NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

BAB 14: DINDING PEMISAH

"Dinding yang paling tebal dan tak tertembus bukanlah yang terbuat dari batu atau bata, melainkan dinding yang dibangun dari ribuan kebohongan, rahasia, dan identitas palsu. Dinding itu memisahkan dua dunia yang sama sekali berbeda: satu tempat kau ada, dan satu lagi tempat dia yang sesungguhnya bersembunyi."

Arka bersandar pada batang pohon cemara yang kasar, napasnya berembus putih memotong udara dingin Dago Atas. Matanya tak lepas dari gerbang tinggi yang baru saja menelan Elena dan Adrian ke dalam kegelapan kemewahan itu. Di telinganya masih terngiang jelas kalimat Adrian sebelum pintu tertutup: "Di sini, Elena Wijaya mati. Di sini, hanya ada Claire Nathania."

Kalimat itu seperti palu godam yang menghantam kepalanya berulang kali. Di Jakarta, di apartemen mereka, di tengah teman-teman dan keluarga... Arka hidup di satu sisi dinding. Di sisi yang penuh dengan kelembutan, senyum manis, dan janji-janji cinta. Tapi di sini, di Bandung, di balik tembok vila tua ini... ada sisi lain. Sisi di mana segalanya terbalik, di mana kebenaran menjadi dosa, dan di mana wanita yang dicintainya berubah menjadi orang asing yang berbahaya.

Dinding pemisah ini bukan baru dibangun hari ini. Dinding ini sudah berdiri kokoh sejak hari pertama mereka bertemu, sejak hari pertama Elena masuk ke dalam hidupnya dengan identitas yang dipoles sempurna. Arka hanyalah penonton yang berdiri di sisi yang aman, tidak pernah dibiarkan mengintip sedikit pun ke sisi yang gelap. Setiap kali ia bertanya, setiap kali ia curiga, setiap kali ia mencoba mengorek sedikit celah... Elena akan segera menambal dinding itu kembali dengan kata-kata manis, air mata, atau kemarahan yang dibuat-buat.

"Mas nggak percaya sama aku?"

"Masa lalu itu buruk, Mas. Biarkan saja di sana."

"Aku ini istri Mas, bukan orang asing."

Kalimat-kalimat itu adalah semen yang merekatkan batu-batu dinding itu agar tak pernah runtuh. Dan Arka, karena cintanya yang buta, karena kepercayaannya yang bodoh, ia malah membantu membangun dinding itu makin tinggi dan makin tebal. Ia menolak mendengar peringatan Mira, ia mengabaikan firasatnya sendiri, ia membuang bukti-bukti kecil yang ada di hadapannya... semua demi menjaga keutuhan dinding itu, menjaga ilusi bahwa rumah tangga mereka utuh dan jujur.

Tapi sekarang, berdiri di sini, mendengar dan melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri... Arka sadar betapa bodohnya dirinya. Dinding itu tidak memisahkan mereka berdua sebagai pasangan. Dinding itu memisahkan Arka dari kenyataan bahwa ia menikah dengan hantu.

Langkah berat terdengar di atas kerikil basah di belakangnya. Arka menoleh cepat, tangannya mengepal siaga. Seorang pria bertubuh tegap, berkulit sawo matang, dengan sorot mata tajam yang menyiratkan pengalaman panjang, muncul dari balik semak-semak. Ia mengenakan jaket kulit tua dan topi datar, penampilan sederhana namun aura kewibawaannya tak terbantahkan.

"Pak Arka?" bisik pria itu, suaranya rendah dan berwibawa. "Saya Daniel Sihombing."

Arka mengangguk pelan, melepaskan napas panjang. Satu-satunya harapan yang disebut Mira akhirnya tiba.

"Terima kasih sudah datang, Pak Daniel. Saya... saya baru saja melihat semuanya," jawab Arka, suaranya parau. "Mereka di dalam sana. Dia bukan Elena lagi. Dia benar-benar jadi orang lain begitu melangkahi pagar itu."

