NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Calon Istri

Sore itu Felly, seorang crafter yang cukup terkenal. Yang juga mantan kekasih Elbara. Sengaja menunggu di depan kantor Elbara, setelah mengisi seminar wirausaha di lokasi yang sama. Tidak dapat akses masuk ke kantor maupun ke rumah Elbara, tak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan Elbara. Seperti kali ini, dia berhasil mengikuti mobil Elbara tanpa halangan yang berarti.

"Dia ke toko bunga? Tapi..., bunga yang dibawa Niko itu bukan bunga yang biasa dibawa ke makam kakak-kakaknya atau papanya." gumam Felly.

Elbara memang selalu membeli bunga di toko yang sama. Selain untuk dirinya, Elbara biasa membeli bunga untuk dibawa ke makam keluarganya. Felly pun terkadang menemaninya. Jadi wajar saja Felly berpikir demikian. Namun jalan yang dilewati setelahnya, bukanlah jalan menuju lokasi pemakaman.

"Mau kemana...?"

Lalu sampailah mereka di apartemen. Elbara masuk seorang diri, sedangkan Niko menunggu di luar. Felly tidak sadar, kalau sebenarnya Elbara sengaja mengatur semuanya. Niko pun berjalan santai ke arah persembunyian Felly. Setelah Elbara tak terlihat lagi.

"Nona Felly!!" panggilnya.

Felly yang hendak menghindar, lantas menghentikan langkahnya.

"Nona pantang menyerah ya. Padahal apapun yang nona lakukan, tuan Bara tidak akan mau bertemu dengan nona. Dan nona pastinya tahu itu." ujar Niko tanpa basa-basi. Dan terkesan menyindir Felly.

"Tidak usah sok tahu!" balas Felly tanpa melihat lawan bicaranya.

"Nona, sebaiknya berhenti saja. Sejak nona mau memanfaatkan kekurangan tuan, nona sudah sepenuhnya dibuang sama tuan Bara. Dan..., sepertinya itu sudah berlangsung cukup lama ya..." Niko mengusap dagu polosnya seolah sedang mengingat sesuatu.

"Tutup mulutmu!!" bentak Felly. "Kamu hanya seorang asisten. Tidak usah belagu!!" hardiknya lagi.

"Setidaknya, asisten ini nilainya lebih berharga bagi tuan Bara. Dibandingkan dengan nona. Benarkan...?!!" ujar Niko sambil berkacak pinggang.

"Minggir...!!" Felly mendorong Niko. "Aku mau ketemu Elbara!"

"Oh..., silahkan." balas Niko.

Kali ini Niko tidak menghalanginya seperti biasa. Dia justru memberi jalan pada Felly. Sambil tersenyum-senyum sendiri di belakang Felly.

___

Sebelumnya di dalam sana. Yumna dibuat terkejut ketika Elbara datang ke kamar dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Saat itu Yumna sedang berbaring di kasur, setelah bi Nuri mengoles salep pada luka memar di tubuh Yumna.

"Bagaimana, sudah enakan?" tanya Elbara.

"Sudah mendingan, pak Bara. Terimakasih." jawab Yumna.

Yumna hendak bangun dari tidurnya. Karena dia merasa tak enak, berhadapan dengan Elbara dengan posisi seperti itu.

"Tidak perlu dipaksakan. Rebahan saja kalau memang itu lebih nyaman." ujar Elbara.

Yumna tetap bangun dari tidurnya, kini dia duduk di sisi kasur, berhadapan dengan Elbara. Lalu Elbara memberikan bunga mawar itu pada Yumna.

"Biar tidak bosan dengan suasana di sini." katanya.

Elbara memberi jeda sejenak, dia sedang memikirkan kata-kata yang pantas untuk diucapkan. Tanpa membuat Yumna salah sangka atau tersinggung.

"Bunga ini..., mungkin bisa sedikit memberi warna. Di dalam kamar ini." katanya kemudian.

"Terimakasih." balas Yumna.

"Pak Bara..." kata Yumna kemudian. "Terimakasih atas bantuan pak Bara. Saya akan bayar sewanya, sampai saya menemukan tempat tinggal yang baru." tutur Yumna.

"Tidak perlu. Ini bagian dari fasilitas yang bisa kamu peroleh, karena mengajar Aluna." balas Elbara.

"Ah...?!" Yumna tertegun mendengar jawaban Elbara.

