Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah kepergian adinda rumah itu masih belum benar-benar tenang. suasana di dalamnya sudah terasa kacau.
Apalagi saat keduanya melangkah ke dapur. Luna berdiri dengan wajah tegang. Satu tangannya sibuk mengaduk masakan di atas wajan, sementara tangan satunya lagi sesekali berusaha menenangkan Axel yang terus menangis di dalam gendongannya.
Tangisan bayi itu tidak kunjung reda, justru semakin lama semakin keras, seolah ikut menambah keruwetan yang sedang ia rasakan.
"Mas… dia nangis terus," keluh Luna dengan suara lirih, berusaha tetap terdengar lembut di tengah kepanikannya sendiri.
Arya yang berdiri di ambang pintu dapur hanya bisa menatap dengan kebingungan yang jelas terlihat di wajahnya. Situasi seperti ini terasa asing baginya. Biasanya, di jam seperti ini, semua sudah tersedia dengan rapi tanpa harus ia pikirkan. Sarapan sudah tersaji, kopi sudah siap, bahkan suasana rumah pun terasa tenang. Namun kini, semua itu seperti hilang begitu saja.
"Sini aku gendong," ucap Arya akhirnya, mencoba mengambil alih Axel dari pelukan Luna.
Akan tetapi tangisan bayi itu tidak juga berhenti. Justru semakin menjadi, membuat Arya mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa sih ini?" gumamnya pelan dengan nada frustrasi.
Sementara itu, Luna yang kembali fokus ke masakannya tiba-tiba mencium aroma yang tidak sedap. Ia terkejut, lalu buru-buru mematikan kompor saat menyadari masakannya mulai gosong.
Napasnya terasa sesak, keringat mulai muncul di pelipisnya. Baru kali ini ia benar-benar merasakan, bahwa apa yang selama ini dilakukan Adinda bukanlah hal sederhana.
Di ruang makan, Sintia sudah duduk dengan wajah penuh ketidaksabaran. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, sementara Airin di sampingnya terlihat mulai bosan.
"Arya! Sudah belum makannya?" teriaknya dari ruang makan.
Tidak lama kemudian, Luna keluar dari dapur dengan langkah pelan, membawa dua piring seadanya. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, berharap tidak ada yang menyadari kegugupannya.
Namun harapan itu pupus seketika. Tatapan Sintia langsung tertuju pada makanan di hadapannya. Nasi yang tampak lembek, telur yang terlalu matang, dan sayur yang warnanya tidak lagi segar.
"Ini… masakannya?" tanya Sintia dengan nada yang sulit disembunyikan rasa kecewanya.
"Iya Bu… maaf kalau belum enak. Aku masih belajar," sahut Luna pelan.
Airin mencoba mencicipi sedikit, namun ekspresinya langsung berubah.
"Ini keasinan," ucapnya jujur tanpa pikir panjang.
Ucapan itu terasa seperti tamparan bagi Luna. Tangannya mengepal pelan, namun ia berusaha tetap menunduk, menahan perasaannya.
"Aduh Luna… kalau nggak bisa ya bilang. Jangan dipaksakan," ujar Sintia lagi, kali ini dengan nada yang lebih jelas menyiratkan ketidakpuasan.
Sementara itu, tangisan Axel kembali terdengar dari ruang tengah. Arya yang masih menggendongnya terlihat semakin kewalahan.
"Dia kenapa sih?" tanyanya dengan nada mulai meninggi.
"Mas… mungkin dia lapar," jawab Luna cepat, meski dalam hatinya ia sendiri tidak yakin.
"Lalu kenapa dari tadi nggak dikasih?" sahut Arya dengan nada yang mulai tidak sabar.
Luna terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sejak tadi ia sibuk di dapur, mencoba membuktikan bahwa ia bisa mengambil peran di rumah ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Sintia menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang semakin jelas. "Ya ampun… baru juga sehari sudah begini," gumamnya tanpa sadar.
Kalimat itu terdengar jelas oleh semua orang, termasuk Luna sendiri. Hatinya perlahan memanas, andai saja di ruangan ini tidak ada Arya, mungkin wanita itu akan sedikit memberi pelajaran pada dua orang anak dan ibu itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Bukan kebanggaan karena berhasil masuk ke dalam rumah ini, melainkan rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh.
