuhmu?" tanya Kenzie. Ia ingin memastikan bahwa fondasi fisik Wulan sudah siap menerima tingkatan pukulan yang lebih berisi serta rasa sakit yang akan menyiksa seluruh elemen tubuhnya.

"Aku... aku merasakannya. Ada sedikit perubahan aneh yang mulai mengalir pada struktur tubuhku!" kata Wulan memberi gambaran, napasnya mulai memburu.

"Baik, kalau begitu aku akan memperkuat sedikit intensitas pukulannya, jadi bersiaplah!.."

"Tunggu—duhh!.."

*Plak!..*

Satu pukulan keras mendarat telat sebelum Wulan sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Argh.. ahh!.." jerit Wulan spontan. Ia belum siap sepenuhnya menerima hantaman berbobot tersebut, namun di saat yang sama, tubuhnya mulai bergetar hebat dan aliran energi *Ki* merah muda miliknya seketika bergejolak dahsyat merespons benturan esensi kura-kura.

"Ada apa Nona Wulan? Apakah ada sesuatu yang ingin dikatakan atau diprotes?" tanya Kenzie menghentikan ayunan tongkatnya sejenak.

"Tidak... Tidak ada! Cepat... cepat lanjutkan saja!.." kata Wulan dengan sisa tenaganya. Ia memilih menahan rasa sakit yang luar biasa demi perubahan fisik yang mulai ia rasakan secara nyata di dalam tubuhnya.

"Persiapkan dirimu dengan baik, Nona Wulan, karena sesi ini akan berlangsung selama satu jam penuh tanpa henti!" ucap Kenzie memberikan peringatan akhir.

Wulan begitu kaget mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa sesi penempaan tubuh yang menyiksa ini akan memakan waktu selama satu jam penuh. Namun, sebelum ia sempat memprotes, Kenzie sudah melanjutkan pukulannya kembali dengan memakai sedikit tenaga spiritualnya.

*Plak!.. Plak!.. Plak!..*

Rintihan demi rintihan pelan terlepas dari bibir Wulan. Rasa sakit yang ia terima tidak lagi seringan pada awalnya, melainkan berubah menjadi teramat perih dan membakar. Kulit, daging, serta tulang Wulan bergejolak hebat di bawah hantaman tongkat Kenzie, memaksanya untuk terus bertahan hingga energi *Ki* merah mudanya bergema dan mengalir dengan sangat dahsyat di dalam *dantian*.

Sementara itu, di tempat keempat orang yang tersisa, suasana terasa cukup sunyi. Pada saat Wulan sedang menerima sesi penempaan tubuh dari Kenzie, Rava dan Liera tampak duduk berdampingan sembari saling berbincang-bincang pelan, mengabaikan keberadaan Ryujin dan Snowy. Perbincangan kedua orang tersebut murni membahas tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik batu besar air terjun sana, dan jenis pukulan mengerikan seperti apa yang tengah diterima oleh Wulan dari tangan Kenzie.

Sedangkan Ryujin yang merasa diabaikan total oleh Rava dan Liera, kini hanya bisa pasrah. Merasa bosan, ia mencoba mencari topik untuk memulai obrolan dengan Snowy, satu-satunya gadis yang duduk diam dengan sifat murninya yang dingin.

"Ehem... Kalau boleh tahu, apakah Nona sudah mulai merasa pulih dari rasa lelah akibat latihan pedang kayu tadi?" tanya Ryujin dengan nada yang dibuat sehati-hati mungkin.

"Hmm?.." tanggapan dari Snowy terdengar sangat singkat. Gadis itu hanya memalingkan wajah datarnya sekilas ke arah Ryujin, memberikan tatapan kosong sebelum mengeluarkan suara gumaman pendek tersebut.

Ryujin yang dasarnya memiliki mulut berisik dan suka mengoceh, langsung terkekeh kejut sekaligus jengkel atas tanggapan temannya yang super kaku itu. Rasa kesal mulai muncul di dalam diri Ryujin karena merasa diabaikan begitu saja oleh seorang wanita cantik.

"Apakah hanya itu saja tanggapanmu?.. Bisakah kamu bersikap sedikit lebih santai layaknya manusia normal pada umumnya?" utas Ryujin dengan dahi berkerut kesal.