"Memang ada yang begitu?" tanya Yumna. "Ini terlalu mewah, pak Bara. Kalau memang tempat tinggal adalah bagian dari fasilitas pekerjaan saya. Saya bisa tinggal di rumah belakang bersama suster Vivi dan yang lain." tutur Yumna.

Tok... Tok...

Yumna dan Elbara menoleh. Bi Nuri mengetuk pintu yang sejak tadi dibiarkan terbuka.

"Maaf, tuan. Pak Niko datang bersama seseorang yang ingin bertemu dengan tuan." ujar bi Nuri melapor.

Elbara hanya mengangguk. Dia sudah tahu siapa yang datang. Karena memang semua sudah dia rencanakan.

"Nanti kita bicara lagi. Saya keluar dulu." pamitnya pada Yumna.

"Em." Yumna mengangguk.

___

"EL...?!!"

Felly langsung berdiri saat melihat kedatangan Elbara.

"Mau apalagi?" tanya Elbara. "Cepat katakan!!"

"EL, aku..."

"Diam di sana!" perintah Elbara saat Felly hendak mendekatinya.

"EL..., sampai kapan kamu giniin aku...?" Felly bertanya dengan nada manjanya.

"Sampai saya mati." celetuk Elbara.

"EL, kamu..." Felly terkejut dengan jawaban itu.

"Sekali lagi saya ingatkan. Kita sudah selesai sejak kamu mau memafaatkan kelumpuhan saya untuk pencitraan." ujar Elbara menegaskan.

"EL. Semua sudah berlalu, lagi pula aku tidak jadi melakukan itu kan...? Jadi salahnya dimana? Kenapa kamu tidak bisa menerimaku kembali?" bantah Felly.

"Salahnya dimana?!" sahut Elbara, lalu dia menampakkan seringainya. "Kamu. Salahnya ada pada dirimu sendiri!" katanya.

"Sampai kapanpun, kamu tetap akan memakai berjuta cara untuk meraih popularitas itu. Dan itu membuat saya muak!!" imbuhnya.

"EL..., kenapa kamu bicara seperti itu padaku?" balas Felly.

"Niko, bawa dia pergi! Yumna butuh istirahat!" titah Elbara pada Niko.

"Yumna?" gumam Felly. "Siapa Yumna?" tanya Felly dengan sorot mata tajam pada Elbara.

"Sudah, nona. Ayo pergi!" Niko menarik tangan Felly.

"Tidak!!" Felly menghempaskan tangannya hingga genggaman Niko terlepas.

"Katakan siapa dia?!!" tanya Felly lagi pada Elbara.

"Orang spesial yang tak pantas kamu tanyakan." jawab Elbara.

"Omong kosong...!!" gumamnya.

Felly dengan tekatnya yang bulat, beranjak dari tempatnya. Dia ingin memeriksa setiap kamar yang ada.

Sementara itu, di dalam kamar. Yumna dan bi Nuri mendengar semuanya dengan sejelas-jelasnya. Dan tak lama kemudian, mereka dikejutkan dengan kedatangan Felly.

"Felly Ariana..." gumam Yumna.

Yumna tahu siapa Felly. Felly Ariana adalah salah satu panutannya. Tangan kreatif Felly berhasil membuatnya dikenal banyak orang. Kesuksesannya di usia muda, berkat karya yang dia hasilkannya. Membuat Felly sering diundang sebagai motivator. Dan Yumna sering hadir dalam acara-acara yang menampilkan sosok Felly di sana.

"Siapa dia, EL...?!!" tanya Felly pada Elbara dengan nafas yang tak lagi beraturan.

"Calon istri saya." sahut Elbara.

Elbara sudah berada di samping Felly, tapi hanya sejenak. Lalu dia mendekati Yumna.

"Istri...?!" gumam Yumna dalam hati.

"Bohong..., tidak mungkin..." gumam Felly sambil menggeleng pelan.

"Nona, sebaiknya nona pergi sekarang. Jangan buat keributan di sini." Niko kembali menyeret Felly.

"Kalian pasti hanya kerjasama untuk mengusirku." katanya. "Dengar EL, aku tahu, sampai mati kamu hanya bisa mencintaiku. Tidak akan semudah itu kamu jatuh cinta sama perempuan lain." tutur Felly lagi.

"Kamu tidak akan bisa jauh dariku...!!" teriaknya saat Niko menyeretnya keluar.

___

Semua yang ada di dalam kamar itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Untuk sejenak suasana menjadi sunyi. Sampai Elbara buka suara.

