Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Udara pagi di koridor Fakultas Ekonomi masih menyisakan kesejukan sisa hujan semalam, namun atmosfer di depan ruang kelas sudah mulai memanas oleh keriuhan mahasiswa.
Begitu sosok Juan muncul di ambang pintu, suasana yang tadinya biasa saja mendadak mengalami pergeseran gravitasi. Semua mata seolah tersedot ke arahnya.
Juan bukanlah mahasiswa yang paling menonjol secara akademis, namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka, magnet kepribadian. Kepribadiannya yang hangat, rendah hati, dan mudah bergaul membuatnya memiliki tempat tersendiri di hati penghuni kampus.
"Woi, Juan! Akhirnya muncul juga lo!" seru Rendy dari barisan tengah, disambut lambaian tangan meriah dari beberapa mahasiswa lain yang seolah baru melihat pahlawan pulang dari medan perang.
Juan membalas dengan senyum khasnya, senyum tulus tanpa beban yang menjadi ciri khasnya. "Yo, Ren! Biasalah, ada urusan dikit di desa," jawabnya singkat sambil melangkah masuk. Ia menyapa hampir setiap orang yang berpapasan dengannya, menunjukkan sisi humble yang membuat siapa pun merasa dihargai.
Namun, di antara sekian banyak sambutan, ada satu pasang mata yang menatapnya dengan intensitas berbeda. Raisa, yang duduk di barisan kedua, tampak sudah merapikan tatanan rambutnya sejak pertama kali melihat bayangan Juan di pintu.
Raisa bukan gadis sembarangan. Kecantikannya memancarkan aura kelas atas, rambut hitam legam yang jatuh sempurna, tatapan mata yang tajam namun memikat, serta bentuk tubuh yang sering kali membuat para pria menahan napas. Bukit kembar yang kencang dan bokongnya yang semok.
Sebagai putri dari Evan Kusuma, salah satu konglomerat paling berpengaruh di kota, ia adalah permata yang sulit digapai. Di kampus, Raisa sangat pilih-pilih dalam bergaul, dan Juan adalah salah satu dari sedikit orang yang berhasil masuk ke dalam radar eksklusifnya.
"Juan! Sini duduk sebelah gue," panggil Raisa dengan nada yang lebih mirip perintah halus daripada ajakan. Ia menepuk kursi kosong di sampingnya, yang sejak tadi ia "pesan" dengan meletakkan tas bermerek seharga motor di sana.
Juan sempat ragu sejenak, namun melihat binar ramah di mata Raisa, ia pun melangkah mendekat. "Kosong, Sa?"
"Khusus buat lo," jawab Raisa dengan senyum manis yang jarang sekali ia obral pada pria lain.
Begitu Juan mendaratkan tubuhnya, aroma parfum mahal Raisa, campuran antara floral dan musk yang elegan, langsung menusuk indra penciumannya, memberikan sensasi nyaman yang mewah.
Belum sempat Juan mengeluarkan buku catatan, Raisa sudah memajukan posisi duduknya, menatap Juan dengan tatapan menyelidik yang lembut.
"Gue denger gosip yang lagi rame," bisik Raisa, suaranya pelan namun terdengar tajam di telinga Juan. "Soal lo sama Laras. Beneran udah selesai?"
Juan tertegun sejenak. Ia sadar berita di kampus menyebar lebih cepat daripada cahaya, terutama jika melibatkan drama pengkhianatan. Ia menghela napas pendek, merasa tak ada gunanya menutupi fakta yang sudah menjadi rahasia umum.
"Iya, Sa. Semuanya sudah berakhir," jawab Juan dengan ketenangan yang mengejutkan Raisa. Tidak ada getaran dendam, hanya sebuah pengakuan jujur dari pria yang sudah merelakan masa lalu.
Raisa menaikkan sebelah alisnya, sedikit tak percaya. "Gara-gara Ferdiyan? Kabarnya dia lebih milih Ferdiyan karena... ya, lo tahu sendiri, harta keluarga Suryadarma itu nggak berseri. Apa itu bener?"
Juan mengangguk perlahan, menatap ke arah depan kelas. "Gue nggak bisa memaksa orang buat bertahan kalau standar kebahagiaannya hanya diukur dari angka di rekening, Sa. Ferdiyan punya apa yang nggak gue punya saat ini. Jadi, ya, gue biarin dia pergi mencari apa yang dia mau."
Mendengar jawaban itu, hati Raisa bersorak dalam diam. Baginya, alasan Laras meninggalkan Juan hanya karena harta adalah sebuah kebodohan hakiki.
