NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:32.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Menunggu Tidak Selalu Berarti Akan Didatangi

Waktu berlalu.

Kehidupan di Adinata Residence 3 tetap berjalan seperti biasa. Tetap tenang dan terartur.

Tidak ada yang berubah--setidaknya di permukaan.

"Nona." Winda mendekati Shafiya yang berdiri di depan jendela kamarnya. Pagi itu.

"Mau sarapan di sini? Atau di ruang makan?"

Tawaran itu biasanya datang jika Sagara tidak ada di rumah. Atau ada tapi tidak memilih sarapan di sana.

Dan Shafiya menangkap arahnya.

"Tuan berangkat lebih awal?"

"Kata bu Ratri, tuan berangkat ke Singapura tadi malam."

Ternyata bukan hanya sekedar berangkat lebih awal.

Shafiya mengangguk. Terlalu cepat.

"Mungkin seminggu. Karena setelah itu lanjut ke Jepang." Winda melanjutkan. Mengikuti keterangan Ratri barusan.

"Saya tetap sarapan di sana, Mbak," kata Shafiya. Tidak ada perubahan raut wajah. Seolah itu sudah biasa.

"Menu seperti biasa ya," pintanya.

"Baik, Nona." Winda mundur, dan keluar kamar dengan langkah cepat.

Sepeninggal Winda, Shafiya menarik napas pelan. Benaknya merangkai apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tepatnya setelah ia diajak ke kantor Adinata langsung dari pesantren--beberapa hari yang lalu.

Sejak saat itu.

Sagara memang kembali pada ritmenya.

Pekerjaan. Rapat. Keputusan.

Dan... jarak.

Jadwal sarapan mereka tidak pernah bertemu, Sagara sering sarapan lebih dulu, atau menundanya. Jika bicara, tak ada lagi tatapan yang singgah lebih lama. Semua kembali seperti di awal mereka hidup bersama.

Seolah apa yang terjadi di kantor--kedekatan mereka hari itu, tidak pernah ada.

Safiya menyadari, ada yang berubah. Tapi tak pernah mempertanyakan. Kendati terasa ada yang kurang. Ada yang terasa hilang, setelah hanya sesaat datang.

Dan puncaknya hari ini. Sagara pergi. Jauh. Dan untuk waktu cukup lama. Tapi ia tidak punya waktu untuk berpamitan. Atau memang tidak ingin.

Rupanya Shafiya telah meminta yang begitu besar. Meski tak pernah diucapkan. Yaitu, anggapan. Dan itu seperti tak akan bisa ia dapatkan.

Beberapa hari berlalu. Dan waktu yang ditunggu itu, akan segera tiba. Usia kehamilannya tepat memasuki bulan ke 4. Saat krusial untuk tumbuh kembang bayi dalam rahim.

Dan malam ini tepat seminggu Sagara pergi.

"Bu Ratri." Shafiya bertemu dengan Ratri di koridor.

"Ya, Nona."

Ratri mendekat. Dua langkah berhenti. Sedikit mengangguk.

"Tuan sudah pulang?" tanya Shafiya langsung.

"Seharusnya malam ini." Ratri melihat jam tangannya. Hampir jam 10 malam.

"Tapi belum. Mungkin sebentar lagi, Nona."

"Kalau sudah pulang. Tolong beritahu. Saya ada hal penting yang perlu disampaikan," kata Shafiya langsung.

"Baik, Nona."

"Terima kasih, Bu Ratri."

Shafiya tersenyum dan segera berlalu melintasi koridor itu untuk kembali ke kamarnya.

Malam berlalu terlalu lambat untuk seseorang yang sedang menunggu. Waktu terasa enggan beranjak. Shafiya hampir tak bisa pejamkan mata. Ia baru merengkuh tidurnya setelah lewat jam satu dini hari. kemudian ia bangun pada jam seperti biasa. Melakukan rutinitas seperti biasa.

Pagi itu saat sarapan. Tiba-tiba Ratri mendekat.

"Nona. Tuan sudah datang. Semalam."

Shafiya mendongak. Sendok yang terangkat itu berhenti.

