Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Berisiko Tinggi
Sang petugas langsung berjongkok untuk memastikan keadaan Kenzo. Begitu dia mendekat, dengan cepat Kenzo menarik leher petugas tersebut kemudian membenturkan kepalanya ke lantai. Hanya butuh satu benturan, pria itu sudah kehilangan kesadaran.
Kenzo mendorong tubuh sang petugas sedikit menjauh. Setelah memastikan pria itu sudah benar-benar pingsan, Kenzo bergegas keluar. Dia mengunci sel dari luar kemudian menuju sel Kael.
“Tunggu di titik yang sudah kita bicarakan sebelumnya.”
“Baik!”
Sekeluarnya dari blok isolasi, Kenzo dan Kael berpisah tujuan. Kenzo menuju lorong Blok A. Dia akan bertemu dengan dokter Caelen dan Sergio. Kenzo bersembunyi saat melihat petugas yang sedang berpatroli.
Lima menit kemudian Sergio muncul. Melihat kemunculan pria itu, Kenzo langsung bersiul. Paham kalau itu kode dari Kenzo, Sergio segera mencari sumber suara. Ketika jarak pria itu semakin dekat, Kenzo segera menariknya.
“Kita akan membawa keluar profesor sesuai rencana kemarin,” ujar Kenzo.
“Dokter Caelen sudah menyiapkan jalan keluar.”
“Apa kamu yakin? Aku merasa ada niat terselubung darinya.”
“Dokter Caelen adalah salah satu anggota SIV senior.”
“Senior bukan berarti bisa dipercaya. Hector sudah memberitahumu semuanya. Apa kamu pikir tidak ada pengkhianat dan kebocoran di institusimu? Pancing dia dengan mengatakan kita akan membawanya lewat jalur lain.”
Saat pria itu masih menimbang, dokter Caelen muncul bersama profesor. Bergegas Sergio menghampiri. Dia perlu membuktikan apa yang dikatakan Kenzo benar atau tidak.
“Ayo kita pergi sekarang!”
“Sebentar, bukankah kita akan menggunakan jalur yang sudah kusiapkan?” Sergio menahan tangan sang profesor.
“Jalur yang kamu siapkan terlalu berisiko. Lebih baik ikuti aku. Aku sudah menyiapkan jalur lain yang lebih aman dan yang pasti menjamin keselamatan profesor.”
Sergio tetap bergeming. Tangannya masih memegang pergelangan tangan profesor. Mata profesor melihat Sergio dan dokter Caelen bergantian. Pria itu bisa merasakan ada aura ketegangan di antara keduanya.
“Kamu lebih mempercayai temanmu itu dibanding aku?” tanya dokter Caelen yang sudah menyadari kecurigaan Sergio.
“Kalau kamu mau aku mempercayaimu, ikuti rencanaku. Ayo, profesor.”
Sergio menarik tangan sang profesor. Baru satu langkah, keduanya berhenti ketika mendengar suara di belakang mereka. Dokter Caelen tengah menodongkan senjata pada keduanya.
Wajah profesor seketika memucat. Refleks pria itu mengangkat kedua tangannya. Kenzo yang mengawasi dari tempat persembunyiannya, mencari alat yang bisa digunakannya. Kemudian matanya melihat petugas mendekat.
Kenzo kembali bersembunyi. Begitu petugas mendekat, dia langsung menarik leher pria itu dengan lengannya. Menekannya cukup kuat hingga petugas itu kesulitan bernapas. Perlahan tubuhnya terkulai.
Pelan-pelan Kenzo membaringkan tubuh sang petugas kemudian mengambil tongkat baton atau pentungan.
Sementara itu, situasi antara Sergio dan dokter Caelen semakin menegang. Dokter Caelen menggerakkan pistol di tangannya, meminta profesor untuk mendekat padanya.
Sekilas sang profesor melirik pada Sergio. Untuk saat ini entah siapa yang bisa dipercaya olehnya. Yang ada di pikirannya adalah Kenzo. Semoga saja pria itu cepat datang dan membawanya pergi. Hanya Kenzo yang dipercaya olehnya sekarang.
Dokter Caelen kembali memberi isyarat. Ketika profesor menggerakkan kakinya, pistol di tangan dokter Caelen terjatuh setelah sebuah tongkat baton mengenai tangannya. Hal tersebut dimanfaatkan Sergio untuk membawa profesor pergi.
Sergio menuju arah di mana Kenzo berada. Kenzo langsung memandu keduanya menuju lokasi yang sudah disiapkan oleh Kael.
“Hei! Kenapa ke sana?” tanya Sergio yang menyadari jalur yang diambil Kenzo berbeda dari rutenya.
“Kita gunakan jalur lain.”
“Sebentar!” kembali Sergio menahan lengan profesor. Kini ketiganya berada di persimpangan Blok A, B dan C. “Kenapa kamu mengubah rutenya?” tanya Sergio curiga.
“Apa kamu pikir, dokter sialan itu tidak menyiapkan jebakan di sana?”
Belum sempat Sergio berpikir, mereka mendengar suara derap langkah cepat mendekat. Rupanya dokter Caelen dibantu dua orang agen dan beberapa sipir mengejar mereka. Mau tidak mau Sergio mengikuti rencana Kenzo.