"Hnggg!.." desis Snowy, membuang muka kembali dan mengabaikan Ryujin sepenuhnya—persis seperti seorang wanita yang sedang merajuk atau kesal pada pasangannya.

Ryujin yang melihat reaksi tersebut langsung memasang wajah konyol yang super heran. Sifat abai Snowy benar-benar membuat otaknya buntu. Tanggapan wanita itu aneh sekali, dan Ryujin mendadak merasa seperti sedang menghadapi seorang kekasih yang sedang datang bulan.

"Haa... baiklah kalau begitu, lebih baik aku diam saja!" Ryujin menghela napas panjang, memutuskan menyerah total untuk mencari topik obrolan dengan "wanita es" di hadapannya itu.

Satu jam pun akhirnya berlalu dengan lambat. Sesi penempaan tubuh pertama untuk Wulan telah selesai dilaksanakan.

Dari balik tirai air terjun, Kenzie dan Wulan terlihat berjalan kembali ke arah empat orang yang sedang asyik beristirahat. Keadaan Wulan tampak begitu lelah, napasnya tersengal-sengal, namun anehnya, aura dan postur tubuhnya kini mulai terlihat jauh lebih padat, tegap, dan berbeda dari sebelumnya.

"Lihat! Mereka berdua sudah datang!" seru Ryujin membelah kesunyian, menunjuk histeris ke arah kedatangan Kenzie dan Wulan.

Setelah melangkah mendekat, Kenzie mengedarkan pandangannya ke arah murid yang tersisa. Sembari tersenyum misterius, Kenzie berkata, "Karena Nona Wulan yang pertama adalah seorang wanita, maka untuk giliran selanjutnya, harus seorang wanita lagi."

Mendengar hal itu, Snowy dengan cepat kembali mengajukan diri untuk maju ke depan. Namun, Liera segera memegang pundak Snowy dan melarangnya. "Tunggu, Snowy. Biar aku saja yang maju duluan. Aku adalah seniormu di faksi ini, jadi sudah sepatutnya aku yang menanggung giliran lebih dulu agar kamu bisa beristirahat lebih lama," ucap Liera penuh perhatian.

Namun, Snowy menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata yang teguh. "Aku tidak merasa lelah sama sekali, Senior Liera. Aku sudah benar-benar siap untuk menjadi yang kedua menggantikan posisimu," jawab Snowy dengan nada flat namun tidak bisa dibantah.

Liera hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepala adik juniornya itu. Tidak berdaya untuk berdebat lebih lama, ia akhirnya menyerahkan posisi urutan kedua kepada Snowy. Di sisi lain, Kenzie hanya bisa tersenyum puas melihat tekad besar yang membara di dalam diri Snowy. Tanpa banyak bicara, Kenzie langsung menerima Snowy untuk menjadi pasien keduanya.

Satu jam berikutnya berlalu dengan diwarnai oleh suara hantaman tongkat teredam dari balik batu air terjun. Kini, giliran Liera yang melangkah maju menggantikan posisi Snowy setelah gadis es itu kembali dengan tubuh lelah namun fondasi spiritual yang menguat tajam.

Setiap kali satu sesi wanita selesai, Rava dan Ryujin yang duduk menonton di halaman menjadi semakin panik setengah mati. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Kenzie di balik batu tersebut. Sebab, setiap kali Wulan, Snowy, dan disusul oleh Liera kembali ke tempat istirahat, kondisi fisik mereka selalu tampak kelelahan ekstrem, energi *Ki* di dalam tubuh mereka bergejolak hebat tak beraturan, dan penampilan fisik mereka mendadak berubah menjadi jauh lebih prima secara drastis dari sebelumnya.

Setelah satu jam berlalu lagi untuk sesi Liera, waktu kini telah berputar melewati tengah malam. Di lapangan luas itu, kini hanya tersisa Rava dan Ryujin yang saling berpelukan ketakutan.

Kenzie melangkah maju dengan tatapan mata yang tajam, lalu memanggil dengan suara tegas, "Rava! Maju!"

Mendengar namanya disebut, Rava hampir saja menangis di tempat. Ketika ia diseret ke balik batu air terjun, Rava mendadak mendapatkan perlakuan yang jauh berbeda dari ketiga wanita sebelumnya. Karena Rava adalah seorang pria, Kenzie menerapkan standar latihan yang jauh lebih tegas, keras, dan berlipat-lipat lebih menyiksa daripada porsi para gadis. Suara jeritan Rava bahkan sempat terdengar samar memecah malam akibat rasa sakit dari esensi kura-kura yang menempa tulang belulangnya.