"Lewat tengah malam. Tapi tadi jam lima langsung berangkat ke kalimantan. Ke perusahaan tambang yang ada di sana."

Shafiya menunduk. Menatap menu sarapannya yang belum tersentuh.

"Saya sudah sampaikan kalau, Anda ada perlu. Mungkin tuan akan menelepon."

"Terima kasih, Bu Ratri."

Ratri mengangguk dan mundur. Kembali berdiri di sisi ruangan.

"Sesibuk itu ya, sampai tidak sempat," lirih Shafiya hampir tak kedengaran. Dan selera makannya hilang begitu saja.

Sepanjang hari itu Shafiya menunggu. Tatapannya hampir tak lepas dari benda pipih itu. Seolah Sagara benar-benar akan meneleponnya. Meski ia belum pernah bertanya nomor, tapi bagi Sagara bukan hal yang susah untuk mendapatkannya.

Tapi waktu terus berlalu. Dan ponselnya tetap dingin. Tak ada notif panggilan atau pun pesan yang datang. Hingga hari pun berlalu. Siang berganti malam.

Malam itu Shafiya tidak bisa tidur.

Ia sudah mencoba berbaring. Mengatur napas. Memejamkan mata. Namun pikirannya tetap terjaga. Akhirnya ia bangkit.

Melangkah pelan keluar dari kamar. Melintasi beberapa koridor. Menuju ke ruang depan.

Lampu utama tidak dinyalakan.

Hanya cahaya temaram dari sudut ruangan.

Dan itu cukup untuk membuat segalanya terlihat… tanpa benar-benar terang.

Shafiya duduk di kursi yang menghadap ke pintu. Diam untuk waktu yang cukup lama.

Ponselnya yang masih berada di genggaman tetap kosong.

Waktu yang berjalan terasa sangat pelan.

Namun Shafiya terus melewatinya dengan mencoba tenang.

Hingga suara mobil terdengar dari luar.

Shafiya langsung menoleh.

Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat.

Lampu halaman menyala.

Mobil itu masuk. Tepat di depan teras, berhenti.

Terdengar pintu mobil terbuka.

Satu sosok turun. Melangkah cepat melintasi teras yang tinggi dan cukup panjang. Lalu pintu utama terbuka. Ia masuk.

Ternyata bukan Sagara.

Tapi Agam.

Shafiya sempat menahan napas pelan.

Namun ia tetap berdiri.

Langkah Agam sempat berhenti begitu melihat Shafiya masih berada di ruang depan itu.

“Nona… belum istirahat?” Ia bertanya dengan nada sedikit heran. Karena belum pernah ia melihat Shafiya masih di sini malam-malam.

“Mas Agam…”

Shafiya mendekat satu langkah.

“Mas Sagara… belum pulang?”

Ia langsung bertanya. Mengabaikan pertanyaan Agam barusan.

Agam menatapnya beberapa detik.

Seolah memahami sesuatu.

“Belum, Nona.”

Jawaban jujur.

“Sagara masih di Kalimantan.”

Shafiya mengangguk pelan. Rautnya berubah. Namun tidak langsung mundur.

Seolah masih ada yang ingin ditanyakan.

Agam menangkap itu.

“Tadi siang rapatnya mundur. Ada beberapa hal yang harus ditangani langsung di lapangan.”

Ia menjelaskan tanpa diminta.

“Sagara mungkin baru kembali besok… atau lusa," lanjut Agam.

"Oh begitu ya." Ucapan itu pelan. Hampir lirih.

Agam mengangguk.

“Kalau ada yang perlu disampaikan, saya bisa bantu sampaikan.”

Shafiya menatapnya beberapa detik.

Lalu menggeleng.

“Tidak apa-apa," katanya pelan.

“Saya tunggu saja.”

"Baiklah."

Agam Tidak memaksa.

Namun tatapannya sempat tertahan.

Seolah ingin memastikan sesuatu.

“Anda baik-baik saja, Nona?"

"Iya." Jawaban yang terlalu singkat.

Agam kembali mengangguk. "Saya ditugas mengambil berkas di ruang kerja."

