"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Kau cemburu?
Pagi di London datang dengan cahaya keemasan yang menyusup malu-malu dari balik tirai tipis kamar kecil di atas toko kue milik Valeria. Udara masih dingin, khas kota itu. Dari jendela, terlihat deretan bangunan bata tua dan jalanan berbatu yang mulai ramai oleh langkah kaki pekerja kantoran.
Valeria merapikan perban terakhir di perut Rodrigo dengan hati-hati. Aroma antiseptik bercampur samar dengan wangi vanila dari dapur di bawah.
“Selesai!” ujarnya pelan.
Rodrigo mendesis lirih ketika kain kasa baru menempel pada kulitnya. Luka itu memang membaik, tapi masih jelas belum sepenuhnya kering. Ia terlalu keras kepala untuk beristirahat.
“Kau membuka tokomu telat lagi?” tanyanya, suara beratnya terdengar lebih santai dibandingkan hari sebelumnya.
Valeria tersenyum tipis. “Tidak masalah. Ini belum telat, ini masih pagi.”
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal pria itu, Rodrigo tidak membalas dengan sindiran. Ia hanya menatap.
Menatap lama. Sorot matanya tidak lagi sekadar dingin atau penuh kewaspadaan. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dada Valeria terasa tidak nyaman.
“Ada apa kau menatapku seperti itu?” tanya Valeria, mencoba terdengar biasa.
“Kau cantik. Tetap sama.”
Waktu seperti berhenti sesaat. Valeria membulatkan mata. Pipinya memanas. Ia menelan ludah susah payah, lalu buru-buru berdiri, membawa baki kecil berisi perban bekas.
“Jangan berkata sembarangan,” gumamnya.
Rodrigo terkekeh pelan. “Aku tidak pernah sembarangan tentangmu.”
Valeria berhenti di ambang pintu.
“Apa maksudmu?”
Rodrigo bangkit perlahan dari sofa, menahan nyeri yang masih menusuk perutnya. Ia melangkah mendekat, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.
“Maksudku sejak dulu kau selalu seperti ini. Terlihat lembut, tapi keras kepala. Terlihat rapuh, tapi berani.”
“Itu hanya karena kau selalu mencari masalah,” balas Valeria cepat.
Rodrigo menggeleng. “Aku mencari alasan.”
“Alasan untuk apa?”
“Untuk tetap di dekatmu.”
Hening. Di luar, suara mobil melintas dan lonceng sepeda terdengar samar.
Valeria menghela napas. “Rodrigo, kita sudah melewati itu semua."
“Kau yang pergi!” potongnya tajam.
Valeria terdiam. Tidak bisa menjawab.
Rodrigo menatapnya lebih dalam. “Kau tahu, selama kau pergi meninggalkanku tidak sehari pun aku berhenti memikirkanmu.”
Valeria tertawa kecil, tapi tawanya hambar. “Kau punya cara aneh menunjukkan itu. Datang dengan luka, berkelahi di depan tokoku, dan memaksakan diri berjalan hanya untuk terlihat seperti pahlawan.”
“Aku tidak peduli terlihat seperti apa,” katanya tegas. “Aku hanya tidak ingin ada pria lain menyentuhmu.”
“Itu bukan hakmu lagi.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menusuk.
Rodrigo mengepalkan tangan. “Mungkin bukan. Tapi perasaanku belum berubah.”
Valeria menggeleng pelan. “Perasaan saja tidak cukup.”
“Apa yang kau butuhkan?” tanyanya cepat. “Bukti?”
“Kau bahkan tidak bisa menjaga dirimu sendiri,” potong Valeria, menunjuk perutnya yang diperban. “Lihat dirimu, Rodrigo. Kau selalu hidup dalam kekacauan. Aku tidak ingin toko kecilku ikut terseret.”
Rodrigo mendekat satu langkah lagi. “Aku bisa berubah.”
“Kau selalu berkata begitu.”
“Karena kali ini aku serius.”
Tatapan mereka saling bertaut. Ada masa lalu yang belum selesai di sana. Ada luka yang tidak terlihat.
“Kenapa?” tanya Valeria akhirnya, suaranya hampir berbisik. “Kenapa kau begitu terobsesi?”
Rodrigo terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Karena kau satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah.”
Kalimat itu membuat dada Valeria sesak. Namun ia memaksa dirinya berpaling.
“Aku harus membuka toko.”
