NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Keluar dari Kandang Harimau Masuk ke Kandang Macan

Dalam keadaan menggenggam erat tangan Dira. Mbah Sekar mengajak Dira masuk ke dalam rumah. 

Brak.

Suara keras pintu yang tertutup. Membuat Dira menangis puas dalam pelukan Mbah Sekar. 

Luapan emosi yang tertahan tepat di hadapan Faza. Serta mencoba tegar atas tatapan hina yang ditujukan padanya. Kini hancur seiring luapan air mata yang tak terbendung. 

Hiks… hiks… hiks. 

Suara sesenggukan hingga terasa sulit bernafas. Menandakan rasa sakit itu menembus relung hati. 

Tidak ada sepatah kata keluar dari mulut Mbah Sekar. Perempuan rentan itu hanya mengusap lembut punggung cucunya yang naik turun karena menangis. 

‘Puas, puaskanlah menangis hingga rasa sakit itu tak terasa menempa pahitnya kehidupan.’ 

Mungkin, untaian kata-kata seperti itu yang tergambarkan dari usapan lembut Mbah Sekar. Sebab, Dira memang butuh waktu untuk menerima apapun keadaan yang terjadi. 

Ya, cukup lama Dira menangis dalam pelukan Mbah. Hingga ucapan lembut tangan lain yang menyentuh punggungnya. Membuat Dira langsung menengokkan kepalanya. 

“Maaf, Dira,” lirih Nimas dengan air mata membasahi wajah cantiknya. 

Nampaknya waktu 18 tahun sudah cukup mampu menyadarkan Nimas menerima keadaan yang terjadi. Tidak harus semuanya, cukup memanggil nama Dira sudah menjadi keajaiban bagi keluarga Mbah Sekar. 

“Ibu mengenal Dira?” tanya Dira belum yakin dengan pendengarannya. 

Meskipun diliputi rasa kesedihan teramat dalam. Namun, perhatian kecil dari Nimas mampu menghilangkan kesedihan itu. 

“Terima kasih banyak Ibu sudah mengingat Dira. Dira sayang Ibu.” 

Terkadang ketika peristiwa buruk menimpa. Ada setitik cahaya yang akan menyinari gelapnya kehidupan. 

Dan Dira tahu dari setitik cahaya itu tersimpan harapan besar yang akan mewujudkan mimpi. Sebuah mimpi yang sebelumnya Dira hanya berani diutarakan dalam rangkaian kata puisi.

***

Haru biru yang dirasakan oleh Dira saat mendengar Nimas menyebut namanya untuk pertama kali. Berbanding terbalik dengan Faza. 

Kata tajam yang diucapkan oleh Siti untuk Dira, justru menusuk hati Faza. Mengingatkan Faza pada asal usulnya.  

“Keturunan haram.” 

Huff. 

Hembusan nafas dalam sambil menatap gelapnya langit. Mengulurkan tangan Faza mengambil lembaran foto orang tercinta yang ada di dompetnya. 

“Bu, tolong bersabar sebentar. Aku pasti akan menemukan pelakunya.” 

Foto buram menampilkan sosok perempuan memeluk bayi laki-laki, menjadi obat pelipur lara sekaligus semangat untuk Faza. Meskipun sama sekali tidak pernah menatap maupun berbicara secara langsung pada sosok tersebut.  

Tapi, cerita dari orang tercinta sudah mewakili semuanya. Sebab, Faza lahir di hari, tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan kematian ibu kandungnya. 

Drrrt… drrrt. 

Bunyi getar yang berasal dari handphone. Langsung mengalihkan perhatian Faza. Apalagi saat melihat kontak nama ‘Rumah Kedua’ yang tertera di layar handphone miliknya. 

Rasa sedih yang sebelumnya menyelimuti Faza mengingat statusnya. Langsung buyar saat tahu siapa yang menghubunginya. 

“Faza.” 

“Siap, Ndan.” 

“Kenapa kamu hari ini tidak memberi kabar?” tanya laki-laki dari balik telepon.