Suara timah panas yang dilepaskan terdengar ketika salah satu agen menembakkan peluru pada ketiganya. Kenzo segera menarik profesor ke balik tembok, tak berapa lama Sergio menyusul.
“Apa kamu membawa senjata?” tanya Kenzo.
“Ya,” jawab Sergio sambil mengambil pistol dari balik pinggangnya.
“Hanya satu?”
Sergio mengambil satu senjata lagi yang diselipkan di bawah kakinya kemudian memberikan pada Kenzo.
“Lindungi kami, aku akan membawa profesor ke sana. Nanti kamu menyusul, aku yang akan melindungimu.”
Sergio menganggukkan kepalanya. Dia segera memberikan tembakan balasan dan bertepatan dengan itu Kenzo membawa profesor pergi.
Kael yang mendengar suara tembakan segera berlari ke sumber suara. Dia langsung menarik profesor ke balik tembok sementara Kenzo menembakkan senjatanya agar Sergio bisa menyusulnya.
“Ayo!” ajak Kael.
Mereka berlari menuju rute pelarian yang sudah disiapkan. Namun karena pelarian mereka sudah diketahui sipir, maka para petugas pun sudah berjaga di beberapa titik. Baik Kenzo, Kael maupun Sergio langsung berhadapan dengan sipir yang cukup banyak jumlahnya.
Melihat para sipir yang kesulitan menahan Kenzo dan yang lain, dokter Caelen memerintahkan ketua sipir membuka sel di Blok B dan C.
Mendengar suara keributan dan kunci sel terbuka, semua napi keluar. Untuk sesaat mereka masih bingung dengan situasi yang terjadi. Dokter Caelen mengambil sebuah toa kemudian mengumumkan hal penting.
“SIAPA SAJA YANG BISA MENDAPATKAN EMPAT ORANG ITU, AKAN MENDAPAT PEMBEBASAN!”
Sontak semua napi melihat pada empat orang yang dimaksud. Namun hanya tiga orang yang berjibaku, sementara yang satu hanya berdiri kaku dengan wajah pucat.
Suara dokter Caelen kembali terdengar. “BUNUH TIGA ORANG ITU TAPI BIARKAN PROFESOR TUA ITU HIDUP!”
Mateo yang berada di antara para napi yang dilepas dari sel membelalak ketika melihat Kenzo adalah salah satu orang yang dijadikan target. Belum hilang keterkejutan pria itu, para napi lain mulai berlari ke arah Kenzo dan yang lain.
Kini Kenzo dan yang lain harus menghadapi para napi yang tergiur dengan tawaran dokter Caelen. Mateo segera berlari menuju Kenzo. Bagaimana pun dia berhutang budi pada pria itu. Dia akan berada di sisi Kenzo walau nyawa taruhannya.
Tubuh napi dengan nomor C-212 terjatuh setelah mendapat tendangan dari Kenzo. Ketika tangan Kenzo hendak menghajar wajahnya, dia berteriak. “Aku bisa membawamu keluar dari sini!”
Sekali tarik, tubuh napi C-212 yang semula terkapar langsung berdiri. “Tunjukkan jalannya atau kamu mati di tanganku!”
Dari belakang Kenzo muncul seorang pria yang hendak menghajarnya. Ketika jaraknya semakin dekat, tiba-tiba seseorang menabraknya, dan orang itu adalah Mateo. Kenzo langsung menolehkan kepalanya. “Kamu! Ikutlah denganku!”
Mateo langsung mengangguk. Kenzo segera memberi arahan pada Kael dan Sergio untuk mengikutinya. Kael menarik tangan sang profesor.
Napi C-212 segera menuju pintu keluar dari lorong tadi. Dia adalah napi lama, jadi tahu seluk beluk tempat ini.
Begitu semuanya masuk, dia langsung menutup pintu. Para napi yang mengejar langsung tertahan. Secepatnya napi tersebut membawa Kenzo dan yang lain ke lorong lain. Dia membukakan pintu, kemudian meminta semuanya masuk.
Begitu orang terakhir masuk, dia langsung menutup pintu dari luar lalu menguncinya. Sontak Kenzo menolehkan kepalanya. Napi tersebut menyunggingkan senyum licik.
Dia segera menuju ruang kontrol yang ada di sisi kanannya. Kemudian dia membuka pintu sel yang ada di lorong yang dimasuki Kenzo dan yang lain.
Terdapat 30 sel yang berada di lorong tersebut. Lorong ini berisi napi dengan kejahatan tinggi atau Blok C spesial. Satu sel hanya terdapat satu napi.
Begitu pintu terbuka, 30 orang napi keluar. Mata mereka semua langsung tertuju pada lima orang yang berkumpul di tengah lorong.
***
Waduh🫣
bener2 berasa ikut disitu
Q akan larii cepet trus kalok ada bru mw aku lempar ke orang yg ngejar timur
wkwkwk
suka bnget ceritanya
up lgi dong thor
iddiiiihhhh Arman ngaamuk....
coba Kamu kerjakan sendiri becus gk nangkep mereka 😏