NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto di Parkiran

"Ada apa?" Armand berdiri sambil memperhatikan perubahan ekspresi Aiden yang mendadak membeku di tempat.

Aiden tidak langsung menjawab, ia hanya menyerahkan ponselnya ke arah Armand sambil tetap menatap foto yang baru saja diterimanya. Beberapa detik kemudian, wajah Armand ikut berubah ketika melihat isi pesan tersebut.

"Siapa yang mengirim ini?" Armand mengangkat pandangan.

"Nomor tidak dikenal." Aiden mengambil kembali ponselnya.

"Ini jebakan?" Gavin mengernyit.

"Mungkin." Aiden mengangguk pelan.

Ruangan langsung dipenuhi ketegangan yang sebelumnya tidak ada, foto itu jelas diambil beberapa menit lalu karena memperlihatkan Rendra dengan pakaian yang sama seperti yang dikenakannya pagi ini yang lebih mengganggu adalah sosok pria yang berdiri di depannya. Wajah pria tersebut tidak terlihat jelas karena hanya tampak dari samping, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa Rendra tidak sendirian.

"Kita ke sana." Aiden meraih jasnya.

"Aku ikut." Armand langsung berdiri.

"Saya juga." Gavin menutup kotak donat yang sejak tadi berada di tangannya.

"Tidak." Aiden menoleh.

"Saya tetap ikut." Gavin mengangkat dagunya.

"Kamu akan mengganggu."

"Itu fitnah."

Tidak ada yang memercayainya, Kirana berdiri dari kursinya sambil menggenggam tas yang sejak tadi berada di pangkuannya. Ia tidak tahu harus merasa marah, kecewa, atau khawatir. Semua informasi yang muncul sejak pagi membuat kepalanya terasa penuh, namun satu hal yang pasti ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Saya ikut." Kirana menatap Aiden.

"Tidak." Aiden menggeleng.

"Saya punya hak untuk tahu."

"Aku tidak bilang kamu tidak punya hak."

"Lalu?"

"Aku tidak ingin kamu berada di tengah situasi yang belum jelas."

Kirana menatapnya beberapa saat, biasanya ia akan membantah tetapi kali ini ia tahu Aiden tidak sedang mencoba mengatur hidupnya. Pria itu benar-benar khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Aku ikut Gavin." Kirana mengalihkan pandangannya.

"Saya?" Gavin menunjuk dirinya sendiri.

"Iya."

"Kenapa saya?"

"Karena kamu terlalu keras kepala untuk disuruh tinggal."

"Itu benar." Gavin mengangguk bangga.

Aiden memejamkan mata sesaat, terkadang ia merasa dua orang di depannya memiliki bakat khusus untuk membuat rencana sederhana menjadi rumit.

.

Mereka akhirnya turun menuju parkiran bawah tanah bersama beberapa petugas keamanan, semakin dekat ke area yang ditunjukkan dalam foto suasana semakin sunyi. Tidak banyak kendaraan berada di lantai tersebut karena sebagian besar karyawan memilih parkir di area atas yang lebih dekat dengan lift.

"Aku tidak suka tempat seperti ini." Gavin melirik ke sekeliling.

"Kenapa?" Kirana berjalan di sampingnya.

"Karena di film-film, masalah besar selalu dimulai di parkiran bawah tanah."

"Itu film."

"Masalahnya hidup saya sering terasa seperti film."

Kirana hampir tersenyum, tetapi urung saat melihat ekspresi serius petugas keamanan di depan mereka.

Langkah mereka akhirnya melambat ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam di ujung lorong parkir, di dekat kendaraan itu berdiri dua orang pria yang sedang saling berhadapan, salah satunya adalah Rendra.

"Itu dia." Armand menunjuk ke depan.

Rendra langsung menoleh begitu mendengar suara langkah kaki yang mendekat, wajahnya berubah ketika melihat rombongan yang datang bersama Aiden.

"Sial!" Rendra mengepalkan rahangnya.

Pria yang berdiri di depannya justru tersenyum tipis.

"Akhirnya datang juga." Pria itu melipat kedua tangannya.

"Siapa kamu?" Aiden menghentikan langkah beberapa meter dari mereka.

"Kamu tidak ingat?" Pria itu mengangkat alis.

Aiden memperhatikan wajahnya lebih lama, ada sesuatu yang terasa familiar tetapi ia tidak langsung mengenalinya.

"Kita pernah bertemu." Pria itu tersenyum.

"Mungkin." Aiden tetap tenang.

"Bukan mungkin."

Pria itu melangkah maju satu langkah, cahaya lampu parkiran akhirnya memperjelas wajahnya.

"Fajar." Armand langsung mengenalinya.

Pria itu tertawa pendek.

"Senang masih ada yang ingat." Fajar mengangguk.

Kirana mengernyit karena nama itu terdengar asing, namun reaksi Aiden dan Armand menunjukkan bahwa mereka mengenal pria tersebut dengan cukup baik.