Ia melangkah turun tangga kayu sempit yang mengarah langsung ke ruang depan toko. Rodrigo berdiri di atas, memperhatikannya pergi.
Tangga itu berderit pelan setiap kali diinjak. Begitu sampai di bawah, Valeria langsung membuka tirai jendela besar yang menghadap jalan. Cahaya pagi membanjiri ruangan, memperlihatkan etalase penuh macaron warna-warni, croissant hangat, dan tart buah yang baru selesai dihias.
Ia membuka pintu kaca. Lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan mantel panjang biru tua masuk, membawa aroma udara dingin dari luar.
“Selamat pagi sayang” sapanya ramah.
“Selamat pagi,” jawab Valeria dengan senyum profesionalnya.
“Aku ingin dua croissant dan sekotak kecil macaron. Yang rasa pistachio dan raspberry, ya.”
“Tentu.”
Valeria bergerak lincah di balik meja, mengambil kue dengan penjepit perak. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berusaha terlihat tenang.
Dari atas tangga, Rodrigo memperhatikan semuanya.
Cara Valeria berbicara lembut pada pelanggan. Cara ia tersenyum tulus. Cara ia membungkuk kecil saat menyerahkan kotak kue.
Itu dunianya.
Dunia yang bersih. Hangat. Penuh gula dan mentega, bukan darah dan amarah. Dan Rodrigo tahu, jika ia ingin tetap berada di dekatnya ia harus belajar menjadi bagian dari dunia itu. Bukan menghancurkannya.
Saat pelanggan itu keluar dan lonceng berdenting lagi, Rodrigo perlahan menuruni tangga.
Valeria mendongak ketika melihatnya.
“Kau seharusnya beristirahat!"
Rodrigo berdiri di seberang meja kasir, menatapnya dengan tekad yang berbeda dari sebelumnya.
“Aku akan membantumu.”
Valeria mengernyit. “Membantu apa?”
“Apa saja. Membersihkan meja. Mengantar pesanan. Menjaga pintu agar tidak ada pria aneh mendekat.”
Valeria hampir tertawa. “Kau tidak cocok di sini.”
Rodrigo menyandarkan tangan di meja kayu. “Kalau begitu, ajari aku.”
Tatapan mereka kembali bertemu. Di luar, kota semakin ramai. Tapi di dalam toko kecil itu, sesuatu yang lama terkubur mulai bangkit perlahan.
Dan obsesi Rodrigo belum selesai.
Aroma mentega hangat dan kopi yang baru digiling memenuhi udara toko kecil itu. Jam dinding antik di atas rak menunjukkan pukul delapan lewat lima belas.
Suara bus merah dua tingkat melintas, langkah kaki tergesa para pekerja, dan obrolan pagi yang samar dari luar jendela.
Rodrigo berdiri kikuk di balik meja kasir.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya, nadanya tidak lagi setajam biasanya.
Valeria melipat tangan di dada. “Pertama, jangan berdiri seperti pengawal klub malam. Ini toko kue, bukan arena tinju.”
Rodrigo mengangkat satu alis. “Aku hanya memastikan tempat ini aman.”
“Aman dari siapa?”
“Dari siapa pun yang berpikir bisa mendekatimu.”
Valeria menghela napas panjang. “Rodrigo!”
Lonceng pintu kembali berdenting. Seorang pria muda berjas rapi masuk, membawa tas kerja kulit.
“Pagi! Seperti biasa, Kak Valeria. Black coffee dan almond croissant.”
Valeria langsung tersenyum hangat. “Tentu, Tuan Harris.”
Rodrigo memperhatikan setiap detail. Cara pria itu tersenyum terlalu lama. Cara matanya menatap Valeria lebih dari sekadar pelanggan biasa.
Si pria melirik Rodrigo. “Karyawan baru?”
“Sesuatu seperti itu,” jawab Rodrigo datar.
Valeria cepat-cepat menyela. “Dia hanya membantu sementara.”
Rodrigo menatapnya sekilas. Hanya sementara?
Tuan Harris tertawa kecil. “Kalau begitu, Anda beruntung bisa bekerja dengan pemilik toko paling manis di tempat ini.”
Rodrigo mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
Valeria pura-pura tidak mendengar nada yang mulai menegang. Ia menyerahkan kopi dan croissant, menerima pembayaran, lalu mengucapkan terima kasih.
Begitu pintu tertutup kembali, Rodrigo bersuara pelan tapi penuh tekanan, “Kau mengenalnya cukup dekat.”
“Dia pelanggan tetap.”
