NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sementara itu, di kediaman keluarga Alex, pintu depan dihentak dengan kasar.

Sisil berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut dan bibir yang mengerucut penuh kekesalan.

Gaun mencolok dan dandanan menornya kini tampak berantakan karena keringat.

"Kamu kenapa, Mbak? Pulang-pulang mukanya sudah seperti cucian belum diperas begitu," tanya Dimas yang sedang bersantai di ruang tamu, menatap kakaknya dengan pandangan heran.

Sisil mengempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar, melempar tas tangannya ke meja.

"Aku tidak bertemu dengan Afrain! Resepsionis sialan di kantornya bilang kalau Afrain sedang tidak masuk. Alasan saja itu! Pasti wanita mandul itu yang melarang Afrain untuk menemuiku. Dia pasti takut kalau Afrain berpaling lagi kepadaku!" gerutu Sisil dengan napas memburu karena ego yang terluka.

Alex yang sedari tadi duduk di pojok ruangan sambil memegangi kepalanya yang masih agak pening akibat mabuk semalam, tiba-tiba menyahut.

"Kenapa kamu tidak langsung datang ke rumahnya saja, Mbak?" ucap Alex sembari meraih secarik kertas dan pulpen, lalu menuliskan sebuah alamat.

"Ini alamat rumah Afrain yang aku tahu dari berkas kemitraan kemarin," lanjut Alex sambil menyodorkan kertas itu kepada Sisil.

Mata Sisil seketika berbinar cerah melihat rentetan tulisan di kertas tersebut.

"Wah! Terima kasih, Adikku! Kamu memang bisa diandalkan," puji Sisil, mendadak melupakan kekesalannya.

"Nanti sore, Mbak akan langsung ke sana. Mbak akan menangis dan memohon di depan Afrain agar dia mau rujuk denganku. Pria selembut dia pasti tidak akan tega melihat mantan istrinya memohon."

Setelah menerima alamat itu, Sisil segera beranjak ke kamarnya.

Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum-senyum sendiri.

Di dalam kepalanya, Sisil mulai menghayal dengan liar.

Ia membayangkan dirinya kembali menjadi istri Afrain, mengenakan pakaian desainer ternama, berbelanja di mal mewah tanpa perlu melihat label harga, dan memerintah belasan pelayan di rumah gedong milik Afrain yang kaya raya.

Sisil tertawa kecil dalam khayalannya, sama sekali tidak tahu bahwa di rumah yang akan ia datangi sore nanti, posisi Nyonya Afrain sudah diisi secara sah oleh wanita yang paling ia benci.

Di kediaman Afrain, Lani membuka matanya perlahan setelah beberapa jam tertidur lelap.

Ruangan kamar sudah tampak agak temaram, menandakan hari sudah bergeser menuju sore.

Merasa tubuhnya sudah sedikit lebih segar, Lani berniat menyandarkan tubuhnya dan turun dari ranjang.

Namun, baru saja ia menggeser badannya sedikit, sebuah lengan kekar yang masih tertempel selang infus langsung mengetat di pinggangnya.

"Hm... Sayang, mau ke mana?" tanya Afrain dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sambil mempererat pelukannya di pinggang Lani, menolak untuk melepaskan istrinya.

Lani menoleh, mendapati wajah Afrain yang kini menempel di ceruk lehernya.

"Mas, aku mau ke dapur. Kamu harus makan bubur lagi, perutmu tidak boleh kosong supaya bisa minum obat yang sore," bisik Lani lembut sambil mengusap rambut suaminya.

"Sebentar lagi, Sayang. Lima menit lagi saja. Aku masih butuh pelukan hangatmu, ini obat demam paling ampuh buatku," gumam Afrain manja, malah semakin menyembunyikan wajahnya di bahu Lani.

Lani tidak bisa menahan senyumnya, pipinya mendadak terasa hangat.

"Ishhh... ngegombal saja kamu ini, Mas! Badan masih lemas begitu, tapi bibirnya masih pintar ya cari alasan," goda Lani sambil mencubit pelan hidung Afrain yang mancung.

Meski memprotes, Lani akhirnya mengalah. Ia kembali memposisikan tubuhnya dengan nyaman di dalam dekapan Afrain, memberikan waktu lima menit lagi bagi suaminya untuk bermanja sebelum ia benar-benar pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.

Lima menit waktu berlalu dengan cepat. Lani dengan lembut mengurai pelukan suaminya lalu bangkit dari ranjang.

Afrain hanya bisa mengembuskan napas pasrah sembari memandangi istrinya dengan tatapan sayu namun penuh cinta.

Baru saja Lani hendak melangkah menuju pintu kamar, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras dari arah depan rumah.

Tok! Tok! Tok!

Suara gedoran itu terdengar tidak sabaran dan berulang-ulang

Afrain seketika membuka matanya lebar-lebar. Ia mengernyitkan keningnya, merasa terganggu sekaligus heran karena tidak biasanya ada tamu yang bertamu dengan cara tidak sopan seperti itu di rumahnya.

"Sebentar, Mas. Aku lihat dulu siapa yang datang di depan," ucap Lani menenangkan suaminya yang tampak mulai terusik.

Lani berjalan menuju gantungan baju, mengambil sebuah cardigan rajut hangat untuk menutupi bagian atas kebayanya yang masih ia kenakan sejak akad nikah tadi siang.

Dengan langkah tenang, Lani berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama, sama sekali tidak menduga drama apa yang sudah menunggu di balik pintu rumah mereka.

Ceklek!

Lani membuka pintu utama dengan perlahan, namun sedetik kemudian ia terenyak setengah terkejut ketika melihat sosok Sisil sudah berdiri angkuh di hadapannya dengan pakaian modis yang dipaksakan.