"Sudah lama." Aiden menatapnya datar.

"Lima tahun." Fajar mengangguk.

"Dan kamu masih sama."

"Itu pujian atau hinaan?"

"Terserah kamu."

Fajar kembali tertawa.

"Siapa dia?" Kirana berbisik kepada Gavin.

"Saya tidak tahu." Gavin menggeleng.

"Kamu tidak tahu?"

"Saya tidak tahu banyak hal."

"Itu tidak membantu."

"Saya juga merasa begitu."

Percakapan kecil mereka tidak menarik perhatian siapa pun karena seluruh fokus tertuju pada tiga pria yang berdiri di tengah area parkir.

"Kamu yang mengirim pesan?" Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Iya." Fajar mengangguk santai.

"Kenapa?"

"Karena aku lelah menunggu."

"Apa yang kamu inginkan?"

Fajar menoleh ke arah Rendra sebelum kembali melihat Aiden, senyum di wajahnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi yang jauh lebih dingin.

"Kebenaran." Fajar menjawab singkat.

"Kebenaran tentang apa?" Armand melangkah maju.

"Proyek Meridian." Fajar menyebut nama itu tanpa ragu.

Suasana langsung berubah, Rendra memejamkan mata sesaat. Aiden tidak bergerak sedikit pun dan Armand terlihat semakin tegang.

"Proyek itu sudah selesai bertahun-tahun lalu." Armand menatapnya tajam.

"Itu masalahnya." Fajar mengangguk.

"Kamu masih belum bisa melupakannya?"

"Aku tidak bisa melupakan sesuatu yang menghancurkan hidupku."

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik, bahkan Gavin yang biasanya sulit diam memilih menahan diri karena bisa merasakan bahwa percakapan tersebut menyangkut sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka ketahui.

"Katakan langsung." Aiden menghela napas.

"Kamu selalu seperti itu." Fajar tertawa pendek.

"Dan kamu selalu suka berputar-putar."

Fajar mengangguk pelan seolah mengakui tuduhan tersebut.

"Baik." Fajar menatap semua orang secara bergantian. "Lima tahun lalu ada kebocoran data besar dalam Proyek Meridian."

"Kami tahu." Armand menyilangkan tangan.

"Tidak. Kalian hanya tahu sebagian."

Rendra langsung mengangkat kepala.

"Apa maksudmu?" Rendra menatapnya.

"Kamu tahu persis maksudku."

"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan."

"Itu kebiasaanmu." Fajar tersenyum sinis.

Ketegangan di antara mereka terasa begitu jelas hingga bahkan Kirana bisa merasakannya dari tempatnya berdiri, cara Fajar dan Rendra saling menatap menunjukkan bahwa masalah tersebut sudah berlangsung jauh lebih lama daripada yang dibayangkan siapa pun.

"Kamu menuduhku?" Rendra melangkah maju.

"Aku tidak sedang menuduh." Fajar menggeleng.

"Lalu?"

"Aku sedang membuktikan."

Kalimat itu membuat jantung Kirana berdegup lebih cepat, entah kenapa firasat buruk yang sejak beberapa hari terakhir muncul kembali terasa jauh lebih kuat.

"Buktikan sekarang." Rendra mengepalkan tangan.

"Itu rencanaku."

Fajar mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya lalu mengangkat benda kecil itu di depan semua orang, tidak ada yang terlihat istimewa dari flashdisk tersebut tetapi ekspresi Rendra langsung berubah saat melihatnya.

"Kamu..." Rendra kehilangan kata-kata.

"Nah." Fajar tersenyum tipis. "Akhirnya ada reaksi yang jujur."

"Apa isi flashdisk itu?" Aiden menatap benda di tangan Fajar.

"Jawaban yang kalian cari selama ini."

"Berikan."

"Tidak semudah itu."

Aiden menghela napas pelan, ia sudah menduga Fajar tidak akan menyerahkannya begitu saja.

"Kamu ingin apa?" Aiden bertanya.

"Aku ingin semua orang mendengarnya."

"Mendengar apa?"

"Kebenaran."

Fajar memandang Rendra tanpa berkedip, tatapan itu membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin mencekam.

"Katakan saja." Armand mengernyit.

Fajar tersenyum, kemudian ia mengangkat flashdisk itu sedikit lebih tinggi sebelum mengucapkan kalimat yang membuat seluruh area parkir mendadak sunyi.

"Di dalam sini ada rekaman asli malam saat data Proyek Meridian dicuri." Fajar menatap Rendra. "Dan suara orang yang melakukannya ada di dalam rekaman itu."

Wajah Rendra langsung kehilangan warna, sementara Kirana merasakan dadanya seperti diremas sesuatu saat melihat ekspresi pria yang selama ini dikenalnya karena untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai Rendra terlihat benar-benar ketakutan.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!