Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Satu minggu kemudian di Pesantren
"Aduh!"
Zara memekik saat dahinya menabrak sesuatu yang keras mirip tiang beton. Buku-buku gambar dan kotak krayon yang didekapnya sukses meluncur bebas, berserakan di atas lantai semen selasar madrasah.
"Kalau jalan pakai mata, Teh. Jangan pakai lamunan."
Zara mendongak tajam. Di hadapannya berdiri seorang pemuda jangkung mengenakan sarung tenun hitam, kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung sampai siku, dan peci hitam yang sengaja dipakai agak miring ke belakang. Wajahnya rapi, hidungnya mancung, tapi senyum tipis di bibirnya itu... luar biasa menyebalkan.
"Hah? Yang tabrakan kan badan kita, kenapa situ malah nyalahin saya?" semprot Zara kesal sambil buru-buru berlutut membereskan buku yang berserakan.
Pemuda itu ikut berlutut, mengambil sebuah kotak krayon. "Ya jelas salah Teteh. Jalan mundur-mundur kayak undur-undur, mana nggak lihat belakang lagi."
"Duh! Saya itu lagi mastiin anak-anak kelas satu masuk kelas semua, ya wajar kalau agak mundur!" Zara merebut kotak krayon dari tangan pemuda itu dengan sentakan kasar. "Lagian situ kok kaku banget kayak tiang? Sengaja ya berdiri di belakang saya?"
Pemuda itu terkekeh, bangkit berdiri sambil berkacak pinggang. "Sengaja? Gila, pede banget. Saya mau ke kantor Abah, jalan satu-satunya ya lewat selasar ini, Teh Jakarta."
Zara melotot. "Situ tahu dari mana saya dari Jakarta?"
"Siapa sih di pesantren ini yang nggak tahu? Santri baru, eksklusif, kamarnya di paviliun tamu, mukanya selalu ditekuk kayak dompet tanggal tua."
"Eh, rese banget ya mulutnya!" Zara berdiri, menatap pemuda itu dengan napas memburu. "Kurang sopan apa saya di sini? Situ siapa sih? Berani-beraninya nyindir saya?"
"Fahri," ucap pemuda itu santai sambil mengulurkan tangan. "Murid paling pinter di sini, sekaligus tangan kanan Abah Mukhlas. Umur kita kayaknya gak beda jauh, jadi gak usah panggil 'A', panggil Fahri aja biar akrab."
Zara mengabaikan uluran tangan Fahri, memilih mendekap erat buku-bukunya. "Gak sudi. Gak akrab juga."
"Yee, ditanganin malah melengos. Ya sudah, saya duluan. Oh ya, Teteh Jakarta... kerudungnya miring tuh, mirip emak-emak mau ke pasar," seloroh Fahri sebelum berbalik dan berjalan santai sambil bersiul.
"Astagfirullah... Sumpah itu orang jin penunggu madrasah atau apa sih? Rese banget!" umpat Zara setengah berbisik, wajahnya memerah menahan jengkel.
"Teh Zara kenapa? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Umil saat mereka bertemu di ruang guru madrasah lima menit kemudian.
Zara menghempaskan pantatnya ke kursi kayu dengan kasar. "Mil, santri yang namanya Fahri itu emang titisan siluman ya?"
Umil langsung tertawa terbahak-bahak. "Hah? Titisan siluman? Kenapa? Teteh habis ketemu dia?"
"Iya! Baru juga papasan di selasar, mulutnya udah kayak ember bocor. Nyebelin banget! Ngatain saya jalan kayak undur-undur, terus bilang kerudung saya kayak emak-emak mau ke pasar. Gila ya itu orang!"
"Oalah, pantesan," Umil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. "Fahri emang gitu, Teh. Di pesantren ini cuma dia yang berani bercanda kelewatan. Tapi aslinya dia baik kok, pinter lagi. Dia itu lulusan sarjana syariah dari Bandung, sekarang pengajar senior di sini sambil nunggu beasiswa S2-nya keluar."
"Hah? Serius?" Zara tidak percaya. "Modelan preman pasar begitu pengajar senior? Gak salah, Mil?"
"Serius, Teh Zara. Malah dia yang megang kelas kitab kuning buat santri dewasa. Abah Mukhlas sayang banget sama dia, udah dianggap kayak anak sendiri."
Zara mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Tetep aja di mata saya dia itu dosen KW yang gak punya tata krama. Pokoknya saya males kalau harus ketemu dia lagi."
"Jangan bilang gitu, Teh. Biasanya nih ya, hukum alam pesantren makin benci, makin sering didekatkan," goda Umil sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dih, amit-amit, Mil! Jangan jomplang gitu dong ramalannya!"