“Bukankah seharusnya kamu tadi siang datang menghadap?” lanjut laki-laki itu kembali yang langsung membuat tubuh Faza kaku. 

Penglihatan Dira tadi siang saat melihat Faza masuk di komplek perumahan polisi memang tidak salah. Sosok itu memang benar adalah Faza. 

Selain memiliki akses karena Faza tinggal di dalamnya. Juga karena Faza harus melapor ke komandannya. 

“Siap, maaf, Ndan. Saya akan melapor saat ini juga.” 

“Aku tunggu.” 

“Siap, Ndan.”

Setelah mematikan panggilan telepon dari komandannya. Faza mengambil jaket lalu keluar dari rumah dinas ukuran kecil.  Tujuannya saat ini kediaman atasannya untuk melapor. 

GREEENG! 

Suara motor khas milik Faza yang tadi siang mencuri perhatian Dira. Ternyata motor itu dalam keadaan baik dan tidak butuh penanganan maupun perawatan bengkel. Untuk kali ini Faza memang bohong kepada Dira.

“Malam, Ndan.” 

Karena Faza sering bolak-balik melapor ke atasannya. Sampai satpam dan petugas yang berjaga mengenal baik Faza. 

“Malam,” jawab Faza, lalu mengeluarkan KTA dari dompetnya. 

“Ini, Pak.”

“Silahkan masuk.” 

“Terima kasih banyak.” 

Setelah mendapatkan izin, Faza kembali mengendarai motornya menuju kediaman atasannya. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Karena jarak tidak terlalu jauh. 

“Selamat malam, Ndan Faza. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas berjaga saat melihat kedatangan Faza.

“Ndan Kombes Satria Wirawan ada?” 

“Ada, Ndan. Silahkan masuk. Sudah ditunggu sejak tadi siang.” 

Wajah tegang benar-benar menyelimuti diri Faza saat menyadari kebodohannya. Saat mengingat kejadian tadi siang. Niat hati ingin melapor justru gagal ketika melihat keberadaan Dira. 

Saat sudut matanya melihat gerombolan orang mengawasi serta mengikuti Dira. Membuat hati nurani Faza lebih memilih untuk menyelamatkan Dira, dibandingkan menghadap atasannya memberikan laporan penyelidikan.

Dengan langkah panjang Faza langsung menuju ruang kerja Satria. Mengalihkan pandangan Miss Panda yang ada di salah satu sudut ruangan. 

Tok… tok! 

“Masuk!” 

Krieeet.

“Selamat malam, Ndan. Maaf, atas kesalahan tadi siang. Saya siap menerima hukuman,” ucap cepat Faza sebelum mendapatkan omelan dari Satria. 

“Apa yang terjadi Faza? Sebelumnya kamu sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini? Apakah telah terjadi sesuatu tadi siang?” 

“Lapor, Ndan. Tadi siang saya bertemu seseorang yang kapan saja bisa membongkar penyamaran sebelum misi selesai.” 

“Seseorang? Siapa?” tanya Satria penasaran. 

“Arundaya Dirandra. Salah satu peserta didik Miss Panda yang akan menjadi kunci dalam kasus ini.” 

“Aku butuh bukti, Faza. Bukan hanya sebatas kata-kata saja.” 

“Siap, Ndan. Berikut informasi yang saya dapatkan selama penyelidikan.” 

Faza memberikan informasi yang dirinya dapatkan selama menyamar. Dan reaksi pertama yang ditunjukkan oleh Satria adalah kening mengkerut dalam serta hembusan nafas pelan. 

“Duduklah Faza! Aku ingin mengobrol ringan denganmu.” 

“Siap, Ndan.” 

Satria jelas ingin obrolan yang terjadi antara dirinya dan juga Faza lebih ringan. Apalagi saat melihat rasa lelah tergambar jelas di wajah tampan bawahannya itu.

“Apakah dia istimewa?” Pertanyaan yang tiba-tiba diutarakan oleh Satria langsung membuat Faza mengangkat kepalanya. 