Satu jam siksaan Rava selesai, kini menyisakan Ryujin seorang diri di lapangan. Saat Rava berjalan kembali dengan langkah gontai seperti mayat hidup, Ryujin dengan panik berbisik menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Namun, Rava hanya diam seribu bahasa dengan tatapan mata kosong yang trauma, enggan berbicara sedikit pun. Keheningan Rava itu tak pelak membuat bulu kuduk Ryujin berdiri tegak karena ketakutan yang teramat sangat besar.

Dan benar saja, begitu giliran Ryujin yang tiba di atas batu besar, ia benar-benar disiksa oleh Kenzie tanpa ampun. Porsi hantaman yang diterima Ryujin jauh lebih parah dan brutal daripada yang diterima Rava. Mengapa? Karena Kenzie memanfaatkan momen ini untuk melepaskan seluruh rasa kesal dan pening kepalanya yang menumpuk akibat ocehan-ocehan menyebalkan Ryujin selama perjalanan mereka! Di bawah kegelapan malam, Ryujin hanya bisa meratapi nasibnya yang digebuki oleh kakak angkatnya sendiri.

Setelah jam menunjukkan waktu dini hari, seluruh sesi penempaan fisik akhirnya selesai. Kelima murid tersebut kini duduk bersila secara melingkar di atas tanah halaman. Mereka semua memejamkan mata, fokus melakukan meditasi mendalam untuk menstabilkan aliran energi *Ki* mereka yang bergejolak hebat dengan wajah-wajah yang teramat lelah dan sisa rasa sakit yang masih tertinggal di otot mereka.

Sementara itu, Kenzie dengan santai telah kembali ke posisi favoritnya: duduk bermalas-malasan di atas kursi goyang sembari menikmati buah spiritual segar dari cincin dimensinya dengan ekspresi puas.

*Sreeet... Sreeet...*

Di tengah keheningan malam dan fokus kultivasi kelima murid tersebut, langkah kaki yang anggun terdengar mendekat. Sosok Master Helena tiba-tiba muncul menembus kegelapan halaman belakang kediamannya, bermaksud untuk menyampaikan sebuah pemberitahuan penting yang mendesak kepada para muridnya.

Namun, begitu menginjakkan kakinya di area air terjun, langkah Helena seketika terhenti. Wanita cantik penyuka arak itu terbelalak kaget menyaksikan pemandangan janggal di hadapannya.

Helena terkejut melihat kelima muridnya—termasuk Wulan yang biasanya paling kuat—saat ini sedang duduk berkultivasi dengan keadaan tubuh yang tampak kelelahan ekstrem dan gurat wajah yang menahan rasa sakit mendalam. Sementara di sudut lain, murid baru yang baru saja ia percayakan siang tadi untuk melatih teman-temannya justru terlihat duduk sangat santai, bergoyang-goyang di kursi malas sembari mengunyah buah-buahan tanpa beban.

Demi tidak mengganggu fokus kultivasi kelima muridnya yang sedang berada di fase krusial, Helena memilih melangkah pelan mendekati kursi Kenzie dan menyapa pemuda berambut perak itu seorang diri dengan suara berbisik yang sarat akan keheranan.

"Bocah... apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?" tanya Helena, matanya menatap tajam ke arah Kenzie lalu beralih ke arah lima muridnya yang tampak mengenaskan. "Mengapa mereka berlima kelihatan begitu kelelahan, dan mengapa ekspresi wajah mereka seperti sedang menahan rasa sakit fisik yang teramat tersiksa?"

Kenzie yang mendengar suara sang Master, tidak terkejut sama sekali. Ia hanya melirik Helena sekilas dari kursi malasnya, lalu menyahut dengan nada suara yang teramat santai dan watak menyebalkan yang alami, "Oh, Master Helena. Tidak ada apa-apa, kok. Mereka berlima tadi baru saja menjalani sesi latihan sore dengan semangat yang berkobar-kobar dan membara demi kemajuan kekuatan mereka. Dan ya... seperti yang Master lihat sendiri sekarang, hasilnya mereka hanya sedikit kelelahan karena terlalu bersemangat."

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!