Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Hari-hari berlalu begitu cepat, setelah apa yang menimpa, Angel tetap memutuskan untuk datang ke sekolah ke esokan harinya. Ia mengabaikan semua tatapan aneh dan hanya fokus pada pelajaran. Ternyata, semakin ia tak peduli semakin ringan ia melangkahkan kakinya.
Hal tersebut ia lakukan bukan tanpa alasan, Ujian Sekolah tinggal menghitung hari. Angel sudah mengatakan kepada Bu Dian untuk tidak mengambil pekerjaan hingga ujian berakhir. Darren tak lagi menemaninya belajar, semenjak mengenal Bimala hubungan mereka merenggang. Pernah suatu kali ia meminta waktu Darren sepulang sekolah untuk mengajarinya matematika, namun jawaban yang ia dengar sungguh membuatnya kecewa.
"Aku sudah berjanji untuk mengajari Bimala setiap pulang sekolah, Angel. Lain kali saja bagaimana?"
Setelah itu ia tak pernah lagi meminta Darren untuk mengajarinya. Namun, sesekali William akan datang ke rumahnya dan menemaninya belajar. Terkadang jika ia sudah kebingungan, William akan mengajarinya tanpa ia meminta. Dalam hal ini, Angel mengagumi tingkat kepekaan seorang William.
"Kau pernah berkata bahwa biasanya kau dan Darren selalu belajar bersama?" tanya William suatu malam saat mengunjungi Angel tiba-tiba. Angel mengangguk sembari fokus membaca buku. "Bagaimana dengan sekarang?"
Merasa bahwa ini akan menjadi percakapan yang panjang, Angel menutup bukunya, meneguk air yang ia siapkan sebelumnya. "Dia sibuk dengan orang lain."
"Kau tidak cemburu?"
"Untuk apa saya cemburu?" tanya balik Angel tidak terima. Meski faktanya ia merasa sedikit cemburu. Ia terbiasa belajar bersama Darren dan tidak melakukannya lagi sedikit membuatnya merasa aneh.
"Sebelumnya bisakah perbaiki caramu berbicara denganku?"
"Apakah saya berbicara dengan kurang sopan, pak?
"Kau masih saja memakai 'saya' dan terus memanggilku 'bapak' padahal aku belum setua itu," protes William yang mulai jengah dengan cara Angel memanggilnya.
"Saya rasa itu tidak pantas, pak. Jika dilihat dari hierarkinya, saya adalah pekerja dan bapak bos."
"Aku bukan bosmu."
"Tapi bapak anak dari bos saya. Saya harus menghormati bapak."
"Ok, aku tidak masalah kalau kamu tetap memanggilku 'bapak'. Tapi bisakan tidak pakai 'saya'?" Angel berpikir sejenak lalu mengangguk pelan, mencipta seulas senyum tipis di bibir William. "Lagipula kita pernah berciuman." Wajah Angel memerah, ia berpura-pura melanjutkan bacaannya dan William yang kembali fokus dengan pekerjaannya.
Beberapa waktu berlalu dan mereka tenggelam dengan dunianya masing-masing, hingga pukul 11 malam Angel merasa tak kuat lagi menahan kantuk. Ia meletakkan pensil, menutup buku, meneguk sisa air hingga tandas, lalu berbalik dan melihat William masih berkutat dengan berkas-berkasnya.
"Bapak belum selesai?" Angel bertanya heran, ia menghampiri William yang terduduk di sofa dengan beberapa tumpukan berkas. "Memangnya bapak tidak pulang?"
William menghentikan aktivitasnya, menatap Angel dengan eskpresi memelas. "Kau mengusirku tengah malam begini?"
Angel memutar bola matanya. "Bapak aja sering keluar malam. Pasti menurut bapak jam 11 itu masih sore, kan?" jawab Anggel sambil berlalu meninggalkan William ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama ia keluar dengan wajah yang ditutupi masker. "Aku mau tidur pak. Jangan lupa tutup pintu jika bapak pergi."
William menutup berkasnya, ia melepas dasinya yang longgar, 3 kancing teratas ia biarkan terbuka. "Aku berencana menginap di sini, Angel."
"Duh, pak. Bapak tidur di sofa saja," protesnya ketika melihat William berjalan mendekat ke ranjang. "Bapak lupa melepas kaos kaki!"
"Jadi kau mengizinkanku menginap?" William melepas kaos kakinya, menaiki ranjang dan memasukkan dirinya ke dalam selimut yang sama dengan Angel.
"Apakah bapak akan pergi jika kularang?"
"Tidak," jawabnya diiringi gelak tawa. "Beberapa hari ini aku tidak sempat menemuimu, aku tidak ingin menganggumu dan juga pekerjaanku banyak sekali."
