Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Dan Kerja Keras
Malam itu, ibu menyimpan uang kiriman ayah di dalam dompet kecil berwarna cokelat. Dompet itu sudah lama menjadi tempat ibu menyimpan sisa-sisa harapan kami—uang receh hasil jualan, catatan belanja, dan kini, uang hasil kerja keras ayah di tanah orang. Dompet itu tak pernah jauh dari tasnya, seolah ibu takut jika
menjauhkannya berarti menjauhkan ayah dari rumah ini.
Sesekali, ibu membuka kembali amplop oranye yang kini telah kosong. Ia merabanya perlahan, lalu melipatnya dengan sangat rapi dan menyimpannya di laci lemari. Amplop itu bukan sekadar pembungkus uang, melainkan tanda bahwa ayah masih mengingat kami di sela lelahnya. Bahwa meski tubuhnya jauh, hatinya tetap pulang.
Setelah salat isya, ibu menggelar sajadah lebih lama dari biasanya. Lampu rumah kami redup, hanya suara jangkrik yang menemani malam. Aku duduk di samping ibu, memainkan ujung mukenanya sambil menunggu doa selesai. Suara ibu lirih, hampir tak terdengar, namun namaku dan nama ayah kusebut berkali-kali di antara jeda napasnya. Ada harap yang diselipkan di setiap doa, ada rindu yang ditahan kuat-kuat agar tak menjelma air mata.
Keesokan paginya, ibu bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan sebelum matahari muncul, dapur sudah hidup oleh bunyi wajan dan aroma adonan kue. Wajah ibu terlihat berbeda—lebih tenang, lebih yakin. Bukan karena hidup kami tiba-tiba mudah, melainkan karena ibu tahu, perjuangan ayah di kejauhan memberi kami alasan untuk tetap bertahan.
Sebelum berangkat berjualan, ibu duduk sebentar dan membagi uang itu sesuai rencananya. Sebagian dimasukkan ke amplop putih—untuk persiapan Kak Rini dan Kak Pipi, yang kelak akan ikut merantau bersama ayah. Mereka sudah menamatkan sekolah, namun untuk sementara hanya membantu ibu membuat kue dan gorengan yang akan dijual keliling kampung oleh Kak Rita dan abang-abangku.
Sebagian lagi ibu selipkan ke dompet belanja, dan sisanya ia simpan rapi di kaleng kecil di atas lemari—kaleng tua yang sudah lama menjadi tempat ibu menyimpan sisa-sisa harapan untuk hari esok.
“Ini buat nanti kalau Senja masuk sekolah,” kata ibu sambil mengelus kepalaku.
Aku tersenyum lebar, meski belum benar-benar paham arti sekolah. Yang kutahu, ibu sedang menyiapkan masa depanku sedikit demi sedikit, dari uang yang ayah kirim dengan keringat dan doa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Pagi kami berjualan, sore pun kembali berjualan. Walau ayah sudah mengirim uang, ibu tetap membuat kue dan gorengan setiap hari. Bukan karena ibu tak bersyukur, melainkan karena uang kiriMan ayah tak boleh habis untuk kebutuhan sehari-hari. Uang itu adalah pegangan—untuk biaya sekolah, untuk masa depan, untuk hari ketika kami harus mengambil langkah besar.
Untuk uang jajan sekolah dan makan sehari-hari, ibu tetap mengandalkan hasil jualan. Kak Rini menjadi lebih rajin membantu, Bang Ari tak lagi banyak mengeluh. Kami semua seolah mengerti bahwa setiap orang di rumah ini punya peran untuk saling menjaga.
Sesekali, aku berdiri di depan rumah, menatap jalan panjang yang membelah kampung. Aku membayangkan ayah pulang dengan motor seperti tukang pos itu—datang membawa kabar baik dan senyum lelah. Aku tahu ayah belum akan pulang dalam waktu dekat.
Namun aku percaya, selama kami sabar dan saling menguatkan, jarak bukanlah hal yang menakutkan.
Karena di rumah kecil kami, harapan tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi sementara—menunggu waktu untuk kembali lewat doa ibu, lewat kerja keras ayah, dan lewat keteguhan kami yang terus bertahan, hari demi hari.