Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 29 ( Hot Dady dan Urusan Popok)
Tiga bulan berlalu sejak tangisan pertama sang penerus dinasti Wijaya memecah keheningan paviliun rumah sakit. Bayi mungil itu kini telah diberi nama Arsenio Wijaya. Kehadiran Arsenio tidak hanya mengubah status Arini menjadi seorang ibu seutuhnya, tetapi juga merombak total kepribadian Adrian yang terkenal kaku dan sedingin es kutub utara.
Malam itu, jam dinding di ruang tengah penthouse Sudirman telah menunjuk ke angka dua dini hari. Keheningan malam Jakarta yang megah mendadak terusik oleh suara tangisan bayi yang melengking nyaring dari arah boks bayi di sudut kamar utama.
Arini mengerang pelan, mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat akibat kelelahan menyusui sepanjang hari. Namun, sebelum tubuh rampingnya sempat bergeser dari bawah selimut sutra abu-abu gelap, sepasang lengan kekar yang kokoh sudah menahan pundaknya dengan sangat lembut.
"Tetaplah tidur, Sayang. Biar Mas yang urus," bisik Adrian rendah tepat di ceruk leher Arini. Suara baritonnya yang serak khas orang baru bangun tidur terdengar begitu seksi di kesunyian malam.
Arini menoleh perlahan, menatap siluet suaminya di bawah temaram lampu tidur. Sang CEO muda yang biasanya tampil tanpa cela dengan setelan jas tiga potong mahal, malam ini hanya mengenakan celana kain santai berwarna hitam tanpa atasan. Rambut hitamnya tampak berantakan, memperlihatkan guratan otot punggung dan dada bidangnya yang kokoh saat pria itu melangkah turun dari ranjang.
Adrian berjalan mendekati boks bayi dengan langkah yang kini jauh lebih luwes daripada tiga bulan lalu. Ia membungkuk, lalu dengan gerakan yang sangat protektif mengangkat tubuh mungil Arsenio ke dalam dekapannya.
"Hei, jagoan... kenapa menangis malam-malam begini? Hm?" gumam Adrian sangat lembut, mendekatkan wajah tampannya pada pipi gembil Arsenio. Pria itu mengendus bagian bawah bedong bayinya, lalu mengernyitkan dahi tipis saat mencium aroma yang sudah sangat familier baginya belakangan ini. "Ah, ternyata kamu mengompol lagi."
Tanpa canggung sedikit pun, Adrian membawa Arsenio ke atas meja ganti khusus bayi yang berada di sudut ruangan. Jemari tangannya yang besar—yang biasanya digunakan untuk menandatangani dokumen akuisisi perusahaan senilai triliunan rupiah—kini bergerak dengan sangat cekatan dan presisi membuka perekat popok sekali pakai yang kotor.
Ia mengambil tisu basah khusus, membersihkan kulit sensitif bayinya dengan penuh kelembutan, lalu memakaikan popok baru dengan takaran kerapian yang setara dengan standar kerja seorang perfeksionis. Gerakannya sama sekali tidak menunjukkan rasa jijik, melainkan pancaran rasa sayang yang teramat mendalam dari seorang ayah sejati.
Arini yang sejak tadi mengawasi dari atas ranjang tidak bisa menahan senyuman manisnya. Air mata haru dan rasa syukur kembali menggenang di pelupuk matanya. Siapa yang akan percaya jika pria posesif yang sedang sibuk mengurusi popok bayi tengah malam begini adalah Adrian Wijaya, pria paling ditakuti di dunia bisnis nasional?
Setelah Arsenio kembali tenang dan mulai terlelap dalam bedongannya, Adrian meletakkan kembali sang anak ke dalam boks bayi secara perlahan. Pria itu mengembuskan napas lega, lalu melangkah kembali naik ke atas kasur sutra, menyurukkan tubuh bidangnya ke dalam selimut untuk memeluk erat pinggang ramping Arini dari belakang.
Adrian menenggelamkan wajahnya di rambut panjang Arini yang beraroma melati hangat, menyalurkan kehangatan tubuhnya yang maskulin tanpa menyisakan sekat jarak sedikit pun di antara mereka.
"Mas... terima kasih ya," bisik Arini manis, memutar tubuhnya sedikit agar bisa menatap lekat-lekat manik mata elang suaminya. "Kamu benar-benar berubah menjadi hot daddy yang luar biasa."
Adrian menunduk sedikit, menatap bibir merah muda Arini yang selalu berhasil memicu gairahnya. "Aku tidak peduli dengan sebutan itu, Baby. Tapi di rumah ini, selama aku masih bernapas, tugasku adalah memastikan kamu tidak kelelahan sedikit pun. Menjaga kalian berdua adalah bentuk investasi terbaik dalam hidupku yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan lembar saham mana pun."
Mendengar gombalan mahal bernada bisnis namun sarat akan ketulusan emosional yang mendalam itu, Arini hanya bisa pasrah saat Adrian mulai mendekatkan wajahnya. Pria itu mengunci pergerakan Arini dalam sebuah dekapan yang posesif, lalu menyatukan bibir mereka dalam sebuah lumatan dalam yang intens, hangat, dan memabukkan di bawah saksi damainya pagi buta kota Jakarta. Lembaran kertas kontrak palsu setahun lalu kini telah menguap sepenuhnya dari ingatan mereka, digantikan oleh jalinan cinta sejati yang semakin kokoh seiring berjalannya waktu.