NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pelarian di Balik Kabut

Lampu mobil itu menyorot pintu gudang, menciptakan bayangan panjang seorang pria yang berdiri tegak. Siska merangkak dengan sisa tenaganya menuju cahaya, tak lagi peduli pada perih luka bakar di tangannya.

​"Tuan... tolong..." Suara Siska parau, nyaris tidak terdengar di antara gesekan tubuhnya yang merangkak di aspal.

Namun, sebelum pria itu sempat melangkah masuk atau Siska berhasil menyentuh ujung sepatunya, sebuah tangan kekar menarik bahu Aruna.

"Jangan bengong! Sekarang atau tidak sama sekali!" bisik Rian tegas.

Aruna tersadar. Ia menatap sosok di pintu gudang itu sekali lagi. Ada aura yang sangat gelap dan familiar memancar dari sana. Aura yang jauh lebih berbahaya daripada Hendrawan maupun Siska. Namun, tarikan Rian lebih kuat.

​"Ikut aku!" perintah Rian.

Rian menarik Aruna berlari menuju kegelapan di bagian belakang gudang. Ia tidak menggunakan pintu utama yang kini sudah dijaga oleh pria misterius itu. Dengan satu tendangan keras, Rian menjebol sebuah pintu kayu kecil yang menuju ke gang sempit di sisi dermaga.

​"Kejar mereka! Jangan biarkan kristal itu keluar dari area ini!" suara pria misterius itu terdengar dingin dan berwibawa, jauh lebih menyeramkan daripada teriakan histeris Siska.

Aruna bisa mendengar suara langkah sepatu bot berat mengejar mereka. Anak buah si 'Pembeli' jelas bukan preman biasa; mereka bergerak dengan taktik pengepungan yang rapi.

"Di sini!" Rian membawa Aruna ke sebuah area tersembunyi di bawah tumpukan kontainer tua. Di sana, sebuah motor sport hitam menunggu dengan mesin yang masih hidup. Suaranya halus, namun bertenaga. Siap membawa mereka menjauh dari dermaga itu.

"Naik!" Rian melemparkan sebuah helm cadangan ke arah Aruna.

Aruna segera melompat ke jok belakang, mendekap erat kunci kristal di dadanya. Saat ia memeluk pinggang Rian, motor itu melompat maju. Tarikan gas yang mendadak membuat kepala Aruna hampir terhentak ke belakang, tapi Rian sudah lebih dulu membawa mereka melesat ke dalam gang.

Vroom!

Motor hitam itu menghilang secepat kilat, meninggalkan suara deru mesin yang bergema di antara dinding-dinding kontainer. Rian meliuk lincah di sela labirin kontainer, memanfaatkan setiap celah sempit untuk memutus jarak dari para pengejar. Tapi di belakang, dua SUV hitam sudah muncul. Lampu jauhnya menyala sangat terang, hampir menutupi seluruh pandangan Rian. Mobil-mobil itu terus mendekat, tidak memberikan kesempatan untuk Rian menyelip sedikit pun.

"Pegang erat!" teriak Rian di balik helmnya.

Aruna menoleh ke belakang. Ia melihat salah satu SUV itu mencoba memepet mereka. Tanpa sadar, Aruna memejamkan mata dan menyentuh kristalnya. Bantu kami sekali lagi, bisiknya dalam hati.

Tiba-tiba, genangan air di aspal dermaga mendadak membeku dalam sekejap tepat di bawah ban mobil pengejar. Mobil pertama bergerak maju terus tanpa rem dan menubruk tumpukan drum sampai terbang berantakan. Bunyi benturannya sangat keras, dibarengi api yang mendadak muncul dari sisa bensin di sana.

Rian melirik spion, lalu kembali fokus ke depan sambil menambah kecepatan. Dia tahu ini satu-satunya kesempatan mereka untuk benar-benar hilang. "Aku tidak tahu apa yang baru saja kamu lakukan, tapi jangan lepas peganganmu!'"

Setelah merasa cukup aman, Rian membelokkan motornya ke sebuah gang perumahan tua dan berhenti di depan sebuah bengkel kecil yang tertutup rapat.

Rian mematikan mesin, lalu membuka helmnya. Rian diam sebentar, berusaha mengatur napas sebelum akhirnya menoleh ke Aruna.

Rian menyeka keringat yang masuk ke matanya, lalu mengembuskan napas panjang. "Gila... kita hampir mati tadi. Kamu sadar nggak sih apa yang baru saja kamu lakuin?. Sekarang, kurasa kamu punya banyak hal yang harus dijelaskan. Mulai dari kenapa ada tanaman perak yang bisa melilit orang, sampai kenapa pria di dermaga tadi memanggilmu seolah kamu adalah aaet paling berharga di dunia."