Sore harinya, hukum alam yang dikatakan Umil langsung terbukti. Zara sedang berada di area dapur umum, membantu Lilis mengupas tumpukan bawang merah untuk menu makan malam para santri.
"Lilis, ini bawangnya perlu diiris tipis atau gimana?" tanya Zara dengan mata yang mulai berair akibat pedasnya uap bawang.
"Diiris tipis aja, Teh... eh, bentar, biar diiris sama Fahri aja. Tuh anaknya datang," tunjuk Lilis ke arah pintu dapur.
Zara menoleh, dan seketika hatinya mencelos. Fahri masuk ke dapur dengan kaus oblong putih dan celana komprang hitam, membawa sebuah baskom besar berisi potongan daging ayam.
"Nih, Lis, ayamnya udah dibersihin di pancuran belakang. Mau langsung dimasak sekarang?" tanya Fahri.
"Muhun, A. Simpen di dekat kompor aja," jawab Lilis.
Fahri meletakkan baskom, lalu pandangannya beralih ke arah Zara yang sedang sibuk mengucek matanya yang perih. Fahri langsung berjalan mendekat, mengambil sebuah pisau dari meja.
"Sini, biar saya yang terusin. Teteh kalau ngupas bawang malah kayak orang lagi nonton film drama, nangisnya lebay banget," sindir Fahri sambil merebut baskom bawang dari hadapan Zara.
"Eh, apa-apaan sih! Siapa yang nangis lebay? Ini kan karena uap bawangnya pedas!" Zara membela diri, suaranya agak serak.
"Ya makanya, kulit bawangnya jangan dikelupas dekat muka. Gini nih caranya," Fahri mulai mengupas dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan lihai. "Tenggelamkan dulu ke air baru dikupas, biar minyaknya gak terbang ke mata. Gitu aja gak tahu. Katanya orang kota?"
Zara bangkit berdiri, berkacak pinggang. "Jangan bawa-bawa orang kota ya! Situ mending fokus aja sama bawangnya, gak usah menceramahi saya!"
"Lho, saya kan mengajari, Teh. Di pesantren ini, ilmu itu harus diamalkan, termasuk ilmu mengupas bawang," sahut Fahri tanpa dosa, matanya melirik Zara sambil menahan tawa.
Lilis yang melihat perdebatan itu hanya bisa menahan senyum di sudut dapur. "A Fahri, entos ah, tong diguyonan wae Teh Zarana. Karunya," (A Fahri, sudah ah, jangan dibercandain terus Teh Zaranya. Kasihan.)
"Gak diguyon kok, Lis. Ini namanya transfer teknologi dari desa ke kota," jawab Fahri santai.
Zara mengepalkan tangannya. "Fahri, kamu itu bener-bener ya... minta dicolok pakai sutil?!"
"Wah, galak banget. Serem ah," Fahri berpura-pura ketakutan, membuat Lilis akhirnya pecah tawa. Zara yang kesal setengah mati langsung menghentakkan kakinya dan berjalan keluar dari dapur, meninggalkan ruangan yang mendadak terasa gerah itu.
Dua hari kemudian, hujan lebat mengguyur Cisayong sejak siang. Udara dingin gunung membuat semua orang memilih bergelung di dalam kamar. Namun, Zara harus pergi ke perpustakaan pesantren yang terletak di dekat masjid untuk mengembalikan buku-buku referensi mengajar anak-anak madrasah.
Perpustakaan itu sepi, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap seng. Zara sedang menjinjitkan kakinya, berusaha mengembalikan sebuah buku kamus tebal ke rak paling atas yang sulit dijangkaunya.
"Sedikit lagi,, duh, kenapa tinggi banget sih ini rak," gumam Zara frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar terulur dari belakang tubuhnya. Tangan itu dengan mudah mengambil kamus dari cengkeraman Zara dan mendorongnya masuk ke sela rak bagian atas. Aroma wangi minyak wangi kasturi dan sabun mandi langsung menyeruak di indra penciuman Zara.
Zara menoleh cepat, dan wajahnya langsung berjarak hanya beberapa sentimeter dari dada Fahri.
"Astaga!" Zara mundur selangkah sampai punggungnya membentur rak buku di belakangnya. "Kamu lagi?!"
Fahri tidak langsung mundur. Ia menatap Zara dari jarak dekat, senyum menyebalkan yang biasanya menghiasi wajahnya kali ini tidak ada. Tatapannya mendadak berubah menjadi tajam dan menyelidik.
"Jangan bohong sama saya, Teh," ucap Fahri pelan, suaranya berat terdengar serius.