"Menemuiku bukan kewajiban, pak."
"Tapi aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," bisik William di telinga lalu menggigitnya membuat Angel merasa sedikit geli. "Masker ini menganggu Angel, aku tak bisa melihatmu." Tanpa aba-aba jemari William langsung melepaskan masker yang menempel di wajah Angel.
"Pak William!"
"Aku merindukan ini Angel," William menelusuri bibir Angel dengan jempolnya, netranya menatap mata bulat Angel dalam, lalu turun perlahan ke bibirnya. Wajahnya memerah menahan gejolak lain dalam dirinya.
"Pak...," rintih Angel yang sulit ditebak apakah itu permohonan untuk dilepaskan atau yang lainnya. "Aku takut, pak."
"Sttts, tak perlu takut. Aku di akan selalu berada di sisimu." Sementara jemarinya menelusuri kecantikan alami Angel, tangannya yang lain tanpa sadar telah masuk ke dalam pakaian Angel dan bersentuhan langsung dengan kulitnya.
"Bukan itu yang kumaksud, pak. Ki... ki...kita terlalu dekat pak," Angel berkata dengan sedikit mendesah, tangan William berada di atas perutnya, mengelusnya dan terus bergerak ke atas. Angel mencoba menghentikannya, namun tiba-tiba William menciumnya. Ciuman yang awalnya singkat dan lembut namun William menahannya sedikit lebih lama. Ciuman yang penuh dengan kerinduan.
"Angel...." lirih William di sela-sela ciumannya. "Seandainya aku bisa mempercepat waktu, aku ingin kau segera menyelesaikan sekolahmu." William kembali melumat bibir bawah Angel, pelan tanpa tuntutan. Tangannya yang lain bergerak bebas dalam pakaian Angel. Ketika akan akan mencapai area terlarangnya, Angel dengan kuat mencengkram tangan William membuatnya berhenti dan menatap Angel penuh sesal.
"Pak, kata orang zaman dulu jika payudara kita disentuh laki-laki akan sakit." Angel menatap William lembut, ia menggeleng. "Aku gak mau."
Ragu, William akhirnya mengeluarkan tangannya dari dalam pakaian Angel. "Maafkan aku Angel, aku hampir saja hilang kendali," ucapnya menyesal, ia mengecup dahi Angel dan merebahkan dirinya di samping Angel. "Maafkan aku, aku... sejak aku melihatmu di pintu waktu itu, aku tak pernah lagi melakukannya dengan orang lain." William menghembuskan nafasnya kasar. "Aku hanya menginginkanmu Angel. Dan aku sudah menahannya terlalu lama."
Dari samping ia melihat bagaimana William menyesal sekaligus frustasi. Ia tak menyangka bahwa laki-laki itu benar-benar bersabar padanya. "Pak, mau dengar satu pengakuanku?" William menoleh, menatapnya penuh tanya. Angel memiringkan badannya. Jemarinya perlahan menelusuri wajah rupawan William, mata dengan bola mata hitam, batang hidung yang tinggi, bibir yang tengahnya terbelah, serta rahangnya yang kokoh.
"Hentikan Angel!" William memegang pergelangan tangan Angel, menatap gadisnya penuh peringatan.
"Sejak aku melihat bapak mencium Bu Sandra..." Angel mengecup hidung mancung William, "setiap malam aku memimpikannya." Lalu menempelkan bibirnya sedikit lebih lama. "Dan anehnya, kadang aku yang berada di posisi Bu Sandra." Angel melumat bibir William pelan, ia mencoba melakukannya seperti yang William lakukan terhadapnya.
William terdiam, pikirannya masih mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. 'Aku yang berada di posisi Bu Sandra', apa katanya? Maksudnya dia bermimpi berciuman denganku? Bisiknya dalam hati.
Angel masih menciumnya, ciuman yang dirasa cukup buruk karena ini adalah pertama kalinya ia mencium orang lain. "Avy pernah pernah bilang, bahwa ketika berciuman selalu ada emosi yang hanya bisa dirasakan oleh pasangannya," lanjut Angel di sela-sela ciuman kakunya.
Merasa cukup memberikan waktu kepada Angel, William menghentikannya paksa. Menjauhkan wajah Angel darinya, menatapnya dalam, dan menyelipkan rambutnya ke telinga. "Cukup sayang, aku takut jika dilanjutkan akan benar-benar kacau. Kita harus menahannya hingga hari kelulusanmu, ok?"
Angel mengangguk mengerti. "Jadi kita tidur?"
William berdehem, "kita tidur!" tegas William lalu membawa Angel ke dalam pelukannya.
"Padahal, aku berharap kau goyah."
"Aku tahu kau hanya mengujiku, sayang."
***