Daniel menatap gerbang tertutup itu dengan pandangan dingin dan penuh penghakiman. Ia mengeluarkan selembar foto usang dari saku jaketnya, lalu menyerahkannya kepada Arka.

"Lihat ini, Pak. Ini lah alasan kenapa dinding pemisah itu dibangun begitu tebal dan begitu kokoh. Ini lah rahasia yang mereka kubur begitu dalam sampai rela membunuh orang demi menjaganya."

Arka menerima foto itu dengan tangan gemetar. Di sana terlihat sebuah keluarga yang bahagia: Ayah, Ibu, dan dua orang anak perempuan. Yang satu berusia sekitar 17 tahun, rambut panjang, wajah lembut... itu Elena. Atau lebih tepatnya, itu Elena Wijaya yang asli. Yang satunya lagi, berusia sekitar 20 tahun, wajahnya lebih tajam, tatapannya keras dan penuh ambisi... itu Claire Nathania.

"Ini keluarga Wijaya dari Surabaya," jelas Daniel pelan, matanya masih tertuju pada vila di depan. "Lima tahun lalu, terjadi kebakaran hebat di rumah besar mereka. Semua penghuni tewas terbakar. Jasad mereka ditemukan hangus tak dikenali, dikuburkan secara massal, dan kasus ditutup sebagai kecelakaan."

Daniel berhenti sejenak, menelan ludah seolah berat mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Tapi ada yang salah. Ada dua jasad anak perempuan, tapi saat diotopsi diam-diam oleh teman saya... ditemukan kejanggalan. Salah satu gigi milik jenazah yang diduga Elena Wijaya bukan milik anak keluarga itu. Dan jenazah yang diklaim sebagai Claire Nathania... hilang jari manis tangan kanannya, padahal Elena Wijaya asli lahir tanpa jari itu."

Arka merasakan darahnya mendidih dan membeku di saat yang bersamaan. Ia menatap foto itu lekat-lekat, menatap wajah wanita yang tidur di sampingnya setiap malam. Wanita yang selalu beralasan bekas luka di tangannya karena kecelakaan kecil saat kecil.

"Jadi... yang mati itu Elena asli?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar.

Daniel mengangguk berat. "Claire Nathania adalah anak angkat yang diambil keluarga Wijaya saat masih bayi. Dia hidup menderita, diperlakukan seperti pembantu, dibenci, dan selalu iri pada Elena yang cantik, lembut, dan dicintai semua orang. Kebakaran itu bukan kecelakaan, Pak. Itu pembunuhan berencana. Claire bekerja sama dengan Adrian Mahesa, yang saat itu adalah manajer keuangan ayah Elena. Mereka membakar semuanya, membunuh seluruh keluarga, lalu menukar identitas."

Arka mundur selangkah, punggungnya menabrak batang pohon. Dunianya runtuh sepenuhnya.

"Claire mengambil identitas Elena. Dia mengubur dirinya sendiri, dan hidup sebagai wanita yang selalu dia iri dan benci. Adrian menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Wijaya lewat 'Elena' yang baru ini. Dan pernikahan dengan Bapak... itu hanyalah cara terakhir untuk melegitimasi identitas palsu itu. Agar tidak ada yang bertanya, agar 'Elena Wijaya' terlihat sah, punya suami, punya kehidupan normal."

Air mata jatuh dari mata Arka, namun ia tak menyekanya. Rasa sakit di dadanya tak lagi sekadar patah hati. Ini adalah rasa jijik, rasa hina, dan rasa takut yang mendalam. Wanita yang dicintainya bukan hanya pembohong, bukan hanya perselingkuhan. Wanita itu adalah pembunuh. Wanita itu berdiri di atas kuburan keluarga angkatnya sendiri, memakai nama korban yang ia bakar hidup-hidup.