"Rumah tangga itu bukan cuma soal niat, tapi tanggung jawab," lanjut Sintia. "Dulu Dinda nggak pernah begini."
Nama itu kembali disebut dan seketika suasana langsung berubah. Arya terdiam. Airin pun tidak lagi berbicara. Sementara Luna hanya bisa menundukkan wajahnya, menggigit bibirnya sendiri.
Perbandingan itu terasa begitu nyata. Dan menyakitkan.
"Kalau tahu begini, mending biarin Dinda saja yang urus semuanya," tambah Sintia tanpa sadar.
Luna langsung mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa… tidak diinginkan sepenuhnya.
"Bu… aku tadi berusaha—" ucapnya mencoba menjelaskan.
"Berusaha saja nggak cukup!" potong Sintia cepat.
Ucapan itu benar-benar memukulnya. Ia tidak menyangka, hari pertamanya di rumah ini justru berakhir seperti ini.
Sementara itu, Arya hanya diam. Tatapannya kosong, entah kenapa bayangan Dinda justru memenuhi pikirannya, wajahnya yang teduh, perkataannya yang selalu lembut, dan juga sikapnya yang selalu mengerti kondisi rumah ini.
"Sudah Bu, jangan seperti ini. Luna juga sudah berusaha," ucapnya agar tidak ada lagi cekcok antara ibunya dan juga istri barunya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore hari datang perlahan, menggantikan hiruk pikuk pagi yang penuh ketegangan. Di dalam ruang kerjanya, Adinda duduk dengan tenang. Jemarinya masih sibuk di atas keyboard, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sengaja ia tumpuk sejak tadi siang.
Wajahnya terlihat biasa saja, seolah tidak ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Padahal di dalam sana, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Jam kerja sudah usai, Adinda tidak langsung pulang. Ia justru mengarahkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Langkahnya tenang saat memasuki area mall, matanya menyapu beberapa etalase toko dengan tatapan datar.
Berhenti di salah satu butik, Adinda mulai memilih beberapa pakaian. Bukan sekadar membeli, tapi kali ini ia benar-benar memperhatikan setiap detailnya. Warna, model, bahkan potongan yang selama ini jarang ia pilih.
Beberapa potong baju masuk ke dalam tangannya. Disusul sepasang sepatu dengan hak yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Tidak ada senyum lebar. Namun ada kepuasan kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
Seolah… ia sedang mengembalikan sesuatu yang selama ini hilang dari dirinya dan setelah itu, langkahnya berlanjut menuju sebuah salon.
Adinda duduk di depan cermin bukan untuk sekadar merapikan diri sebelum berangkat kerja, melainkan benar-benar memperhatikan pantulan wajahnya sendiri.
Wajah yang selama ini ia abaikan karena terlalu sibuk mengurus orang lain. Dan sore itu, ia memilih untuk mengurus dirinya sendiri.
Beberapa jam berlalu. Saat keluar dari salon, penampilannya terlihat lebih segar. Lebih rapi. Lebih… hidup.
Namun yang paling berbeda bukanlah itu, melainkan sorot matanya yang jauh lebih tenang dan tajam. Seolah ia telah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Setelah selesai melakukan perawatan di salon wanita itu perlahan melangkah keluar dengan langkah yang tegak dan sedikit senyuman, tapi di tengah-tengah langkah itu tanpa ia sadari seorang anak tiba-tiba menabrak tubuhnya.
Bruk ...
Adinda terkejut, terlebih lagi anak itu langsung menangis kesakitan seolah dialah pelakunya.
"Anak cantik mana yang sakit?" tanya Adinda.
Bukannya terdiam justru anak itu tambah menangis kencang. "Sakit..."
Adinda terlihat panik berusaha untuk membujuk bocah berusia lima tahun itu, dengan sekuat tenaga. Akan tetapi usahanya itu terlihat sia-sia saat seorang pria dengan angkuhnya langsung memarahinya.
"Kau apakan anakku itu!" bentaknya dengan suara yang menggelegar.
Bersambung ....