Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: CEO Tembus Pandang
Perjalanan dari kos Luna ke minimarket tempatnya bekerja biasanya memakan waktu sekitar lima belas menit berjalan kaki. Pagi ini, bagi Luna, perjalanan itu terasa jauh lebih ringan.
Meskipun lalu lintas Jakarta sudah mulai macet merayap, dan asap knalpot metro mini menyembur hitam di jalanan, Luna bisa berjalan dengan kepala tegak. Tidak ada lagi berjalan menunduk, tidak ada lagi membaca doa penangkal di dalam hati.
Rahasia terbesarnya ada pada sosok transparan yang berjalan menggerutu di sampingnya. Pendar biru aura Nando bertindak layaknya perisai tak terlihat. Setiap kali Luna dan Nando melewati tempat-tempat yang biasanya menjadi sarang makhluk halus—seperti di bawah pohon beringin tua di pojok perempatan, atau di halte bus tempat hantu anak kecil tanpa mata biasanya memakan daging mentah—tempat-tempat itu kini kosong melompong. Makhluk-makhluk astral itu seakan tersapu bersih, menjauh dari radius beberapa meter di sekitar Nando.
Luna merasa seperti memiliki bodyguard gaib anti-hantu. Dan jujur saja, itu sangat luar biasa.
"Panas sekali," keluh Nando sambil berusaha menutupi kepalanya dengan tangannya sendiri, sebuah tindakan sia-sia karena sinar matahari menembus lurus melalui telapak tangannya. "Apakah pemerintah kota tidak berniat menanam pohon peneduh yang layak di trotoar ini? Tata kota yang sangat buruk. Pantas saja tingkat stres warganya tinggi."
"Hantu tidak bisa merasa kepanasan, Nando," balas Luna berbisik pelan, memastikan tidak ada orang lewat yang melihatnya berbicara sendiri. Ia masih memakai masker hitam andalannya. "Itu hanya ingatan otot dari otak manusiamu. Abaikan saja."
"Tetap saja terasa tidak nyaman," gerutunya.
Sesampainya di minimarket, suasana masih cukup sepi. Luna mendorong pintu kaca dan disambut oleh denting bel elektronik serta hembusan dingin pendingin ruangan. Kala sudah berada di balik meja kasir, sedang asyik menata rokok di rak pajangan.
"Pagi, Lun!" sapa Kala riang, berbalik dan tersenyum lebar. Matanya sedikit memicing saat menatap wajah sahabatnya. "Tumben kamu terlihat fresh banget pagi ini? Maskermu bahkan belum kamu naikkan penuh. Semalam tidur nyenyak? Atau... ada cowok ganteng yang masuk ke mimpimu?" goda Kala sambil menaik-turunkan alisnya.
Luna tersenyum simpul, melirik sekilas ke arah Nando yang baru saja berjalan menembus pintu kaca otomatis tanpa menunggu pintunya terbuka. Jika saja Kala tahu bahwa memang ada 'cowok ganteng' di sampingnya, sayangnya pria itu berstatus koma dan sangat arogan.
"Hanya tidur nyenyak, Kal. Sangat nyenyak," jawab Luna jujur. Ia berjalan menuju ruang ganti pegawai di belakang untuk menaruh tas dan memakai celemeknya. Nando mengikutinya tanpa ragu.
"Hei! Kau tidak boleh masuk ke sini! Ini ruang ganti perempuan!" desis Luna tertahan saat ia menutup pintu ruang belakang.
Nando mendengus, membalikkan badannya menghadap tembok yang penuh tempelan poster diskon. "Percayalah, Nona, aku tidak tertarik mengintip karyawan dengan seragam polo kedodoran. Aku sudah sering melihat model internasional dengan pakaian jauh lebih minim dari itu."
Luna melemparkan tatapan kesal, buru-buru memakai celemeknya, lalu kembali ke area toko.
Selama dua jam pertama, Luna sibuk mengepel lantai dan menata barang di rak yang kosong. Sif berjalan normal, sangat normal. Hingga Nando mulai merasa bosan dan insting bisnisnya mengambil alih. Pria itu mulai berjalan mondar-mandir di antara lorong-lorong minimarket, mengamati planogram penempatan barang dengan tatapan kritis.
"Ini salah kaprah," gumam Nando keras-keras, berdiri di depan rak camilan sambil menunjuk-nunjuk sebungkus keripik kentang. "Siapa manajer toko ini? Mengapa mereka meletakkan barang-barang impulsif dengan margin tinggi di lorong belakang? Seharusnya ini diletakkan dekat meja kasir! Consumer psychology dasar menyatakan bahwa pelanggan lebih mudah mengeluarkan uang ekstra saat mereka sedang menunggu antrean!"
Luna, yang sedang menyusun botol sampo di lorong sebelah, mencoba mengabaikannya.
"Dan lihat rak kosmetik ini," lanjut Nando, kini melayang menuju rak skincare dan tata rias. Ia menggelengkan kepala melihat tatanan produk di sana. "Lighting-nya sangat buruk. Produk perawatan wajah butuh cahaya cool white agar kemasannya terlihat bersih dan meyakinkan. Ini memakai lampu warm white yang redup, membuat kemasan terlihat kusam dan kedaluwarsa. Luna, beritahu temanmu di kasir itu untuk menggeser display sabun wajah ini setidaknya lima belas sentimeter ke kanan agar simetris."