“Dia menyukaimu.”
“Itu bukan urusanku.”
“Seharusnya itu jadi urusanku.”
Valeria menatapnya tajam. “Tidak. Itu bukan lagi urusanmu.”
Hening sejenak. Rodrigo berjalan mendekat, merendahkan suara. “Aku tidak suka cara dia menatapmu.”
“Kau tidak bisa mengatur siapa yang menatapku dan bagaimana caranya.”
“Aku bisa mencoba.”
“Rodrigo!”
Nada suaranya akhirnya meninggi. Dua pelanggan yang baru masuk melirik sebentar sebelum kembali melihat etalase.
Valeria merendahkan suara, berusaha tetap profesional. “Ini tempat usahaku. Jika kau ingin tinggal di sini, kau harus menghormatinya. Tidak ada adegan cemburu. Tidak ada ancaman terselubung.”
Rodrigo menatapnya lama. Luka di perutnya mulai berdenyut, tapi ia mengabaikannya.
“Jadi aku harus diam saja melihat pria lain mendekatimu?”
“Kau harus belajar percaya.”
“Aku tidak pandai dalam hal itu.”
“Aku tahu.”
Nada Valeria melunak sedikit. Ia berjalan ke arah meja kecil dekat jendela, mulai menyusun ulang piring-piring keramik. Rodrigo mengikutinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aku memang terobsesi,” katanya pelan.
Valeria berhenti bergerak. “Aku tahu.”
“Tapi bukan karena aku ingin menguasaimu,” lanjutnya. “Aku hanya takut kehilanganmu lagi.”
Valeria menoleh perlahan. “Kau terlalu berlebihan!”
“Aku tidak pernah benar-benar melepaskanmu.”
“Itulah masalahnya.”
Rodrigo terdiam. Di luar, awan kelabu mulai bergerak, membuat cahaya pagi sedikit meredup. Kota London sering berubah suasana secepat perasaan manusia.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Valeria lirih.
Rodrigo menatapnya tanpa ragu. “Kesempatan.”
“Kesempatan untuk apa?”
“Untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu. Bukan pria yang selalu membawa masalah ke depan pintumu.”
Valeria menatapnya lama, mencoba membaca ketulusan di balik mata gelap itu.
Lonceng kembali berbunyi. Kali ini tiga siswi berseragam masuk, tertawa kecil sambil menunjuk cupcake warna pastel.
Valeria segera kembali bekerja, melayani dengan sabar. Rodrigo berdiri di belakangnya, memperhatikan. Salah satu siswi berbisik pelan pada temannya, cukup keras untuk terdengar, “Dia tampan sekali.”
Rodrigo menyadarinya dan hampir tersenyum.
Valeria menyikutnya pelan tanpa melihat. “Jangan besar kepala.”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Itu justru masalahnya. Kau hanya berdiri dan sudah membuat orang menatapmu”
Rodrigo mendekat sedikit, suaranya rendah. “Kau cemburu?”
Valeria menatapnya cepat. “Jangan mulai.”
Untuk sesaat, ketegangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih ringan. Hampir seperti dulu.
Setelah para siswi itu pergi, toko kembali sedikit sepi.
Rodrigo bersandar di dinding dekat dapur kecil.
“Aku akan tinggal,” katanya tiba-tiba.
Valeria membeku. “Tinggal di mana?”
“Di sini. Di dekatmu.”
“Rodrigo!”
“Aku akan mencari tempat sendiri. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi aku tidak akan pergi lagi.”
Nada suaranya bukan ancaman. Bukan pula paksaan.
Itu keputusan.
Valeria merasakan campuran emosi yang sulit dijelaskan. Takut. Marah. Dan secercah harapan yang tidak ingin ia akui.
“Kau membuat semuanya rumit,” gumamnya.
Rodrigo melangkah mendekat, tapi kali ini menjaga jarak. “Aku memang selalu rumit. Tapi untukmu, aku ingin belajar sederhana.”
Valeria menatapnya, jantungnya berdebar tak teratur. Di luar, gerimis tipis mulai turun membasahi jalanan. Tetes air mengalir di kaca jendela toko, memantulkan bayangan mereka berdua berdiri berhadapan.
Obsesi itu belum padam. Namun untuk pertama kalinya, Rodrigo tidak ingin memilikinya dengan paksa.
Ia ingin memperjuangkannya.Dan Valeria tahu, jika ia membuka sedikit saja pintu hatinya hidupnya tidak akan pernah tenang lagi.