NovelToon NovelToon
Sword Wanderer Live'S Stream

Sword Wanderer Live'S Stream

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:177
Nilai: 5
Nama Author: EAGLE EZ

Satu... dua... tiga..."

​Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.

​[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]

​"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1.seratus duapuluh juta won

"Satu... dua... tiga..."

Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.

**[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]**

"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."

Duit segitu kalau dibeliin ramen instan, mungkin bisa buat ngasih makan satu kecamatan selama setahun penuh. Jangankan seratus dua puluh juta, ngeliat sisa saldo di rekening gua yang cuma digitnya pas-pasan aja udah bikin pengen nangis darah.

"Kenapa? Lu mau mundur sebelum perang?"

Suara cowok di seberang meja ngebuyarin lamunan gua. Jinho—temen gua dari zaman masih ingusan sekaligus orang yang paling tau seberapa frustrasinya gua tujuh tahun terakhir ini—lagi asyik nyeruput es kopinya sampai bunyi *sreeek* nyaring. Khas dia banget, gak punya beban hidup.

"Bukan mundur," sahut gua sambil ngegeser layar tablet itu menjauh, agak muak liat tampilannya. "Tapi ini realistis, Jinho. Duit dari mana? Gua emang punya memori sang maestro pedang, tapi memori itu gak bisa digadai ke bank buat dapet pinjaman instan."

Jinho malah terkekeh. Dia naruh gelasnya yang udah kosong, lalu majuin badannya, natap gua dengan pandangan sok serius.

"Makanya, dengerin gua dulu sampai abis, kampret. Gua kan tadi udah nanya, lu tau soal LFG atau kagak?"

"LFG? *League of Streaming*? Ya taulah, emang gua kuper apa," jawab gua males-melesen. "Itu kan turnamen akbar tahunan yang diadain platform *streaming* terbesar di Korea buat nyari bakat-bakat baru. Konsepnya semi-survival, gabungan antara *gaming skill* sama kemampuan narik penonton. Kenapa emangnya?"

Jinho ngejentikin jarinya di depan muka gua. *Plak!*

"Nah, itu dia! Lu tau gak kalau tahun ini, asosiasi VR Korea lagi gencar-gencarnya promosin teknologi baru mereka? Mereka kerja sama bareng panitia LFG. Dan tebak apa hadiah utama buat *champion* musim ini?"

Gua diem. Pandangan gua otomatis beralih lagi ke arah gambar *capsule* hitam metalik dengan lampu LED biru futuristik di layar tablet. Desainnya elegan banget, mirip kokpit pesawat tempur siluman. Itu adalah *Capsule Bio-Sinkronisasi* tipe Nex-Gen 7.

"Jangan bilang..." Gua nahan napas.

"Yup! Juara satu LFG musim ini bakal dapet hadiah tunai plus satu unit *capsule* yang lagi lu taksir itu. *Free* ongkir, langsung dipasang di kamar kosan lu yang sempit ini," ucap Jinho sambil nyengir lebar, pamer gigi.

Jantung gua rasanya langsung deg-degan parah. Rasa hangat yang udah lama absen dari dada gua mendadak meletup-letup. Itu adalah rasa antusiasme. Rasa lapar yang cuma bisa dirasain sama seorang petarung pas ngeliat arena pertempuran yang sesungguhnya.

Selama tujuh tahun ini, tubuh gua nolak semua jenis *VR gear* standar yang ada di pasaran karena kelainan saraf sialan ini. Setiap kali nyoba masuk ke dunia virtual, sinyal otak gua langsung tabrakan sama frekuensi mesin, bikin gua kejang-kejang dan pingsan. Dokter bahkan udah ngasih peringatan keras: *'Sekali kamu maksain diri lagi, kamu bisa koma permanen.'*

Tapi *capsule* tipe Nex-Gen 7 ini beda. Alat ini punya sistem enkripsi gelombang otak otomatis yang bisa nyesuaiin diri sama kelainan saraf apa pun. Singkatnya, ini adalah satu-satunya tiket gua buat bisa balik ke dunia virtual tanpa harus taruhan nyawa.