Sebagai anak konglomerat yang sudah kenyang dengan kemewahan, Raisa justru muak dengan pria-pria manja yang hanya mengandalkan nama besar orang tua seperti Ferdiyan. Ia justru jauh lebih menghargai ketenangan dan karakter baja yang dimiliki Juan.
"Dia yang rugi, Juan. Percaya sama gue," ucap Raisa sambil tersenyum tipis, matanya memancarkan binar ketertarikan yang semakin kuat. Dengan status Juan yang kini melajang, jalannya untuk mendekat kini terbuka lebar tanpa ada penghalang lagi.
Obrolan mereka terputus seketika saat suara ketukan pantofel yang berirama tegas dan berwibawa terdengar dari arah pintu. Kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap, bukan karena ketakutan, melainkan karena pesona yang baru saja melangkah masuk.
Ibu Hani masuk dengan pembawaan anggun namun mematikan. Sebagai dosen muda yang baru mengajar dua semester, ia telah menjadi legenda hidup di kampus tersebut.
Bukan hanya karena kecerdasannya dalam membedah teori ekonomi makro, tetapi karena fisik tubuhnya yang sering kali membuat para mahasiswa, bahkan rekan sesama dosen,kehilangan konsentrasi.
Hari itu, Ibu Hani mengenakan blus ketat berwarna krem yang dimasukkan dengan rapi ke dalam rok pensil hitam selutut. Pakaian itu seolah berjuang keras membungkus lekuk tubuhnya yang sangat menonjol.
Setiap langkahnya membuat siluet tubuh jam pasir itu terlihat jelas. Bukit kembarnya yang padat tampak membusung di balik kain blus yang tipis, sementara rok ketatnya mempertegas lekuk pinggul dan bagian belakangnya yang berisi dan kencang.
"Selamat pagi semuanya," sapa Ibu Hani dengan suara yang sedikit serak-serak basah, sebuah nada sensual alami yang membuat bulu kuduk para mahasiswa laki-laki meremang.
"Pagi, Buuu..." jawab para mahasiswa serempak. Para cowok menjawab dengan semangat yang sedikit berlebihan, seolah-olah sedang menyapa idola mereka.
Ibu Hani meletakkan tasnya di meja, lalu berbalik menuju papan tulis untuk menuliskan topik perkuliahan. Saat itulah, perhatian sebagian besar mahasiswa laki-laki di kelas itu teralihkan sepenuhnya dari dunia pendidikan.
Pemandangan dari arah belakang saat Ibu Hani menulis adalah ujian berat bagi iman siapa pun.
Gerakan tangannya yang naik ke atas membuat blusnya sedikit terangkat, sementara rok pensilnya semakin ketat membungkus "bemper" belakangnya yang montok, padat, dan berlekuk sempurna.
"Gila... Ibu Hani emang nggak ada tandingannya," bisik Rendy di barisan belakang dengan mata yang seolah terkunci pada pemandangan di depan.
"Janda bukan sembarang janda, Bro. Dosen-dosen senior aja banyak yang antre, tapi katanya semua ditolak mentah-mentah," timpal mahasiswa lain dengan suara tertahan dan penuh kekaguman.
Status Ibu Hani sebagai janda tanpa anak memang sudah menjadi rahasia umum. Banyak spekulasi liar tentang mengapa wanita seindah dia masih memilih melajang, namun Ibu Hani tidak pernah menanggapi.
Ibu Hani tetap profesional, meski ia tahu betul bahwa setiap gerak-gerik tubuhnya selalu menjadi pusat gravitasi di ruangan itu.
Juan mencoba tetap fokus pada buku catatannya, namun ia bisa merasakan atmosfer kelas yang mendadak berubah menjadi "gerah". Di sampingnya, Raisa menyadari perubahan suhu sosial itu.
Ia melirik Juan, penasaran ingin tahu apakah pria di sampingnya juga ikut-ikutan menatap bagian tubuh Ibu Hani dengan pandangan lapar seperti serigala.
Namun, Juan tampak berbeda. Meskipun ia tidak memungkiri kecantikan dan daya tarik fisik sang dosen, ia tidak menatapnya dengan pandangan mesum yang vulgar. Juan tetap tenang, memperhatikan setiap penjelasan materi dengan seksama.
"Lo nggak tertarik ikutan nonton 'pemandangan' di depan?" bisik Raisa menyindir halus, sambil sengaja menyenggol lengan Juan dengan bahunya.
Juan terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis. "Gue ke sini buat kuliah, Sa. Lagian, kasihan Ibu Hani kalau cuma dilihat fisiknya doang. Padahal cara dia jelasin materi ekonomi itu enak banget dan mudah dipahami."