Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Diam-diam
Layar monitor di ruang kerja Arkan menampilkan deretan nama, transaksi, dan lokasi gedung ilegal milik keluarga Virello.
Garis merah di peta terus berkedip seperti peringatan kematian. Seseorang sedang bermain dari dalam, dan Arkan tahu persis siapa pelakunya.
"Ada tiga gudang yang dibocorkan ke polisi dalam dua minggu terakhir," ujar Leo, tangan kanannya dengan wajah tegang. "Dan orang kita mulai saling curiga."
Arkan bersandar di kursinya, tatapannya dingin menatap layar. "Damar sengaja membuat kita saling membunuh."
Leo mengangguk pelan, "Dia ingin kamu kehilangan kepercayaan terhadap anak buahmu sendiri."
Ruangan itu sunyi beberapa detik, hanya suara mesin pendingin yang terdengar pelan.
Namun di balik kesunyian itu, kemarahan Arkan perlahan mulai tumbuh. Bukan karena bisnisnya mulai runtuh, tapi karena Alya ikut terseret di tengah perang keluarga ini.
Sejak insiden malam sebelumnya, saat mobil Alya hampir ditembak di jalan tol, Arkan tak lagi bida berpikir jernih.
Bayangan wajah pucat wanita itu terus menghantuinya. Alya hampir mati, dan seseorang harus membayar untuk itu.
"Di mana Damar sekarang?" tanya Arkan pelan.
Leo menelan ludah, "Lokasinya belum terlacak."
BRAK!
Gelas kristal di tangan Arkan menghantam dinding, hingga pecah berserakan. Dan Leo langsung terdiam.
"Aku sudah terlalu lama membiarkannya hidup," tatapan Arkan berubah gelap. "Sekarang giliran dia merasakan ketakutan itu."
Sementara itu, di mansion Virello, Alya berdiri sendirian di balkon kamar. Angin malam meniup rambut panjangnya yang berantakan.
Tangannya masih gemetar, ia belum bisa melupakan suara tembakan semalam.
Belum bisa melupakan bagaimana Arkan menarik tubuhnya dengan panik, sebelum kaca mobil pecah di samping wajahnya.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat ketakutan di mata pria itu, bukan marah, bukan dingin, tapi takut kehilangan. Perasaan itu justru membuat dadanya semakin sesak.
"Aku harus pergi dari sini," bisiknya lirih.
Namun sebelum ia sempat melangkah masuk, suara pintu terbuka. Dan Arkan datang.
Pria itu masih mengenakan pakaian hitam yang sama seperti tadi pagi, wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya tetap tajam.
Tatapan mereka bertemu, tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Arkan berjalan mendekat.
"Kamu belum tidur?"
Alya memalingkan wajah, "Aku tidak bisa tidur."
"Aku akan meningkatkan penjagaan," ucap Arkan yang berhenti tepat di belakang Alya.
"Aku tidak peduli soal penjagaan apa pun."
Jawaban itu membuat Arkan mengernyit heran, lalu Alya berbalik cepat.
"Aku capek jika harus hidup seperti tahanan, Arkan!" bentak Alya padanya. "Ke mana pun aku pergi, pasti selalu ada pengawal! Selalu ada ancaman! Dan pasti selalu ada sebuah darah!"
Arkan hanya terdiam.
"Aku tidak pernah meminta untuk masuk ke dunia gilamu!" lanjut Alya.
Rahang Arkan mengeras, "Kalau kamu pergi sekarang, maka mereka akan membunuhmu."
"Lalu apa bedanya aku tetap di sini?" balas Alya.
Mata wanita itu mulai memerah, "Bahkan aku perlahan mati setiap hari."
Keheningan kembali memenuhi balkon, Arkan ingin marah. Ingin membentak Alya karena tidak mengerti situasinya.
Namun saat melihat air mata yang ditahan oleh wanita itu, sesuatu dalam dirinya mulai runtuh.
"Alya," panggil Arkan dengan pelan. "Aku sedang mencoba untuk melindungimu."
Alya tertawa kecil, "Melindungi dengan cara mengurungku di sini?"
Arkan mengepalkan tangan, ia tidak pandai menjelaskan perasaan. Bahkan tidak pernah.
Seumur hidupnya, ia hanya tahu cara mengendalikan, mengancam, dan menghancurkan. Bukan mencintai.
Tapi Alya berbeda, wanita itu selalu berhasil membuat semua pertahanannya retak sedikit demi sedikit.
"Aku tidak tahu cara lain," ucap Arkan akhirnya.
Untuk beberapa detik, pria dingin di depannya terlihat begitu rapuh. Dan itu yang membuat semakin berbahaya, karena hati Alya mulai goyah lagi.
Di tempat lain, Damar duduk santai sambil memutar gelas wine di tangannya.
Sudut bibirnya terangkat puas saat melihat foto mobil Alya yang hancur di layar tablet.
"Apa mereka mulai saling menyalahkan?" tanyanya.
Seorang pria berbaju hitam mengangguk, "Anak buah Arkan mulai panik."
"Bagus," ucap Damar dengan tertawa pelan.
Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati jendela besar apartemen mewah itu.
Lampu Kota Jakarta terlihat berkilauan di bawah sana.
"Sekarang Arkan terlalu lemah."
"Apa karena wanita itu?"
Damar menyeringai, "Cinta sudah membuat seorang monster kehilangan taringnya. Dan saat Arkan lengah, kita hancurkan dia sekaligus."
Malam semakin larut, namun mansion Virello terasa semakin mencekam.
Alya akhirnya tertidur di sofa, setelah terlalu lelah menangis diam-diam.
Sedangkan Arkan masih berdiri di depan jendela kamar, tatapannya terlihat kosong.
Pikirannya dipenuhi banyak hal. Damar, pengkhianatan, dan juga Alya. Wanita itu perlahan menjadi titik lemahnya, hal yang paling ia benci dalam hidup.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Leo tangan kanannya.
...📞...
"Ada masalah."
Suara pria itu terdengar panik.
^^^"Masalah apa lagi?"^^^
"Salah satu gudang kita terbakar."
^^^"Siapa pelakunya?"^^^
"Seperti biasa, mereka orang-orang Damar. Dan mereka meninggalkan sebuah pesan."
^^^"Apa isi pesannya?"^^^
Di seberang sana, Leo terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan.
"Dia bilang, perang baru saja dimulai."
Panggilan pun terputus, Arkan menurunkan ponselnya perlahan.
Rahangnya mulai mengeras, api kemarahan di matanya kini jauh lebih mengerikan dibanding sebelumnya.
Ia menoleh ke arah Alya yang tertidur tanpa sadar di sofa, wajah wanita itu terlihat damai untuk pertama kalinya.
Dan di saat itulah Arkan membuat sebuah keputusan, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Damar menyentuh Alya lagi.
Meski itu berarti seluruh Jakarta harus bermandikan darah.