Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Hari ini adalah hari yang cukup spesial untuk keluarga William. Karena di hari ini selain hari ulang tahun sang kakek, ini juga hari di mana seluruh keluarga besar berkumpul. Seperti biasa, undangan di sebar untuk kalangan kelas atas di seluruh penjuru ibu kota. Salah satu momen yang tepat untuk menggaet investor atau sekedar memperluas relasi.
Ray berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Di situ ada Lilian yang masih memperhatikan dari sofa. Ray gelisah karena Llyn tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Ray, ayo kita berangkat duluan saja. Llyn nanti biar menyusul."
"tunggu sebentar lagi."
"sudah hampir telat Rayy, nanti malah dibilang nggak sopan loh."
Ray menoleh ke arah Lilian lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. Mau tidak mau akhirnya ia menuruti perkataan wanita itu.
Sesampainya di gedung tempat pesta diadakan, sebagian besar tamu sudah hadir. Ray dengan menggandeng Lilian langsung menghampiri kakeknya.
Momen ini Lilian sengaja manfaatkan agar bisa berkenalan dengan keluarga Ray dan juga mendapat kesan bagus. Tapi itu hanyalah ekspektasinya saja, karena nyatanya wajah masam dari sang kakek dan kedua orang tua Ray yang didapatinya. Bahkan beberapa orang terang-terangan berbisik di depannya.
"kakek, ini Lilian. Diaa... temanku."
Lilian menoleh ke arah Ray dengan raut tidak puas.
"halo kakek, selamat ulang tahun semoga panjang umur," Lilian memberikan sebuah kotak kado dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"kakek sudah tua, tidak memerlukan kado seperti itu, tapi terimakasih," kalimat sederhana tapi berhasil membuat Lilian dan yang lain merasa canggung, karena hanya dirinya yang mendapatkan omongan seperti itu.
"Ray di mana istrimu? bukannya datang dengan pasangan sah malah membawa teman yang tidak jelas asal usulnya."
Lilian mengeratkan genggaman tangannya hingga kukunya sedikit menancap ke telapak tangannya sendiri. Mati matian ia menjaga ekspresinya agar tetap tenang.
"ah Llyn, dia.. dia belum pulang dari dinas jadi mungkin tidak akan hadir malam ini."
"ck, kakek sudah bilang jangan minta istrimu untuk bekerja. Lihat, apa ibumu bekerja? bibimu? nenekmu? perempuan di keluarga William harus di rumah, cukup bergaul di lingkaran sosialita saja."
"iya kek, tapi ini keputusan Llyn sendiri."
"ternyata diam-diam menyalahkanku di belakang punggungku sudah menjadi kebiasaanmu ya."
Suara itu menggema ke seluruh sudut ruangan, lantang namun anggun. Seketika semua orang terdiam dan menoleh ke sumber suara. Suara hak sepatu yang beradu dengan lantai membuat suasana terasa sedikit tegang. Sosok wanita dengan gaun merah dan cukup terbuka menampilkan tulang selangkanya yang cantik dan juga sebelah kaki yang terlihat jenjang yang indah.
Semua orang tertegun karena tidak menyangka ada wanita secantik ini. Dan wanita itu adalah Llyn Aira, istri Raymond William yang biasanya selalu berpakaian sopan dan elegan. Kini tampil seksi dan sangat menawan.
Bahkan Ray ikut terdiam melihat penampilan baru dari sang istri. Sebenarnya ia sendiri juga baru sadar kalau Llyn bisa secantik ini.
"kamu sendiri yang memintaku bekerja di perusahaanmu, kenapa itu menjadi keputusanku sendiri?" tanyanya dengan jelas saat sudah berdiri di depan Ray.
Belum sempat Ray menjawab, Llyn sudah beralih ke sang kakek dengan raut yang sangat berbeda. "kakek, selamat ulang tahun. Ini kado untukmu." Senyumnya begitu cantik dengan sorot mata yang cerah namun teduh.
"kamu datang saja itu sudah cukup, terimakasih kadonya kakek suka."
Llyn mengangguk lalu menatap Ray, memindai dari atas sampai bawah. Kemudian matanya berhenti di tangan yang masih saling bergandengan.
"ternyata tuan Ray dan nona Lilian sangat mesra ya, aku tunggu undangan pernikahan kalian," ucapnya sungguh-sungguh.
Tapi di telinga orang lain, itu adalah kalimat sarkas dari seorang istri yang memergoki suaminya sedang selingkuh.