"Dan dinding pemisah itu..." Daniel menunjuk ke arah vila. "Dinding itu dibangun agar Claire tidak lupa siapa dirinya yang sebenarnya. Di Jakarta, dia harus berakting menjadi Elena yang lembut, lugu, dan suci. Di sana dia harus menekan sifat aslinya, menahan amarahnya, menyembunyikan kejahatannya. Tapi di sini, di balik tembok ini... dia bisa jadi dirinya sendiri. Kejam, ambisius, dan milik Adrian sepenuhnya. Dinding ini adalah batas antara panggung sandiwara dan kenyataan dosa mereka."

Arka teringat semua perubahan drastis pada Elena. Perubahan selera, perubahan sikap, perubahan cara bicara. Dulu ia pikir itu hal biasa, dulu ia pikir itu sifat yang berubah-ubah. Ternyata itu adalah pertempuran batin. Claire yang berusaha keras menjadi Elena, tapi sering kali gagal, sering kali tergelincir kembali menjadi dirinya yang asli. Pesan-pesan yang tidak terkirim itu... "Aku capek berpura-pura"... itu bukan pesan istri yang tertekan. Itu pesan pembunuh yang lelah memakai topeng korbannya.

"Di dalam sana sekarang," suara Daniel memotong lamunannya, berat dan serius. "Mereka sedang merencanakan langkah selanjutnya. Harta keluarga Wijaya hampir habis dikuasai Adrian, dan Claire... dia mulai takut. Dia mulai ingin membuang identitas Elena selamanya. Dan untuk melakukan itu, ada satu orang lagi yang harus disingkirkan agar jejak palsu itu hilang total."

Daniel menatap tepat ke manik mata Arka.

"Suami dari Elena Wijaya. Bapak."

Angin berhembus kencang, mengguncang dahan-dahan pohon di atas kepala mereka. Suara gemerisik itu terdengar seperti bisikan ribuan hantu yang meminta keadilan.

Arka menatap dinding tinggi yang mengelilingi vila itu. Dinding pemisah yang selama ini menahannya di luar, menahannya dalam kebodohan dan kepalsuan. Tapi malam ini, dinding itu tak lagi menjadi penghalang. Malam ini, dinding itu adalah tembok penjara tempat kejahatan bersembunyi.

"Pak Daniel..." ucap Arka tegas, air matanya sudah kering digantikan tekad baja. "Kalau dinding ini yang memisahkan saya dari pembunuh istri saya yang asli... dan memisahkan saya dari kebenaran... maka malam ini saya akan merobohkannya."

Ia mengeluarkan kartu nama Adrian dari saku, dan foto keluarga Wijaya yang masih ada di tangan kirinya.

"Mereka pikir mereka aman di balik tembok ini. Mereka pikir tidak ada yang tahu. Tapi saya sudah tahu segalanya. Dan kebenaran... kebenaran itu lebih kuat dari semen dan batu bata apa pun."

Daniel tersenyum tipis, senyum seorang pejuang yang lama menunggu waktu pembalasan. Ia mengangguk, lalu berjalan mendahului membelok ke sisi samping vila, menuju bagian pagar yang lebih rendah dan tertutup semak belukar lebat.

"Ayo, Pak Arka. Kita masuk. Malam ini, kita robohkan dinding itu sampai rata dengan tanah. Dan kita lihat, apakah Claire Nathania masih berani tersenyum saat dia tahu... topengnya sudah lepas sepenuhnya."

Arka mengikuti di belakang detektif itu, langkahnya mantap. Di dalam sana, di balik dinding pemisah itu, wanita yang ia cintai sedang tertawa dan bersenang-senang di atas kuburan. Di luar sini, suaminya yang bodoh kini berubah menjadi hakim yang membawa kebenaran.

Malam ini, tidak ada lagi rahasia.

Malam ini, dinding itu akan runtuh.

Dan saat cahaya menyinari sisi gelap itu... Arka akan tahu, apakah masih ada sisa Elena yang ia kenal, atau yang tersisa hanyalah monster yang sudah lama menunggu untuk dimusnahkan.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!