Jantung Zara berdegup kencang, bukan karena romantis, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang. "B-bohong soal apa? Jangan macam-macam ya, ini di perpustakaan!"
"Kamu... beneran temannya Dita yang cuma mau liburan di sini?" tanya Fahri, matanya menatap lekat bekas memar di pipi Zara yang kini sudah mulai menyamar jadi warna kuning kecokelatan. "Dita gak pernah punya teman yang mukanya lebam-lebam kayak habis dipukuli preman pasar."
Zara memalingkan wajahnya ke samping, tangannya mencengkeram ujung gamisnya dengan erat. "Itu... saya habis jatuh. Bukan urusan kamu."
Fahri mendengus, akhirnya mundur dua langkah, memberi Zara ruang untuk bernapas. "Jatuh kok polanya mirip bekas lima jari. Jatuh ke tangan orang ya?"
"Fahri, stop!" bentak Zara, suaranya bergetar menahan tangis yang tiba-tiba mendesak keluar. "Kamu gak tahu apa-apa soal saya! Jadi tolong, jangan sok tahu dan jangan ikut campur!"
Perpustakaan itu mendadak hening, hanya menyisakan suara deru hujan di luar. Fahri menatap Zara yang kini menunduk dalam, bahunya bergetar ringan. Melihat reaksi emosional gadis di depannya, kilat jenaka di mata Fahri sepenuhnya padam, digantikan oleh rasa bersalah.
"Maaf," ujar Fahri tulus, kehilangan gaya bicaranya yang tengil. "Saya gak bermaksud bikin kamu nangis."
Zara menghapus air mata yang sempat lolos ke pipinya dengan kasar. "Saya gak nangis."
"Iya, gak nangis, cuma matanya banjir," Fahri merogoh saku kemejanya, mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna biru muda yang bersih, lalu mengulurkannya ke depan wajah Zara. "Nih, pakai. Jangan pakai ujung kerudung terus, nanti kerudungnya bau bawang lagi."
Zara menatap sapu tangan itu dengan ragu, lalu merebutnya dengan kesal. "Makasih. Tapi tetep aja kamu itu rese."
Fahri kembali terkekeh, suasana tegang di antara mereka perlahan mencair. "Nah, gitu dong. Marah-marah lagi. Kalau kamu diam dan nangis gitu, saya malah bingung cara ngeselinnya gimana."
"Gila ya kamu! Berarti selama ini kamu sengaja bikin saya jengkel?"
"Eits, bukan sengaja. Itu namanya terapi mental," Fahri berjalan menuju meja besar di tengah perpustakaan, duduk di salah satu kursi kayu. "Abah Mukhlas pernah bilang ke saya, kalau ada orang yang lagi sedih banget, jangan dikasih kasihan terus. Nanti dia malah ngerasa jadi korban. Sekali-kali harus diajak berdebat biar energinya keluar."
Zara terpaku di tempatnya. Ia menatap Fahri yang kini sedang membolak-balik halaman sebuah kitab dengan santai. "Jadi... kamu tahu dari Pak Kyai?"
"Abah gak cerita apa-apa soal masalah kamu," potong Fahri cepat tanpa mendongak. "Abah cuma bilang, ada tamu kehormatan dari Jakarta yang hatinya lagi patah jadi serpihan kecil. Abah minta saya jagain kamu, mastiin kamu aman di sini."
Zara berjalan perlahan mendekati meja, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Fahri. "Jagain? Caranya dengan bikin saya tensi tinggi tiap hari?"
"Efektif kan? Buktinya sekarang kamu gak kelihatan kayak orang yang mau lompat dari tebing," Fahri menutup kitabnya dengan bunyi berdebum pelan, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Zara sambil tersenyum tipis. "Oh ya, ngomong-ngomong... nama panjang kamu siapa sih? Di surat Dita cuma ditulis Zara."
Zara ragu sejenak sebelum menjawab. "Zara Amanta."
"Zara Amanta..." Fahri mengeja nama itu pelan. "Nama yang bagus. Artinya 'bunga yang berharga'. Gak cocok sama kelakuan kamu yang hobi marah-marah."
"Duh! Mulai lagi kan?!" Zara melemparkan sapu tangan kain milik Fahri tepat ke wajah pemuda itu.
Fahri menangkap sapu tangan itu sambil tertawa lepas. Suara tawanya yang renyah beradu dengan melodi hujan di luar, entah mengapa, membuat sudut bibir Zara ikut terangkat membentuk senyuman kecil yang tulus. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Tasikmalaya, Zara merasa... ia mungkin bisa bertahan di tempat ini lebih lama dari yang ia duga.