"Di mana Mas Afrain?!" tuntut Sisil tanpa basa-basi, matanya langsung melongok ke dalam rumah, mencoba mencari keberadaan mantan suaminya.

Lani langsung menggeser tubuhnya, menghalangi pandangan Sisil dengan tatapan dingin.

"Ada keperluan apa kamu mencari Mas Afrain? Bukankah kalian sudah lama bercerai?" ucap Lani dengan nada suara yang tenang namun menuntut penjelasan.

Sisil bersedekap dada, menatap Lani dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan.

"Eh, bukan urusan kamu, ya! Mas Afrain itu sebenarnya masih mencintai aku. Hubungan kami dulu itu kuat, kamu saja yang datang jadi pengganggu. Minggir!!" bentak Sisil sembari mengayunkan tangannya, berniat mendorong bahu Lani agar bisa menerobos masuk.

"Ehh, enak saja! Jangan sembarangan masuk ke rumah orang!" Lani menahan tangan Sisil dengan kokoh, tidak sudi rumah suaminya dikotori oleh wanita angkuh ini.

"Ada apa, Sayang? Siapa yang datang?"

Tiba-tiba terdengar suara bariton yang familier dari arah dalam. Afrain berjalan perlahan keluar dari kamar sambil memegangi tiang penyangga infusnya.

Meskipun langkahnya masih agak gontai dan wajahnya pucat, tatapan matanya tampak sangat tajam dan berwibawa.

Sisil seketika mematung, jantungnya mencelos mendengar panggilan itu.

"S-sayang?! Mas, apa-apaan ini? Kamu panggil perempuan mandul ini sayang?!" pekik Sisil dengan suara melengking, tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.

Afrain menghentikan langkahnya tepat di samping Lani, lalu merangkul pinggang Lani dengan protektif.

"Sisil? Mau apa kamu datang ke rumah saya?" tanya Afrain dengan nada sedingin es.

Melihat Afrain, raut wajah Sisil langsung berubah drastis menjadi melas.

Ia bahkan mencoba meraih tangan Afrain yang bebas dari infus.

"Mas, aku mau kita rujuk. Aku tahu dulu aku salah, aku khilaf, Mas. Tolong maafkan aku, kita mulai semua dari awal lagi, ya? Aku yakin kamu masih punya perasaan sama aku."

Mendengar drama murahan itu, Lani tidak bisa lagi menahan tawa sinisnya.

Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Sisil dengan pandangan muak.

"Basi! Bilang saja kalau kamu baru tahu sekarang kalau Mas Afrain sudah sukses dan jadi seorang CEO!" sindir Lani telak, langsung menusuk tepat pada niat busuk yang disembunyikan oleh mantan kakak iparnya itu.

"Eh, tutup mulut kamu ya! Aku tidak bicara sama kamu, aku bicara sama Mas Afrain!" bentak Sisil, wajahnya memerah padam karena kedoknya dikuliti begitu saja oleh Lani.

Ia menunjuk muka Lani dengan jari telunjuknya yang gemetar menahan amarah.

Bukannya takut atau mundur, Lani justru tersenyum tipis.

Dengan langkah anggun dan penuh percaya diri, Lani sengaja melangkah maju mendekat ke arah Sisil, mempertegas jarak di antara mereka.

"Kamu terlambat," ucap Lani dengan nada suara yang tenang namun terdengar begitu menusuk di telinga Sisil.

"Karena mulai siang tadi, aku sudah resmi menjadi istri Mas Afrain."

Sisil membelalakkan matanya sembari menggelengkan kepala.

"Ngg-nggak mungkin! Kamu pasti bohong!"

Untuk meruntuhkan seluruh keangkuhan wanita di hadapannya, Lani tiba-tiba berbalik menghadap Afrain.

Ia berjinjit sedikit, mengalungkan satu tangannya di leher sang suami, lalu dengan lembut mencium bibir Afrain tepat di depan mata Sisil yang sedang menyaksikan dengan melongo.

Afrain yang sempat terkejut dengan tindakan berani istrinya, tersenyum di sela ciuman itu.

Ia justru mempererat rangkulannya di pinggang Lani, seolah memamerkan kepada dunia bahwa wanita inilah pemilik hatinya yang sah sekarang.

Sisil yang melihat pemandangan itu seketika mematung dengan furing air mata kekalahan dan rasa syok yang luar biasa.

Impiannya untuk kembali menjadi nyonya kaya raya hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

Afrain menatap tajam ke arah Sisil, tatapan dingin yang membuat wanita itu bergidik.

"Sisil, silakan keluar dari rumah saya. Sekarang juga," ucap Afrain tegas.

Sisil masih berusaha bertahan, mencoba mengeluarkan jurus air matanya.

"Mas, kasih aku satu kesempatan lagi. Aku menyesal!"

Afrain memotongnya dengan suara yang lebih berat, "Hubungan kita sudah selesai sejak lama, tepatnya saat kamu meminta cerai karena menganggap aku miskin dan tidak berguna. Jangan pernah datang lagi."

Tanpa memedulikan rengekan Sisil, Afrain segera merangkul pundak Lani dan membimbingnya masuk ke dalam rumah.

Dengan gerakan tenang, Afrain menutup pintu kayu jati itu rapat-rapat hingga terdengar bunyi klik yang mengunci harapan Sisil.

Di balik pintu, Sisil mulai berteriak-teriak tidak jelas, memanggil nama Afrain dengan suara yang mulai serak. Namun, Afrain sudah tidak lagi memedulikannya.

Ia membalikkan badan, menatap Lani dengan senyum lega, dan menarik napas panjang.

Bagi Afrain, gangguan di masa lalunya sudah resmi dihentikan tepat di ambang pintu itu.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!