"Bibi, bisa tinggalkan kami sebentar?"

Bi Nuri menoleh pada Yumna. Yumna mengangguk pelan. Kemudian bi Nuri keluar dari kamar itu.

"Maaf, waktu istirahat kamu jadi terganggu." kata Elbara.

Yumna hanya diam. Belum ingin mengatakan apapun pada Elbara.

"Soal calon istri. Kamu bersedia menikah dengan saya?" tanya Elbara. Sangat frontal.

Yumna akhirnya mengangkat kepalanya, lalu menatap sosok pria di hadapannya.

"Pak Bara mau menikahi saya, untuk menyelesaikan masalah dengan Felly?"

Kalimat yang terucap dari bibir Yumna, cukup mengejutkan Elbara. Elbara tak menyangka Yumna akan langsung menanyakannya.

"Memangnya pak Bara yakin, dengan menikahi saya Felly bisa berhenti mengejar pak Bara?"

Menurut Elbara, Yumna sudah sangat berani mengutarakan isi pikirannya. Tidak gugup, ataupun merasa sungkan sedikitpun. Dia pun tidak perlu berpura-pura lagi.

"Dia sangat peduli dengan reputasinya. Dia tidak mungkin menjadikan dirinya sebagai orang ketiga dalam suatu hubungan." balas Elbara menjelaskan.

"Kenapa saya? Pak Bara pasti sudah tahu siapa saya. Tidak seharusnya pak Bara menjadikan saya partner dalam persoalan ini." sahut Yumna. Tak ada ekspresi apapun.

"Karena hanya kamu yang bisa diterima oleh Aluna." begitulah jawaban Elbara.

Elbara sengaja membawa nama Aluna, untuk memperlancar tujuannya. Dia sudah sangat lelah menghadapi Felly. Jadi dia hanya ingin segera menikah. Dia yakin sekali, Felly tidak akan rela dicap sebagai pelakor.

"Yumna..., begini amat jalan hidup kamu. Sudah asal usul tidak jelas. Tidak memiliki siapapun. Menikahpun harus seperti ini. Dengan orang asing. Tanpa cinta. Hanya untuk mengusir seseorang. Hidup kamu benar-benar tak ada nilainya."

"Saya akan memberikan kehidupan yang baik untukmu. Dan juga bi Nuri. Selama kamu menjadi istri saya." kata Elbara lagi.

"Selama jadi istri..., jadi setelah tujuan selesai, semuanya berakhir. Tidak ada bedanya dengan nikah kontrak." batin Yumna lagi.

"Saya tunggu jawaban kamu." ujar Elbara.

Elbara kemudian meninggalkan Yumna. Saat itu air mata Yumna tiba-tiba menetes. Tapi dia buru-buru menghapusnya, karena mendengar langkah kaki mendekatinya.

"Nona..., apa yang tuan katakan?" tanya bi Nuri sambil meraih tangan Yumna.

Yumna tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya pada bunga yang masih tergeletak di atas bantalnya.

"Pak Bara minta aku jadi istrinya." ujar Yumna.

"Tuan Bara?!!" seru bibi. "Apa dia serius?"

Bi Nuri merasa kasihan pada nonanya. Sekalipun dia tahu Elbara adalah orang yang hebat. Dan hidup Yumna akan terjamin kedepannya .Tapi dengan kondisinya yang tidak bisa berjalan, bibi seakan tidak rela kalau Yumna menikah dengan Elbara.

"Lalu nona jawab apa?" tanya bi Nuri.

"Belum, bi." balasnya.

"Nona..., maaf kalau bibi ikut campur. Tapi..." bi Nuri tidak sanggup mengatakan isi hatinya.

"Aku tidak punya siapa-siapa. Apa menurut bibi, pak Bara punya niat buruk padaku?" sahut Yumna.

"Tuan Bara sangat baik. Dia menyediakan semuanya buat kita tanpa diminta. Dari awal bibi curiga. Mana ada bos sebaik itu. Apalagi nona belum lama bekerja. Rupanya tuan memang menginginkan nona." tutur bi Nuri.

"Bibi rasa tuan Bara tidak mungkin macam-macam." imbuhnya.

"Awalnya aku pikir dia hanya ingin balas Budi. Tapi ternyata sampai sejauh ini. Dia hanya memanfaatkan aku. Mungkin karena kondisiku yang sudah seperti ini. Dia pikir aku tidak punya pilihan lain."

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!