Luna tidak tahan lagi. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada pelanggan di lorong itu, lalu berdesis tajam, "Nando, tutup mulutmu. Aku dibayar untuk menata barang sesuai panduan komputer, bukan untuk mendengarkan kuliah manajemen ritel darimu. Kau membuatku pusing!"
"Aku hanya mencoba menyelamatkan toko ini dari kebangkrutan yang tak terelakkan akibat inkompetensi—"
"Lun?"
Sebuah suara membuat Luna tersentak. Kala tiba-tiba muncul di ujung lorong, membawa keranjang berisi barang-barang retur. Kala menatap Luna dengan alis berkerut bingung.
"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Kala, matanya menyapu lorong yang kosong melompong. Kala tahu soal kemampuan Luna, jadi pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi. Nada suaranya sedikit khawatir. "Ada... 'mereka' di sini?"
Jantung Luna berdegup kencang. Ia melirik Nando yang berdiri tegap tepat di samping Kala, membalas tatapan Luna dengan raut wajah menantang.
"Bukan apa-apa, Kal," dusta Luna cepat, memaksakan tawa kecil yang terdengar canggung. "Hanya... menghafal letak barang. Kadang aku suka ngomong sendiri biar gampang ingat. Sabun muka di rak ketiga, sampo di rak kedua..."
Kala menatap sahabatnya curiga, tetapi ia akhirnya mengedikkan bahu. "Ya sudah. Nanti kalau ada yang 'aneh-aneh', langsung bilang aku ya. Aku siap sedia ambil sapu ijuk buat mukul apa pun yang ganggu kamu."
"Terima kasih, Kal," ucap Luna tulus.
Saat Kala berbalik menuju meja kasir, hawa dingin tiba-tiba berhembus memasuki minimarket melalui pintu depan yang terbuka karena ada pelanggan masuk. Bukan hawa dingin AC, melainkan suhu yang anjlok drastis ke titik beku. Bau anyir darah segar menyengat penciuman Luna.
Napas Luna tertahan. Di ambang pintu minimarket, berdiri sesosok arwah korban kecelakaan lalu lintas. Kepala bagian kirinya hancur, darah hitam mengalir deras dari telinga dan hidungnya, menetes ke lantai. Tubuhnya bengkak kebiruan, mengenakan jaket ojek online yang robek parah. Mata tunggalnya yang tersisa menatap lurus ke arah kasir tempat Kala berada. Hantu itu merintih, suara erangan kesakitan yang menyayat hati, dan mulai melangkah masuk menyeret kakinya yang patah.
Luna membeku. Ia harus meneriaki Kala, ia harus melindungi sahabatnya.
Tetapi sebelum Luna sempat bereaksi, Nando yang sedang asyik memprotes penempatan galon air minum, secara tidak sengaja berjalan melintasi bagian depan toko menuju meja kasir untuk melihat komputer point of sale yang sedang digunakan Kala. Nando tidak melihat arwah kecelakaan itu. Ia hanya berjalan maju dengan sikap angkuh khas seorang CEO yang sedang menginspeksi bawahannya.
Saat tubuh transparan Nando yang berpendar biru itu mendekati radius arwah korban kecelakaan tersebut, sebuah fenomena luar biasa terjadi.
Arwah berdarah itu tiba-tiba berhenti merintih. Mata tunggalnya terbelalak ngeri melihat Nando mendekat. Hantu mengerikan yang seharusnya membawa teror itu justru tampak ketakutan setengah mati. Tubuh arwah itu bergetar hebat, dan detik berikutnya, dengan gerakan panik seolah melihat malaikat maut itu sendiri, arwah tersebut berbalik dan melesat keluar dari minimarket, menembus kaca hingga lenyap seketika ke jalanan yang ramai. Bau anyir darah lenyap dalam sekejap mata.
Nando berhenti berjalan, berbalik menatap Luna dengan alis terangkat, heran melihat Luna yang berdiri kaku dengan mulut setengah terbuka.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Nando santai, memasukkan tangannya ke saku celana. "Apakah kau baru menyadari bahwa metode rotasi stok FIFO (First In, First Out) di rak mi instanmu itu berantakan?"
Luna menelan ludah kasar. Ia menatap Nando lamat-lamat. Pria ini, roh yang sedang koma, angkuh, menyebalkan, dan cerewet soal letak sabun cuci muka ini... benar-benar adalah anomali terkuat di dunia astral yang pernah Luna temui. Dia adalah pembersih energi tingkat tinggi yang tidak menyadari kekuatannya sendiri.
Luna menarik napas panjang, sebuah tekad baru bulat di hatinya.
"Jam tiga sore," ucap Luna mantap, matanya memancarkan keseriusan yang membuat Nando terdiam. "Jam tiga sore teng. Kita pergi ke Rumah Sakit Medika Utama. Aku akan membantumu mencari tubuhmu, Nando. Aku berjanji."
Nando sedikit tertegun mendengar nada serius Luna, namun senyum tipis—senyum tulus pertama yang ia tunjukkan hari ini—akhirnya menghiasi wajah tampannya.
"Sepakat," jawab Nando.
Petualangan melintasi dua dimensi, antara hiruk-pikuk manusia dan konspirasi dalam diam, baru saja akan dimulai. Mereka tidak tahu bahwa rumah sakit yang akan mereka tuju menyimpan lebih dari sekadar raga yang terlelap, melainkan rahasia kelam yang akan menghubungkan masa lalu Luna dengan tragedi Nando.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