Terdengar aneh, mengingat status Satria masih lajang di usia lebih dari 40 tahun. Sosok laki-laki dengan jumlah pengagum perempuan banyak. Namun, masih betah jomblo karena fokus dengan pekerjaan. 

“Maksudnya, Pak?” tanya Faza pura-pura bodoh atau benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Satria. 

“Apakah pertanyaanku terdengar sulit, Faza? Kamu lulusan terbaik dengan kenaikan pangkat cepat dan mulus. Jelas sangatlah aneh jika kamu tidak memahaminya.” 

Booooom.

Selayaknya ledakan yang langsung menghujam. Faza jelas tidak bisa berkutik. Dirinya langsung kalah saat mencoba menyembunyikan sesuatu dari atasannya. 

“Seusia kamu sangatlah wajar jatuh cinta. Apalagi dengan seorang perempuan yang pribadinya luar biasa. Dia pekerja keras, pintar, mandiri, dan aku sangat yakin dia cantik luar maupun dalam,” puji Satria sambil melihat laporan Faza tentang sosok Dira.

“Sosok yang mampu mengalihkan perhatianmu dari tugas dan juga marwah. Dan apa yang terjadi tadi siang baru pertama kali,” lanjut Satria yang membuat Faza tidak berkutik.

Mencoba bermain dengan Satria, jelas bukan pilihan yang baik. Laki-laki di hadapannya jauh lebih berpengalaman dalam berbagai hal. Sedangkan Faza baru memulai. 

“Jika kamu lelah, bisa mengambil cuti untuk istirahat sejenak. Jangan paksa otak dan juga tenaga bekerja keras. Masa depanmu masih panjang dan masalah pribadi juga penting.” 

“Maaf, Pak. Saya akan kembali bersikap profesional. Saya tidak memiliki keinginan mengambil cuti. Saya akan menyelesaikan tugas ini sebelum batas waktu.” 

Ucapan Faza langsung membuat Satria tersenyum. Sosok pantang menyerah seperti Faza inilah yang diinginkan oleh Satria. 

“Buktikan ucapanmu itu. Aku akan menunggu kabar baik darimu.” 

“Siap, Pak.” 

“Apakah ada yang ingin kamu sampaikan lagi?”

“Izin, Pak. Untuk beberapa hari kedepan saya izin lebih dalam menyelidiki kasus ini.” 

“Maksudnya?” 

“Saya izin ke luar kota. Untuk tempat pastinya akan saya sampaikan menyusul.” 

“Baiklah, aku memberikanmu izin. Yang jelas kamu harus bersikap profesional.” 

“Baik, Pak.” 

Setelah selesai bertemu dengan Satria. Faza keluar dari ruang kerja yang dipenuhi deretan prestasi milik atasannya. Meninggalkan Satria yang saat ini fokus dengan satu nama di bagian informasi tentang Arundaya Dirandra.

“Nimas Ayu,” gumam Satria dengan wajah berpikir keras. 

Ceklek.

Setelah menutup pintu dan membalikkan badan. Mata Faza langsung tertuju pada Miss Panda yang tengah menunggunya. 

“Aku ingin bicara denganmu sekarang juga, Iptu Faza.” 

Tanpa menunggu persetujuan dari Faza. Dengan langkah kaki panjang Miss Panda menuju ke perpustakaan. 

Membuat Faza langsung menyusul Miss Panda menuju ke ruang tersebut. Membuat sosok laki-laki renta yang tampak masih sehat hanya bisa geleng-geleng kepala. 

“Kasihan sekali tuh bocah. Baru saja lolos dari kandang harimau, eh sekarang masuk ke kandang macan,” ucap sosok laki-laki renta. 

“Sepertinya aku harus mencari jodoh untuk Satria sekaligus Panda, agar tu bocah tidak menjadi korban samsak mereka,” ucap laki-laki renta dengan pangkat terakhir Komjen sebelum purna. 

Sangat wajar kata-kata itu keluar. Ketika wajah tertekan Faza terlihat jelas masuk ke perpustakaan milik Satria.

 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!