NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Wangi Duda, Wangi Surga?

...😈😈😈...

Jakarta pukul 07.00 WIB. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu untuk memulai hidup dengan penuh semangat. Tapi bagi Zollana Rismalla Panto, ini adalah waktu di mana nyawanya baru terkumpul sekitar 15%.

Gadis bertubuh mungil—yang tingginya kalau berdiri di samping rak supermarket sering dikira anak SMP—itu sedang berdiri gemetar di depan sebuah pintu ganda berwarna matte black yang kelihatan lebih mahal daripada harga diri Zolla selama dua puluh satu tahun hidup.

"Oke, Zol. Inget. Lo cuma butuh kerjaan. Lo butuh bayar kosan yang nunggak tiga bulan, dan lo butuh makan selain mie instan rasa soto," bisik Zolla pada dirinya sendiri. Tangannya yang mungil meremas ujung kemeja kebesarannya yang ia beli di thrifting minggu lalu.

Zolla menarik napas dalam-dalam, lalu menekan bel.

Ding-dong.

Pintu terbuka. Bukan oleh pelayan berseragam seperti di sinetron, melainkan oleh seorang pria yang tampilannya sukses membuat Zolla lupa cara bernapas selama lima detik penuh.

Pria itu tinggi. Sangat tinggi. Zolla harus mendongak sampai lehernya pegal hanya untuk melihat dagunya yang tercukur rapi. Pria itu hanya memakai kaos oblong putih tipis yang mencetak jelas otot dadanya, dan celana training hitam. Di lengannya yang berurat, ia menggendong seorang bayi mungil yang sedang asyik mengenyot jempol.

Dia adalah Arkeas InjitAsmo. Sang Maestro Parfum. Selebgram dengan pengikut yang kalau disuruh baris bisa menutupi seluruh pulau Jawa. Dan saat ini, matanya yang tajam menatap Zolla dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan... menghakimi.

"Kamu siapa? Kurir paket parfum?" suara Arkeas berat, serak khas orang bangun tidur, dan sangat expensive.

Zolla gelagapan. "E-eh... Anu, Mas... eh, Tuan... saya Zollana. Yang katanya mau lamar jadi asisten... eh, pembantu? Eh, maksud saya ART serabutan?"

Arkeas mengernyitkan dahi. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Zolla. Bukan untuk menciumnya, tapi untuk... mengendus?

"Bau kamu..." Arkeas bergumam.

Zolla mendadak kaku. Mampus, apa gue bau matahari karena jalan kaki dari depan komplek? batinnya panik.

"Bau sabun batang murah, parfum supermarket rasa stroberi yang terlalu manis, dan... sedikit bau keringat," lanjut Arkeas datar. "Hidung saya sensitif, Zollana. Kamu tahu saya siapa?"

"Tahu, Tuan. Mas Keas yang jualan parfum mahal itu, kan? Yang kalau satu botol dijual bisa buat beli motor second?"

Arkeas memutar bola matanya. "Mas? Jangan panggil saya Mas. Panggil Tuan Arkeas. Dan satu lagi, saya nggak butuh pembantu yang cuma bisa dandan ala kadarnya. Saya butuh orang yang teliti."

Baru saja Arkeas ingin menutup pintu—karena menurutnya Zolla terlalu "berantakan" untuk standar estetikanya—si kecil dalam gendongannya, Alisya, mendadak bereaksi. Bayi berusia lima bulan itu melepas jempolnya, matanya yang bulat menatap Zolla, lalu...

"Oeeekkk! Huaaaa!"

Alisya menangis kencang. Suaranya melengking membelah keheningan apartemen mewah itu. Arkeas panik. Si CEO pengusaha parfum yang biasanya tenang menghadapi komplain klien itu mendadak jadi pria linglung.

"Eh, sayang... Alisya, cup cup... Papa di sini. Jangan nangis, nanti rating ganteng Papa turun di mata followers," Arkeas mencoba menimang-nimang Alisya, tapi tangisannya malah makin kencang.

Zolla, yang dasarnya punya jiwa caregiver (dan sedikit lancang karena panik), refleks maju. "Sini, Tuan! Mungkin dia gerah atau mau digendong posisi lain."

"Jangan sentuh! Tangan kamu belum disinfek—"

Belum sempat Arkeas menyelesaikan kalimatnya, Zolla sudah mengambil alih Alisya. Ajaib. Begitu berpindah ke pelukan Zolla yang mungil, Alisya terdiam. Bayi itu malah menyusupkan hidungnya ke leher Zolla, menghirup aroma sabun murah yang tadi dihina Arkeas, lalu menguap lebar.

Arkeas melongo. "Dia... berhenti nangis?"

Zolla nyengir, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Tuh, kan. Anak kecil mah nggak butuh parfum mahal, Tuan. Butuhnya kenyamanan."

Arkeas terdiam. Ia menatap Zolla dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa tidak terima di hatinya—bagaimana bisa hidung anaknya lebih memilih bau sabun lima ribuan daripada parfum racikannya yang sebotol jutaan rupiah?

"Oke," Arkeas berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya. "Kamu boleh masuk. Kita coba satu hari. Tapi ingat, jangan sentuh barang-barang saya tanpa izin. Terutama koleksi botol parfum di lab saya. Satu botol pecah, kamu harus kerja rodi di sini seumur hidup."

Zolla mengangguk semangat. "Siap, Tuan Arkeas! Saya ini teliti banget kok, sumpah!"

BRAK!

Baru saja melangkah masuk, ujung sepatu Zolla tersangkut karpet bulu domba milik Arkeas. Ia tersandung, badannya terhuyung ke depan. Untungnya, ia berhasil menjaga Alisya tetap aman, tapi tangannya refleks meraih vas bunga di meja konsol untuk tumpuan.

PRANG!

Vas bunga kristal itu hancur berkeping-keping di lantai.

Hening.

Arkeas memijat pangkal hidungnya. "Zollana..."

"Maaf, Tuan! Itu... itu vasnya tadi kayaknya emang udah mau jatuh!" Zolla membela diri dengan wajah pucat.

"Itu vas dari dinasti entah-apa yang saya beli di lelang Paris, Zolla," Arkeas mendekat, bayangan tubuhnya yang besar menelan tubuh mungil Zolla. Ia menunduk, bibirnya tepat berada di dekat telinga Zolla, memberikan sensasi panas yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Baru satu menit kamu di sini, dan kamu sudah punya hutang satu setengah tahun gaji sama saya."

Zolla menelan ludah. "Boleh cicil pakai sistem paylater nggak, Tuan?"

Arkeas mendengus, tapi matanya tidak sengaja menatap leher Zolla yang putih bersih. Bau stroberi itu... entah kenapa, sekarang tidak terasa terlalu buruk di indra penciumannya yang perfeksionis.

"Masuk. Bersihkan itu. Dan jangan berani-berani pecahin hal lain, atau saya sendiri yang bakal 'memecahkan' kamu," ucap Arkeas dengan nada mengancam yang entah kenapa terdengar sedikit... seksi?

Zolla hanya bisa melongo, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Gila, ini duda kalau marah kok malah makin cakep sih? Tobat, Zol, tobat!

...

(Bersambung ke Episode 2...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!