"Silakan." Shafiya mundur untuk memberi ruang.

Agam berlalu dengan langkah cepat.

Shafiya kembali duduk perlahan.

Ponsel itu masih di tangannya.

Namun kini tidak lagi ditatap.

Karena ia sudah tahu jawabannya.

Sagara tidak akan pernah menelepon.

Shafiya masih duduk di sana, saat Agam kembali dengan membawa map tipis berwarna cokelat.

"Nona." Ia menahan langkah. Menatap Shafiya lebih lama.

"Sudah malam. Sebaiknya Anda istirahat."

"Iya. Terima kasih."

"Saya lanjut."

Shafiya mengangguk.

Agam keluar dengan langkah bergegas.

Pintu utama kembali menutup diiringi helaan napas Shafiya. Malam itu tetap berlanjut.

Dengan sunyi yang sama.

Dan satu hal yang mulai terasa lebih jelas.

menunggu…

tidak selalu berarti akan didatangi.

1
Badiah Roudloh
sempat deg deg akhirnya legah. selalu ditunggu
Nofi Kahza
Ravendra bakal tamat. Udah nggak ada ruang bergerak. Maju mundur tetap kena😎😎
Najwa Aini: Game Over
total 1 replies
Nofi Kahza
Sekarang hobi banget nyentuh pucuk kepala istrinya ya, Gar. Pertahankan. ok!
Nofi Kahza: serasa lebih sepuh darimu aku kak🤣
total 2 replies
Nofi Kahza
panggil pelan2, Fi. lalu ngomong. "Mas Sagara... sini yuk. Tidur di sebelah sini. Aku kelonin biar mimpi indah.". Eaaaakk🤣
Najwa Aini: Telat sih kamu bisikinnya
total 1 replies
Nofi Kahza
penasaran sama gaji dokternya/Drool/
Najwa Aini: Cukup lah..buat beli Pajero...
wataawww
total 1 replies
Nofi Kahza
Halah halahh.. kok pakek toel toel segala sih, Gar. aku yg baca kna salting/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Najwa Aini: Pasti hidungnya situ yang merah. Berasa kena toel
total 1 replies
Nofi Kahza
ciiee.. yang barusan senyum beneran kan..🤭
Najwa Aini: Iyak lah...tapi singkat
total 1 replies
iqha_24
tariik napaas... lumayan tegang
honda vario
kak tulisanmu bagus semua.... aku suka bngt... stelah crita ini yg nafsa dilanjut jg ya
Najwa Aini: Insyaallah ya Kak..😍😍
total 3 replies
zee
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Najwa Aini: 🌹🌹. Terima kasih Kak
total 1 replies
Badiah Roudloh
bagus ceritanya
Najwa Aini: Matur nuwun kak..🌹
total 1 replies
Nurilbasyaroh
makasih mas sagara dari awal bab ini yang aku tunggu pengakuan mu sama safhiya
Najwa Aini: Akhirnya pecah telor ya...Terima kasih masih setia sampai bab ini
total 1 replies
Eka Widya
Alhamdulillah akhirnya...setelah nahan nafas sekian bab.plong dah.ungkapan cinta yg elegan🥰🥰
Najwa Aini: Cinta yang dewasa ya kak...Tak hanya sekedar kata "aku cinta"...
total 1 replies
iqha_24
🥺
Najwa Aini: 🌹..Terima kasih kak
total 1 replies
Ayuwidia
Aw aw aw kalimatnya bikin seorang istri pingin salto, Mas
Ayuwidia
Di bumi belahan mana pun, cara ini memang sudah teruji kehebatannya. Politik memecah belah
Ayuwidia
Betoel banget, dan ini sepertinya berlaku bagi semua istri. Termasuk aku 😄
Ayuwidia
Jiahhhh, gantian menyindir 😆
Ayuwidia: Bangettt
total 2 replies
Ayuwidia
Uluh-uluh, perhatiannya bikin meleleh, Bang 😍
Najwa Aini: Kayak es krim di atas kompor...😆 meleleh
total 1 replies
Popo Hanipo
luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!