Aruna turun dengan kaki yang terasa lemas. Dia menatap Rian lurus-lurus, napasnya masih pendek, tapi sorot matanya menunjukkan kalau dia tidak akan bicara sesederhana itu.

​"Siapa kamu sebenarnya, Rian? Pengantar paket tidak punya motor balap dan tidak bisa menjebol pintu gudang dengan sekali tendang," balas Aruna dingin.

Rian mematung. Dia menatap tangannya yang masih mengenakan sarung tangan balap, lalu beralih menatap Aruna dengan raut wajah yang sulit ditebak."Katakanlah aku ini 'kurir' untuk hal-hal yang tidak seharusnya diketahui orang biasa. Dan malam ini, sepertinya aku tidak sengaja mengantar diriku sendiri ke dalam masalahmu."

***

Hanya suara mesin motor yang mulai mendingin yang mengisi sela-sela obrolan mereka. Aruna dan Rian terdiam di bawah lampu bengkel yang redup. Mereka berdua hanya berdiri. Keduanya terdiam, tidak tahu harus memulai dari mana.

Meong!

Tiba-tiba, seekor kucing liar melompat dari atas tumpukan ban bekas, menjatuhkan sebuah kaleng cat kosong tepat di samping kaki Aruna.

Aruna meloncat. Refleks, ia melompat maju dan memeluk pinggang Rian dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Pandangannya kabur dan kakinya terasa lemas. Sisa obat bius itu benar-benar menguras tenaganya, sampai dia hanya bisa bersandar pasrah pada dada Rian agar tidak langsung jatuh ke aspal.

Rian kaget sampai napasnya tertahan. Dia bisa merasakan tubuh Aruna yang gemetar hebat dan hawa panas dari napas gadis itu yang menembus jaketnya. Bau asap dan sisa bensin dari dermaga masih tertinggal di baju mereka. Rian menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan bau tajam itu dengan udara pengap khas bengkel di sekelilingnya.

Aruna tersadar. Dia perlahan menjauhkan wajahnya dari dada Rian, tapi tangannya tetap tidak mau lepas dari jaket pria itu. Mata mereka kembali bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Aruna menatap Rian dengan mata yang masih menyiratkan sisa ketakutan, rambutnya yang berantakan tersangkut di ritsleting jaket Rian.

Rian mendadak merasa salah tingkah. Dia ingin mundur, tapi jarak mereka yang terlalu dekat seolah mengunci kakinya di tempat. Dia terjebak dalam suasana aneh seperti ini.

Ternyata kalau lagi berantakan begini, Aruna jauh lebih cantik. Sorot mata yang biasanya penuh curiga itu kini terlihat begitu rapuh.

Aruna segera melepaskan pelukannya dengan canggung. Ia berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh. "Maaf... aku... aku hanya kaget."

Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya terasa panas meski udara malam sangat dingin. "Ya, nggak apa-apa. Lagian... kucing tadi memang jalannya lebih serem daripada anak buah Siska."

Aruna membuang muka. Dia berusaha keras menahan diri agar tidak tersenyum melihat tingkah konyol pria itu. Ketegangan yang tadinya menyesakkan dada, perlahan mulai terasa sedikit lebih ringan.

"Pria di mobil tadi... dia bukan orang biasa," ucap Aruna pelan, suaranya kembali serius. "Aku melihat lencana di kerah bajunya. Itu simbol yang sama dengan yang ada di foto lama ibuku. Dia pasti mengenalnya." Aruna menarik napas panjang. "Dan jika dia sampai mengirim tim profesional seperti tadi, berarti tempat ini pun tidak akan aman selamanya."

Rian tidak menjawab. Dia hanya mengembuskan napas panjang, lalu berjalan cepat menuju pintu bengkel. Ia mengambil kunci cadangan dari saku jaketnya, membuka pintu besi itu, dan memberi isyarat agar Aruna masuk.

​​"Masuklah," perintah Rian singkat. "Aku punya persediaan obat di dalam. Jangan banyak tanya dulu, tanganmu butuh dibersihkan sebelum lukanya makin parah. Kita bicara setelah pintu ini terkunci."

Aruna melangkah masuk, merasakan rasa aman yang aneh pada pria yang baru dikenalnya itu. Sementara Rian, ia masih berdiri di samping motornya, membuang napas ke arah langit-langit bengkel.

​"Fokus, Rian. Situasi lagi gawat, bukan waktunya buat bengong cuma gara-gara satu cewek," gumamnya pelan, mencoba mengenyahkan rasa hangat yang masih membekas di dadanya.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!