"Tapi, Jinho..." Gua muter otak, mencoba tetep waras. "LFG itu kompetisi buat para *streamer*. Gua? Akun *streaming* aja gua gak punya. Pengikut? Paling cuma lu doang sama akun bot jualan obat peninggi badan."

"Ah, soal itu mah gampang! Pendaftaran dibuka buat umum kok, asal lu punya identitas legal dan lolos kualifikasi babak penyisihan di game resmi mereka," Jinho nepuk pundak gua kenceng banget sampai gua agak kegeser. "Masalahnya sekarang cuma satu: Lu berani kagak? Lu selalu bilang lu punya bakat terpendam yang gak masuk akal, kan? Nah, ini panggungnya."

Bakat terpendam? Gua nahan senyum. Jinho emang ngira gua cuma sekadar 'berbakat' atau punya insting game yang tajam karena sering menang main game pc pake keyboard-mouse. Dia gak pernah tau rahasia terbesar gua.

Gua bukan cuma sekadar berbakat.

Gua adalah *Sword God Wanderer*. Di kehidupan masa lalu yang penuh darah dan peperangan itu, gua adalah puncak dari segala ilmu pedang. Refleks, prediksi pergerakan musuh, taktik pertempuran, semuanya udah terukir di dalam jiwa gua, melampaui batas logika manusia biasa. Kalau cuma soal ngadepin game VR zaman sekarang, gua bahkan gak perlu keluarin setengah dari kemampuan gua yang asli.

"Kapan babak penyisihannya dimulai?" tanya gua, suara gua berubah jadi lebih berat dan fokus.

Jinho yang ngerasain perubahan atmosfer di sekitar gua langsung bergidik ngeri. Dia buru-buru ngecek jam tangan digitalnya. "Dua hari lagi, pendaftaran ditutup jam dua belas malem ini. Game yang dipake buat kualifikasi tahun ini adalah *'Warlords of Myth'*. Lu punya akunnya?"

"Punya. Dulu pernah main pakai mode PC biasa, walau fiturnya terbatas banget dibanding versi VR," jawab gua sambil langsung berdiri dari kursi.

"Mau ke mana lu?" Jinho melongo.

"Pulang. Gua mau daftar," ucap gua tanpa nengok lagi. "Seratus dua puluh juta won itu... bakal jadi milik gua."

Gua langsung melangkah keluar dari kafe dengan terburu-buru. Angin malam kota Seoul yang dingin langsung menerpa muka gua, tapi anehnya, gua gak ngerasa dingin sama sekali. Darah gua rasanya mendidih.

Tujuh tahun gua hidup luntang-lantung kayak pecundang yang cuma bisa ngeliatin mimpi orang lain lewat layar kaca. Tujuh tahun gua nahan diri buat gak ngamuk tiap kali ngeliat orang-orang yang gak becus megang pedang di dunia game dipuji-puji kayak pahlawan.

*‘Tunggu gua,’* batin gua sambil ngepalin tangan erat-erat di dalam saku jaket. *‘Dunia virtual, para streamer, netizen... gua bakal bikin kalian semua tau apa arti dari kata 'Sword God' yang sebenernya.’*

Langkah kaki gua makin cepet. Malam ini, kisah sang pendekar pedang yang sempat terhenti, resmi dimulai lagi dari sebuah kamar kosan sempit berukuran tiga kali tiga meter.

1
EAGLE EZ
mungkin nanggung
SecretivePlotter
sama pembesar otong
SecretivePlotter
kek manhwa itu inimah
EAGLE EZ: benar cuman ide nya di ambil dari novel misal coverbook nya cuy
total 1 replies
SecretivePlotter
pinjol
SecretivePlotter
ya gak usah beli
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!